
Situasi ini tidak menyenangkan bagi Rachel, aku tahu itu. Rachel sengaja membawaku kemari untuk menenangkan pikiranku, menghibur dan menyenangkan ku namun aku benar - benar tidak dapat menikmatinya sedikit pun. Rentetan kejadian yang telah aku alami benar - benar membuatku sulit untuk beradaptasi memulai kehidupan yang normal selayaknya orang pada umumnya, aku selalu saja merasa orang sedang mengincar nyawaku. Aku bahkan tidak menyentuh makanan yang disajikan untukku sejak tadi, mata ini semakin awas untuk menatap orang - orang di sekitarku.
Harusnya untuk pasangan yang pernah saling mencintai bertemu kembali setelah delapan tahun terpisah dan tanpa kabar ini merupakan kebahagiaan untuk Rachel dan aku, tetapi itu tidak terjadi karena aku kembali menyeret Rachel kedalam masalahku. Tidak ada yang berubah dari sikap Rachel terhadapku, dia tetaplah wanita yang selalu mencoba menjadi penenangku selama aku menjadi pasangannya.
"Heii Lee..." Suara Rachel memecah lamunanku, aku melihat Rachel sampai melambaikan tangannya didepan wajahku. Aku sangat jatuh dalam pikiran negatif ku sendiri, aku merasa semakin jauh meninggalkan kewarasanku.
"Semua baik - baik saja?" tanya Rachel yang memahami keadaanku
"Aaah ya... sampai mana kita tadi?" balikku bertanya padanya, aku tahu ini adalah jawaban bodoh yang terlontar dariku yang pasti akan mengecewakannya.
"Hmm... aku pikir kamu akan senang kembali ke tempat ini, tempat pertama kali kita berkencan. apa kamu ingat?" ucap Rachel yang kembali ingin mencairkan suasana
"Ooh iya tentu... di tempat ini juga aku memintamu menjadi pacarku, aku ingat semua kenangan indah itu tapi saat ini aku sedikit lelah" jawabku dengan helaan nafas, aku mencoba untuk mengakhiri makan bersama ini agar aku tidak semakin membuat Rachel kecewa.
"Hmm.... begitu ya? maaf aku tidak bisa memahami kondisimu saat ini" Rachel katakan itu seolah dia tidak memahami ku
"Maaf maaf, aku mengalami kejadian yang tidak menyenangkan saat perjalanan kemari. Beberapa hari ini aku mengalami sesuatu hal yang berat" aku berusaha menjelaskan pada Rachel jika kecanggungan ini bukanlah kesalahannya, aku mengatur nafasku dengan baik dan berusaha untuk menenangkan diri agar dapat menceritakan semaunya pada Rachel.
"Ooh iya, apa itu?" tanya Rachel penasaran
Sebenarnya aku sudah siap untuk menceritakan kejadian yang aku alami selama ini padanya, tapi ketika hatiku sudah siap untuk memulai bercerita saat itu aku mendengar ponselku yang berada di saku celana berdering. Aku mengalihkan pandanganku menatap layar ponsel yang baru saja aku keluarkan dari saku celanaku, ketika itu aku melihat tuan Simon yang memanggilku.
