
Rachel kembali ke kamar untuk memanggilku dan Charlotta, ketika itu aku masih terpaku menatap raut wajah Charlotta yang menunjukkan seberapa herannya dia kepadaku. Aku merasa menjadi seperti orang gila dengan semua halusinasiku, namun aku sangat yakin semalam itu bukanlah sebuah mimpi belaka. "Apa yang terjadi? apa aku benar - benar sudah gila?" tanyaku dalam hati, tepukan ringan tangan Charlotta di pipi saat itu membuatku tersadar dari lamunan.
"Hei Andrews, kenapa melamun?" tanya Charlotta padaku
Lagi dan lagi Charlotta menunjukkan sikap yang meyakinkan jika dia benar - benar tidak mengetahui kejadian semalam, sulit untuk dipercaya namun sepertinya memaksakan apa yang aku yakin pun akan percuma.
"Maaf, ada yang menganggu pikiranku" jawabku sembari menekan kedua mata dan dahi dengan jari tangan kananku
"Ayolah, aku tidak punya waktu untuk melihat kalian bermesraan!" bentak Rachel
Aku dan Charlotta berjalan keluar dari kamar mengikuti Rachel menuju ruang makan pasien, disana aku bertemu dengan dokter - dokter lain dan saling berbagi cerita dengan mereka semua. Tempat ini terasa lebih bersahabat daripada ketika pertama kali aku bekerja, Aah.. yah harus aku akui sebenarnya akulah yang merusak suasana damai di institusi ini dengan ambisiku yang terdengar bodoh jika aku pikirkan sekarang.
Tidak satupun dokter disini yang aku kenal dan mereka juga tidak mengenaliku, sesuai dengan apa yang Rachel katakan tentang pengunduran diri massal yang pernah terjadi di era kepemimpinan dokter Mark. Sebenarnya aku ingin tahu apa alasannya dokter Mark sampai tidak dapat mempertahankan kepemimpinannya, apakah ada sesuatu yang mengganggunya.
Setelah beberapa menit berlalu, aku, Aida, Charlotta dan Rachel keluar dari ruang makan menuju tempat berkumpul pasien. Disana aku melihat dokter Robert baru sampai di institusi, ketika melihatku dia terlihat kaget dan seakan berusaha untuk menghindari ku. Dia hanya melambaikan tangannya dan segera berlalu begitu saja, aku pikir hanya aku yang merasakan gelagat aneh dari dokter Robert namun ternyata Rachel juga merasakannya.
"Kenapa dokter Robert berlalu begitu saja? dia orang yang cukup ramah" celetuk Rachel
"Benarkah?" tanyaku mencoba untuk mempertegas perkataannya
Aku memang belum lama mengenal dokter Robert dan itu membuatku belum bisa mengetahui kepribadiannya, terlebih orang yang memahami ilmu psikologi biasanya pandai untuk menutupi jati dirinya agar tidak mudah terbaca oleh orang lain. Namun beberapa kali pertemuanku dengannya, aku bisa sedikit menyimpulkan memang dokter Robert mudah untuk ramah kepada orang yang dia temui.
"Iya, dia selalu menyempatkan diri untuk mendekati setiap orang yang dia lihat di institusi ini dan mengajaknya mengobrol sebentar meski itu hanya basa - basi..." jawab Rachel terdengar heran atas sikap dokter Robert.
"Mungkin hari ini dia sedang banyak pikiran, bukan begitu Aida?" celetuk Charlotta, aku dan Rachel menoleh ke belakang menatap keduanya.
Ketika itu Aida mengangguk beberapa kali kemudian menatapku dan tersenyum, aku balas senyumnya lalu mengelus kepalanya dengan lembut beberapa saat.
"Aku akan temui dokter Robert, sebisa mungkin aku akan mencoba mencari tahu apa yang terjadi padanya" ucapku, namun sepertinya Rachel tidak setuju dengan ideku itu.
"Serahkan saja padaku, kamu belum resmi menjadi dokter disini. Dokter Robert bisa saja menolak untuk membicarakan apapun denganmu, lagian seharunya hasil tes mu sudah keluar sebagian dan dari sana kita bisa tahu tingkat kelulusanmu" timpal Rachel
Aku tidak bisa membantahnya karena memang begitulah situasinya, meski kami sudah saling kenal namun aku bukanlah dokter resmi setidaknya untuk saat ini. Rachel berjalan meninggalkan kami dan sepertinya dia menuju keruang kerja dokter Robert, sedangkan aku, Aida dan Charlotta kembali ke kamar Aida untuk bermain bersama disana.
