Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Petugas Rick dan Petugas Shane


__ADS_3

Ledakan itu membakar habis dan menghancurkan kediaman keluarga West, aku berlari mendekati rumah itu dan mencari celah kemungkinan Tuan dan Nyonya West selamat tapi hatiku berkata "Tidak ada kemungkinan". Aku kembali berlari menuju sebuah bilik telpon umum yang terletak tidak jauh dari sana lalu menelpon pemadam kebakaran, orang - orang yang menjadi tetangga keluarga West mulai panik berlarian keluar dari rumahnya masing - masing.


Kepanikan jelas sangat terasa malam itu, jujur aku pun tidak bisa mengendalikan kepanikan ku hingga tidak terasa aku menangis dan terduduk didalam bilik telpon umum saat itu. Dari dalam bilik telpon umum tatapan mataku menatap rumah keluarga West yang masih terlalap api, aku tidak menyangka malam ini adalah hari terakhir aku dapat bertemu dengan Tuan dan Nyonya West setelah kenangan kami bersama selama ini. Aku tidak bisa berfikir lagi karena kesedihanku yang begitu dalam pada saat itu, "kenapa orang sebaik mereka mendapatkan musibah yang begitu tragis seperti ini?" itu lah yang terus aku pikirkan.


Apakah keinginan tuan West untuk dapat pengampunan Tuhan adalah sebuah firasat? jika iya ... betapa bodohnya aku yang tidak menyadari itu semua.


Tidak lama seseorang mengetuk pintu bilik telpon umum, aku tidak sadar polisi dan pemadam kebakaran sudah sampai di lokasi kejadian. Aku berdiri dari dudukku lalu perlahan aku membuka pintu bilik telpon umum itu, masih dengan air mata yang membasahi wajahku aku menatap teman lamaku dari pemadam kebakaran.


"Dokter Andrews, anda baik - baik saja?" tanya Carlos


"Aku baik - baik saja, Carlos" jawabku singkat


"Anda terluka? membutuhkan perawatan?" tanya Carlos lagi sambil memperhatikan tubuhku, namun aku membalasnya dengan gestur tidak perlu


Masih dengan rasa syok yang sangat berat, tiba - tiba seseorang berseragam polisi datang menghampiriku. Tentu saja mereka menemui ku karena akulah saksi mata pertama yang memberitahu tentang terjadinya ledakan hari itu.


"Dokter Andrews, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya seorang polisi yang sudah mengenaliku


"Aku tidak tahu, aku mengantarkan tuan West pulang dan baru beberapa langkah aku hendak pergi tiba - tiba terjadi ledakan" jawabku singkat


Tidak ada keterangan lebih yang bisa aku berikan karena aku pun sedang dalam pikiran yang penuh dengan tanya tentang kejadian itu, semua terlalu kebetulan atau memang sebuah kecelakaan. Polisi itupun tidak mencecar ku, aku yakin dia tahu jika aku masih dalam keadaan syok berat.


Mataku terasa berkunang - kunang, tubuhku lemas dan penuh keringat yang membasahi baju. Aku tidak tahu apakah ada luka di tubuhku, aku bahkan tidak memperdulikan itu karena isi kepalaku hanyalah sebuah tanya mengapa dan ada apa sebenarnya.


"Dokter Andrews nampaknya anda membutuhkan pengobatan, aku melihat anda berdarah dari balik kemeja anda" timpal Carlos seraya menuntunku untuk duduk disebuah kursi yang dia siapkan tidak jauh dari bilik telpon umum tadi. Aku ikuti saja kemauan Carlos agar dia merasa tenang, aku juga masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu.


Entah sudah berapa lama aku berada disekitar lokasi ledakan, yang aku tahu Carlos sudah menangani lukaku dengan sangat baik. Darah tidak lagi aku rasakan mengalir namun saat ini rasa sakitnya baru terasa. Gelapnya malam itupun tampaknya sudah berlalu dengan terangnya langit yang  berasal dari matahari yang baru saja memancarkan sinarnya dan aku dapati kebakaran dirumah tuan West juga mulai padam.


Orang - orang banyak yang berkumpul pada saat itu menyaksikan kebakaran hebat yang baru saja telah terjadi. Suara tangisan dan riuh orang - orang berbicara pada saat itu tidak terdengar dengan jelas di telingaku, aku merasa melamun dan seakan tidak percaya kami semua telah kehilangan tuan Benson West dan juga Nyonya Lucille West.


