Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita dari Rachel dan mendapatkan fakta bahwa kata - kataku lah yang memotivasi Daniel sampai berbuat sejauh ini, aku merasa lemas seketika. Aku berjalan agak ling lung saat itu mendekati sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari tempat ku berdiri tadi dan disana aku mulai memutar otakku untuk berfikir keras mengingat kembali semua kenanganku bersama Daniel, "ucapanku yang mana yang membuat Daniel seperti ini?" tanyaku dalam hati namun aku benar - benar tidak menemukan jawaban saat itu.


Aku mencoba mengingat kembali bagaimana ketika Daniel mendatangiku di desa tempatku tinggal, aku memaksa semua otakku bekerja untuk menemukan jawaban dari pertanyaan Rachel dan juga diriku sendiri namun nihil. Tidak ku dapati keanehan dari tindakan yang Daniel lakukan.


Rachel berjalan mendekatiku dan menepuk - nepuk bahuku beberapa saat untuk menenangkan ku, sedangkan aku hanya terdiam saat itu. Hingga beberapa saat aku mendengar suara Dokter Robert yang memanggil namaku seolah dia mencariku dari kejauhan, dari suaranya aku merasa jika dokter Robert terdengar senang.


"Dokter Lee!!" teriak dokter Robert, aku mengalihkan pandanganku menatap Dokter Robert dari kejauhan dan melihatnya berlari kecil mendekatiku.


"Tentang Jendral Simon" ucapnya sambil mengatur nafasnya yang terengah - engah


"Aku sudah tau Dokter Robert, Tuan Simon..." belum selesai aku berkata, Dokter Robert memotong ku


"Dia selamat, aku tidak sedang membicarakan tentang ledakan itu namun aku ingin memberi tahumu, Jendral Simon selamat!" timpal Dokter Robert dengan nada yang terdengar begitu senang, mendengar kabar baik itu membuat aku dan Rachel saling bertatapan mata.


Tidak bisa dipercaya dengan kebakaran yang begitu hebat itu tuan Simon bisa selamat, aku bertanya pada dokter Robert darimana berita itu dan dokter Robert mengatakan jika tuan Simon sedang diwawancarai di televisi. Aku dan Rachel berlari kembali ketempat kumpul pasien dimana televisi masih menyala dan menayangkan acara berita tentang kebakaran rumah tuan Simon secara langsung.


***


"...Kami akan terus mencarinya, ini adalah serangan yang terstruktur dan terencana" ucap Tuan Simon yang sedang di wawancarai oleh reporter saat itu


"Apakah ini serangan jaringan ******* Tuan Simon?" tanya reporter itu


"Tidak bisa aku pastikan sekarang, kami akan menyelidikinya dulu bersama interpol dan berbagai institusi terkait" jawab Tuan Simon


"Baik Jendral Simon, kami senang anda selamat. terima kasih" reporter itu menutup wawancaranya lalu tuan Simon meninggalkan reporter itu dengan dikawal oleh beberapa polisi lainnya terlihat begitu ketat.


***


Hatiku lega melihat Tuan Simon sepertinya baik - baik saja dari layar televisi itu, kaki ku seakan kehilangan tenaganya dan membuatku berlutut saat itu namun Rachel berusaha memegangi ku agar tidak sampai membuatku terjatuh.


"Dokter Lee!! kamu baik - baik saja?" tanya Rachel sambil terus memandang wajahku


"Iya... iya aku hanya terlalu lega, syukurlah Tuan Simon selamat..." jawabku dengan perasaan yang sangat lega


Aku sudah banyak kehilangan orang yang begitu penting dan berarti untuk hidupku, trauma akan kehilangan membuatku merasa ketakutan untuk hal itu terulang lagi. Saat ini keberadaan tuan Simon seperti pengganti tuan West dan dokter Han bagiku, sosok ayah yang dia berikan membuatku tidak akan siap kehilangannya.


"Bagaimana bisa ******* melakukan hal itu? penjagaan dirumah tuan Simon dibagi menjadi empat lapis, bukankah itu pekerjaan seorang pembunuh ahli?" celetuk dokter Robert dengan nada yang penasaran serta ada kesan dia pun ketakutan saat itu, aku bisa memahami ketakutannya.


