Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Keterlibatan Dunia Politik


__ADS_3

Aku keluar dari ruang interogasi dengan kesimpulan yang aku yakini, Charlotta ada di pihakku dan aku mempercayainya. Ini adalah suatu keberuntungan mendapatkan rekan seperjuangan yang kuat, karena aku yakin didepan jalan kami akan ada banyak bahaya yang sedang menunggu. Seorang dokter psikiatri dan seorang detektif swasta mantan mata - mata negara, bukan tim yang buruk untuk memberantas kejahatan.


Aku yakin kami dapat menyelamatkan Aida dan anak - anak lain diluar sana.


Berjalan bersama seorang petugas polisi yang dari awal mengawal ku sejak aku berada di gedung markas besar polisi, kami berdua kembali ke ruang kerja tuan Simon yang berada dilantai sepuluh. Ketika aku hendak memasuki ruangannya, aku mendengar suara tuan Simon sedang berbicara dengan seseorang. "Sepertinya ada tamu, apa aku boleh masuk begitu saja?" tanyaku dalam hati, aku menoleh menatap petugas polisi yang mengawal ku dan dia memberikan gestur tangan memperbolehkan aku masuk.


Merasa dapat izin, aku pun segera menarik ganggang pintu lalu membukanya secara perlahan. Dari balik celah pintu yang terbuka cukup lebar itu, aku memasukkan kepalaku untuk melihat tuan Simon yang sedang duduk di kursinya. Didepan tuan Simon aku melihat seseorang dengan penampilan yang terlihat formal dengan jas berwarna biru dongker dan begitu juga celana panjangnya, "Sepertinya bukan tamu biasa" ucapku dalam hati.


Melihatku muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka itu, tuan Simon memberikan gestur tangan agar aku mendekati mereka berdua. Setelah memberi respon dengan anggukan kepala, aku segera masuk kedalam ruangan tanpa ragu. Perlahan seseorang yang duduk didepan tuan Simon pun menoleh menatapku, dia segera berdiri seperti ingin menyambut ku.


"Tuan Michael, ini Andrews Hopkins anak angkat dari Sir Steve Smith yang sering aku ceritakan. Dan Andrews, tuan ini adalah Michael Phillips seorang perdana menteri" ucap tuan Simon saling memperkenalkan kami, tuan Michale menjulurkan tangannya untuk mengajakku bersalaman.


Pantas saja penampilannya begitu mencolok dan terlihat sangat berwibawa, ternyata pria yang berhadapan denganku adalah seorang perdana menteri di kota ini. Melihat tuan Simon yang begitu ramah dan terlihat sangat segan membuatku berfikir jika Tuan Michael merupakan perdana menteri sosok yang sangat disegani dan dihormati oleh banyak orang.


"Senang bisa berkenalan dengan anda, dokter Andrews" ucap tuan Michael, aku menyambut jabat tangannya.


"Aku merasa terhormat bisa bertemu dengan anda" timpal ku, kami melepaskan jabat tangan kami lalu kami kembali duduk didepan tuan Simon.


"Andrews, Perdana menteri ingin segera membangun kembali gedung perlindungan saksi dan korban. Dia berharap kamu dan dokter Robert bisa memberikan masukan agar kejadian mengerikan seperti ini tidak kembali terulang" ucap tuan Simon memulai pembicaraan, aku sedikit terkejut dengan apa yang tuan Simon katakan.


Di Satu sisi kabar yang tuan Simon sampaikan merupakan berita yang membahagiakan untukku, ternyata masih ada seorang perdana menteri yang begitu peduli terhadap anak - anak korban perdagangan manusia dan kekerasan mental maupun fisik namun setelah apa yang aku lakukan pada dokter Robert, mungkin akan sulit bagiku dan dokter Robert untuk bisa bekerjasama. Aku menyesali tindakan gegabah ku pada dokter Robert, aku juga berharap bisa berdamai dengannya dan meminta maaf. Namun ini bukanlah dunia dongeng dimana seseorang akan sangat mudah untuk memaafkan satu sama lain, bekerjasama dengan dokter Robert tentu akan memberikan masalah lain untukku saat ini.


