
Beberapa saat setelah telepon Tuan Simon terputus, aku sudah siap untuk berangkat menuju gedung Institusi Perlindungan Saksi dan Korban. Sebelum keluar dari rumah saat itu Rachel merapihkan bajuku sembari tersenyum, Setelah dirasa rapih aku berjalan menuju DB ku yang terparkir dipinggir jalan tepat didepan rumah dan di ikuti oleh Rachel dibelakang.
Ku putari DB itu dan hendak masuk kedalamnya untuk mengemudi namun entah mengapa aku teringat masa laluku ketika aku masih menjadi yang terbaik. Ganggang pintu mobil yang terasa dingin ini memberikan sensasi nostalgia, aku menatap kearah Rachel dan berharap dia merasakan hal sama denganku.
"Seperti dulu ya, beberapa kali aku menginap disini dan berangkat bersamamu menuju kantor" celetuk Rachel dengan manja, sepertinya dia tahu apa yang ada di dalam pikiranku ketika itu dan membuatku tersenyum menatapnya
"Ayo kita lakukan!" penuh semangat aku mengatakannya, kami pun memasuki mobil dan segera menuju ke institusi tempat Aida berada.
Perjalanan yang aku tunggu - tunggu akhirnya tiba, dengan penuh semangat ku pacu DB bersama Rachel yang masih setia menemaniku. Aku sangat bersemangat sampai begitu cepat rasanya aku sampai disana, hari ini aku disuguhkan dengan pemandangan banyaknya petugas polisi disekitar area gedung seperti sedang melakukan penjagaan dan pengawalan di tempat itu. Pasti karena kehadiran tuan Simon sang kepala polisi di gedung ini, melihat itu aku semakin semangat karena tuan Simon menepati janjinya padaku.
"Pengawalan jendral polisi itu beda ya" celetuk Rachel seraya keluar dari mobil bersamaku
Tanpa ragu aku dan Rachel berjalan hendak masuk kedalam gedung, namun ketika itu langkah kami dihadang oleh dua petugas polisi yang berjaga di pintu masuk.
"Maaf, gedung ini sedang di tutup. Hanya yang berkepentingan yang dapat masuk" ucap salah satu petugas di depanku
"Aku dokter disini dan dia adalah tamu dari Tuan Simon" ucap Rachel menjelaskan kepada petugas
"Tunggu sebentar, aku harus menghubungi petugas didalam" timpal petugas lainnya sembari memegang sebuah alat komunikasi yang menempel di telinganya lalu berbicara pada seseorang dengan alat itu, beberapa saat petugas tadi memberi gestur tangan kepada temannya
"Baik, silahkan masuk" ucap petugas di depanku
Aku dan Rachel segera memasuki gedung itu dan bertepatan saat tuan Simon dan seorang pria paruh baya terlihat berjalan keluar dari pintu yang menghubungkan lobby dengan ruang pemeriksaan, kami saling bertatapan mata dan saling tersenyum setelahnya.
"Andrews!!" sapa tuan Simon dengan semangat seraya mendekat padaku dan memelukku dengan erat untuk beberapa saat
"Kamu terlihat bersemangat, bagaimana seharian kemarin?" tanyanya sambil meremas kedua pundakku lalu sedikit mendorongku agar kami dapat bertatapan mata lagi.
Tuan Simon... yah dia terlihat semakin tua setelah terakhir kami bertemu delapan tahun lalu, sosoknya mirip dengan tuan West. Kharismanya yang membuatku selalu menaruh hormat padanya, suaranya yang berat dan tegas membuatnya semakin cocok menjadi kepala bagi seluruh polisi di negara ini. Aku sangat mengaguminya...
"Baik Tuan Simon, semua baik... terima kasih atas bantuan anda selama ini" timpal ku sambil tersenyum menatapnya
"Tidak masalah, ini aku perkenalkan Dokter Robert Flicks. Dia dulu adalah anak didik dari Dokter Han, tapi dia lebih memilih bekerja di rumah sakit swasta sampai dokter Mark dipecat dan akhirnya di yang dipilih oleh menteri" ucap tuan Simon seraya mendorongku mendekat kearah Dokter Robert, tanganku menyambut jabat tangan Dokter Robert dan kami pun bersalaman
"Kita memiliki mentor yang sama jadi aku rasa kita dapat bekerja sama dengan sangat baik" Dokter Robert menerimaku dengan hangat
Usia dokter Robert terlihat beberapa tahun diatas ku, sosoknya terlihat tegas dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Dari raut wajah dan cara bicaranya yang ku baca, dokter Robert merupakan dokter yang sangat disiplin dan cara kerjanya akan mirip dengan dokter Han dan juga aku yang selalu menggunakan akurasi data yang valid untuk observasi pasien.
