
Aku mengajak Charlotta untuk masuk kedalam rumah dan mengatakan pada petugas bahwa dia adalah temanku, aku juga meminta waktu mengobrol dengannya secara pribadi didalam rumah dan mereka mengatakan jika waktu yang aku punya tidak banyak karena keselamatanku adalah yang utama bagi mereka sesuai dengan tugas yang diberikan oleh tuan Simon. Kami sepakat jika waktu yang aku punya saat itu cuma sepuluh menit, berharap dalam waktu itu aku bisa membujuk Charlotta agar dia kembali ke kota kecil itu.
Didalam rumah aku meminta Charlotta untuk duduk menungguku di ruang keluarga sedangkan aku langsung berjalan menuju dapur untuk menyiapkan teh hangat, tidak butuh waktu lama bagiku menyiapkan satu poci berisi teh hangat yang akan aku sajikan pada Charlotta. Aku membawa teh itu keruang keluarga dengan berbagai alasan didalam kepala yang akan aku gunakan untuk membujuknya agar segera pulang, tapi aku tidak yakin bujukan ku akan berhasil karena Charlotta adalah wanita yang cukup keras kepala.
Di Lorong depan pintu masuk menuju ruang keluarga aku melihat Charlotta berdiri memandangi fotoku yang terpajang ditembok ruang keluarga, dia terlihat termenung menatap foto itu dengan pemikirannya sendiri entah apa itu. Seperti saat itu Charlotta cukup serius dengan pemikirannya sampai dia tidak menyadari aku sudah sangat dekat berada dibelakangnya, perlahan aku letakkan poci itu diatas sebuah meja dan saat itu perhatian Charlotta beralih padaku.
"Foto ini tampak... bukan seperti dirimu" celetuk Charlotta memecah keheningan di ruangan ini
"Memang seperti apa diriku yang sekarang?" tanyaku heran
"Kamu... terlihat seperti seorang nerd yang... pemurung, berbeda dengan di foto - foto ini... kamu terlihat lebih... cool.." jawabnya seperti tidak yakin, aku tertawa kecil lalu duduk di sofa dekat meja.
"Cool atau angkuh dan terlihat sombong?" tanyaku lagi
"Bukan aku yang mengatakan seperti itu~" jawabnya dengan nada yang terdengar manja, aku menghela nafasku lalu aku katakan..
"Ya... bisa dibilang itulah wajah seseorang sampah yang pernah aku perlihatkan padamu dulu saat Aida dibawa oleh petugas Rick dan petugas Shane" timpal ku, suasana kembali terasa begitu aneh dan sunyi.
Aku dan Charlotta kembali terdiam, perlahan dia berjalan mendekatiku lalu duduk di sofa yang ada di depanku. Kami saling tatap namun tidak ada yang berbicara, aku masih sibuk dengan mencari cara agar dia mau segera pulang sedangkan dia tidak tahu kenapa tatapannya terlihat iba padaku. Tidak ingin terus larut dalam suasana aneh itu, aku berinisiatif untuk menuangkan teh didalam poci ke sebuah cangkir yang telah aku siapkan bersamaan.
"Keadaan disini sedang tidak kondusif, kamu harus pulang sebelum kamu terlibat" celetukku memecah keheningan seraya menuangkan teh didalam poci itu sampai gelas terisi penuh, lalu aku memberi gestur tangan agar Charlotta meminumnya.
"Dimana Aida?" tanyanya singkat dan terkesan menekan ku
"Dia sedang diamankan di institusi perlindungan saksi dan korban, aku juga akan berada disana untuk beberapa hari kedepan" jelas ku padanya
"Aku membaca sebuah koran beberapa hari yang lalu dan membaca artikel tentang serangan mafia di sebuah bar, namamu tercantum didalam berita itu sebagai korban selamat" Charlotta mengatakannya lalu meminum beberapa teguk teh yang aku sediakan untuknya, sebelum melanjutkan berbicara dia sedikit menarik nafas agak panjang dan menghembuskannya agak keras
"Lalu pada hari berikutnya aku membaca berita tentang konflik dua kelompok pelaku balapan liar yang berakhir dengan pelemparan molotov dan juga tembakan sampai menewaskan dua orang. Lagi - lagi aku melihat namamu di berita itu" ucapnya lalu Charlotta mengalihkan padangan mata kearah jendela yang berada disebelah kirinya dan memandang jauh keluar
"Aku tidak tahu saat itu harus melakukan apa, aku mengkhawatirkan mu. Apa yang aku baca terlihat tidak normal bagiku.... aku tahu kamu sedang di incar oleh seseorang" Charlotta mengatakannya dengan nada penuh rasa khawatir
Jujur saja aku terkejut mendengar apa yang Charlotta katakan, aku termenung sejenak menatapnya yang masih memandangi jendela kaca rumah. Dari sekian banyak orang yang membantu bahkan terlibat langsung dengan dua kejadian itu, kenapa Charlotta yang sadar jika itu tidaklah wajar. Bahkan dia hanya membaca dari sebuah koran dan tidak terlibat langsung, apa benar aku yang sudah gila atau memang seperti itulah keadaan nyawaku. Sedang diincar entah oleh siapa itu, yang sebelumnya aku anggap sebagai kegilaanku saja.
