Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Delapan Tahun Lalu


__ADS_3

Seorang dokter muda dengan prestasi yang sempurna merupakan dokter khusus untuk penanganan gangguan mental, mulai dari korban perdagangan anak, kekerasan, dan pelecehan seksual. Lee, Dokter Lee begitu dia dikenal sebagai dokter Psikiatri. Prestasinya tidak diragukan lagi, banyak korban yang telah dia sembuhkan mentalnya. Bahkan tidak sedikit dari para pasien bisa kembali hidup normal dan memulai kehidupan yang baru penuh kebahagiaan dan terhindar dari pandangan negatifnya terhadap dunia.


Sebuah keberhasilan yang membuat seorang Lee membumbung tinggi dengan kesombongannya. Yeah... Lee, nama seorang dokter yang sombong sebelum pada akhirnya berubah menjadi dokter Andrews Hopkins. Berkas nomor 102112 ini menguak masa laluku.


***Delapan Tahun Yang Lalu***


Semua ingatanku terkuak pada hari kamis malam delapan tahun yang lalu, malam itu sebuah pesta sedang diadakan di gedung perlindungan saksi dan korban. Disanalah aku saat itu berada dengan wajah penuh kebahagian dan kemenangan juga kesombongan bersama dengan rekan tim dokter psikiatri lainnya, aku lah aktor utama dari pesta yang berlangsung meriah itu.


"Selamat atas keberhasilan yang ke seratus kalinya Dokter Lee, kami senang memiliki anda di institusi ini" dokter Han mengatakannya sambil mengajakku bersulang, dia seorang Dokter Kepala dalam institusi ini dan merupakan mentorku.


"Aah terima kasih dokter kepala Han, aku tidak pantas mendapatkan kehormatan ini" timpal ku sambil menempelkan gelasku ke gelas Dokter Han.


"Jangan merendah begitu Dokter Lee, tugas kami semakin mudah sejak kehadiran anda. Jujur saja tugasku sangat berat sebelum anda bergabung dengan kami, Hahaha" dokter Maggie menimpali dengan nada yang terdengar sangat bahagia, dia adalah seorang dokter seniorku di institusi ini dan menjabat sebagai wakil kepala dokter.


Aku adalah dokter muda yang berdampingan dengan para dokter senior hebat, lalu bagaimana bisa aku tidak sombong dan angkuh dengan prestasiku. Pujian dari senior itu membuatku membumbung tinggi dan merasa jika memang akulah yang terbaik dan penentu keberhasilan.


"Dokter Maggie, terima kasih... aku sangat tersanjung. Ini tidak akan terjadi padaku jika tidak ada bantuan dari anda" ucapku masih merendah


"Tidak Tidak... sebagai wakil di institusi ini, Dokter kepala Han memberikan tugas berat untukku. Keberhasilan Institusi ini sangat sulit untuk menembus enam puluh persen, tapi sejak ada anda kita berhasil meningkatkan itu hingga delapan puluh tiga persen di tahun ini. Anda sangat layak untuk mendapatkan kehormatan ini" Kata Dokter Maggie lalu mengajakku bersulang.


Riuh pesta itu malam itu semakin aku nikmati dengan penuh perasaan bangga akan diriku, jelas dalam ingatanku bagaimana ketika itu aku memikirkan bahwa itulah awal dari melejitnya karir seorang dokter Lee. Disanalah aku akan hidup dan menemukan kebahagiaanku.


"Terima kasih, aku sangat terhormat atas pujian anda" ucapku lalu aku menempelkan gelasku pada gelas dokter Maggie


"Lalu bagaimana dengan penerimaan anggota dokter baru dari universitas? apa sudah ada yang bisa memberikan laporan padaku? siapa yang bertanggungjawab untuk ini? sudah terlambat tiga hari dari jadwalnya" agak berteriak Dokter Han mengatakan itu, kepalanya ke kanan ke kiri seperti mencari seseorang


Tidak lama setelah dokter Han berteriak, seseorang terlihat berlari tergopoh - gopoh mendekati kami. Adalah dokter Mark yang juga merupakan seniorku ketika itu datang mendekat, ketika itu raut wajahnya terlihat tertekan dan aku tahu dia tidak menikmati pesta ini.