"Halo Tuan Simon" sapaku dengan penuh harapan baik ketika aku mengangkat telepon itu
"Andrews, maaf aku tidak bisa mengangkat teleponmu tadi. Aku juga baru dapat kabar kamu telah sampai" tuan Simon sepertinya sedang terburu - buru saat itu, terdengar beberapa suara juga disekitar tuan Simon dari balik telepon kami
"Tidak apa tuan Simon, aku hanya ingin segera menemui Aida. Petugas disana meminta ID Card ku atau surat tugas agar aku bisa menemuinya, bisakah aku meminta akses untuk masuk darimu?" pinta ku pada Tuan Simon saat itu
"Aku saat ini tidak bisa memberikanmu akses untuk itu, sejak kejadian yang menimpamu saat perjalanan kemari aku menandatangani surat perintah untuk pengetatan keamanan di lingkungan gedung perlindungan saksi dan korban" jelas Tuan Simon
"Tidak ada kah yang bisa aku lakukan? bukankah tujuan aku berada disini adalah Aida? jika aku tidak dapat menemuinya seperti ini, apa gunanya aku kemari?" dengan penuh rasa kecewa aku katakan itu pada Tuan Simon
"Hahaha... kamu harus istirahat dulu Andrews, tidak perlu meramalkan apa yang belum pasti terjadi. Aida ditempat yang aman, kamu juga sudah di tempat yang aman lalu apa lagi yang membuatmu khawatir?" dengan nada yang santai tuan Simon mengatakannya untuk menenangkan ku
"Aku tahu... jadi kapan aku bisa mendapatkan akses itu?" tanyaku untuk memastikan, sungguh sudah hampir habis rasanya kesabaranku
"Besok aku senggang, kita akan bertemu di gedung itu dan akses mu untuk bertemu Aida akan terbuka lebar besok. Santai Lah Andrews, tenangkan dirimu dan beristirahatlah" jawab Tuan Simon dengan sangat yakin
__ADS_1
"Baik, aku mengerti Tuan Simon. Terima kasih" timpal ku, tuan Simon menutup saluran teleponnya lalu aku menyandarkan tubuhku di kursi sambil menghembuskan nafas dengan keras
Tidak ada yang mengerti jika aku hanya membutuhkan untuk segera bertemu dengan Aida dan bukan beristirahat. Aku sangat yakin beristirahat tidak akan memberiku ketenangan sedikitpun. Aku sangat kecewa dengan keadaan yang mempersulit ku saat ini, tapi disisi lain memanglah ini yang harus aku hadapi ketika berhadapan dengan institusi.
"Ada apa?" tanya Rachel yang sedari tadi memperhatikanku sambil menatapku dengan khawatir
"Aku tidak bisa menemuinya hari ini, Ada pengetatan keamanan jadi akses dari luar akan ditolak semua" jelas ku singkat
"Ooh sayang sekali ya... lalu apa rencanamu?" tanya Rachel dengan wajah yang seperti juga mengalami kekecewaan, dia tahu tujuanku kesini memang untuk segera menemui Aida dan empati yang dimiliki Rachel memang sangatlah tinggi.
Aku yakin jawaban singkat ku sangat mengecewakan bagi Rachel yang masih menunjukkan perhatiannya terhadapku, tapi semua tentang Aida masih saja mengganggu ketenanganku dan sulit untuk aku singkirkan. Aku bersalah atas sikapku kali ini pada Rachel namun aku merasa jika dia akan mengerti situasi yang aku hadapi.
Kebersamaan yang aku lalui bersama Rachel hampir dua tahun dan selama itu pula Rachel adalah sosok yang selalu mengerti dan membantuku, dia garda terdepan yang mendukungku dalam menjalani profesi sebagai dokter kesehatan mental. Lalu ketika aku kembali dengan tujuan utama untuk menemui Aida, Rachel Pun masih memberikan empati yang sama. Bertemu dengannya kembali walau dalam keadaan yang tidak menyenangkan membuatku merasa beruntung.
"Aku akan mencari penginapan dekat gedung perlindungan itu dan menunggu hingga esok hari" jawabku menjelaskan sedikit rencanaku pada Rachel
Makanan yang sejak tadi tidak ku sentuh karena aku terlalu over thinking akhirnya ku lahap sampai habis agar aku bisa memulai apa yang sudah aku rencanakan, namun saat aku lihat Rachel sudah selesai dengan makanannya kemudian dia terlihat mencari sesuatu dalam tas genggamnya.
"Kamu akan pergi?" tanyaku dengan sedikit penasaran karena tingkah Rachel
"Kenapa tidak tinggal di rumahmu yang dulu?" tanyanya dengan senyuman
Yah pada akhirnya aku ingat kunci apa itu, itu adalah kunci rumahku yang pernah aku tinggali ketika aku masih menjadi dokter Lee di ibu kota. Sebuah rumah dengan gaya desain eropa pertengahan minimalis tepat dipinggir jalan raya yang tidak terlalu jauh dari tempatku bekerja dulu di komisi perlindungan saksi dan korban, namun itu sudah berlalu lama sekali sejak aku tinggalkan rumah itu dan entah sudah sekotor apa rumah itu sekarang.
