
Setelah beberapa menit aku berbicara dengan Aida membuat hatiku kembali merasa tenang, aku pun mematikan telepon itu karena polisi yang berdiri tepat di depanku terlihat tidak sabar untuk segera mendapatkan penjelasan dariku tentang apa yang terjadi ditengah malam ini. Aku juga merasa dapat menjawab seluruh pertanyaan yang akan diajukan olehnya, hanya tersisa nafas ini yang terasa tidak normal bagiku.
"Baik, ada yang bisa aku bantu petugas? maaf telepon ini sangat penting bagiku" tanyaku dengan sedikit menjelaskan tentang betapa pentingnya suara dibalik telepon itu.
"Ya tidak masalah, awalnya kami ingin menanyakan beberapa hal pada anda tapi kami juga baru saja mendapatkan telepon dari pusat yang mengatakan jika anda harus segera pergi. Mungkin kami bisa membantu anda untuk mendapatkan pengawalan" jawab petugas itu menyampaikan tugasnya
"Tidak terima kasih, membiarkanku pergi sudah sangat membantuku" ucapku menolak tawarannya, pengawalan yang mereka berikan hanya akan membuatku kembali berpikiran buruk tentang semuanya.
"Anda bisa mempertimbangkan itu, Jendral Simon Dalton yang meminta kami untuk melakukan pengawalan" dengan nada tegas polisi itu memaksaku untuk menerima pengawalan, aku mengerti seberapa khawatirnya tuan Simon padaku namun aku benar - benar merasa tidak memerlukan pengawalan.
"Dia hanya mengkhawatirkan kepanikan ku, semua baik - baik saja petugas. Aku bisa melakukannya sendiri" aku kembali menolaknya dan polisi itu nampak memberi gestur tangan kepada rekan - rekannya disana lalu kembali menatapku.
"Kami akan melakukan patroli dulu untuk memastikan perjalanan anda akan baik - baik saja kedepannya, kita tidak tahu apa lagi yang direncanakan para mafia itu setelah melakukan serangan brutal ini" ucap petugas dan beberapa mobil polisi dengan sirine nya meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih atas bantuan anda" timpal ku
"Dokter, mungkin ini agak membingungkan bagi anda dan jika aku di posisi anda maka aku juga akan sangat terkejut. namun aku pastikan serangan itu tidak ada hubungannya dengan anda, anda hanya sedang tidak beruntung saja mengalami hal ini" ucap petugas berusaha meyakinkanku bahwa kejadian itu hanyalah suatu kebetulan
"Aku akan mencoba memahami itu" ucapku singkat, lalu polisi di depanku meninggalkan tempat itu
"Mereka mengatakan seperti kejadian ini hal yang wajar, padahal nyawa kita hanya ada satu" celetuk Thomas seraya menepuk pundakku, aku membaca kekesalan dari nada bicara Thomas ketika itu.
"Mereka juga mengatakan seakan - akan mereka sedang melindungi kita, tapi nyatanya kedatangan mereka selalu terlambat, apakah tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah hal hal seperti ini? benarkan Andrews?" Thomas melanjutkan kalimatnya sembari berjalan menuju bar nya
Tidak lama matahari terlihat terbit dan aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, aku terus memacu mobilku hingga sampai disebuah stasiun pengisian bahan bakar dan memarkirkan mobilku untuk kemudian mengisi bensin tangki DB yang mulai mengering. Setelah keluar dari dalam mobil ketika itu aku langsung mengoperasikan mesin itu dan segera mengisi DB ku dengan bensin. Terlihat dua pria asing mendekatiku, aku hanya memperhatikan mereka.
"Sebuah DB 6? sepertinya mobil ini bekerja dengan baik" salah satu dari mereka menyapaku
"Yah, sudah tua namun tidak memiliki masalah yang berarti" timpal ku tenang sambil terus memperhatikan gerak - gerik mereka
"Sedang dalam perjalanan jauh?" tanya lainnya seolah mereka menginterogasi ku
"Apa urusan kalian?" nadaku saat itu agak sinis dan menunjukkan pistol dibalik bajuku, sejak kejadian di bar itu aku selalu membawa pistol dibalik baju dan lebih siaga.