"Itu benar, dokter Andrews. Dengan masukan mu dan juga dokter Robert, aku dan para dewan berharap gedung baru itu akan aman dari semua ancaman kejahatan. Setelah rumah pribadi tuan Simon yang diserang oleh penjahat, tidak akan ada yang menyangka berikutnya adalah gedung perlindungan saksi dan korban" timpal tuan Michael


Sepertinya dugaanku kali ini tidak akan meleset, perdana menteri Michael terlihat begitu peduli dan nada bicaranya pun terdengar begitu meyakinkan. Kepedulian pejabat pemerintahan seperti inilah yang aku harapkan untuk memberikan perlindungan kepada banyak anak yang mengalami nasib seperti Aida. Sejenak harapanku kembali membara untuk melindungi Aida.


"Sebelum itu, bagaimana pendapat perdana menteri..." belum selesai aku berkata, tuan Michael memotong perkataanku


"Panggil saja aku Michael" timpalnya


"Baik, tuan Michael. Bagaimana pendapatmu tentang dua kejadian itu?" tanyaku


"Sangat sulit untuk dimengerti, apa yang sebenarnya para penjahat itu incar? bahkan tuan Simon yang menjadi kepala polisi pun tidak bisa menebak motifnya, apa anda mengetahui sesuatu?" tanya balik tuan Michael kepadaku


"Perdagangan anak, tuan Michael" jawabku tegas tanpa keraguan sedikit pun, sejenak kami semua terdiam setelah aku mengatakannya.


"Tidak masuk akal, hanya karena perdagangan orang sampai melakukan hal seperti itu" celetuk tuan Michael sembari menatap tuan Simon dengan tatapan yang menunjukkan betapa skeptis nya dia atas jawabanku.

__ADS_1


"Tapi aku juga memiliki kecurigaan itu, tuan Michael" timpal tuan Simon memperkuat jawabanku, tapi sepertinya itu tidak merubah pandangan tuan Michael.


"Baik, apa bagi kalian itu sepadan? menyerang rumah pribadi kepala polisi negara dan juga gedung perlindungan saksi dan korban dalam waktu berdekatan hanya karena perdagangan orang?" tanya tuan Michael


"Sepadan atau tidak, bukan itu masalahnya. Tapi semua memang bermula dari..." belum selesai aku berbicara, saat itu deham tuan Simon sangat keras sampai menarik perhatianku dan tuan Michael.


"Begini tuan Michael, ada hal yang berkaitan dengan pandangan kami berdua. Pada saat ini, kami belum mencapai pada satu kesimpulan, tapi dugaan itu tetap ada" ucap tuan Simon setelah memotong perkataanku dengan deham nya, aku bingung kenapa tuan Simon melakukan itu tapi aku memutuskan untuk diam.


"Begitu ya... aku harap kepolisian segera menyelesaikan ini semua, aku tertekan dengan semua yang terjadi akhir - akhir ini" timpal tuan Michael


"Tertekan?" tanyaku heran


"Aku mendapatkan desakan dari dewan untuk mengusut tuntas dua kasus besar ini dan itu menggerus suaraku" jawab tuan Michael


"Sebentar lagi akan diadakan pemilu, tuan Michael akan menghadapi partai oposisi untuk mempertahankan posisinya. Namun lawan kali ini cukup sulit untuk diatasi oleh partai penguasa, ini tentang politik" jelas tuan Simon padaku, mendengarkan penjelasan itu aku sedikit memahami tekanan yang dirasakan oleh tuan Michael.