Sebuah pertanyaan yang wajar untuk dilontarkan, isi kepalaku kini juga dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan sebagian sama dengan apa yang ditanyakan dokter Robert. Tapi yang lebih mengganggu adalah, benarkah semua rentetan kejadian ini karena mereka adalah orang yang terakhir terlihat bersamaku? Apakah ini efek dari kematian yang menimpa Celline karena setelahnya aku memilih untuk menghilang dari kota ini? Ataukah jaringan mafia mulai merasa terancam dengan keberadaan ku? Mungkinkah jika Aida yang menjadi sasaran utama mereka?

__ADS_1


Penjagaan ketat dirumah tuan Simon saja mampu untuk ditembus oleh pelaku, bagaimana jika orang itu kami yang tidak memiliki penjagaan apapun disekitar kami? tentu saja kami akan sangat mudah untuk dihabisi kapan pun, tapi kenapa kali ini sasaran mereka adalah tuan Simon? bukankah jika mereka memang menginginkan Aida, akan lebih mudah jika langsung saja membunuhku? kenapa mereka sampai repot - repot seperti itu...


"Anda benar, pelakunya pasti bukan orang sembarangan. Aku yakin pelaku sudah terbiasa melakukan hal serupa" jawabku namun mata ini masih fokus menatap layar televisi dengan berita live dari kebakaran rumah tuan Simon


Ditengah fokusku menatap layar televisi itu, tiba - tiba Rachel memberikan ponselku karena ada panggilan dari Tuan Simon, bersamaan dengan aku menerima ponsel itu Rachel memberi isyarat tangan bahwa yang membawakan ponsel itu adalah Aida yang berdiri diujung lorong jauh dibelakang. Aku melihat sorot mata Aida yang menyiratkan ketakutan untuk mendekatiku, aku tahu tadi bukanlah pengalaman yang baik untuk Aida. Tapi aku akan pikirkan itu nanti, mengetahui keadaan tuan Simon saat ini adalah yang terpenting.


Aku menerima ponsel itu dari tangan Rachel, dengan segera aku mengangkat telepon itu.


"Tuan Simon, anda baik - baik saja?!" tanyaku dengan nada panik saat menjawab teleponnya


"Tentu, tentu.... ledakan itu hanya sedikit memberi efek luka bakar pada punggungku namun aku berhasil menyelamatkan diri kesebuah bunker yang berada didalam rumahku" jawabannya terdengar begitu santai


"Anda terdengar sangat tenang untuk ukuran seseorang yang baru mengalami kejadian seperti itu" timpal ku lega, namun aku juga menyiratkan jika aku begitu mengkhawatirkannya.


"Tidak, aku bukan tenang namun aku sudah terbiasa dengan hal - hal berbau pembunuhan seperti ini. Entah sudah ke berapa kalinya tembakan yang sudah pernah aku dapatkan dulu saat masih muda, tapi terima kasih Andrews... kamu sudah mengkhawatirkan ku" ucap tuan Simon saat itu


"Lalu dimana anda sekarang? apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku pada Tuan Simon, aku sedikit menekannya saat itu agar dia tidak ragu untuk melibatkan ku menyelesaikan masalah ini.


"Andrews, aku akan kembali mengingatkan ini padamu. Aku memang tidak tahu apa ini hanyalah sebuah persepsi ku atau memang ini adalah kenyataan, aku merasa Daniel ada dibalik semua ini" jawabnya lagi - lagi menyebutkan nama Daniel atas kecurigaannya


Jika Daniel adalah dalangnya, aku merasa seperti sengaja tidak diberi waktu untuk memikirkan tentang keterlibatannya. Kejadian demi kejadian mengejutkan masih saja terjadi di sekitarku. Jika memang itu adalah ulah Daniel, bisa jadi Daniel sengaja melakukan ini agar aku tidak memiliki waktu untuk mencari tahu alasan Daniel yang sebenarnya.


Lalu jika memang Daniel, mengapa dia kembali datang padaku dan membawa Aida untuk aku rawat bersamaku? Argh sial, tidak bisa aku susun semua teka - teki ini dengan baik. Aku yang terlalu panik atau memang kewarasanku masih saja tidak stabil namun yang jelas ini akan berdampak buruk untukku yang bertekad untuk mengobati Aida.