"Woo..wooow...tenang tuan, aku tidak ingin apapun..." ucap salah satu dari mereka yang terlihat sedikit ketakutan
"Kami hanya tertarik pada DB ini, aku memiliki DB seperti ini di garasi kami namun itu tidak bekerja dengan baik jadi ketika melihat DB ini aku merasa iri padamu" timpal orang lainnya seperti ingin membuatku tidak merasa terancam dengan keberadaan mereka berdua, perlahan aku menurunkan tanganku untuk menutupi pistol dibalik kemeja dan tidak menghiraukan mereka
Berfikir itu sebuah kebetulan sepertinya bukan hal yang bisa aku lakukan, peristiwa di bar cukup membuatku harus lebih berhati - hati dengan lingkungan sekitar. Terlebih lokasiku saat ini sudah sangat jauh dari bar yang aku kunjungi sebelumnya, jadi bisa saja patroli polisi tidak sampai pada tempat ini.
"Aku Martin dan dia Darwin, kami memiliki bengkel dekat sini dan tertarik melihat DB mu. Jujur saja kami ingin kamu mampir sebentar agar aku bisa melihat apa yang salah dengan DB kami" Jelas Martin yang terdengar membujukku
"Ya ya... jika anda berkenan" timpal Darwin
"Maaf aku sibuk" nadaku dengan ketus
"Haaah... sayang sekali, kita bisa berbagi tips jika terjadi sesuatu kan. Baiklah, kami tidak memaksa" ucap Martin lalu berjalan meninggalkanku.
Ketika itu aku tersadar jika aku membutuhkan mereka, bukan... maksudku aku membutuhkan bengkel mereka karena aku tercetus kan beberapa ide yang mungkin akan berguna ketika aku sampai di ibu kota. Dengan segera aku menoleh untuk melihat seberapa jauh mereka sudah berjalan meninggalkanku, beruntung keduanya berjalan cukup lambat sehingga mereka tidak terlalu jauh dariku.
__ADS_1
"Tunggu, kalian bilang kalian memiliki bengkel kan?" tanyaku tiba - tiba berharap dapat menghentikan langkah mereka, keduanya menghentikan langkah sembari berbalik untuk menatapku.
"Benar, itu di ujung jalan itu. kamu dapat melihatnya dari sini" jawab Darwin sambil menunjuk lokasi bengkel dengan jari telunjuknya
"Apa DB mu bermasalah? kami bisa membantumu" timpal Martin menawarkan bantuan dengan ramah
"Aku ingin kalian sedikit memodifikasi mobilku, aku harap kalian bisa membantuku untuk itu" pintaku,
Mereka pun setuju, segera aku selesaikan mengisi bensin di mobilku lalu kami segera bergegas menuju bengkel yang mereka katakan menggunakan mobilku. Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di bengkel Darwin dan Martin, Disana aku menjelaskan kepada kedua orang itu apa saja yang aku ingin mereka lakukan terhadap mobilku. Awalnya mereka agak menolak ku namun pada akhirnya mereka mau mengerti, namun mereka mengajukan syarat yaitu ingin memeriksa bagian mesin mobil DB ku untuk menjadikannya sebagai referensi bagi DB mereka. Kami pun sepakat, mereka segera mengerjakan apa yang aku minta.
Modifikasi mobilku saat itu benar - benar menguras waktu, hingga matahari kembali akan tenggelam tapi mobilku belum juga selesai. Aku melihat Martin dan Darwin melakukan tugasnya dengan sangat baik dan tidak membuang - buang waktu sedikitpun, perlahan aku meninggalkan mereka untuk keluar dari garasi lalu mengambil ponselku untuk melihat nomor yang Aida gunakan untuk meneleponku.
"Aida mengatakan ini saluran pribadi" gumamku pada diriku sendiri kemudian aku pun melakukan panggilan ke nomor itu, beberapa saat berdering ada yang mengangkat sambungan telepon itu.
"Halo..." suara lembut dan tenang Aida menjawab teleponku
"Aida... ini aku dokter Andrews, bagaimana keadaanmu?" Tanya ku penuh cemas
"Aku baik - baik saja dokter Andrews, saat ini aku ditemani oleh Nona Rachel... apa benar dia... mantan pacarmu?" tanyanya tiba - tiba
"Apa?! tidak tidak begitu... jadi dia berada di dekatmu?" tanyaku dengan nada panik
"Katakan padanya, mengapa dia tega tiba - tiba meninggalkanku, Aida" aku mendengar suara Rachel dari balik telepon itu
"Heii jangan mengatakan hal seperti itu disaat keadaan seperti ini!" ucapku masih dengan panik, jujur saja aku malu jika pembicaraan seperti itu didengarkan langsung oleh Aida.