"Mungkin benar aku sedang di incar oleh seseorang, karena itu... keberadaan mu disini akan membahayakan dirimu dan menambah beban untukku. Maaf aku katakan itu, tapi ini bukan masalah main - main, Charlotta" dengan tegas aku masih menolak keberadaannya di sekitarku, Charlotta menoleh menatapku sembari tersenyum yang tergambar sebuah kelicikan.
"Kamu terlalu memandang remeh aku, Andrews" timpal Charlotta, perlahan tangannya menyikap rok pada gaun yang dia kenakan dan di paha kiri terikat sarung senjata berserta sebuah pistol berjenis glock. Aku terkejut melihatnya menyimpan glock dari balik gaunnya yang terlihat begitu anggun itu, entah darimana dia dapatkan pistol itu.
"Aku dulu pernah ikut Shooting Club selama lima tahun sebelum akhirnya bertemu denganmu dan aku berhenti seketika" Charlotta sedikit tertawa saat mengatakannya
"Kenapa mendadak berhenti seperti itu?" aku pun ikut tertawa sembari bertanya
"Aku ingin terlihat manis di depanmu" jawabnya lalu dia tertawa semakin lepas, begitupun aku yang tawanya terpancing karena jawaban Charlotta.
__ADS_1
Entah sejak kapan terakhir aku bisa tertawa selepas ini, terasa tanpa beban sejak rentetan kejadian mengancam nyawa yang menimpaku. Aku bahkan baru sadar tertawaku begitu lepas setelah kulihat beberapa polisi yang berjaga di pintu masuk ruang keluarga menoleh memperhatikanku, Charlotta masih menjadi sosok yang bisa membuatku tertawa seperti saat aku di kota kecil itu.
Aku begitu menikmati momen itu bersama Charlotta, tertawa bersama begitu lepas. Setelah berhasil mengendalikan tawa, aku terdiam sejenak untuk menuangkan teh dalam poci pada cangkir milikku hingga penuh, tegukan demi tegukan benar - benar aku nikmati. "Aah... ini bahkan lebih nikmat dibanding dengan menu istimewaku di cafe saat bersama Rachel. Dan Rachel, apa yang akan dia pikirkan saat melihat Charlotta? Nanti saja aku pikirkan, menikmati suasana ini lebih menyenangkan untuk saat ini". Benakku meracau.
"Terima kasih Charlotta" celetukku sembari tersenyum
"Hmm?? kenapa tiba - tiba?" tanya Charlotta yang terlihat raut wajahnya keheranan
"Aku tidak pernah merasakan senang seperti ini, entah kapan terakhir aku bisa tertawa lepas. Kehadiranmu benar - benar membawa energi baru untukku, Terima kasih" dengan penuh ketulusan aku katakan itu pada Charlotta
"Hoo... kalau kamu mau melamar ku sekarang, aku dengan senang hati akan menerimamu" Charlotta kembali menggodaku seperti biasa, aku tertawa menanggapi perkataannya sembari menggelengkan kepala.
"Kita akan bicarakan itu nanti, saat ini aku harus menyelesaikan urusanku" dengan tegas aku katakan itu
Bersamaan dengan perkataan itu aku merasakan seseorang masuk kedalam ruang keluarga, dia berjalan mendekatiku dan ketika aku menoleh menatapnya dia langsung memberi hormat padaku.
"Dokter Lee, Tuan Simon sudah sampai di institusi. Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya petugas itu dengan nada yang terdengar tegas
"Tentu, aku juga akan membawa temanku" jawabku, petugas itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga. Setelah memastikan jika petugas tadi sudah keluar dari ruang keluarga, aku kembali menatap Charlotta begitu pula dengannya yang menatapku.
"Aku membutuhkan bantuanmu Charlotta, Aida adalah kunci dari semua masalah ini. Aku melakukan kesalahan dan Aida seperti membangun temboknya kembali untuk menghindari ku" jelas ku padanya tentang masalah yang sedang aku alami, aku melihat dia mengangguk beberapa kali.
"Aku tidak tahu apa aku bisa, tapi aku akan mencobanya" timpal Charlotta yang bersedia membantuku tanpa banyak bertanya.
