
Enam hari sudah aku lewati, semua berjalan baik tanpa ada masalah yang berarti. Setiap harinya aku bertemu Aida di institusi dan seperti biasa Rachel tetap menemaniku untuk merawat Aida. Aah.. tidak, maksudku aku yang menemani Rachel untuk merawat Aida karena aku belum resmi menjadi dokter disini. Tentang ujian kompetensi itu akan terjadi tepat pada hari keenam aku berada disini, dan saat ini waktunya telah tiba.
Semua sudah aku persiapkan sejak beberapa hari yang lalu, Rachel juga membantuku untuk mengingat kembali semua teori - teori psikologi yang pernah aku pelajari dulu. Cukup sulit memang untuk mengingat kembali ilmu yang sudah lama aku tinggalkan, namun aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Semua berjalan sempurna, aku pun sudah bersiap untuk pergi menuju institusi dengan semua persiapanku yang sangat matang.
Di pagi hari tepat ketika ujian kompetensi ku akan diadakan, aku keluar dari rumah untuk menuju DB yang terparkir dipinggir jalan tepat di depan rumah dengan penuh semangat. Langkah kaki ini melangkah tanpa keraguan sedikit pun, ku pacu mobil menuju institusi. Sesampainya disana aku memarkirkan mobil dan segera masuk ke dalam gedung itu dan langsung menuju ruang konseling, disana tepat di pintu masuk ruang konseling aku melihat Aida dan Rachel menungguku, dengan senyuman mereka menyambut ku.
"Pagi Dokter...." Aida menyapaku, aku mengelus kepalanya sembari memberikan senyum terbaikku
"Sudah siap? Dokter Robert langsung yang menguji mu, aku tahu kamu hebat tapi aku perlu ingatkan..." Belum selesai Rachel menyelesaikan kalimatnya aku memotong
"Semua yang telah kamu ajarkan padaku membuatku lebih siap daripada pertama kali aku mengalami ini, aku ingat semua pesan dan kata - katamu seminggu ini. Ijinkan aku berterima kasih padamu dari hatiku yang terdalam untukmu. Aku sudah siap untuk ujian kali ini, aku pastikan tidak ada lagi seorang Dokter Lee yang sombong dan angkuh" dengan penuh semangat aku meyakinkan itu, Rachel memelukku dan melepaskan pelukannya dengan tenang
"Semangat ya..." ucap Rachel
Langkah awal dari kembalinya dokter Lee, aku pun memasuki ruangan itu. Didalam ruangan aku melihat hanya ada Dokter Robert yang duduk dibalik meja dan dirinya sudah siap mengujiku, kedatanganku ketika itu membuat dokter Robert tersenyum dan aku pun membalas senyumannya seraya berjalan mendekati kursi yang tepat berada didepannya.
"Apa kamu siap Dokter Lee?" tanya Dokter Robert, mata kami pun bertemu dengan sorot mata tanpa keraguan.
"Ya, aku siap. maaf Dokter Robet, hanya ada anda disini?" tanyaku heran
"Ini ujian khusus, aku menguji mu secara khusus" jelas Dokter Robert kepadaku sambil meyiapkan beberapa kertas dan menaruhnya tepat di depanku
"Aku tahu kamu sudah paham tahapan ujiannya, ada empat kamera dengan microphone disini yang akan merekam aktifitas kita disini, apa kamu sudah siap?" tanya Dokter Robert seperti memastikan kesiapan ku
Benar, aku sudah sangat paham dengan semua tahapan dari ujian menjadi dokter psikiatri. Hampir sembilan tahun yang lalu disinilah aku berada dengan dokter Han sebagai pengujinya. Bedanya saat itu tidak menjadikanku peserta khusus karena banyak dokter lain yang mengikuti tes. Atmosfir ini tidak jauh berbeda dan aku yakin pasti lolos dengan serangkaian tahapan tes yang diujikan.
"Aku siap" jawabku dengan penuh percaya diri
Ujian kompetensi ku benar - benar memakan waktu dan penuh dengan tekanan, aku harus melewati beberapa ujian kompetensi yang akan menentukan kesiapan ku sebagai seorang dokter psikiatri dan lebih dalam dari itu aku juga harus memastikan setiap tekanan tidak akan membuatku lepas kendali. Aku hanya tidak boleh kembali mejadi dokter Lee yang sombong dan angkuh, nasehat Rachel membuatku merasa bahwa aku mampu mengatasi hal itu. Enam jam telah berlalu, akhirnya semua ujianku berhasil aku selesaikan.
"Selamat, anda sudah menyelesaikan rangkaian ujiannya Dokter Lee. Hasilnya akan aku berikan seminggu sejak ujian ini dilakukan" ucap Dokter Robert memberiku selamat dan mengajakku bersalaman, aku sambut tangannya dan ku genggam tangan itu dengan erat.