"Dokter Andrews, bisa kami bicara?" tanya seorang polisi yang tidak aku sadari telah berada di depanku


Pasti mereka akan datang untuk memberikanku pertanyaan lagi, dengan fokus yang masih kurang baik aku menyiapkan diri untuk berbincang dengan polisi itu.


"Aaah ya... bagaimana petugas?" tanyaku balik sambil menggelengkan kepalaku


"Seseorang mengatakan terakhir tuan Benson West bersama dengan anda, benar?" tanyanya kembali


"Iya, kami minum - minum di bar Winchester sampai tengah malam atau mungkin dini hari. Aku sedikit mabuk saat itu" jawabku


"Tidak ada tanda - tanda dari Tuan Benson West memiliki masalah dengan seseorang atau apa pun itu?" tanyanya lagi


"Tidak.. tidak... itu terjadi begitu saja, ada petunjuk petugas?" aku memandanginya dan dia mengeluarkan sebuah plastik klip, didalamnya aku melihat sebuah korek api gas klasik dalam keadaan terbuka dan sudah terlihat gosong.


"Kami telah memeriksa tempat kejadian dan mendapati adanya kebocoran gas pada pemanggang, sepertinya nyonya West lalai tidak menutup pipa gas kembali. Lalu tuan West mungkin sedang merokok dengan menggunakan pemantik ini tepat di dapur sebelum ledakan terjadi" jelasnya saat itu, aku kemudian mengambil pemantik itu dan memperhatikannya


"Tuan Benson West tidak merokok dan nyonya Lucille West tidak pernah lalai karena aku sangat mengagumi ketelitiannya. Hal ini tidak bisa dipercaya" gumamku, masih terus aku pandangi korek itu


Aku biarkan prasangkaku hanya aku saja yang tahu, situasi seperti ini tidak mungkin untuk menyampaikan apa yang aku ketahui. Aku memilih untuk berpura - pura menerima penjelasan dari polisi itu begitu saja. Namun hatiku masih yakin jika apa yang sudah aku dengar adalah salah.


"Tuan dan Nyonya West adalah orang baik, kami disini semua merasa kehilangan..." ucap petugas itu kepadaku

__ADS_1


"Kami bisa mengantar anda pulang Dokter Andrews" ucap petugas lainnya dan aku setuju dengan ajakan mereka.


Aku pulang diantar dua orang polisi kota ini menggunakan mobil dinasnya, disepanjang perjalanan aku hanya melamun dan menatap pepohonan hingga beberapa saat aku pun sampai di klinik. Aku keluar lalu mengucapkan terima kasih kepada kedua petugas, segera polisi itu meninggalkanku dan Charlotta terlihat berlari menyambut kepulanganku.


"Kamu terluka! ada apa?" tanya Charlotta sambil berusaha melihat luka - luka yang aku derita.


"Tidak apa, aku sudah mendapat perawatan" jawabku


"Apa yang terjadi? ledakan itu sangat keras hingga terdengar sampai kesini dan api nya...." Charlotta menggantung kalimatnya sejenak seraya menoleh ke belakang melihat kearah pintu masuk rumahku


"Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Setelah ledakan itu tiba - tiba Aida terbangun dari tidurnya dan berlari keluar, Aida dan aku melihat api besar itu dan dia bertanya padaku apa itu? aku tidak yakin harus menjawab apa, tapi aku tau itu tepat dirumah tuan West kan?" tanyanya dengan nada memastikan sesuatu padaku, perlahan tatapan mata Charlotta kembali padaku


"Benar.... ledakan itu... tepat ketika aku sudah mengantarkan tuan West..." jawabku, tidak terasa air mataku kembali pecah.


Aku menutup mataku dengan tangan lalu Charlotta memelukku dan membiarkan daguku bersandar di bahunya sambil menepuk - nepuk punggungku. Ketika aku membuka mata, dibelakang Charlotta aku melihat Aida berdiri di dekat pintu masuk dan menatapku dengan tatapan kosong. Dia berdiri mematung dengan menggenggam liontin pemberian tuan West lalu tiba - tiba terduduk. Aku melepaskan pelukan Charlotta lalu berlari mendekati Aida, didekatnya aku bersimpuh hendak membangunkannya dari trauma yang kembali dia tampakkan di hadapanku.


"Dokter... tuan dan nyonya West selamatkan... aku ingin menemuinya..." ucapnya lirih,


Mendengarkan permintaannya membuatku sangat sedih, aku berdiri, mendekat pada tembok klinik lalu sedikit membenturkan kepalaku ditembok itu. Air mataku tidak dapat aku tahan lagi walau aku ingin, aku menyesal ini harus terjadi saat Aida sudah sangat nyaman dengan tuan dan nyonya West.