__ADS_1
"Tentu... aku akan berusaha sebaik mungkin" balasku
"Aku sudah melihat arsipmu, kamu memiliki rekor yang bagus dan kemampuan analisa data yang baik. insiden itu tentu membuat seorang dokter seperti kita menjadi terpukul namun aku sudah melihat semangat membara dari sorot matamu. aku mengharapkan sesuatu yang hebat saat kamu telah bekerja kembali" ucap Robert memberiku motivasi
Sudah ku duga jika dokter Robert akan mengatakan hal itu, tidak heran karena kejadian yang menimpa Celline memanglah mencoreng karirku sebagai dokter psikiatri terbaik dan berita itu menyebar dengan cepat. Entah bagaimana dengan berita tentang menghilangnya aku, namun saat ini aku akan meyakinkan mereka jika aku sebagai dokter Lee sudah kembali dan akan melakukan semua dengan lebih baik. Semua tak lepas karena Aida sebagai penebusan dosaku terhadap Celline dan juga sebagai bentuk tanggung jawabku terhadap impian dokter Han.
"Aku tidak sebaik itu namun aku pastikan aku akan berkerja keras, terima kasih sambutannya Dokter Robert" jabat tangan kami pun berakhir saat itu, lalu Tuan Simon menarik bahuku dan mengajakku masuk kedalam gedung
"Ini yang kamu tunggu tunggu kan? bertemu dengan seorang pasienmu yang berharga" ucap Tuan Simon sembari merangkul bahuku dan berjalan menuju kamar Aida
Benar! hanya itulah saat - saat yang aku tunggu, aku tidak sabar untuk bertemu Aida setelah cukup lama kami terpisah dengan kondisi yang tidak baik. Mendengar suaranya saja seperti tidak cukup untuk menenangkan hatiku, itulah mengapa pagi ini aku begitu menggebu untuk menemui tujuanku di kota ini.
Jujur saat itu aku gugup, jantungku berdegup kencang saat berjalan di lorong itu. Aku sempat melihat sekeliling nampak sekali tidak banyak yang berubah, melihat beberapa staf perawat dan dokter membuatku seperti kembali ke masa lalu namun tidak satu pun disana yang aku kenal. Kami berhenti saat itu, aku melihat papan yang tergantung diatas pintu suatu ruangan tertulis nama "Aida". Jantungku semakin berdegup kencang, aku tidak tahu apa yang akan aku ucapkan ketika bertemu dengannya.
"Ayoo.... jangan malu malu, bukankah ini yang kamu tunggu" Rachel menepuk pundakku, aku berjalan menuju pintu itu dan melihat kedalam ruangan. Aida sedang menyusun balok balok dan membangun sebuah rumah, seketika Aida menatap wajahku dengan tatapan tajamnya seperti biasa. Kami hanya terdiam beberapa saat saling bertatap mata
"Dokter...." Aida mendadak tersenyum kemudian berdiri dan berlari ke arahku, menabrak ku dengan keras dan memelukku dengan erat. Aku mengelus kepalanya seperti biasa. Aku terdiam beberapa saat, seperti tidak percaya aku bisa menemui Aida lagi. Kejadian buruk yang menimpaku selama perjalanan ketempat ini terbayar lunas rasanya. Aida yang terlihat baik baik saja membuatku terharu dan bahagia.
"Kamu baik baik saja Aida?" tanyaku dengan nada lembut
"Aku baik... nona Rachel merawat ku dengan baik, Dokter dan perawat disini juga... aku diperlakukan istimewa disini berkat Dokter Lee" Suara Aida membuat suasana hatiku benar benar berbeda, sepertinya aku merindukan suara ini
Tapi penyesalanku harus segera berlalu, aku harus kembali menjadi dokter Lee yang lebih baik. Melihat Aida yang kembali ceria haruslah menjadi awal aku merubah kembali hidupku untuk lebih baik, tidak lagi lari dan menjadi pengecut untuk selamanya.
"Ehem..." Rachel menarik perhatianku dan Aida sesaat, namun Aida tidak melepaskan pelukannya
"Kamu senang Aida? Dokter Lee sudah berada di depanmu dan sepertinya kamu tidak ingin melepaskan pelukanmu ya" sambil mengatakannya tatapan sinis Rachel jelas tertuju padaku saat itu
"Rachel!! jangan sekarang tolong..." ucapku agak malu, namun suara tawa Dokter Robert dan Tuan Simon memecah suasana haru itu. Aku dan Aida pun ikut tertawa.
Kami pun berpindah tempat ke kantor Dokter Robert, disana aku duduk disebelah Tuan Simon dan di depanku ada Dokter Robert yang sedang membaca berkas berkas ku
"Surat ijin dokter anda telah kadaluarsa, aku tidak bisa mengusahakan apapun untuk ini. kecuali anda dengan suka rela mengikuti tes lagi untuk mendapatkan ijin" jelas Dokter Robert padaku
"Dokter Robert, Andrews adalah dokter hebat... tidak bisakah anda usahakan sesuatu?" tanya Tuan Simon
"Tidak masalah Tuan Simon, aku bisa atasi ini" dengan yakin aku katakan itu
__ADS_1
"Itu akan memakan waktu, Aida akan lebih lama tertahan disini" ucap Rachel yang saat itu duduk di belakangku bersama Aida
"Tidak ada masalah, selama aku bisa mempunyai akses keluar masuk aku tetap akan bertemu dengan Aida" aku berbalik dan menatap mata Aida
Untuk langkah awal yang baik aku memang memilih mengikuti semua rangkaian tes yang harus dikerjakan, bagiku semua akan mudah untuk dijalani dan dikerjakan dengan baik. Yang sangat penting bagiku saat ini adalah bisa bertemu dengan Aida kapanpun aku mau. Serangkaian tes itu aku ikuti juga sebagai bukti kesiapan ku mengemban kembali apa yang telah dokter Lee lakukan dulu, dan aku akan belajar dari kesalahanku.
