
Seharian aku berkeliling kota bersama Aida, banyak momen yang menjadi kenangan bersama antara aku, Aida dan pasien - pasien ku. Mereka terlihat menerima keberadaan Aida, menyambutnya dengan hangat, penuh senyuman dan entah berapa hadiah yang telah Aida terima pada hari ini. Setelah jam kunjunganku berakhir, aku pun menghabiskan waktu sampai malam bersama Aida di sebuah kafe yang berada di kota. Sambil memperhatikan perkembangannya setelah melewati hari yang menurutnya menyenangkan, beberapa kali aku mendapatkan senyuman manisnya itu terlihat di raut wajahnya yang menjadi kebahagiaan ku saat ini dan tidak ada hal lain.
Cukup lama aku dan Aida menghabiskan waktu di cafe tengah kota, kami memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan semua menu yang sempat kami pesan. Berharap cepat sampai di klinik yang juga sekaligus rumahku, aku ingin segera mengistirahatkan tubuh yang mulai terasa lelah. Aku melihat Aida juga terlihat kelelahan saat jalanan mulai sedikit menanjak, tapi memang hanya ini satu - satunya akses jalan menuju rumahku yang ada di puncak bukit.
Lima belas menit pun berlalu dan akhirnya kami sampai di rumah, aku langsung menaruh tas ku di ruang praktek lalu segera beristirahat di ruang keluarga dan melepaskan lelah di sofa. Aku melihat Aida langsung menuju kamarnya dengan membawa semua hadiah yang dia dapatkan, lalu ia menutup pintunya. Beberapa saat Aida kembali keluar dengan mengenakan sebuah piyama berwarna ungu lalu berjalan mendekatiku.
"Nona Charlotta mengatakan saat dirumah aku harus menggunakan pakaian ini, apa ini pantas untukku dokter?" tanyanya saat itu.
Tidak hanya inisiatif Aida untuk bertanya yang membuatku senang, tetapi panggilannya kepadaku yang tidak lagi menyebut tuan membuatku merasa jika Aida merasa nyaman dan aman berada di sampingku. Satu lagi kemajuan yang baik bisa aku tuliskan di kertas yang aku buat khusus untuk catatan perkembangan Aida. Bagaimana pun dia adalah pasien pertamaku lagi setelah vakum selama lima tahun, aku pasti dengan semangat untuk mencatat setiap progresnya dengan detail. Ah aku benar - benar nostalgia dengan profesi lamaku, telah lama aku tinggalkan dunia seperti ini dan kini aku mulai menikmatinya.
"Ya... itu manis dan akan terasa nyaman digunakan untuk beristirahat" Pujiku dengan senyuman, Aida nampak tersenyum
"Aku merasa tidak pantas menerima semua ini, jika ada yang bisa aku kerjakan, dengan senang hati aku akan melakukannya" Pintanya
"Tidak perlu, pekerjaan disini tidak begitu banyak" Aku mengatakannya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakiku, lalu Aida mendekatiku kemudian mengambil kaos kaki dan sepatuku dan segera ia merapikannya dan membawanya ke rak sepatu yang tidak jauh dari sana.
"Hal kecil seperti ini, aku harap aku bisa membantumu. apapun itu" Pintanya kembali
"Hmmm... baik, mungkin sedikit membersihkan debu - debu tapi tidak untuk malam ini, kamu bisa melakukannya esok pagi" ucapku dengan lembut.
"Terima kasih...." ucapnya singkat, aku beranjak dari sofa dan mengelus kepalanya
Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuat Aida pulih total secara mental, aku masih harus bersabar dengan kebiasaan Aida yang jujur saja membuatku sedih. Aku ingin segera membuat Aida mengerti bahwa untuk mendapatkan sesuatu Aida tidak selalu perlu membalas dengan melakukan pekerjaan berat maupun ringan.
"Tidurlah, kamu pasti lelah kan?" ucapku dan Aida menjawabnya hanya dengan anggukan dan meninggalkan ku diruang keluarga, aku pun segera menuju kamarku dan langsung merebahkan tubuh begitu keras di kasur.
