Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Terungkap Sosok Charlotta


__ADS_3

Ruangan yang terisi beberapa orang itu untuk sejenak seperti kosong dan menyisakan ku dengan segudang pertanyaan yang menghujam kepalaku dengan begitu keras hinga sulit untuk aku tepis. Perkataan tuan Simon seperti enggan untuk beranjak dari telingaku.


Aku terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar dari tuan Simon, "Semua itu... permintaan tuan Simon?" tanyaku dalam hati. Perlahan aku mengangkat kepalaku untuk melihat mata tuan Simon, di hadapanku saat itu dia duduk dengan postur tubuh yang sempurna seakan menunjukkan kuasanya padaku. Mata kami saling bertemu dan karena tatapan itulah aku merasakan tekanan dan juga sebuah kejujuran darinya, tidak ada keraguan sedikitpun didalam diriku atas perkataan tuan Simon.


Memang aku tidak tahu apa motif sebenarnya tuan Simon meminta dokter Robert untuk meluluskan ku dari tes kompetensi itu, tapi jika aku ingat kembali maka itu semua karena permintaanku padanya. Aku yang meminta padanya agar dapat menangani Aida apapun yang terjadi dan tuan Simon menerima permintaan itu tanpa mempertimbangkan diriku yang sudah tidak berkompeten lagi, aku sudah mengacaukan segalanya dan mengorbankan nama baik tuan Simon.


"Ada apa? kau tidak mempercayaiku, Andrews?" tanya tuan Simon padaku dengan nada yang begitu menekan, tubuhku langsung merespon dengan bergetar begitu hebat.


Aku merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah terjadi, aku membiarkan akal sehatku tertutupi dengan semua emosi yang aku pendam selama ini. Rentetan kejadian bertaruh nyawa yang telah aku alami, semua yang membuatku tidak terkontrol dan tak terkendali. Bagaimana pun aku telah salah, aku tidak pantas untuk membela diri lagi dan mencari pembenaran atas semua sikap dan tindakanku.


"Aku bersalah... tuan Simon..." terbata aku mengatakannya, aku pun kembali tertunduk malu dan menyesal.


"Bagus jika kamu sudah menyadarinya, tapi... semua perbuatan dan ucapan sudah terjadi dan tidak dapat ditarik kembali, aku khawatir dokter Robert akan menolak permintaanku ini" ucap tuan Simon, sejenak aku mendengarnya menghela nafas.


"Andrews, banyak hal yang sebenarnya ingin aku bicarakan denganmu atas kejadian ini. Aku menemukan beberapa bukti dan juga dugaan sementara, namun..." belum selesai tuan Simon berkata, aku memotongnya sembari menatap matanya kembali.


"Aku!! aku bisa diajak untuk berdiskusi, tuan Simon!" pintaku padanya, sejenak kami terdiam dan saling bertatapan mata.


"Andrews... aku memberikan waktu untukmu beristirahat sejenak sejalan dengan anak buahku yang akan mengumpulkan bukti - buktinya di hadapanmu, setelah itu... aku akan kembali berdiskusi denganmu" ucap tuan Simon memecah keheningan sesaat diantara kami


Sebenarnya aku tidak bisa menerima itu, tapi aku sudah tidak punya muka lagi untuk membantahnya. Setelah apa yang terjadi, aku hanya bisa menuruti saran dan juga perintahnya. Aku pun mengangguk menyetujui perkataan tuan Simon, tidak lama tuan Simon berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Rachel yang terlihat masih menangis sembari berdiri didekat meja tuan Simon.


"Rachel, aku harap kamu bisa memaafkan Andrews. Kamu yang lebih memahami bagaimana kondisi mental Andrews saat ini, jika aku saja dapat memaafkannya maka aku harap kamu pun begitu" sembari menepuk pundak Rachel tuan Simon mengatakannya, saat itu Rachel hanya mengangguk.

__ADS_1


Lalu tuan Simon berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh empat polisi yang sejak tadi berada di ruangan ini, kini hanya ada aku dan Rachel didalam ruangan setelah tuan Simon meninggalkan tempat ini. Aku masih membatu di tempatku, begitu pula dengan Rachel yang terlihat sesenggukan karena menangis. Perlahan aku menoleh menatap pintu sebuah ruangan terpisah dimana Aida sedang tidur didalamnya, "Aku kembali menunjukkan ketidak pantasanku untuk menangani Aida" ucapku dalam hati.


"Rachel...." celetukku, perlahan aku menoleh menatap Rachel namun dia masih menundukkan kepalanya dan membiarkan air mata membasahi lantai.


"Ada satu permintaanku kali ini, aku membutuhkan pertolonganmu saat ini..." pintaku padanya, tapi Rachel tidak merespon ku sama sekali.


Aku menghela nafasku sejenak dan kembali berpikir, "Betapa bodohnya aku, setelah apa yang aku lakukan padanya kini aku tanpa malu untuk meminta pertolongan". Tapi aku tidak punya pilihan lain, Aida adalah salah satu alasanku sampai terlibat dengan hal - hal seperti ini.


"Maaf akan semua yang terjadi, aku sebenarnya sudah tidak punya muka lagi untuk meminta pertolonganmu atau bahkan hanya sekedar menampakkan wajahku padamu... tapi selain kamu, aku tidak bisa mempercayai siapapun saat ini..." ucapku dengan penuh rasa menyesal


"Bukankah kamu lebih mempercayai wanita itu daripada aku?!" tanya Rachel dengan sedikit bentakan


Benar, kehadiran Charlotta tentu saja membekaskan luka bagi Rachel namun semua itu tidak bisa aku hindari. Aku memahami kesedihan dan luka hati yang Rachel rasakan tapi hal itu tidak lagi menjadi penting bagiku, tindakan yang aku lakukan pada Rachel saat ini semakin menambah daftar ketidak pantas ku untuk menjadi pendampingnya. Itulah alasanku tidak ingin menyembuhkan luka hati Rachel, agar dia sadar aku bukanlah pria yang pantas untuk dia harapkan.