"Dokter... aku ingin kesana... bolehkah aku kesana? mau kah kau membawaku kesana?... Aku tidak akan menangis... aku anak kuat kata nyonya West dan Dream Catcher ini akan terus memberiku mimpi indah kata tuan West, aku anak baik kan dokter.... aku hanya ingin kamu membawaku kesana...!!" suaranya lirih, hati ku tersayat saat itu


Aku belum mempersiapkan apapun yang bisa aku jelaskan kepada Aida, jujur saja aku berharap Aida tidak akan tahu tentang hal yang menimpa tuan dan nyonya West. Aku masih belum siap dengan ratapan Aida, semua itu menyakiti hatiku yang juga masih tidak bisa menerima kepergian tuan dan nyonya West.


"Tidak apa Aida tidak apa jika kamu ingin menangis, itu akan menguatkan hatimu" ucap Charlotta saat itu sambil memeluk Aida


"AAAAAaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!" Aida berteriak keras bersamaan dengan tangisannya, suaranya benar benar menyayat hatiku.


Beberapa saat Aida menangis dia pun pingsan saat itu, Aku segera menggendong Aida menuju kamarnya dan menidurkan dia diatas kasur. Aku mengambil Liontin yang sedari tadi terus dia genggam hingga membekas di tangannya yang lembut itu, menaruh liontin itu disebelah kepalanya lalu meninggalkannya di dalam kamar itu.


"Ini tidak baik kan?" tanya Charlotta saat itu ketika melihatku berjalan menuju ruang keluarga


"Anak itu baru saja menemui rasa kebersamaan dari sosok yang hangat" jawabku


"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanyanya, Charllota menghampiriku dan mengarahkan ku untuk duduk bersamanya di sofa


Ingin rasanya aku terhindar dari pertanyaan itu, namun aku tahu itu bukanlah hal yang bisa dihindari. Keberadaan Ku sebagai orang terakhir yang menemani tuan West sebelum terjadinya ledakan pasti membuat siapapun akan bertanya hal yang sama. Namun bolehkah aku katakan jika aku masih berharap ini hanya mimpi?!


"Kata polisi, kejadian itu terjadi karena nyonya West lupa mematikan gas dari pemanggangnya lalu pada saat bersamaan tuan West menyalakan pemantik api, tapi aku yakin itu adalah kesengajaan. Aku tidak tahu siapa, tapi hatiku mengatakan itu bukan karena kesalahan tuan West maupun nyonya West" jawabku dengan penuh keyakinan


"Apa kamu mengetahui sesuatu?" tanyanya


"Daniel.... ini pasti ada sangkut pautnya dengan Daniel" jawabku lalu aku menyandarkan badanku di Sofa dan menatap langit - langit


Sebuah nama yang mungkin asing bagi Charlotta dia dengar dari mulutku, namun dari tatapan matanya seakan Charlotta ingin mendengar banyak cerita dariku. Keberadaan Charlotta saat itu membuatku ingin menceritakan semuanya yang mengganggu pikiranku, aku yakin Charlotta adalah orang yang tepat untuk aku berbagi beban pikiranku saat itu.


"Dia mengatakan bahwa Aida adalah anak yang diselamatkannya dari perdagangan anak tapi kemarin ada dua orang polisi dari ibu kota yang mencari keberadaan Daniel dengan mengatakan Daniel adalah salah satu dari komplotan mafia. Dua orang polisi ini ingin membawa Aida namun dihalangi oleh tuan West dan kemudian kejadian tidak terduga ini terjadi" jelas ku pada Charlotta, aku ingin dia membantuku untuk menganalisis apa yang sedang aku duga.


"Sebuah kebetulan yang tidak menyenangkan ya" celetuk Charlotta terdengar meragukan apa yang menjadi dugaanku.

__ADS_1


"Tidak Charlotta, ini bukan kebetulan. Tidak kah kamu paham polanya? ini pasti bukan kebetulan" dengan nada agak menekan aku mengatakan itu.


Ditengah pembicaraan kami, tiba - tiba terdengar suara ketokan pintu. Aku dan Charlotta kemudian berjalan menuju ruang pemeriksaan untuk membukakan pintu dan dari balik pintu itu aku melihat Petugas Rick dan petugas Shane yang mengunjungi rumahku, memuncak lah emosiku ketika melihat keduanya.