Aku sepertinya agak terlelap saat itu dan terbangun seketika ketika mendengar jeritan yang memilukan, aku langsung beranjak dari kasurku dan berusaha menelaah darimana asal suara itu. Rasa lelah dan kaget membuatku agak telat berfikir, namun secara otomatis tubuhku seperti ingin melihat keadaan Aida. Aku berlari keluar kamar menuju kamar Aida, tanpa mengetuk pintu itu aku langsung membukanya dengan keras dan melihat keadaan Aida, aku melihatnya meringkuk di pojokan kasur dan menangis keras saat itu. Aku mencoba melihat apa yang terjadi, tapi dikamar itu semua nampak baik baik saja. aku mendekati Aida secara perlahan
"Kamu baik baik saja Aida?" tanyaku lembut, disana aku melihat Aida memegang erat liontin pemberian Tuan Benson dan suara pelan Aida yang terus berulang.
"Mimpi indahku jangan berakhir.... Mimpi indahku jangan berakhir...." gumamnya, tidak lama Aida menatapku dan air matanya mengalir sangat deras
Matanya memerah karena derasnya air mata yang mengalir, raut wajahnya ketakutan dan tubuh serta gerak bibirnya gemetaran.
"Kamu baik baik saja Aida? Semua baik baik saja?" tanyaku lagi berusaha menenangkannya
__ADS_1
"Aku tidak mau tidur lagi dokter.... aku tidak ingin mimpi indah ini berakhir.... tidak mau...." suaranya lirih menyayat hatiku, aku mendekatinya dan memeluknya untuk memberikan rasa nyaman, pelukan itu membuatku dapat merasakan tubuh Aida yang dingin. Itu pasti karena Aida berada dibawa ketakutan yang amat sangat besar.
Tidak Aida... tidak... kamu tidak sedang bermimpi, semua adalah nyata. Entah hal berat apa yang sudah kamu lalui duhai gadis kecil, aku pikir bekas luka itu adalah dampak yang paling menyakitkan bagi Aida, namun ternyata aku salah. Mental Aida begitu hancur sampai merasa kebahagiaan yang baru saja dia rasakan saat bersamaku tadi seperti mimpi yang ketika tidur akan berakhir. Hanya pelukan yang mampu aku berikan saat ini pada tubuh ringkih Aida, aku meyakinkannya jika semua pasti baik - baik saja.
"Tidak...tidak akan berakhir. Tidurlah Aida, tidurmu tidak akan menghilangkan mimpi indah mu dan jangan takut. Tidak akan ku biarkan mimpi buruk menghantui mu. Teruslah bermimpi yang indah Aida, biarkan Dream Catcher itu mewujudkan mimpi indah mu" aku berusaha selembut mungkin mengatakan itu sambil mengelus kepalanya dan memeluk badannya yang gemetaran hebat hingga akhirnya getaran itu menghilang dan Aida sepertinya tertidur didalam pelukanku.
Entah sejak kapan aku pun ikut tertidur dikamar Aida, aku terkejut saat terbangun lalu segera mencari Aida yang sudah tidak ada di sebelahku.
"Sejak kapan aku tertidur disini? jam berapa ini?" tanyaku dalam hati, aku melihat jam dinding dikamar itu menunjukkan pukul 7 pagi.
Aku segera beranjak dari kasur lalu menuju ruang keluarga dan disana aku tidak melihat Aida ditempat biasanya dia berdiri, namun perhatianku tertuju pada dapur saat itu karena ada aroma yang sedap datang dari arah dapur begitu pula dengan suara - suara seseorang beraktifitas di dapur itu.