"Maaf Dokter Kepala Han, sebenarnya kita mendapatkan masalah tentang penerimaan anggota baru" ucap dokter Mark


"Apa maksudmu?" Dokter Han menanyakan dengan nada heran dan menekan, sebenarnya dokter Han bukanlah seorang yang sabar dan dia adalah tipe kepala yang tidak ingin disalahkan atas apapun.


"Pada saat penerimaan itu dilaksanakan hanya ada satu orang saja yang mendaftar, beratnya tugas dan tingginya tanggung jawab terhadap profesi ini yang membuat mahasiswa itu mengesampingkan untuk mendaftar ke institusi ini, aku sungguh menyesal untuk itu" jawab Dokter Mark dengan nada sedih


"Haah.... memang, selain tugas kita tidak kenal waktu, menjaga orang - orang dengan beban psikologis seperti itu menjadikan kita kadang ikut gila, bukan begitu Dokter Lee?" dengan nada agak bercanda Dokter Han mengatakan itu sambil menatapku.


"Hahaha... ada benarnya juga, tapi apa yang lebih menyenangkan daripada saat kita berhasil dan mengetahui pasien kita sudah mampu untuk memulai hidup baru di tengah masyarakat? aku rasa itu impas untuk pengorbanan kita" sambil mengangkat gelas ku aku katakan itu


"Anda benar - benar seorang dokter yang berdedikasi tinggi, cheers untuk Dokter Lee dan keberhasilannya" Dokter Han memberikan penghormatan tertinggi untukku di pesta malam itu.


Seperti itulah suasana perayaan ke seratus kali atas keberhasilanku, para tim dokter memberiku penghargaan atas dedikasi dan pencapaianku yang dinilai luar biasa membuat perubahan rata - rata keberhasilan di institusi ini jauh lebih baik dari tahun - tahun sebelumnya.


Sudah dua hari sejak pesta itu, di suatu siang didalam ruangan kantorku. Aku yang masih bergelut dengan berkas - berkas pasien mendadak dikejutkan dengan seseorang dengan membawa tumpukan berkas baru, seorang jaksa menghampiriku dan menaruh berkas - berkas yang tidak terhitung jumlahnya di mejaku tanpa merasa tidak enak hati atau apapun ketika di mejaku sudah banyak berkas lainnya.


"Apa ini?" tanyaku dengan nada bercanda

__ADS_1


"Apa anda bercanda? haha... maaf merepotkan anda untuk ini" jawab jaksa itu sedikit kelelahan sepertinya, terdengar dari nafasnya yang sedikit terputus - putus saat menjawab pertanyaanku.


Sebenarnya kegiatan itu sering terjadi di kantorku, tak heran mengapa aku bisa meraih keberhasilan ke seratus. Kota yang aku tinggali ini memanglah kota dengan angka kriminalitas yang tinggi, tak jarang anak - anaklah yang menjadi korban. Tempatku bekerja juga sudah terlalu sering terpublikasi oleh media sehingga limpahan kasus sering kali datang ketempat ini, tentu saja karena mereka ingin agar korban segera pulih mentalnya dan nama baik untuk kota juga bisa menghiasi pemberitaan dunia.


"Jadi... ini pasien pasien baru lagi? tidak ada hentinya ya" timpal ku sambil menghela nafas panjang


"Aku juga heran, tapi ya tugasku hanya untuk mengantarkan ini. Aku masih ada urusan lain, jadi selamat siang dan selamat bekerja dokter Lee" ucap jaksa itu sambil meninggalkan segunung berkas ini bersamaku diruang kerja


Aku mengabaikan tumpukan berkas baru itu dan kembali fokus pada berkas yang sudah lebih dulu ada di tanganku, ketika perhatian ini sudah kembali pada berkas itu aku sampai tidak sadar jika seseorang kembali memasuki ruang kerjaku. Aku kembali dikagetkan ketika orang itu berkata...