__ADS_1
Dari jendela kamar Aida, aku bisa melihat seberapa ketatnya penjagaan yang tuan Simon berikan untuk mengamankan gedung institusi ini. Polisi terlihat sering berkeliling disekitar area gedung dengan persenjataan lengkap, tidak lupa di jalanan juga sering aku lihat patroli dan konvoi mobil - mobil polisi untuk mengamankan area. Aku tidak tahu tuan Simon akan serius untuk menangani Daniel sampai seperti ini, mungkin kejadian yang menimpa tuan Simon menjadi pemicu dimana pada akhirnya dia percaya jika teror itu nyata adanya. Walau aku masih belum bisa menemukan clue tentang keterlibatan Daniel.
"Hei, lihat apa sih?" tanya Charlotta sembari menepuk pundakku dan ikut melihat keluar dari balik kaca jendela.
"Aah tidak, aku hanya memastikan jika kita aman" jawabku yang sedikit terkejut dengan tepukan tangan Charlotta di pundakku, ketika itu Aida juga berlari kecil untuk melihat keluar dari balik kaca jendela.
"Dokter... kenapa banyak polisi?" tanya Aida, ketika itu aku bingung harus menjawab apa karena keberadaan polisi pasti membuat trauma bagi Aida.
Aku hampir lupa untuk mengatakan jika keadaan Aida terlihat semakin membaik. Berada dalam satu tempat bersamaku dan Charlotta membuat Aida kini terlihat mulai berani untuk bersenda gurau dan tidak canggung. Aku bahagia dengan keadaan Aida yang bahkan belum ku tangani dengan serius namun mulai menunjukkan progres yang sangat baik. Tentu saja semua juga berkat bantuan Rachel yang setia mendampingi Aida dan juga berhasil mengatur emosiku ketika aku tidak stabil dalam menghadapi Aida.
"Mereka sedang berjaga karena ada orang penting disini" timpal Charlotta dengan sedikit suara tawa, aku dan Aida serentak menatap wajahnya yang terlihat tersenyum.
"Siapa?" tanya Aida yang mulai bisa menunjukkan ekspresi penasaran
"Kamu... Aida kan orang penting buat dokter Andrews" jawab Charlotta menggoda Aida
"Benarkah?" tanya Aida yang tersenyum malu itu, aku tertawa kecil menanggapi sikap malu - malu yang ditunjukkan Aida ketika itu.
Namun baru beberapa langkah berjalan karena tarikan tangan Charlotta, saat itu Aida terjatuh karena terpeleset dan disaat bersamaan...
PRAAAANG!!!
Suara kaca pecah dari sebuah tembakan nyaris mengenai kepala Aida, andai saja dia tidak terjatuh saat itu maka selesai sudah nyawa Aida ketika itu...
Aku begitu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, begitu cepat dan nyaris saja aku akan kehilangan Aida. Ketika aku hendak menyelamatkan Aida dengan membawanya ketempat aman, disaat itu Charlotta sudah menarik Aida meski harus menyeretnya hingga keluar dari kamar.
Aku pikir semua serangan itu selesai sampai disana, namun ternyata tidak. Serangan kembali terjadi saat aku mencoba untuk keluar dari kamar menyusul Aida dan Charlotta, tembakan beruntun dari arah jendela kamar Aida bertubi - tubi menghujani kami. Beruntung aku berhasil kabur dan tidak terkena satu pun peluru meski aku mengalami luka gores akibat pecahan kaca, aku bersembunyi dibalik tembok sebelah kanan dari pintu luar kamar Aida dan disebelah kiri aku melihat Charlotta melindungi Aida dengan tubuhnya.
"Pergi dari sini!!" teriakku ditengah hujanan peluru yang menghancurkan tembok kamar, aku merasa tidak lama lagi peluru akan menembus tembok itu.
"Mengerti!!!" timpal Charlotta yang mencoba membawa Aida pergi menjauhi tempat itu dengan merangkak bersama, tapi diujung koridor tempat Aida dan Charlotta mencoba mencari perlindungan saat itu aku melihat sebuah kaca jendela yang begitu terbuka.
Instingku mengatakan jika keduanya akan menjadi sasaran empuk jika mereka terus merangkak hingga ke ujung koridor, aku sudah mencoba berteriak memperingatkan Charlotta namun suaraku kalah dari suara berisik hujanan peluru yang menghantam tembok. Aku mencoba mengejar mereka dengan melewati pintu yang terbuka, namun hujanan peluru itu semakin membabi buta seakan melarang ku untuk mendekati Charlotta dan Aida.
__ADS_1
Aku terlambat, Aida dan Charlotta sudah sampai diujung koridor dan seperti dugaanku tidak lama setelahnya sebuah peluru menembus jendela kaca itu. Beruntung di persimpangan koridor saat itu aku melihat Rick dan Shane melompat bersamaan menabrakkan tubuhnya ke Charlotta dan Aida, mereka berhasil diselamatkan dengan sangat dramatis di detik - detik terakhir.