"Namanya John Brown, sainganku dari partai oposisi. Dia terus menyerang ku atas ketidaksetaraan dan juga perbaikan ekonomi lalu ketika suaraku benar - benar tergerus, sekarang ada lagi kasus yang akan semakin menekan posisiku" tuan Michael mengatakannya sembari mengusap dahi, aku memahami seberapa berat bebannya saat ini.


Berada di situasi perang politik bukanlah hal yang aku harapkan, kembalinya aku ke kota ini semua hanya karena Aida. Tapi sepertinya sulit bagiku untuk terhindar dari situasi seperti ini, namun jika berada dalam keadaan ini akan mampu menyelamatkan Aida maka akan aku jalankan peranku dengan sebaik mungkin karena bagaimanapun aku ingin segera memberikan rasa aman kepada Aida.


"Terima kasih, tuan Simon" dengan helaan nafas tuan Michael mengatakannya.


Kami terdiam lagi beberapa saat, kami bertiga dalam posisi yang tidak menyenangkan dan juga menguras kemampuan otak. Meski memiliki masalah masing - masing, namun kami bertiga memiliki keterkaitan yaitu tentang Aida. Seseorang yang mengincar Aida telah menjerumuskan aku, tuan Simon dan tuan Michael kedalam masalah ini, kami harus segera mencari cara untuk menuntaskannya.


"Untuk sementara aku meminta tolong padamu, dokter Andrews. Bantu aku untuk segera membangun kembali gedung perlindungan saksi dan korban agar kalian para dokter bisa bekerja kembali untuk menyelamatkan korban - korban kejahatan itu, aku berharap kamu bisa membantuku" celetuk tuan Michael memecah keheningan


"Maaf tuan, aku tidak ingin bergerak karena politik" timpal ku dengan tolakan, aku tidak ingin terlibat dalam masalah politik karena aku ingin bekerja secara profesional dengan bidang ku.


"Aku mengerti, tapi anda dan juga dokter Robert hanya akan menjadi penasihat ku untuk membangun kembali gedung itu. Sebagai bentuk pertanggungjawaban didepan para dewan, aku ingin menunjukkan aku mampu untuk membangun kembali gedung itu menjadi gedung yang jauh lebih aman bagi para korban" terdengar sedikit memohon tuan Michael mengatakannya


"Kamu tidak akan terlibat langsung di politiknya, Andrews. Tuan Michael hanya akan mempresentasikan langkahnya untuk membangun kembali gedung dengan melibatkan pandanganmu dan dokter Robert agar menjadi lebih aman, aku rasa itu tidak buruk" kini giliran tuan Simon yang mencoba untuk membujukku


"Pemilu akan diadakan dalam waktu satu tahun lagi, tapi jika kasus ini tidak segera ada tindakan maka... aku bisa saja digulingkan sebelum pemilu dimulai" ucap tuan Michael, aku begitu merasakannya sangat tertekan.


"Bagaimana, Andrews? apa kamu bisa membantu tuan Michael?" tanya tuan Simon yang terdengar sedikit menekan ku, saat itu entah kenapa aku merasa dipaksa oleh keduanya.


"Baik, tapi itu semua tergantung dari jawaban dokter kepala Robert. Aku terlibat masalah dengannya, aku tidak yakin dia akan dengan mudah memaafkan ku" jawabku dengan perasaan menyesal

__ADS_1


"Itu akan menjadi tanggung jawabku, begitulah tuan Michael. Setidaknya Andrews sudah menerima permintaan anda, semoga kerjasama ini akan berjalan baik" ucap tuan Simon


"Aku sangat berterimakasih padamu, tuan Simon. Dengan ini setidaknya aku memiliki satu tiket untuk melawan di rapat dewan, aku masih bisa mempertahankan posisiku setidaknya sampai pemilu tiba" timpal tuan Michael terdengar begitu lega, tidak lama tuan Michael pun berdiri dari duduknya lalu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan tuan Simon.