"Ini bukan tentang diriku, tapi ini untuk Aida" jawabku, perlahan Rachel pun mengangkat kepalanya dan menatapku.


"Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat, aku minta padamu untuk menggantikan ku menjaga Aida dan menjauhkannya dari bahaya. Aku akan meminta tuan Simon untuk memastikan keamanan kalian berdua" jawabku, aku melihat Rachel terkejut dengan jawabanku.


"Kau gila?! lihat apa yang para penjahat itu lakukan!! kamu tidak punya kesempatan untuk menyelesaikan ini!!" dengan bentakan Rachel mengatakannya, aku tertawa kecil menanggapi amarahnya.


"Kamu benar, aku tidak akan punya kesempatan itu. Tapi berdiam seperti ini juga tidak merubah apapun, Aida semakin dekat dengan kematiannya tanpa aku bisa melakukan apa - apa" timpal ku


"Andrews!! kamu hanyalah seorang dokter!! bertaruh nyawa seperti ini tidak ada dalam materi kita saat kuliah dulu!! berhenti bersikap bodoh!! biarkan polisi dan militer yang melakukannya!!" dengan bentakan Rachel mengatakannya, aku menghela nafasku seraya berdiri dan berjalan mendekatinya.

__ADS_1


Ketika kami berdekatan, aku pun memeluk tubuh kecil Rachel dengan erat. Aku merasakan tubuhnya masih bergetar hebat, sepertinya kejadian yang baru kita alami sangat membekas bagi Rachel. Ketakutannya masih begitu terasa bahkan hanya dengan merasakan getaran ditubuhnya, tidak heran mengingat dia telah kehilangan beberapa orang tepat didepan matanya.


"Itu adalah permintaan terakhirku padamu, hanya kamu yang saat ini bisa aku mintai pertolongan. Rachel... aku mohon padamu" dengan lembut aku mengatakannya, aku berharap dia bisa mengerti dan menerima permintaanku ini.


"Bodoh... bodoh... kamu bodoh, Andrews!!" Rachel mengatakannya sembari memukul - mukul punggungku bertubi - tubi seakan dia sedang meluapkan semua kekesalannya.


Setelah beberapa saat aku melepaskan pelukanku, kemudian aku berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangan ini mencari tuan Simon. Aku telah siap untuk menjadi partner tuan Simon demi menemukan dalang dari semua kejadian ini, semua aku lakukan untuk menyelamatkan Aida.


Diluar ruangan saat itu, banyak anggota polisi yang terlihat semakin sibuk dengan aktifitas mereka masing - masing. Namun aku tidak melihat tuan Simon berada ditempat ini, banyaknya ruangan serta lantai di gedung ini membuatku kerepotan untuk mencari keberadaan tuan Simon dan pada akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada salah satu polisi.


Dia memandu ku untuk menemui tuan Simon yang berada dilantai lima, disana terdapat ruang rapat yang tertutup dan dijaga ketat oleh beberapa polisi. Polisi yang menemaniku untuk mencari tuan Simon pun langsung memberitahu keperluanku untuk menemui tuan Simon pada polisi penjaga, tidak lama aku pun diizinkan masuk kedalam ruangan untuk bertemu tuan Simon.


Didalam ruangan itu aku melihat beberapa jendral polisi yang menjadi bawahan tuan Simon, wajah - wajahnya tidak asing bagiku yang selalu membaca koran karena mereka adalah jendral - jendral berpengaruh. Aku sedikit membungkuk ketika mereka menatapku hampir bersamaan, "Sangat aneh jika orang sipil sepertiku tiba - tiba memasuki ruang rapat para Jendral" ucapku dalam hati


"Baik, untuk sementara kita tunda rapat ini. Terima kasih atas kerja keras kalian" tuan Simon pun menutup pertemuan


"Siap!" serentak para jendral mengatakannya sembari berdiri dan memberi hormat pada tuan Simon


Tidak lama para jendral itu berjalan keluar dari ruangan hingga kini tersisa aku dan tuan Simon, dengan gestur tangan saat itu tuan Simon memintaku untuk mendekatinya dan duduk di kursi yang berada tepat dihadapannya dan terpisah oleh meja. Aku berjalan mendekati kursi itu lalu segera duduk, diatas meja saat itu aku melihat foto Charlotta yang terlihat begitu beda dari apa yang aku kenal.


"Kamu menyadarinya?" tanya tuan Simon saat itu


"Te...tentu... bukankah ini, Charlotta?" terbata aku mengatakannya, aku cukup bingung melihat berkas - berkas yang seakan berkaitan dengan Charlotta diatas meja tuan Simon.

__ADS_1


"Dia adalah mantan mata - mata dari negara lain, statusnya memang telah mengundurkan diri dari informasi interpol dan dia tidak memiliki kasus apapun" ucap tuan Simon, aku terkejut mendengar perkataannya.


Rahasia Charlotta kini terungkap, alasan kenapa dia begitu ahli dalam hal pembunuhan dan membela diri kini terjawab. Ketenangannya mengahadapi kondisi antara hidup dan mati selama ini juga pasti berkaitan dengan pekerjaannya sebelum menjadi pemilik toko baju di desa terpencil, tapi kenapa dia yang merupakan mantan mata - mata negara lain menjadi pemilik toko baju di desa terpencil seperti itu? lalu kenapa dia berhenti? dan apa tujuannya selama ini?


__ADS_2