"Terima kasih Dokter Robert, aku harap aku bisa segera membantu pekerjaanmu disini" ucapku dengan senyuman
"Tentu Tentu... aku akan sangat senang saat waktu itu telah tiba" timpal Dokter Robert lalu meninggalkanku di ruangan itu
Seketika tubuh ini terasa lemas sampai membuatku terduduk di kursi ku tadi, ujian ini bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya meski ini bukanlah yang pertama kali untukku. Terasa lega dan tegang berkecamuk, aku juga tidak sabar menunggu hasil dari ujianku. Tidak beberapa lama, aku melihat kepala Aida muncul dari balik pintu yang sedikit terbuka dan dia menatapku. Tertawa kecil aku saat itu melihatnya lalu aku memberikan gestur tangan kepadanya agar dia masuk kedalam ruangan, Aida tersenyum sembari berlari kecil mendekatiku.
__ADS_1
"Apa sudah selesai? Dokter lelah? aku bisa ambilkan segelas air jika dokter membutuhkannya" ucap Aida dengan nada suara yang terdengar manja, aku mengelus kepalanya dengan lembut dan dipenuhi perasaan bahagia bisa melihat Aida begitu tenang disini.
"Aku hanya merasa kehabisan tenaga, tapi melihat senyum mu membuat perasaan itu hilang dalam sekejap. Dimana Dokter Rachel? dia tidak menemanimu?" tanyaku sambil memperhatikan sekitar
"Nona Rachel mengatakan dia pulang untuk membuat pasta saus bolognese kesukaan dokter dan menyuruhku menunggu dokter disini agar dokter tidak kemana - mana sampai Nona Rachel kembali membawa pasta itu" jelas Aida kepadaku
"Baiklah... disini suasananya tidak nyaman, bagaimana kalau kita bermain di taman?" ajak ku saat itu, namun belum juga Aida menjawab ajakanku tiba - tiba Rachel membuka pintu dengan keras dan sorot matanya terlihat khawatir dan diselimuti ketakutan.
"Ada apa Rachel?" tanyaku agak panik melihat Rachel seperti itu
"Kemari lah, ada hal gawat yang harus kamu tahu" jawab Rachel menunjukkan kepanikannya.
Aku dan Aida segera berlari mengikuti Rachel menuju ruang kumpul pasien didalam gedung itu dimana ada sebuah televisi disana, Rachel menghidupkan televisi itu lalu mencari acara berita terkini yang sedang disiarkan secara langsung. Dari layar televisi itu aku melihat sebuah rumah yang terbakar hebat sore ini, samar - samar aku tahu dimana kejadian kebakaran itu sedang terjadi.
***Suara Televisi***
"... Dari ledakan ini kami masih tidak dapat mengkonfirmasi ada atau tidaknya korban jiwa, kami masih fokus untuk memadamkan apinya" ucap seorang pemadam kebakaran yang sedang di wawancarai oleh reporter
"Baik, selamat bekerja. Begitulah pemirsa, kejadian ledakan dan kebakaran ini sangat mengejutkan kita semua. seperti yang telah kami informasikan tadi, ini adalah rumah dari Kepala Kepolisian Negara Jendral Simon Dalton..." jelas Reporter itu
***********************
Wajar saja aku menanyakan itu dengan diriku sendiri, seperti mengulang tragedi tuan West dua kejadian itu nyaris serupa. Mereka adalah kepala kepolisian yang hubungannya dekat denganku dan sebelum kematian keduanya sama - sama memberiku sebuah teka - teki yang tidak pernah terpikirkan olehku. Lalu benarkah semua karena Aida? apakah semua ini berhubungan dengan Aida? atau malah Daniel Osborn sesuai dengan kecurigaan tuan Simon?!
Aku berlari menuju ruang konseling dan mencari ponselku yang aku letakkan di dalam tas yang berada diatas meja, dengan ponsel itu aku berusaha menghubungi nomor Tuan Simon untuk menanyakan kabarnya. Ada secercah harapan didalam hatiku jika tuan Simon selamat karena dia tidak berada dirumah, tinggi harapanku untuk itu.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" ucap operator saat aku menelpon Tuan Simon, aku tetap mencobanya berkali kali namun jawaban operator selalu sama.
"Sial!!! ada apa sebenarnya ini!!!" teriakku seraya menggebrak meja,
Ditengah kepanikan itu aku teringat kejadian saat Aida akan dibawa oleh Rick dan Shane dimana Aida seperti membela Daniel dari tuduhan Rick dan Shane, "Aida pasti tahu sesuatu!" ucapku dalam hati. Aku berjalan kembali menuju ruang kumpul dimana Aida dan Rachel berada. Keduanya masih memperhatikan televisi dengan berita utama kebakaran hebat dirumah tuan Simon, begitu dekat aku segera menarik tangan Aida dan membawanya kedalam kamarnya.
"Dokter..." nada Aida terdengar kaget saat itu, namun aku tidak hiraukan
"Andrews! ada apa?" tanya Rachel terdengar marah padaku, namun aku tahu dia juga heran dengan yang aku lakukan pada Aida.