"Aku undur diri dulu, tuan Simon" ucap tuan Michael, tuan Simon berdiri lalu menjabat tangan tuan Michael.


"Kami akan membantu sebaik mungkin, perdana menteri" timpal tuan Simon, ketika jabat tangan mereka terlepas saat itu tuan Michael hendak menjabat tanganku.


"Dokter Andrews, aku mengharapkan kerjasama kita akan berjalan baik" ucapnya, aku berdiri dan menyambut tangannya.


"Aku juga berharap seperti itu, tapi tindakanku tentu hanya demi pasienku kembali mendapatkan tempat yang aman" timpal ku


"Aku mengerti, semoga gedung baru akan menjadi tempat perlindungan yang jauh lebih aman kedepannya" ucap tuan Michael lalu dia melepaskan jabat tangan kami


Tidak lama tuan Michael pun meninggalkan ruang kerja tuan Simon, setelah pintu tertutup saat itu tuan Simon menghela nafasnya cukup keras. Aku menoleh menatapnya ketika tuan Simon duduk kembali di kursinya dengan cukup keras, sepertinya ada hal berat yang sedang ditanggung oleh tuan Simon. Tapi aku yakin ini tentang Aida dan rentetan kasus yang menyertainya, aku kembali duduk di kursi ku kembali dan menatap tuan Simon.


Untuk sesaat ruangan tuan Simon hening, aku terdiam sejenak memperhatikan tuan Simon dengan ekspresi yang tidak tenang. Kini tersisa kami berdua dan hal itu membuatku merasa bisa memanfaatkan keadaan ini untuk mencari jawaban atas keanehan yang aku rasakan dari Tuan Simon.


"Ada apa, tuan Simon?" tanyaku


"Aku juga mendapatkan panggilan dari dewan satu hari sebelum tuan Michael" jawabnya, lalu dia menyerahkan setumpuk berkas - berkas diatas meja tepat didepan kami.


"Apa ini?" tanyaku penasaran.


"Data analisis dari semua kejadian yang terjadi belakangan ini, semua analisis ini tidak ada satupun yang mengacu pada kesimpulan. Aku berharap kamu membawa kabar baik setelah menginterogasi Isabella, bagaimana?" harap tuan Simon


"Sebelum itu, ada dua hal yang menggangguku setelah berbicara dengan perdana menteri. Apa boleh aku tanyakan dulu, tuan Simon?" tanyaku, ketika itu tuan Simon menjawab pertanyaan ku dengan gestur tangan yang mempersilahkan aku untuk bertanya.


"Pertama, kenapa tadi anda memotong pembicaraanku tentang Aida didepan perdana Menteri?" tanyaku


"Karena dia seorang politikus, dia akan memanfaatkan Aida dan membuatmu dan Aida terpisah demi kepentingan suaranya. Aku tidak ingin itu terjadi, lalu yang kedua?" jawab tuan Simon


Aku sedikit tersentak dengan jawaban tuan Simon, bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu dengan baik. Kepedulian yang ditunjukkan oleh perdana menteri Michael membuatku kurang berhati - hati untuk berfikir jernih. Benar yang dikatakan Tuan Simon, dalam keadaan persaingan politik banyak cara yang selalu bisa dimanfaatkan sebagai sarana pendukung kemenangan. Lagi dan lagi aku merasa beruntung berada disisi tuan Simon.


"Kedua, apa yang sedang terjadi di negara ini? apa anda tidak mencurigai saingan perdana menteri? mungkin sebenarnya dia dalang dibalik semua kejadian ini untuk menggerus suara perdana menteri" tanyaku dengan tekanan, sejenak tuan Simon pun terdiam lalu menatap langit - langit ruangan.


"Tidak ada bukti untuk itu, tapi jika itu benar - benar terjadi... aku tidak akan pernah memaafkannya" tegas dan terdengar penuh amarah ketika tuan Simon mengatakannya.

__ADS_1


__ADS_2