Kami hanya saling terdiam sepanjang perjalanan, hal itu membuatku bisa larut dalam analisa didalam kepalaku dan aku merasa ada sesuatu yang salah saat itu namun aku tidak mendapat ide apapun. Entah sesuatu yang mengganjal atau mungkin hanya sekedar tertinggal, namun semakin aku pikir tetap saja aku tidak mendapatkan apapun hanya sekedar insting.
Sepanjang perjalanan dengan iring - iringan polisi itu Charlotta nampak tidak ingin mengajakku berbicara, dia hanya terdiam walau kadang memandang ke arahku lalu dia membuang muka ketika mata kami bertemu. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu namun dia tahan untuk sementara, tapi aku tidak ingin memaksanya untuk berbicara disaat seperti ini.
Setibanya di institusi yang terlihat sudah dijaga begitu ketat oleh polisi bersenjata lengkap, aku segera turun dari mobil diikuti oleh Charlotta. Aku menyeret koperku dan koper milik Charlotta masuk kedalam institusi sampai keruang berkumpul pasien, disana aku melihat Dokter Robert dan Tuan Simon sedang berbincang berdua terlihat begitu serius. Aku melepaskan tanganku dari kedua koper lalu berjalan mendekati keduanya.
"Tuan Simon" sapaku ketika aku sudah cukup dekat dengan keduanya, hampir bersamaan keduanya menoleh menatapku.
"Andrews, senang masih bisa melihatmu. Kamu sudah mengemasi seluruh barangmu?" tanya tuan Simon dengan nada yang terdengar begitu santai, padahal baru beberapa jam saja tuan Simon hampir meregang nyawa.
"Sudah, aku telah siap untuk tinggal disini" jawabku penuh semangat
"Ya, aku melihat kamu mengemasi barang dan juga seseorang" dengan candaan tuan Simon mengatakannya seraya tatapan matanya melihat kearah Charlotta yang berdiri tidak jauh dari kami, ketika aku menoleh kebelakang aku melihat Charlotta tersenyum sembari tangannya ingin berjabat tangan dengan tuan Simon.
"Charlotta, maaf jika aku akan merepotkan karena datang tanpa di undang seperti ini" sapa Charlotta dengan senyum manisnya, tuan Simon menyambut tangan Charlotta dan berkata..
"Jendral Simon Dalton, kepala kepolisian negara. senang berkenalan dengan Anda" ucap Tuan Simon setelah beberapa saat bersalaman dengan Charlotta nampak dia mengalihkan pandangannya ke arahku lalu menarik tanganku agar menjauhi Dokter Robert dan Charlotta
Tuan Simon menarik ku sampai masuk ke dalam salah satu ruangan yang tidak jauh dari tempat kami mengobrol tadi, ketika kami sudah berada didalamnya saat itu tuan Simon langsung menutup pintu itu dan sepertinya juga langsung menguncinya. Perlahan tuan Simon berjalan mendekati salah satu sofa yang tersedia dengan kepala yang tertunduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam dibelakang tubuh, ketika sudah duduk saat itu tuan Simon memintaku untuk duduk didepannya dengan gestur tangan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi hari ini sangat mengejutkanku, sebelum kejadian ini memang muncul gerak - gerik mencurigakan dari seseorang yang aku duga adalah Daniel" ucap Tuan Simon dengan serius tanpa basa - basi ketika aku hendak duduk
"Tuan Simon maaf sebelumnya, Rachel mengatakan padaku bahwa Daniel menyusup masuk ke rumahnya untuk meminta sejumlah data pasien disini. Data itu juga sudah aku baca dan sepertinya ada satu hal yang ingin Daniel sampaikan padaku saat aku dan dia bertemu" aku mengatakannya sambil terus berusaha mencerna semua yang telah terjadi
"Apa ada benang merahnya?" tanya Tuan Simon
"Semua data yang diberikan itu adalah korban - korban perdagangan anak, Rachel mengatakan Daniel ingin membuat dunia yang aku inginkan. Berarti itu adalah dunia dimana tidak ada perdagangan anak, namun tindakannya diluar dari apa yang aku inginkan. Aku masih tidak mendapatkan titik terangnya, tapi setidaknya aku tahu alasan Daniel melakukan ini semua" jelas ku, sejenak tuan Simon hanya diam menatapku seraya mengangguk - angguk
"Aku ingin kamu menginterogasi Aida dan mencari tahu dimana Daniel berada, dengan begitu kita mungkin bisa semakin dekat dengan misteri ini" celetuk tuan Simon memecah keheningan, dia berdiri dari duduknya hendak meninggalkan ruangan itu.