"Waah berkas baru lagi... tugas disini sangat berat ya... Dokter Lee, atau aku panggil saja senior Andrews? hehe..."


Suara yang tidak asing itu memecah konsentrasi ku, aku segera mengalihkan pandangan mataku untuk menatap sumber suara yang begitu menarik perhatianku. Rachel... ya dia mendadak muncul entah darimana, tapi menurutku karena aku yang terlalu fokus saat itu sampai tidak menyadari kehadirannya. Yaa itu suara Rachel, aku sangat mengenalnya ketika kami sama - sama mahasiswa kedokteran dulu.


"Looh kamu kan.... Rachel, eeh benarkan?" tanyaku mencoba memastikan ingatanku, aku mengingat suaranya namun tidak dengan penampilannya kala itu.


Aku sedikit kaget dan heran dengan perubahan penampilan Rachel ketika sudah dua tahun tidak bertemu lagi dengannya, aku lulus lebih dulu dan sejak itu kami tidak pernah lagi bertemu. Sangat berbeda dengan dia yang aku kenal saat di Universitas dulu, kini dia terlihat lebih feminim dan juga tidak lagi mengenakan kacamata tebal. Rambutnya dia ikat kuda dengan poni samping tidak seperti dulu yang selalu dia kepang dua. Gaya berpakaian dia pun juga berubah, kini terlihat lebih modis dan mengikuti zaman.


"Kenapa? aku berbeda dari dua tahun lalu sejak terakhir kita bertemu ya? apa aku tambah cantik sekarang?" tanya Rachel dengan nada menggodaku


"Aah kamu masih saja suka menggodaku, kenapa bisa kamu masuk kesini?" tanyaku seraya aku menaruh berkas ditangan ke diatas meja dan menatap Rachel, ya aku akui saat itu aku terpesona padanya.


"Aku anak baru disini loh... nih kartu ID ku, sekarang aku bisa bertemu denganmu lagi" Rachel menjawab pertanyaanku sambil menunjukkan ID Card nya, wajahnya terlihat bahagia saat itu.


Ternyata Rachel lah anak baru yang saat pesta berlangsung disebutkan oleh dokter Mark, sejauh yang aku kenal Rachel memanglah mahasiswa dengan nilai yang baik sejak di kampus. Dia memang juniorku tapi kedekatanku dengannya dulu membuatku mengetahui nilai akademik Rachel, dia juga pernah bercerita jika dirinya sangat tertarik untuk bekerja sebagai dokter kesehatan mental.


"Dokter Kepala, ya aku sudah bertemu atau lebih tepatnya baru saja dia menemui ku" ucapku dengan sedikit candaan, Rachel nampak tersenyum malu.


"Looh kalian sudah saling kenal?" tanya Dokter Han yang kemudian masuk kedalam ruangan


"Dia adalah juniorku dulu di Universitas" jelas ku singkat


"Dan aku calon pacarnya dulu jika saja Dokter Lee tidak terlalu gugup menyatakan cintanya padaku" timpal Rachel dengan nada menggodaku


"Rachel!" aku sedikit meneriakinya namun Rachel nampak menikmati melihat wajahku yang terlihat sangat malu


"Begitu ya... Hmm, Baiklah... Dokter Rachel, kamu akan satu divisi dengan Dokter Lee. Selamat bergabung di Institusi ini" Dokter Han dengan tegas mengatakan itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman menyambut kedatangan Rachel


"Terima kasih" Rachel menjabat tangan Dokter Han dan Dokter Han meninggalkan ruangan itu.


