Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Belum Terpecahkan


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri koridor untuk menuju lantai dasar dari lantai tiga hingga lobby gedung dan semua terlihat rusak parah akibat dari tembakan yang membabi buta, ketika keluar dari pintu lobby aku melihat mobil polisi, pemadam kebakaran, ambulan, dan beberapa mobil taktis ringan sudah mengamankan area itu. Sepertinya pertempuran diluar lebih dari apa yang aku bayangkan, sisa - sisa baku tembak juga masih dapat dilihat dengan kasat mata. "Apa yang sebenarnya terjadi disini? bukankah ini terlalu berlebihan kalau hanya untuk membunuh Aida?" tanyaku dalam hati


Beberapa polisi mendekati Flick dan memberikan laporan, kami pun segera digiring kembali hingga mendekat ke Tuan Simon. Dari kejauhan aku melihat Tuan Simon disibukkan dengan semua laporan, yah.. aku akui tuan Simon benar - benar berusaha untuk melindungi ku dan Aida, dia sampai turun langsung ke tempat kejadian perkara meski dia adalah seorang kepala polisi negara.


"Siap Lapor Jendral!" sapa Flick pada tuan Simon, perlahan tuan Simon pun menoleh menatap kami.


Bekas luka bakar pada sebagian wajahnya terlihat efek dari kejadian yang sempat dia alami sebelum ini, ada bercak hitam ke merahan pada dahi sebelah kirinya dan juga rambut putih yang kini tidak lagi menghiasi kepalanya. Tuan Simon sepertinya memang mengalami kejadian diantara hidup dan mati saat itu, mungkin lebih mengerikan dari apa yang baru saja terjadi ditempat kami. Aku sempat termenung menatap wajahnya, dedikasinya terhadap profesinya sebagai pelindung masyarakat benar - benar tinggi.


"Andrews! aku senang kalian baik - baik saja" ucap tuan Simon begitu senang melihatku disana, dia segera berjalan mendekatiku dan memelukku dengan erat


"Tuan Simon..." gumamku


"Maaf aku tidak menyangka ini akan terjadi, tapi negara tidak akan kalah oleh mafia. Aku pasti akan segera selesaikan hal ini secepat mungkin" timpal tuan Simon dengan begitu yakin, dia melepaskan pelukannya lalu menepuk kedua bahuku.


"Terima kasih, kata - kata itu sangat berarti bagiku" timpal ku, perhatian tuan Simon pun beralih ke tangan Charlotta yang sedang di borgol.


"Kenapa nona Charlotta di borgol?" tanya tuan Simon, aku menoleh menatap Charlotta yang sedang menunduk.


"Nona ini membunuh satu anggota kita, Jendral" jawab Flick yang ada dibelakang tuan Simon


"Tapi dia melakukan itu demi melindungi Aida, Tuan" timpal ku


Jujur saja aku tidak menyaksikan apa yang terjadi antara Charlotta dan polisi yang terbunuh itu, namun kesaksian Aida sangat meyakinkanku jika Charlotta memang benar membunuh untuk melakukan perlindungan diri walau sampai saat inipun aku sulit untuk percaya jika Charlotta mampu melakukan itu semua dengan sangat tenang.


"Kita harus selidiki dulu apa benar seperti itu, karena sangat tidak mungkin seorang wanita seperti ini berhasil menikam leher anggota dengan peralatan lengkap jika dia tidak ditikam secara diam - diam" jelas Flick


Seperti dugaanku, siapapun pasti akan berpikiran seperti itu. Charlotta tidak mungkin melakukan pertarungan terbuka dengan petugas yang bersenjata lengkap, terlebih dia berhasil menikam bagian vital dari polisi itu. Entah apa yang baru saja terjadi pada keduanya, tapi aku bisa untuk mempercayai Charlotta. Bukan karena dia terlihat melindungi Aida, namun karena aku pun baru saja bertemu dengan seorang petugas polisi yang berusaha membunuh Aida tadi.