"Siapa?" tanyaku sambil perlahan berjalan menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapurku
"Selamat pagi dokter...." sapa Aida nampak sedang menyiapkan sarapan sebuah omelet dengan segelas kopi
Meski terkejut namun aku tidak boleh beraksi terlalu berlebihan agar dia tidak berpikir yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan, aku berjalan lalu duduk disalah satu kursi makan dan membiarkan Aida menyiapkan masakannya di depanku. Rasa penasaranku terpancing "Masakan apa yang dia buatkan? kenapa dia terlihat terbiasa untuk melakukan hal ini?" tanyaku dalam hati
"Selamat pagi Aida, aku tidak menyangka kamu dapat memasak masakan yang memiliki aroma selezat ini" pujiku sambil bersiap untuk menyantapnya tanpa ragu, Aida sempat tersenyum mendengar pujianku.
Tanpa basa - basi lagi aku segera menyantapnya dan ya aku akui itu salah satu omelet yang enak yang pernah aku makan sebelumnya, aku bisa melihat dari sorot mata Aida sedang menungguku memberinya penilaian. Sebelum memberikannya pujian, aku meminum dua teguk kopi hitam buatan Aida lalu menghela nafasku sejenak.
"Yaah... ini enak tapi buatanku akan lebih enak" Gurauku sedikit dengan nada sombong
"benarkah?" tanyanya penasaran
"Tentu, kita akan masak satu menu yang sama secara bersamaan dan kita akan menjadi juri. Bagaimana?" tantang Ku saat itu, Aida hanya tersenyum dan mengangguk seakan dia menerima tantanganku.
Aku tertawa kecil lalu kembali menyantap omelette itu, tidak lama setelahnya aku mendengar seseorang mengetuk pintu klinik ku. "Pasien? bukankah ini terlalu pagi" ucapku dalam hati, aku beranjak dari dudukku dan segera berjalan menuju ruang pemeriksaan untuk membukakan pintu klinik. Dari balik pintu aku melihat tuan West bersama dengan dua orang polisi yang tidak aku kenal sebelumnya.
"Tuan West, apa yang membuatmu datang pagi - pagi seperti ini?" tanyaku saat itu sambil memperhatikan kedua polisi yang berada di belakang tuan West.
"Selamat pagi Dokter Andrews, perkenalkan petugas Rick dan petugas Shane. Mereka sedang mencari seseorang yang mungkin anda mengenalnya" jawab tuan West sambil memperkenalkan kedua polisi itu padaku, bersamaan dengan perkenalan itu aku melihat salah satu dari mereka sedikit berusaha melihat kedalam klinik ku.
"Boleh kami masuk Dokter?" tanya petugas Rick, Aku pun mempersilahkan mereka masuk sampai keruang keluarga dan disana ada Aida sedang berdiri ditempat biasanya.
__ADS_1
"Siapa anak ini?" tanya petugas Rick sembari memperhatikan keadaan Aida yang penuh bekas luka, aku tahu petugas Rick mencurigai keadaan Aida
"Dia pasienku, jangan ganggu dia. Sebagai dokter aku berhak untuk melindungi pasienku, apa keperluanmu denganku petugas Rick?" tanyaku dengan tegas
"Kami sedang mencari inspektur Daniel Osborn, apa anda mengenalnya?" tanya petugas Rick sambil menyerahkan sebuah foto kepadaku dan aku melihatnya itu adalah Daniel yang aku kenal
"Ada apa dengan orang ini?" tanyaku penasaran
"Dia telah menyelewengkan wewenang dan terlibat dalam perdagangan anak dibawah umur, kami berusaha mencari tahu keberadaannya dan menangkapnya. Aku harap anda dapat membantu kami" Jelasnya, aku sedikit terkejut saat itu, entah aku harus berkata apa karena bagaimana mungkin orang seperti Daniel yang juga korban perdagangan anak malah terlibat hal keji itu
"Tidak... tuan Daniel tidak akan melakukan hal itu..." tiba - tiba Aida berkata seperti itu ditengah membatunya aku, aku mengalihkan pandanganku menatap Aida yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
"Kamu mengenal inspektur Daniel nak? Bisa kamu beritahu kami?" tanya petugas Shane seraya berjalan mendekati Aida, melihat orang asing yang mendekatinya membuat Aida mundur beberapa langkah dan aku segera menghalangi langkah petugas Shane.