"Yeey... kita sepertinya akan menghabiskan waktu bersama sama... hihi" dengan nada bahagia Rachel menatapku dan mengatakannya


"Yaah bagaimana lagi, tapi bekerja denganku itu berat loh" aku sedikit mengancam Rachel


"Ooh iya Dokter Lee, disini tidak ada larangan hubungan sesama Dokter dalam satu institusi. Aku hanya mengingatkan itu saja" celetuk Dokter Han yang ku lihat sudah keluar tadi tiba - tiba mengatakan itu dengan sedikit memunculkan kepalanya didepan pintu, candaannya benar - benar membuatku malu dan sedikit salah tingkah

__ADS_1


Setahun sudah aku lalui sejak kedatangan Rachel menjadi partnerku, prestasiku semakin menanjak dan aku berhasil mempertahankan rekor ku dengan tingkat keberhasilan seratus persen. Keberhasilanku membuatku menjadi sosok yang arogan dan congkak, aku tidak segan - segan mengambil pasien - pasien dokter lain saat itu dan mengatakan seakan - akan hanya akulah yang bisa melakukan tugas - tugas itu. Entah sejak kapan juga teman - teman sesama dokter menjauhiku kecuali Dokter kepala Han dan Rachel yang saat itu sudah hampir satu tahun menjadi kekasihku.


"Baik... ini berkas milik Daniel, kamu masih tinggal satu rumah dengannya?" tanya Rachel saat itu dengan sedikit pertanyaan di ruangan kantorku


"Ya, aku memiliki harapan untuknya. Entah mengapa aku rasa dia layak untuk menjadi polisi selain karena cita - citanya, caranya mengejar impiannya itu yang membuatku merasa dia akan sukses nanti" jelas ku pada Rachel


"Aku agak khawatir tentang Daniel, dia hidup di keluarga yang penuh dengan kekerasan. Kalau dia menjadi seorang yang memiliki kekuasaan seperti itu, bukannya itu akan berbahaya?" Rachel mengucapkan itu sambil duduk diatas mejaku dan menatapku


"Tidak, aku sudah mengenalnya sangat jauh. Dia bukan tipe orang seperti itu, jauh didalam hatinya dia penuh kasih sayang dan berdedikasi terhadap setiap tanggung jawab yang aku berikan padanya" jelas ku pada Rachel.


Daniel... dia merupakan salah satu pasienku yang diijinkan bisa keluar dari tempat rehabilitasi namun masih harus dalam pengawasanku untuk menyiapkannya menghadapi dunia luar dan bermasyarakat, itu alasanku membawanya untuk tinggal bersamaku dan merawatnya dengan penuh dedikasi tinggi. Berbeda dengan pasien - pasien lain, Daniel terlihat seperti anak normal pada umumnya. Tapi suatu kejadian yang membuatnya kini berada di tanganku, yaitu ketika dia menghajar ayahnya sendiri sampai ayahnya koma di rumah sakit selama berbulan - bulan.


Semua itu dilakukan Daniel untuk melindungi adiknya dari siksaan sang ayah, Daniel yang selalu hidup dengan kekerasan dari ayah kandungnya itu tumbuh besar dengan semua pemikiran jika kekerasan adalah sebuah kewajaran. Ibu nya sendiri juga telah meninggal ketika melahirkan adiknya, karena itulah Daniel begitu menyayangi adiknya dan dia melakukan apapun untuk melindunginya. Namun dihari kejadian adik Daniel harus meninggal karena disiksa oleh sang ayah, setelahnya Daniel pun menghajar ayahnya sendiri sampai dia koma dan membuat Daniel menjadi gila.