"Hahaha... benarkan Aida, Dokter Lee itu seorang pemalu jika harus berhubungan dengan seorang wanita" aku mendengar suara Rachel lagi dari telepon itu sedang meledekku
"Aida katakan padanya aku tidak ingin bercanda saat ini!" dengan nada agak tinggi berusaha menutupi rasa maluku
"Nona Rachel, dokter tidak ingin bercanda..." aku mendengar Aida menyampaikan pesanku dengan baik
"Dokter Lee, Senyum Aida itu manis ya. Dia mengatakan pesanmu dengan senyuman yang manis" ucap Rachel saat itu, Aku merasakan ketenangan dalam hati dan tidak dapat aku ungkapkan dengan kata - kata
"Kamu berada ditangan yang tepat Aida" dengan nada lembut aku katakan itu
"Aku tahu dokter mengkhawatirkan ku... tapi saat ini dokter harus lebih memperhatikan keselamatan dokter selama perjalanan..." timpal Aida dengan penuh rasa khawatir
"Aku mengerti Aida, aku akan lebih berhati - hati. Jika ada apa - apa segera telepon aku, kamu mengerti kan Aida?" tegas ku pada Aida
"Aku anak baik kan Dokter?" tanyanya tiba - tiba
"Apa maksudmu? tentu saja kamu anak baik" Jawabku
"Saat pulang nanti.... maukah Dokter mengantarkan aku... ke makam Tuan dan Nyonya West...." ucapnya terbata - bata
Terkejut Lah aku ketika Aida mengatakannya, sepertinya kehadiran dan kebaikan tuan dan nyonya West membekas di hati Aida sampai dirindukan sejak kematian mereka.
"Tentu, ayo kita segera ke makam Tuan dan Nyonya West lalu berdoa didepan makam mereka" ku katakan itu dengan nada semangat kerena aku tahu nama itu dapat membuat Aida bersedih, karena aku pun merasakan kesedihan.
__ADS_1
"Terima... Kasih..." Aida mengucapkan itu lalu sambungan teleponnya terputus.
Rachel? ya aku punya masa lalu yang rumit dengan wanita ini, sesaat aku melamun mengingat masa lalu dan apa yang pernah aku lakukan padanya. Dia adalah juniorku saat di kampus dan kami terpisah karena aku lulus lebih cepat dari dugaanku saat itu lalu entah mengapa aku dan dia dipertemukan kembali di institusi perlindungan korban dan saksi. Ditengah lamunanku, aku tersentak ketika tiba - tiba telepon seluler ku berbunyi cukup keras. Kulihat panggilan dari tuan Simon, dengan segera aku mengangkat telepon itu.
"Halo Tuan Simon" dengan tenang aku menjawab telpon darinya
"Andrews, apa ada masalah? aku melihatmu berhenti di sebuah bengkel, apa aku benar?" tanyanya dengan nada khawatir, aku kemudian menatap pengerjaan DB ku yang mungkin sudah mencapai delapan puluh persen itu.
"Tidak, tidak ada masalah berarti. aku mungkin sudah memacunya dengan sangat ekstrim dan ada sedikit kesalahan pada mesinnya" jelas ku berusaha menenangkan tuan Simon
"Ada kebocoran oli atau over heating pada mobilmu? perlukah aku mengirim anak buahku untuk mengganti mobilmu? lima kilometer dari sana ada kantor polisi kota" masih dengan nada khawatir tuan Simon memberikanku sebuah tawaran agar aku dapat segera kembali melakukan perjalanan, aku tertawa kecil lalu aku katakan...
"Tidak, tidak perlu. Itu akan merepotkan mu dan merepotkan polisi lokal disini, DB itu akan segera selesai. Mungkin besok aku sudah sampai disana tuan Simon" tolak ku sambil berusaha untuk membuat tuan Simon tidak mengkhawatirkan apa yang sedang aku lakukan disini.
"Tidak apa, aku adalah Kepala Polisi Negara ini. Tugas kami membantu warga negaranya kan?" dengan nada agak tertawa Tuan Simon mengatakan itu, aku membalas tawanya tapi ketika itu mataku teralihkan pada sebuah mobil yang berjalan lambat dari seberang jalan.