Rachel hanya mengikuti ku saat itu tanpa berusaha untuk menghentikan apa yang aku lakukan, aku terus membawa Aida kedalam kamarnya dan mendudukkannya di kursi yang ada didalam kamar. Nampak sekali sorot mata Aida yang ketakutan memandang wajahku, aku tidak tahu ekspresiku saat itu seperti apa namun aku sadar aku menakutinya. Sejenak aku menarik nafas panjang dan menepuk - nepuk wajahku dengan kedua tangan agar ekspresi wajah yang membuat Aida takut segera pergi, aku merasa aku sudah sedikit lebih tenang saat itu.
__ADS_1
"Aida... aku minta tolong padamu kali ini" ucapku dengan nada lembut mencoba setenang mungkin dihadapan Aida
"Apa ini Andrews?! kamu menakutinya!!" tanya Rachel terdengar marah padaku dan bentakannya membuat Aida menunda untuk menjawab pertanyaanku.
"Dokter...." nada suara Aida bergetar, raut wajahnya nampak jelas dia sedang ketakutan. Sikap Aida membuatku sadar bahwa aku gagal menenangkan diriku, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menginterogasi Aida yang menurutku dia tahu sesuatu dan dia pasti berharga untuk Daniel.
"Sial!!" teriakku seraya aku membentur - benturkan kepalaku di meja
Rachel menarik tanganku dan mengajakku keluar menjauhi kamar Aida, disalah satu koridor saat itu Rachel berhenti melangkah lalu menatapku dengan penuh amarah. Aku paham dengan sikapnya, tapi dia tidak memahami apa yang sedang menjadi beban pikiranku. Ini bukan hanya masalah kesehatan mental, namun ada nyawa yang sudah sekian kalinya melayang. Semua terjadi sejak Daniel menitipkan Aida kepadaku, aku yakin sejak itulah semua ini mulai terasa janggal.
"Jelaskan padaku, apa - apaan tadi itu?!" tanya Rachel agak membentak ku
"Kamu tidak akan paham, hanya aku dan Aida yang tahu tentang ini" jawabku singkat
"Kamu akan seperti ini lagi? libatkan aku jika itu tentangmu, aku akan membantumu" ucap Rachel masih dengan nada menekan ku
Aku terdiam menatap Rachel untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya aku menjelaskan awal aku bertemu Aida hingga akhirnya aku berada disini, tidak ada satu pun yang aku lewatkan tentang kejadian yang menimpaku sejak bertemu dengan Aida. Namun Rachel hanya membatu dan tidak memberikan komentar apapun saat aku selesai menceritakan semua padanya, aku yakin Rachel pun bingung.
"Begitulah, semua benang merah ini bermula dari Aida dan Daniel" ucapku mengakhiri cerita
"Jadi Daniel... lagi.." Rachel bergumam dengan nada ketakutan
"Apa maksudmu lagi?" tanyaku, aku terkejut Rachel mengatakan kata lagi ketika nama Daniel disebut.
"Dia dulu pernah tiba - tiba berada di dalam rumahku sambil menodongkan pistol ke arahku" Rachel nampak terduduk saat itu menatap lantai seraya memegang kepala, aku tahu dia sedang memutar ulang memori kejadian ketika dirinya bertemu Daniel.
"Apa? Jadi kamu pernah bertemu dengannya?! kapan?!" tanyaku lagi
"Jika sesuai dengan ceritamu, maka kejadian itu terjadi dua minggu sebelum kamu bertemu dengannya. Daniel menyelinap kedalam rumahku dan mengancam ku dengan pistol. Dia memintaku untuk memberinya salinan data pasien dalam satu tahun ini terakhir dan memintaku untuk mencocokkannya dengan berkas yang dia bawa, berkas yang dia bawa adalah berkas perkara yang saksi dan korbannya dibawa kemari" Rachel menjelaskan dengan nada ketakutan
"Lalu? apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanyaku lagi
Aku tidak akan membiarkan rentetan cerita itu berlalu walau dalam hitungan detik, aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Daniel dan Aida. Tapi satu yang bisa aku katakan bahwa ketenanganku benar - benar habis dan aku kembali sulit untuk mengontrol diriku yang seorang dokter psikiatri.
"Dia hanya berkata... Dunia yang kamu impikan akan dia wujudkan... Andrews, apa yang pernah kamu katakan pada Daniel saat itu?" Rachel menatapku dengan tajam
Tatapan mata Rachel mengantarkan ku mengulang kembali memori yang ku buat bersama Daniel. Banyak pertanyaan yang akhirnya menggangu pikiranku, mencoba tenang ditengah kebingungan yang menimpaku...aku memaksakan diri untuk mengingat kembali apa yang pernah ku katakan pada Daniel. " Dunia yang aku impikan " benarkah aku pernah mengatakan hal itu terhadap Daniel? jika memang iya mengapa aku mudah begitu saja melupakan kalimat itu, lalu apa yang Daniel artikan dari kalimat itu? benarkah semua rentetan yang terjadi sejak kedatangannya kembali menemui ku berhubungan dengan Daniel?
__ADS_1
Daniel Osborn, Sebenarnya apa yang sedang merasuki mu? apa yang sedang kamu rencanakan? apakah kamu kegagalan keduaku setelah Celline?