Dari atas mejaku Rachel menggeser tubuhnya mendekatiku lalu melingkarkan tangannya ke leherku yang masih duduk di kursi belakang meja kerja


"Tapi akhir - akhir ini kamu agak sedikit sombong ya, teman - teman diluar tidak menyukai caramu loh Dokter Lee. Aku mencemaskan mu...." ucap Rachel dengan sedikit senyumannya, aku melepaskan tangannya dari leherku dan kemudian berdiri menuju sebuah lemari dan melemparkan sebuah berkas kearah meja di dekat Rachel


"Itu adalah tumpukan prestasiku, dari sudut mana kamu akan mengkhawatirkan ku? tanpa aku pasien disini tidak mungkin sembuh dan bisa kembali ke masyarakat seperti sekarang" timpal ku dengan nada sombong


"Hihihi... tentu Dokter Lee, kamu yang terbaik disini" ucap Rachel sedikit tertawa menatapku, tidak lama ada seseorang yang membuka pintu


"Dokter Lee, bagaimana dengan pasien ke seratus sembilan sembilan mu? dalam setahun ini kamu memaksakan dirimu, kamu seperti mengejar target pribadi. Seratus orang dalam satu tahun?" tanya Dokter Han dengan nada yang ramah, secara bersamaan Rachel melompat dari meja kerjaku.


"Maaf Dokter kepala, aku tidak tahu anda akan kemari" timpalnya terdengar malu


"Tidak apa Dokter Rachel, anak muda memang penuh bara api asmara. Hahaha" canda Dokter han yang sangat bersahabat saat itu


"Daniel berjalan dengan baik, aku juga sudah memeriksa berkas pasien dengan nama Celline. Sangat mudah bagiku, beri aku waktu sebelum akhir tahun ini. Dia akan segera kembali membaur dengan masyarakat" dengan penuh keyakinan aku katakan itu.


"Baik, semoga kita bisa merayakan keberhasilan mu yang ke dua ratus kali di tahun ini dan Dokter Lee aku ingin memintamu untuk fokus pada Celline dan Daniel. Dokter lain agak terganggu dengan dirimu yang seperti ini, sampai Celline dan Daniel bisa dinyatakan sembuh aku harap kamu tidak mengambil alih pasien dokter lain" dengan nada tegas Dokter Han mengatakan itu sambil menatapku dengan tatapan seperti mengkhawatirkan ku, aku hanya sedikit mengangguk saat itu dan Dokter Han meninggalkan ruanganku


Beberapa hari setelahnya Celline telah resmi menjadi pasienku, pertemuanku pertama kalinya dengan Celline saat itu sedikit aneh. Aku sudah terbiasa bertemu dengan pasien baru dengan ekspresi ketakutan, tangisan, teriakan, dan terdiam membisu tidak mengatakan apapun. Namun Celline berbeda, dia tersenyum menatapku yang saat itu menemuinya, tatapan matanya seperti menerimaku dengan baik ketika kami bertemu dan aku juga bersama Rachel saat itu.


"Hai... Celline, bagaimana keadaanmu?" tanyaku dengan sedikit heran sembari duduk di kursi depan Celline


"Hai... aku baik sejauh ini" masih dengan senyumnya Celline menjawab pertanyaanku dengan tenang


"Boleh aku bertanya tentang biodata mu? aku ingin mencocokkan dengan berkas yang ada di tanganku ini" tanyaku dengan nada yang lembut


"Tentu... kamu juga boleh mencocokkan data kasusku sekarang, aku dulu pernah tahu tentang hal seperti ini disebuah acara. Mereka akan bertanya tentang biodata lalu beberapa hari berikutnya bertanya tentang kejadian buruk yang menimpa mereka. Begitu Kan cara kerjanya?" dengan senyum yang lebar Celline mengatakan itu dan menatapku penuh kelembutan


Celline Ramora, gadis berusia enam belas tahun yang cantik. Berkulit putih dan memiliki rambut lurus panjang berwarna pirang, keindahan terlihat dikedua bola mata Celline yang berwarna biru. Gadis kecil itu sepertinya terlalu cantik untuk mengalami gangguan mental.


Aku tidak merasakan sesuatu yang buruk pada saat itu namun Rachel memegang dan sedikit meremas bahuku, aku awalnya tidak menyadari apa yang membuat Rachel seperti itu dan tragedi ku dimulai saat aku tidak menyadari apa yang Rachel coba isyaratkan dan katakan padaku.

__ADS_1


__ADS_2