Bersamaan dengan itu, tembakan yang mengarah pada kamar Aida pun terhenti. Merasa ada kesempatan, aku segera berdiri lalu berlari mendekati mereka di ujung koridor. Bersamaan dengan itu pula Rick dan Shane sudah berjaga dibalik kaca jendela untuk mengawasi keadaan diluar, aku yang merasa aman karena penjagaan keduanya segera berlari mendekati Charlotta dan Aida di persimpangan koridor.
Aida terlihat meringkuk didalam pelukan Charlotta yang duduk bersembunyi dibalik tembok, nafasnya terengah - engah namun Charlotta masih sempat untuk tersenyum padaku dan mengatakan...
"Aku berhasil menyelamatkan Aida" dengan suara terbata dia mengatakannya
"Dokter, bawa mereka ke tengah gedung!!" teriak Shane terdengar panik
"Jangan berada didekat jendela!!" timpal Rick memperingatkan ku
Tanpa basa - basi aku memenuhi perintah Rick dan Shane, aku menuntun Charlotta dan Aida menuju tempat yang menurutku paling aman didalam gedung ini. Tepat ditengah gedung, hanya ada kaca besar yang terletak diatas kami dan menjadi penerangan alami didalam gedung ini. Tidak ada jendela lain dan satu - satunya bahaya yang mungkin akan kami alami hanyalah dari atas, tapi aku rasa itu tidak mungkin bisa terjadi.
Disalah satu sudut pilar gedung, aku, Aida dan Charlotta berlindung, aku mengawasi pintu sebelah kanan sedangkan Charlotta mengawasi pintu sebelah kiri. Aida yang saat itu berada ditengah kami terlihat meringkuk bersandar pada pilar itu, suara tangisannya pun terdengar mungkin karena dia ketakutan. Sirene polisi, ambulan dan juga pemadam kebakaran saling bersahutan dari luar gedung, menyebabkan suasana menjadi semakin mencekam.
"Apa diluar sana sudah mereda?" tanya Charlotta memecah keheningan
"Tidak, aku rasa masih sedang terjadi baku tembak dan pengejaran" jawabku dengan yakin
"Aku tidak membawa pistolku, bagaimana cara kita melawan mereka?" tanya Charlotta lagi, ketika itu aku terkejut mendengar pertanyaannya.
Aku menoleh menatap Charlotta yang memeluk Aida saat itu, wajahnya begitu yakin dengan pertanyaannya yang aku rasa tidak masuk akal. Bagaimana pun Charlotta pasti paham jika kita sedang melawan musuh yang menggunakan senjata militer, pistol bukanlah pilihan baik untuk melawan balik terlebih yang dimiliki Charlotta hanyalah berjenis glock.
Tapi yang lebih membuatku kaget dengan pertanyaannya adalah keinginan untuk melawan balik para mafia itu. Yah.. mafia, aku yakin penyerangan ini dilakukan oleh mafia. Hanya mafia lah yang memusuhi institusi seperti ini, terlebih keberadaan ku dan Aida bisa menjadi alasan kuatĀ mereka melakukan penyerangan karena sejak keberadaan ku kembali untuk menemui Aida, serangan demi serangan seperti sulit terhenti untuk mengarah kepadaku.
Benakku dipenuhi dengan pertanyaan Charlotta "Apa yang dipikirannya? melawan mereka dengan apa yang kita punya?" tanyaku dalam hati. Aku merasa Charlotta tidak seperti wanita pada umumnya, keberaniannya tidaklah umum pada wanita biasa dan kemungkinan besar dia sudah cukup terlatih di kondisi seperti ini.
"Kamu... darimana keberanianmu itu?" tanyaku terbata
"Hah? apa maksudmu?" tanya balik Charlotta, pertanyaan itu membuat emosiku meninggi.
Aku yakin dia tahu apa yang sedang aku tanyakan padanya, dia hanya sedang berpura - pura di depanku seolah apa yang dia tunjukkan adalah hal normal. Namun aku pasti tidak salah, Charlotta bukanlah orang sembarangan. Keberanian dan ketenangannya menghadapi kondisi diantara hidup dan mati tidak mungkin didapat begitu saja, perlu pengalaman yang sama dan sudah dialami berkali - kali barulah seseorang dapat melewati itu dengan ketenangan sebaik Charlotta. Ini bukan sekedar kecurigaan belaka, tapi karena aku adalah seorang dokter psikiatri yang memahami mental seseorang...
__ADS_1