"Aku sudah meninggalkan tempat itu lama sekali, aku tidak yakin tempat itu masih layak untuk ditinggali" jelas ku sambil menikmati hidangan penutup yang lezat.
"Selama ini aku yang merawat rumahmu loh, semua disana masih bersih dan layak untuk ditempati. Ini adalah kunci rumahmu, kamu ingat?" dengan senyuman lebar Rachel mengatakan padaku.
Aku kembali memperhatikan dengan seksama kunci itu. Sebuah ukiran inisial "A&R" terukir indah di kunci itu dan aku sangat mengenali dengan sangat baik kunci rumah itu, kunci yang sebenarnya aku tinggalkan dirumah saat pelarianku ternyata disimpan Rachel dengan sangat baik.
"Begitu ya.... kamu tidak meninggalkanku walau aku tiba - tiba menghilang..." agak bergumam aku saat itu dengan penuh penyesalan.
Sepertinya aku sudah salah berfikir tentang Rachel, ketika memutuskan untuk tinggal di pedesaan itu aku berfikir jika Rachel pasti sudah menemukan kehidupan barunya di kota ini namun ternyata aku salah. Wanita itu masih setia untuk menunggu kedatanganku nampaknya dia juga sangat peduli dengan semua hal yang aku tinggalkan saat pelarianku.
"Huuh... saat kamu menghilang aku benar - benar tidak tahu harus berbuat apa, aku menangis setiap hari di rumahku dan mengambil cuti panjang sejak kejadian itu. Andai saja kamu tahu, kepergianmu benar - benar menyakitiku" timpal Rachel, nadanya terdengar kesal menahan rasa sakit hatinya.
"Maaf, bukan maksudku untuk menyakitimu..." timpal ku masih dengan suara sedikit bergumam dengan penyesalan dan rasa bersalah
__ADS_1
"Yaah tidak apa, tapi yang sekarang membuatku sedih adalah kamu kembali bukan untukku" ucap Rachel sedih dan nada bicaranya semakin terdengar pelan.
"Aku minta maaf untuk itu dan kamu tidak punya kewajiban untuk menungguku yang tiba - tiba menghilang darimu" ucapku sambil menatap mata Rachel, namun tiba tiba Rachel tersenyum
"Akan aku tunggu... sampai kamu kembali kepadaku, aku akan menunggumu sampai semesta sendiri yang memisahkan kita berdua" ucap Rachel yang tersenyum kepadaku, aku terkejut mendengarnya.
Suasana hati yang kurasa sudah mulai membaik setelah kabar dari tuan Simon seketika kembali kacau lagi didalam benak ku. Kata - kata Rachel itu membuatku kembali memikirkan tentang perlakuanku terhadapnya dan perpisahan tanpa kata yang pasti menyakiti hatinya, tapi keteguhan hatinya membuatku terdiam seribu bahasa. Seseorang yang aku pikir telah membuang kepingan hatinya untukku, ternyata masih menyimpan perasaan yang sama.
Aku sangat merasa bersalah dan tidak ada kata yang mampu lontarkan bahkan kata maaf pasti tidak akan pernah cukup, aku yakin ribuan kata maaf pun tidak akan pernah dapat menghapus kesalahanku kepadanya. Terpikirkan dalam benakku, aku ingin pergi dari tempat ini membawa perasaan bersalahku sesegera mungkin.
Perlahan aku mengambil kunci rumah dan kunci mobilku, berdiri dari dudukku lalu meninggalkan Rachel yang menatapku tanpa kata. Aku berjalan keluar menuju mobilku untuk segera kembali kerumah yang pernah aku tinggalkan, Rachel mengikuti ku hingga didepan aku memarkirkan mobil di pinggir jalan.
"Terima kasih sudah menemani istirahat siangku, sampai jumpa" Rachel mengatakan itu lalu berjalan meninggalkan ku.