"Selamat pagi Dokter Andrews" sapa petugas Rick


"Mau apa kalian kemari?" tanyaku dengan nada tinggi


"Kejadian yang menimpa kepala Benson sangat disayangkan ya, sekarang tidak ada penanggungjawab terhadap saksi ahli..." Belum selesai Petugas Rick berbicara, aku langsung memukulnya hingga dia terjatuh dan terus berusaha memukulinya namun tindakanku berhasil dihentikan oleh petugas Shane


Tidak perlu dijelaskan aku pun sudah mengerti arah pembicaraan keduanya, kemarahanku memuncak dan aku lampiaskan begitu saja. Tidak boleh ada lagi hal buruk yang terjadi berikutnya, Aida harus aku lindungi.


"Hentikan Dokter!! aku bisa menangkap mu karena tindakanmu ini!!" bentak petugas Shane sambil mengunciku gerakanku lalu menjatuhkan ku di tanah serta berusaha memborgol tanganku kebelakang


"Kalian pasti dalangnya!!! aku yakin itu!! aku akan membunuh kalian brengsek!!" bentak ku dengan luapan emosi sudah ada di puncaknya, aku kehilangan ketenanganku saat itu.


"Apa maksudmu?! dalang apa?! kamu harus tenang Dokter!!" sangkal petugas Shane yang sudah berhasil memborgol kedua tanganku dari belakang saat itu


"Kalian lah dalangnya... aku yakin itu" ucapku sambil membenturkan kepala ketanah beberapa kali.


"Lepaskan dia, kalian tidak tahu apa - apa!!" bela Charlotta sambil berlari ke arahku, mendorong petugas Shane lalu melindungi ku


"Kami akan lepaskan Dokter Andrews dengan syarat dia bisa tenang" ucap petugas Rick


"Dia akan tenang, aku akan menjaminnya untuk itu" tegas Charlotta saat itu, petugas Shane mendekatiku dan mendudukkan ku di tanah sembari membuka borgolnya


"Aku harus membawa anak itu sesuai dengan prosedur hukum" ucap Petugas Rick


Benar dugaanku, Aida lah tujuan mereka datang kembali menemui ku. Dua polisi itu aku yakini bukanlah polisi baik - baik, aku harus melindungi Aida apapun yang terjadi. Dan akan aku segera selidiki semua kasus ini perlahan.


"Tidak bisa, mental anak itu sedang hancur. Aku adalah dokter pribadinya dan aku berhak melarang mu untuk melakukan itu" dengan nada tenang aku mengatakan itu kepada mereka, aku berusaha untuk mendapatkan pengertian dari dua petugas ini.


"Jika begitu katakan dimana Daniel? aku hanya butuh informasi itu" petugas Rick mendekatiku dan duduk tepat di depanku lalu bertanya dengan nada yang menekan, aku menatap wajah petugas Rick yang tepat di depanku.


"Apa hubungan hal ini dengan Aida?" tanyaku heran


"Anak ini sepertinya berharga bagi Daniel, aku tidak tahu tapi aku yakin Daniel pasti kembali untuk anak ini dan saat itu terjadi aku akan menangkapnya di tempat aku mengamankan Aida. kamu tahu Dokter? itu akan memudahkan tugas kami. Dia ini orang jahat yang licin" Tegasnya di hadapanku


"Kami ingin anda menyerahkannya baik - baik Dokter Andrews, kami tidak ingin ada yang tersakiti disini" timpal petugas Shane sambil menunjukkan pistol yang masih menempel di sarung pistolnya tepat pada pinggang


"Kalian mengancam seorang dokter?! dimana etika kalian sebagai petugas polisi?!!" bentak Charlotta seraya menunjuk Shane saat itu dengan nada marah


"Adakah cara lain agar kalian tidak membawa Aida? keadaannya benar - benar terguncang saat ini" pintaku kepada mereka


"Maaf dokter, tidak ada" tegas Rick


Bersamaan dengan perkataan petugas Rick, aku melihat petugas Shane memasuki rumahku walau Charlotta nampak terus mengomelinya sambil mengikutinya masuk kedalam rumahku. Aku saat itu hanya membatu dan tidak tahu harus berbuat apa, aku cuma mendengar keributan terjadi di dalam rumahku. Suara tangisan Aida dan teriakan Charlotta nampak sangat terdengar jelas di telingaku hingga akhirnya mereka semua berada diluar bersama denganku dan petugas Rick.


"Tetaplah tenang seperti ini Dokter Andrews" ucap petugas Rick lalu berdiri dan menuju mobilnya untuk membuka kan pintu mobil.


Aku mendengar suara minta tolong Aida dan dia memanggil - manggil namaku namun aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Kepalaku terasa akan meledak, mataku berkunang kunang, sepertinya aku akan pingsan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2