"Rick dan Shane akan menjadi kepala penjaga di tempat ini, aku tidak ingin mengambil resiko Daniel dapat menyusup ketempat ini dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi padaku dan tugasmu adalah mencari informasi keberadaan Daniel, segera kabari aku jika kamu sudah mendapatkannya" Perintah Tuan Simon sebelum berlalu meninggalkan ku disana.
Aku keluar dari tempat itu untuk menemui Charlotta, ditempat tadi aku meninggalkannya tadi aku melihat Charlotta dan Rachel sedang bertatapan mata. Keduanya nampak saling tatap dengan penuh kebencian, entah apa yang sudah mereka berdua katakan namun aku tidak ingin hal itu menggangguku saat ini.
"Charlotta, kamu sudah bertemu dengan Dokter Rachel? dia yang bertanggungjawab atas Aida saat ini" aku mengucapkannya sambil menggaruk garuk dahiku
"Tentu, aku juga melihatnya di salah satu foto yang ada di rumah tadi" timpal Charlotta dengan nada yang terdengar sinis
"Jadi kamu sudah tahukan hubunganku dengan Dokter Lee itu seperti apa? untuk apa kamu masih disini? pulanglah!" nada Rachel meninggi menimpali kata sinis Charlotta
"Aku yang memutuskan akan tetap tinggal atau pergi, untuk apa aku menuruti kata katamu?!" timpal Charlotta juga meninggi, tidak ingin ini terus berlarut aku segera menarik tangan Charlotta ke kamar Aida.
"Dokter Lee!! kamu mau bawa kemana dia? aku melarang mu untuk melakukan apapun saat ini!!" bentak Rachel dengan nada marah kepadaku sambil terus mengikuti ku dan Chalotta
"Sudahlah Rachel, saat ini aku harus melakukan sesuatu dan Charlotta adalah kesempatanku untuk mendapatkan informasi" dengan nada pasrah aku katakan itu
"Hoo... aku lebih berguna ya daripada dokter ini" Charlotta menyindir Rachel, mendengar sindiran itu Rachel langsung berlari untuk menghalangiku masuk kedalam kamar Aida.
"Tidak!! aku tidak akan izinkan!!" masih dengan bentakan Rachel mengatakannya, seketika itu Charlotta melepaskan genggaman tanganku lalu dengan gestur tangan seolah dia mencoba untuk berteriak.
"Aida...!! ini Charlotta, apa kamu tidak rindu denganku?" agak berteriak Charlotta mengatakannya, aku kaget dengan sikap tiba - tiba Charlotta yang tidak biasa itu lalu aku memandang wajah Charlotta yang tersenyum setelah memanggil Aida seperti itu.
Wajah lugu, cantik dan manis itu nampak muncul dari balik pintu kamar dan dia terlihat kaget melihat keberadaan Charlotta, begitu juga denganku yang terkejut melihat ekspresi Aida saat itu. Yah... Aida pasti sangat mengenali suara Charlotta, setelahnya aku melihat Aida berjalan ragu untuk keluar dari kamar. Ketika itu Charlotta memberikan gestur bahwa dia ingin memeluk Aida, seketika itu Aida berlari dan memeluknya dengan erat. Aida sedikit menabrak Charlotta seperti yang pernah dia lakukan kepadaku, tentu saja aku dan Rachel sangat terkejut dengan yang Aida lakukan.
"Hai Aida... sudah lama ya..." ucap Charlotta dengan nada lembut
"Nona Charlotta.... Aku rindu padamu...." dengan suara lirih Aida katakan itu
"Apa yang terjadi? aku tidak tahu kalian sedekat ini" terkejut aku katakan itu, namun Charlotta hanya tersenyum padaku
"Jangan pernah lakukan hal itu lagi demi aku..." ucap Aida dengan nada lirih dan menangis saat itu, aku bingung sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua
"Tidak apa... aku juga rindu padamu Aida...." ucap Charlotta menahan tangisannya sembari mengelus kepala Aida
__ADS_1
Apa yang aku lewatkan tentang kebersamaan mereka, mengapa aku tidak tahu jika mereka sedekat itu? sebenarnya apa yang terjadi saat aku meninggalkan Aida dan Charlotta berdua tepat ketika tragedi yang menimpa Tuan dan Nyonya West? tapi sebagian dari diriku merasa lega karena mungkin saat ini informasi tentang Daniel bisa terkuak dengan kedekatan Charlotta dan Aida, sosok Daniel dan seluruh rentetan kejadian ini akan semakin terkuak hari ini. Akan aku susun setiap puzzle kejadian yang aku alami untuk mengungkap tentang Daniel. Walau jauh di lubuk hatiku berharap bukan Daniel orang dibalik semua kejadian ini.