Tanpa peringatan apapun mobil itu tiba - tiba mendekati bengkel lalu melemparkan sebuah bom molotov ke arahku, aku melompat dan berguling untuk menghindari lemparan itu. Kebakaran di bengkel tempat aku melakukan modifikasi mobilku tidak dapat terhindarkan, pelemparan bom molotov itu terjadi ditengah ramainya warga sekitar melakukan aktifitas. Kepanikan pun muncul seketika saat api mulai semakin membesar, kepanikan itu dapat didengar dengan baik oleh tuan Simon dari balik telepon.
"Apa yang terjadi Andrews?!!" tanya tuan Simon di saluran teleponnya
"Seseorang menyerang bengkel dengan sebuah bom molotov, aku akan segera menghubungi anda lagi" jawabku lalu aku menutup telepon dan segera memecahkan kaca disalah satu sudut bengkel, dari sana aku dapat melihat Martin dan Darwin berusaha mematikan api dengan berbagai cara.
"Kalian dapat keluar dari sini!!" teriakku namun Martin dan Darwin hanya diam menatapku
"Kami tidak akan meninggalkan DB mu dalam keadaan seperti ini!!" sambil terus berusaha memadamkan apinya Darwin dan Martin nampak tetap bersikukuh bertahan didalam bengkel.
"Sial!!" teriakku sambil berusaha mencari cara untuk ikut membantu
Namun saat aku mencari cara untuk memadamkan api aku melihat mobil yang sama kembali lagi kearah bengkel dan bersiap untuk melemparkan sebuah bom molotov kedua, segera aku keluarkan pistol dari balik baju lalu ku bidik pelempar molotov yang berada didalam mobil itu
"DORR!!"
Aku berhasil mengenai kepalanya tepat waktu sebelum dia melemparkan bom molotov itu, aku melihat bom molotov yang gagal dilempar itu membakar mobil dan membuat supir mobil itu panik hingga mereka menabrak sebuah toko tepat didepan bengkel. Tidak beberapa lama setelah mobil berhenti karena menabrak, seseorang terlihat keluar dari dalam mobil itu lalu menembaki ku.
Aku bersembunyi disebuah tembok bengkel sambil terus berusaha membaca situasi, tiba - tiba orang yang menembak ku tertembak entah darimana namun aku yakin itu dari dalam bengkel. Aku melihat kedalam bengkel lewat jendela yang sempat aku pecahkan tadi dan dari sana aku melihat Martin dan Darwin sudah berhasil memadamkan api serta membawa sebuah pistol, salah satu dari mereka yang melakukannya dan memiliki akurasi tembakan yang baik sama sepertiku.
"Kalian baik baik saja?!" tanyaku saat itu dalam suasana kepanikan.
"Ya, siapa orang - orang brengsek ini?!" tanya balik Darwin terdengar kesal
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin ini berhubungan denganku" jelas ku
"Bagaimana situasinya Andrews? aku tidak bisa melihat keadaan diluar dengan baik dari sini" tanya Martin
Aku menengok keluar sambil memperhatikan jalan dari balik tembok bengkel itu, tampaknya sudah terasa lebih tenang. Tapi itu tidak berlangsung lama sampai bengkel itu diserang dengan tembakan beruntun dan dari suaranya aku dapat mengetahui itu adalah jenis senjata laras panjang, aku tetap berlindung dibalik tembok itu sambil melindungi kepalaku.
Entah berapa peluru yang telah dilepaskan yang pasti mereka memang berniat membunuh kami semua, sesaat tembakan itu berhenti dan aku mendengar suara deru mesin mobil menjauhi bengkel dengan begitu cepat. Segera aku keluar dari tembok tempat aku berlindung lalu berlari menuju jalanan didepan bengkel untuk melihat siapa yang melakukan penyerangan itu, namun tembakan yang aku dapatkan ketika itu sampai membuatku tidak bisa melihat mobil itu dengan jelas karena refleks tangan ini melindungi kepala dan menutup mata. Yang sempat aku bisa lihat hanyalah sebuah sedan hitam yang menembaki kami menjauhi tempat itu, entah berapa plat nomor atau ciri - ciri khususnya yang mungkin bisa aku gunakan untuk melacaknya.
" Apa apaan ini?? lagi - lagi sebuah serangan!!" teriakku dalam hati, aah!! benakku meracau.
__ADS_1