"Kami membutuhkan informasimu, aku dengar dari kepala polisi Benson bahwa ada orang yang menitipkan anak ini dan kami mencurigai itu adalah Daniel. Jika itu benar, maka kami harus membawa anak ini untuk diamankan di tempat pengamanan saksi dan korban" ucap petugas Rick sambil memaksa melewati ku untuk mendekati Aida
"Hentikan, aku adalah dokter anak ini dan aku tidak mengizinkanmu membawanya kemanapun tanpa pengawasanku" ucapku saat itu agak meninggi.
"Jika anda menghalangi petugas seperti ini, kami dapat menangkap anda dan mencurigai anda adalah komplotan Daniel. Biarkan kami melakukan tugas kami!!" Tegas Shane membentak ku, Namun tiba - tiba tuan West menarik tangan Aida dan menyembunyikannya dibelakang badannya.
"Aku yang akan melakukan pengawasan terhadap saksi anak ini, ini adalah wilayah hukum ku dan aku memutuskan untuk menitipkan saksi ahli kepada Dokter Andrews" ucap tuan West agak membentak seakan dia sedang menunjukkan dirinya lah yang berkuasa ditempat ini, mata kami semua kini tertuju pada tuan West
"Kepala polisi Benson, bisa saja dokter ini adalah salah satu komplotannya. Kami tidak bisa menerima perkataan anda" Shane mengatakannya dengan nada yang agak keras namun tiba - tiba Tuan Benson menunjuk mereka berdua dengan jarinya
"AKU ADALAH KEPALA POLISI Di WILAYAH INI! kalian tidak menghormati ku sebagai kepala polisi?! aku akan laporkan kalian ke pusat atas pembangkangan ini! Pergi dari wilayahku sekarang juga!" Ucapnya dengan bentakan yang membuat suasana semakin panas saat itu, tanpa berkata kata lagi kedua polisi itu pergi dari tempatku dan meninggalkan kami bertiga.
Setelah memastikan kepergian kedua petugas kepolisian itu, aku langsung berjalan untuk melihat kondisi Aida. Dia nampak gemetaran dan matanya kosong kembali, keadaannya saat itu membuatku panik.
"Aida! Aida! tenangkan hatimu! jangan pikirkan apapun! kamu masih ingatkan kenangan kita kemarin mengelilingi kota? Aida!" ucapku panik, aku berusaha menyadarkan nya dari trauma yang terpicu saat itu.
Tiba - tiba tuan West berjalan menjauhi kami menuju ruang pemeriksaan, namun sebelum dirinya benar - benar keluar saat itu dia sedikit menoleh menatapku dan Aida hampir bersamaan.
"Apa kamu takut Nak? aku sudah mendengar sedikit tentangmu dari istriku, aku yang memberimu Dream Catcher itu supaya mimpi buruk mu berlalu namun kali ini malah aku yang memberikanmu sebuah rasa takut. Aku tidak pantas menunjukkan wajahku lagi padamu" ucap tuan West lalu kembali melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari rumahku, namun tiba - tiba Aida berlari mendekati tuan West lalu memeluknya dari belakang begitu erat.
"Terima kasih.... sudah menyelamatkan ku... melindungi ku dan membiarkan aku tetap bersama dokter..." ucap Aida, tangisan Aida saat itu membuat hatiku pilu dan aku melihat air mata tuan West pun pecah seketika.
__ADS_1
Kemarahan tuan West saat itu tidak pernah aku bayangkan, orang yang begitu hangat dan terlihat sangat sabar berubah menjadi sosok lain yang penuh amarah. Kemarahan itu sampai membangkitkan kenangan buruk Aida namun disisi lain Aida paham bahwa itu untuk melindunginya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tuan West tidak menolong kami saat itu. Tentang Daniel? Aku masih tidak mempunyai kesimpulan.