"Ini bukan salahmu, semuanya ada pada Aida. Aku akan segera memerintahkan Rick dan Shane bertugas sebagai pengawalmu dan Aida, jangan lepaskan pandanganmu darinya" tuan Simon mengatakannya dengan nada tegas


"Aku mengerti Tuan Simon" tegas ku menerima perkataannya tanpa keraguan sedikitpun


"Mulai sekarang kamu akan tinggal bersama Aida di Institusi itu dengan penjagaan ketat, kemasi barang - barangmu secepatnya. Tiga puluh menit lagi akan ada polisi pengawal yang akan mengantarmu pulang agar kamu bisa berkemas" ucap tuan Simon, tuan Simon sepertinya sangat serius kali ini dan tidak ingin mengambil resiko apapun tidak seperti ketika aku dalam perjalanan ke ibu kota.


"Dimengerti, terima kasih tuan Simon" jawabku dan aku tidak ingin basa basi lagi, keadaannya sudah diluar kendaliku.


"Baik, nanti aku akan menelepon mu lagi" tuan Simon pun menutup teleponnya


Kemudian aku menatap sebentar kearah layar ponsel lalu perlahan aku mengalihkan pandanganku menatap Aida, aku beranjak dari berlutut ku lalu berjalan mendekati Aida yang masih berdiri diujung koridor. Meski Aida saat itu hanya diam saja melihatku berjalan mendekatinya namun tatapan mata Aida yang ketakutan membuat hatiku terasa sakit, Aida sedikit mundur saat aku sudah cukup dekat dengannya.


"Kamu takut padaku Aida?" tanyaku sambil terus menatap matanya, sorot matanya menyiratkan sebuah ketakutan saat itu namun Aida menggeleng - geleng kan kepalanya beberapa kali untuk menjawab pertanyaanku.


"Aku tahu kamu takut.... tapi tidak sedikitpun di hatiku akan melakukan hal jahat padamu, aku hanya sedikit panik karena beberapa hal yang terjadi padaku... apa kamu mau memaafkan ku?" tanyaku dengan lembut sembari tanganku ingin meraih bahu Aida namun Aida kembali menjauh beberapa langkah.

__ADS_1


Rachel yang berdiri tidak jauh di belakangku saat itu menarik bahuku kebelakang lalu berjalan mendekati Aida, kemudian Rachel merangkul bahu Aida untuk membawanya pergi menuju kamarnya kembali. Entah mengapa saat itu aku merasa gagal, pertama Celline lalu Daniel dan sekarang apakah aku harus mengalami kegagalanku dengan Aida?


Kali ini aku harus mengandalkan Rachel agar hubunganku dengan Aida kembali membaik, aku tidak memiliki ide apapun untuk meminta maafnya dan sebenarnya aku telah gagal menjadi dokter untuk Aida. Tapi aku tidak bisa begitu saja melepaskan Aida dari pengawasanku, sesuatu yang buruk seakan sedang menunggu momen untuk membunuhku, Aida, atau bahkan orang - orang yang berada di lingkaran kami.


Aku berbalik lalu berjalan menuju lobby, disana aku duduk disalah satu kursi yang tersedia untuk menunggu pengawalan ku yang dikatakan tuan Simon datang. Tatapan mataku terus memandangi langit - langit gedung dan mencoba mencerna berbagai kejadian yang telah aku lewati beberapa hari belakangan ini.


Sesekali aku mencoba mengingat kembali tentang apa yang pernah aku katakan pada Daniel namun tidak satu pun kata - kataku yang aku ingat saat itu bisa memotivasinya untuk melakukan tindakan jahat sampai sejauh ini. Ditengah lamunanku itu, tidak beberapa lama beberapa polisi dengan perlengkapan lengkap masuk kedalam gedung dan menemui ku di lobby.


"Anda Dokter Lee?" tanya salah satu petugas kepadaku


"Benar" jawabku singkat


"Kami dikirim oleh Jendral Simon untuk menjemput anda" ucapnya


Tanpa basa - basi lagi aku pun segera beranjak dari dudukku lalu berjalan keluar menuju salah satu mobil patroli yang sudah terparkir tepat didepan pintu keluar gedung sesuai arahan petugas yang berada di sampingku, ketika itu aku melihat ada empat mobil patroli dan dua mobil taktis yang membuatku merasa begitu aman keluar bersama mereka.


Iring - iringan pengawalan ku pun segera melaju menuju ke rumahku, beberapa menit berlalu didalam perjalanan yang berjalan aman dan lancar tanpa hambatan apapun. Ketika kami sampai didepan rumahku, aku segera turun dari mobil dan beberapa petugas langsung bersiaga disekitar rumah untuk melakukan sterilisasi area. Para tetangga sepertinya cukup terganggu saat itu namun aku tidak hiraukan, aku segera berjalan masuk kedalam rumah lalu menuju kamar yang berada di lantai dua untuk membawa beberapa pakaian kedalam sebuah koper yang berada dikamar.