"Aku baru saja bertemu dengan anggota mu bernama Opsir Hansel yang berniat membunuh Aida, tuan Simon. Aku memiliki saksi yaitu Rick dan beberapa anggotamu yang terlibat langsung, mereka juga yang telah membunuh Hansel yang ingin membunuh Aida" timpal ku, seketika itu aku melihat ekspresi terkejut Flick dan tuan Simon bersamaan.

__ADS_1


"Opsir Hansel? opsir Rick, apa itu benar?" tanya Flick pada Rick


"Siap, benar komandan" jawab Rick


"Sulit dipercaya, dia salah satu petugas terbaik..." terdengar penuh penyesalan tuan Simon mengatakannya


"Ada pengkhianat di lingkaran anda, tuan Simon" timpal ku mencoba untuk meyakinkannya


Tuan Simon harus mencari tahu siapa - siapa saja polisi yang mencoba berkhianat dibawah kepemimpinannya, selain Daniel yang sejak awal dicurigai oleh tuan Simon. Aku meyakini ada Daniel - Daniel lain yang kini masih berkeliaran di lingkaran institusi kepolisian yang tidak diketahui oleh tuan Simon, entah apa yang sebenarnya terjadi namun karena yang mereka incar adalah Aida maka semua kuncinya ada pada Aida.


"Sisir area ini dan cari petunjuk lebih lanjut, bawa Dokter Andrews, nona Charlotta, dan Aida ke kantor dan perlakukan mereka dengan sangat baik" perintah tuan Simon pada Flick


"Siap!" timpal Flick


"Andrews, tunggu aku disana bersama Rachel dan dokter Robert. Mereka sudah lebih dulu aku ungsikan ketempat aman" ucap tuan Simon padaku


"Mengerti" timpal ku


Serangan itu bukanlah serangan yang hanya menargetkan satu orang, namun lebih kepada sebuah percobaan pembantaian. "Apa yang sebenarnya Aida ketahui sampai dia harus mengalami hal seperti ini?" pertanyaan itu kini menghantui isi dalam kepalaku, namun sejenak aku merasakan hal janggal lainnya.


"Jika memang Daniel penjahatnya, kenapa dia sampai sekarang belum muncul di hadapanku?" gumamku, sepertinya gumaman itu terdengar oleh Charlotta dan Aida.


"Andrews?" ucap Charlotta padaku, aku menoleh menatapnya yang duduk tepat di hadapanku


"Maaf, aku sedang kepikiran sesuatu" jawabku


"Apa kamu ingin membaginya denganku? aku juga harus tahu siapa lawan kita sebenarnya" tanya Charlotta


Charlotta mengatakan 'kita', benarkah dia sungguh berada di pihakku? Sejenak aku ragu untuk berbagi cerita dengannya karena bahkan dia saat ini sedang dalam posisi menjadi terduga dalam kasus pembunuhan yang dia lakukan kepada polisi tadi. Namun rasanya isi kepalaku sudah penuh untuk aku tanggung sendiri. Berbicara kepada Rachel dan Aida bukanlah pilihan yang tepat. Aku menyiapkan semua dengan tenang agar Charlotta mampu memahami apa yang akan aku ceritakan padanya, karena jujur saja aku merasa jika emosiku sedang tidak stabil dengan banyaknya kejadian yang menimpaku.

__ADS_1


"Ini tentang Daniel, anak yang dulu pernah aku selamatkan dari gangguan mentalnya..." jawabku, aku sempat menggantungkan kalimatku untuk menata semua hal yang ada didalam kepalaku agar aku bisa menjelaskannya secara lengkap pada Charlotta.


"Tuan Daniel tidak bersalah, dokter..." timpal Aida memecah konsentrasi ku, aku menoleh menatapnya yang duduk tepat di sebelahku.


Untuk kesekian kalinya Aida memberikan pembelaannya terhadap Daniel, namun sayang hanya kalimat sama


yang Aida lontarkan tanpa penjelasan lebih.


"Aku mencoba untuk mempercayai itu" ucapku padanya dengan lembut, perlahan aku mengelus kepalanya dengan lembut.