"Tidak apa kan Aida? kita tunda beberapa saat untuk pulang dan berdoa di makam Tuan dan Nyonya West, aku janji pasti akan melewati ujian ini secepat mungkin" ucapku sambil menatap mata Aida, Aida tersenyum dan hanya mengangguk ke arahku
"Begitulah Dokter Robert, aku akan lewati ujianku dan mohon kerjasamanya" aku kembali menatap kearah Dokter Robert
"Bagus, biasanya kami tidak menerima Dokter baru dipertengahan tahun seperti ini, namun untukmu akan aku buka secara khusus. Aku harap kamu bersiap karena ujian kompetensi akan dilakukan minggu depan, selama itu..." Dokter Robert seperti mencari sesuatu di laci dan mengambil sebuah ID Card dan memberikannya padaku
"Dengan ini kamu bebas untuk masuk ke tempat ini, hanya saja kamu dilarang untuk memberikan pengobatan jenis apapun pada semua pasien" Jelas Dokter Robert padaku
"Jadi memang tidak bisa ya membawa Aida bersama dengan Andrews? sayang sekali, maaf Andrews aku sudah berusaha semaksimal mungkin" sambil menepuk pundak ku Tuan Simon mengatakannya
"Tidak apa, semua bantuan anda sangat membantu Tuan Simon aku tidak tahu dengan cara apa aku berterimakasih" ucapku saat itu.
"Baiklah... aku harus segera kembali ke kantor, ada urusan yang sangat mendesak" Tuan Simon berdiri dan bersalaman dengan Dokter Robert lalu denganku, lalu sedikit menarik ku agar aku ikut dengannya. Aku memberikan gestur pada Aida dan Rachel agar tidak mengikuti ku keluar dari ruangan itu.
Beberapa saat kami berjalan tanpa sepatah kata pun, dalam pikiranku saat itu hanya membangun semangat yang kuat untuk kembali mengambil ijin tugasku sebagai dokter khusus, aku tak sabar ingin membawa Aida pulang bersamaku. Fokusku kembali setelah tiba di halaman parkir, aku yang mengantar Tuan Simon sudah sampai di mobil dinasnya, tiba tiba Tuan Simon menyampaikan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Aku merasakan hal tidak beres akhir akhir ini sejak kedatangan Aida" ucap Tuan Simon saat itu
Siapa sebenarnya Aida sehingga membuatku dan tuan Simon merasa kedatangannya membawa banyak hal yang mencurigakan? Rasanya masih berat untuk memikirkan hal baru namun informasi ini tidak bisa aku sepelekan.
"Maksud anda?" tanyaku saat itu, aku benar benar tidak paham yang dikatakan Tuan Simon
"Seseorang sepertinya ingin menyingkirkan ku, lebih dari itu kamu masih ingat anak yang kamu titipkan padaku?" tanyanya sambil menatap mataku
"Tentu, Daniel Osborn" ucapku
"Dia salah satu orang yang hendak menyingkirkan ku saat ini, aku tidak tahu dia bekerja untuk siapa namun kamu harus waspada padanya" perkataan Tuan Simon benar benar membuatku terkejut
"Apa? tidak mungkin, Benarkah itu?" aku tidak dapat mempercayainya
"Kamu telah menyelamatkan seorang monster Dokter Lee, dia tumbuh menjadi mesin pembunuh yang hebat. sayang dia tidak berada di pihakku" sembari masuk kedalam mobil dan membuka jendela mobilnya
__ADS_1
"Aku tidak tahu ada hubungan apa dia dengan Aida, namun aku akan menyuruh Rick dan Shane untuk melindungi mu. di angkatan Daniel, hanya dua orang ini yang memiliki kemampuan sama dengan Daniel. Maaf membebani mu dengan berita seperti ini, aku hanya ingin kamu berhati hati" pesan Tuan Simon padaku, dia lalu meninggalkanku disana.
Monster? kata - kata Tuan Simon mengingatkanku akan penilaian Rachel terhadap Daniel dulu. Ada apa ini? dua orang benar benar memberiku sebuah teka teki tentang Daniel, namun kejadian ketika Rachel memberiku peringatan tentang Celline saat itu kini membuatku serius memikirkan tentang peringatan, aku tidak ingin teledor lagi. Daniel, benarkah dugaan Tuan Simon dan Rachel tentang dia? dimana dia sekarang? siapa sebenarnya Daniel saat ini?