Aku juga memasukkan beberapa peralatan mandi yang ada di kamar mandi dan juga tidak lupa membawa beberapa berkas - berkas yang ada di meja. Setelah beberapa saat berlalu aku merasa bahwa persiapanku sudah selesai semua, ketika itu aku mendengar keributan kecil saat aku hendak membawa koperku kebawah. Aku segera berlari kecil untuk turun ke lantai dasar dan membuka pintu untuk melihat ada keributan apa diluar rumah, yang ku dapati adalah sosok yang tidak akan pernah aku duga sampai kapan pun dia akan datang kemari.


"Charlotta?!" dengan nada terkejut aku mengatakannya saat melihat keberadaannya didepan rumahku,


Charlotta melihatku muncul dari balik pintu rumah dan langsung tersenyum, nampak sekali raut wajah khawatirnya menatapku. Ku perhatikan dengan baik sosok wanita yang berada di hadapanku itu dan benar jika wanita itu adalah Charlotta. Tapi aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan saat itu selain rasa terkejut dan juga heran, bagaimana mungkin dia bisa sampai disini dan darimana informasi keberadaan rumahku sampai dia bisa datang ketempat ini.


"Haii... Andrews, ternyata benar ini rumahmu" celetuk Charlotta dengan perasaan lega


"Tapi... tapi... darimana dan mengapa..." aku belum selesai mengatakannya Charlotta mendekatiku dan langsung memelukku dengan erat sekali, petugas disana segera ingin memisahkan kami namun dengan gestur tangan aku katakan jika aku mengenal wanita ini.


Tentu saja aku tidak membalas pelukannya ketika itu, aku terlalu syok dengan kehadirannya di kota ini. Perjalanan dari desa menuju kota ini sangatlah jauh dan lumayan sulit untuk ditempuh bagi sebagian orang yang jarang berkunjung ke kota besar ini. Kedatangannya yang hanya terlihat sendiri membuatku semakin sulit untuk mempercayai apa yang aku lihat.


"Aku membaca surat kabar tentang tembakan dan pelemparan molotov itu, aku sangat mengkhawatirkan mu dan mencari informasi yang mungkin kamu tinggalkan di rumahmu tentang keberadaan mu di ibu kota" jelas Charlotta terdengar sangat mengkhawatirkan ku


"Tapi mengapa kamu kesini? kamu tahu kan aku sedang dalam bahaya" tanyaku dengan nada khawatir akan keselamatannya


"Aku tahu kamu dalam bahaya, karena itulah aku kemari untuk memastikan keselamatanmu" jawab Charlotta yang masih memelukku erat saat itu, aku melepaskan pelukannya dengan mendorong bahunya dengan sedikit aku remas agar dia tahu semua ini bukanlah main - main.


Aku berharap Charlotta memahami sebuah kode dari gerakan yang aku lakukan, aku mencemaskan tentangnya dan aku takut jika keberadaannya di dekatku akan membuatnya tertimpa musibah seperti yang lainnya. Walaupun semua itu hanya berdasarkan pikiranku saja karena setiap kejadian yang menimpa orang terdekatku selalu memiliki alasan yang masuk akal dari orang lain.


"Tidak! kamu tidak boleh berada disini, kamu bisa terlibat jika ada di dekatku!" aku mengatakannya dengan tegas dan menatap matanya dengan tajam, aku tahu dia paham yang aku katakan namun dia hanya tersenyum memandangku saat itu

__ADS_1


"Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu padaku saat ditengah perjalananku menuju kemari, namun apa yang bisa aku perbuat lagi untuk melindungi mu?" ucapnya dengan tetap melemparkan senyumnya yang sangat manis itu


Kedatangan Charlotta memecah ketenanganku, kenapa dia datang? kenapa dia menemui ku? bukankah semua yang di dekatku selalu dalam bahaya? Apa yang aku lalui akhir - akhir ini membuatku tidak pernah sedikitpun memikirkan tentang Charlotta, namun sekarang dia hadir untuk menemaniku dan mengatakan ingin melindungi ku. Apa yang harus aku lakukan? bagaimana cara mengusirnya agar dia paham aku bukan bermaksud jahat melainkan aku ingin dia tetap ditempat yang aman sembari menungguku dan Aida untuk pulang.


__ADS_2