"Jadi kenapa kamu memikirkan tentang Daniel ini?" tanya Charlotta penasaran


"Dua minggu sebelum aku bertemu dengan Daniel dan Aida, ternyata Daniel lebih dulu menemui Rachel di rumahnya. Dia meminta semua data tentang pasien - pasien pada Rachel, data itu kemudian diberikan Daniel kepadaku termasuk Aida. Kini aku mengerti apa yang dia rencanakan saat itu..." jawabku


"Apa itu?" tanya Charlotta


"Data yang diminta oleh Daniel sengaja dia berikan padaku untuk meyakinkanku bahwa di institusi tidak ada dokter yang pantas menjadi dokter bagi Aida selain diriku, karena isi dari data itu hanya ada kegagalan" jawabku, sejenak kami terdiam.


"Daniel sepertinya sudah memikirkan hal itu jauh sebelum dia bertemu denganku, dia tahu aku pasti akan menolak permintaannya menerima Aida menjadi pasienku karena dia tahu aku sudah lama meninggalkan dunia itu. Namun data yang dibawa bersamanya membuatku tidak bisa menolak permintaannya setelah melihat kondisi Aida saat itu, dia sangat paham bagaimana cara kerja emosi manusia" ucapku lagi menjelaskan apa yang ada didalam kepalaku


Berbicara tentang Daniel disebelah Aida membuatku sedikit berharap jika Aida mau untuk memberikan sedikit clue atau bahkan mengungkapkan banyak hal tentang Daniel kepadaku, namun sepertinya itu adalah keinginan yang sulit untuk menjadi kenyataan. Tidak akan semudah itu bagi Aida untuk mengatakan banyak hal tentang Daniel.


"Daniel adalah orang yang penuh perhitungan... itu yang ingin kamu sampaikan padaku, kan?" tanya Charlotta mencoba untuk mempertegas apa yang dia pikirkan, aku mengangguk beberapa kali.


"Dia adalah orang yang berpikir jauh sebelum melangkah, karena itu ada hal yang janggal kali ini..." ucapku lalu kembali menggantung kalimatku sejenak, aku kembali menata setiap kepingan kata yang ada didalam kepalaku untuk mencapai pada kesimpulan sementara dari apa yang baru saja terjadi.


"Daniel... aku yakin dia sudah tahu apa yang akan terjadi ketika Aida ada di tanganku, seseorang pasti akan mencari keberadaan Aida dan mencoba membunuhnya entah apa alasannya. Namun sampai sekarang pun dia tidak muncul di hadapanku meski itu hanya sekedar mencari tahu keadaan Aida, apa benar Aida sepenting itu bagi Daniel? atau... dia benar - benar percaya padaku jika aku bisa menyelamatkan Aida?" dengan penuh pertanyaan aku mengatakannya pada Charlotta, aku membutuhkannya untuk membantuku berpikir.


Ketika itu aku dan Charlotta hanya terdiam saling menatap, sepertinya dia kini juga sama bingungnya denganku. Dengan apa yang terjadi pada keluarga West tentu saja seharusnya akan menarik perhatian Daniel jika memang Aida sepenting itu baginya, namun Daniel seakan tidak mempedulikan hal itu. Begitu pula ketika Aida sudah berada di ibu kota, Daniel lagi - lagi seakan tidak peduli pada Aida. Sebenarnya apa alasan Daniel menitipkan Aida kepadaku? jika hanya mengobati gangguan mentalnya, Daniel tidak perlu repot - repot untuk mencariku.

__ADS_1


Aida juga belum berkata tentang apapun meski dia berulang kali mengatakan jika Daniel bukanlah penjahatnya, masih ada tokoh jahat utama dibalik semua itu dan itu berkaitan dengan dunia yang aku inginkan yang dulu pernah aku ucapkan dihadapan Daniel. Tapi apa? aku tidak tahu apa yang dulu aku katakan padanya. Teka teki ini bisa terjawab hanya dari dua faktor, Aida yang berbicara dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya atau aku yang bisa mengingat apa yang pernah aku katakan pada Daniel dulu.


Semuanya terasa sulit untuk dipecahkan karena aku benar - benar tidak tahu apa yang sebenarnya aku katakan pada Daniel, lalu tentang Aida...  semua ini tentang ketakutan Aida untuk mengungkap apa yang dia ketahui sebenarnya...


__ADS_2