Aku tidak berani untuk menatap wajahnya bahkan hanya sekedar membalas kata perpisahannya itu, namun entah mengapa aku bisa tahu bahwa Rachel meneteskan air mata. Bukan aku ingin mengabaikannya, tapi aku hanya tidak ingin dia memiliki harapan untuk bisa bersamaku lagi. Semua sudah berbeda antara aku dan dia, Rachel sangat pantas untuk mendapatkan pria yang lebih baik daripada aku. Kebaikannya yang akan menuntunnya untuk bertemu dengan pria bertanggungjawab, tidak sepertiku yang pengecut.
Aku memasuki mobilku dan memacunya menuju rumah yang dulu pernah aku tempati, dari luar aku melihat rumah itu masih seperti dulu dan sepertinya Rachel benar - benar merawatnya dengan baik. Setelah aku parkirkan mobil dipinggir jalan tepat didepan rumah, perlahan aku turun dari mobil kemudian berjalan menuju ke pintu masuk dan membuka kuncinya.
Lalu entah mengapa tiba - tiba hatiku terasa sesak dan sakit, kata - kata Rachel pun kembali terdengar dan sepertinya kata itu membekas didalam hatiku hingga hanya dengan mengingat tempat yang memiliki kenangan antara aku dan Rachel membuatku terus dihantui rasa bersalah. Sempat terpikir untuk pergi dari sini namun hatiku mengatakan "Jangan, Rachel akan sangat kecewa jika aku tidak berada dirumah yang sudah dia jaga dengan baik ini"
Aku menguatkan hati untuk membuka pintu itu dan sesuai dugaan ku ketika akan membuka pintu, fotoku dan Rachel masih tergantung diujung lorong rumah. Tatapan mata ini terpaku memandangi foto itu dari kejauhan dan melihat betapa bahagia dan berbedanya aku dengan diriku yang sekarang.
"Aku sudah kehilangan jati diriku yang dulu... entah orang seperti apa aku ini dulu, hah... berbicara pada diri sendiri lagi..." gumamku sembari berjalan memasuki rumah.
Setelah menutup pintu aku berjalan masuk lebih dalam dari rumah ini, tidak jauh sebelum sebuah tangga menuju lantai dua aku melihat sebuah ruang keluarga dengan piano dan sebuah perapian serta sofa - sofa yang tertata rapi.
"Semua tidak berubah" gumamku, bayang - bayang diriku dan Rachel yang menghabiskan malam bersama ditempat ini nampak jelas tergambar dibawah sadar ku
"Andai insiden itu tidak terjadi..." gumamku lagi sembari membenturkan kepalaku kesebuah tembok.
Setelah puas aku membenturkan kepalaku, aku kembali berjalan menuju kelantai dua dimana kamarku berada. Disana aku langsung menuju kamar dan merebahkan badanku di kasur sambil memejamkan mata, tidak ada debu yang berterbangan meski tubuh ini aku hentakkan kuat di atasnya. Hal itu membuatku semakin yakin akan keteguhan hati Rachel yang yakin aku pasti akan kembali suatu saat nanti, bagaimana mungkin ada wanita yang seteguh itu ketika pria yang ditunggunya adalah orang sepertiku ini.
Terpikir dalam benak untuk tidur sejenak mengistirahatkan badan dan pikiran, namun sesuatu yang mengganjal dibawah bantalku membuatku merasa tidak nyaman. Aku mencoba mencari apa yang mengganjal itu dengan menggeser bantal dan aku mendapati sebuah berkas dengan nomor 102112,
"Berkas apa ini?" tanyaku dalam hati
Perlahan aku membukanya sambil memperhatikan setiap kata dan foto dalam didalam berkas itu, itu adalah berkas seseorang bernama Celline. Korban pemerkosaan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri dan hampir terbunuh karena kejahatan ayahnya, Celline..... nama yang membuatku menjadi seperti sekarang ini, bagaimana tidak saat itu akulah dokter yang menanganinya. Semua berjalan sempurna saat itu seperti pasien - pasienku yang lain, secara statistik perkembangan kesehatan mental Celline sangat baik hingga semua tragedi "itu" terjadi dan merubah hidupku untuk selamanya.
__ADS_1