
"Ting Tong"
Suara bel rumah membangunkan ku, aku membuka mata dan kulihat langit - langit kamar seraya berusaha untuk mengumpulkan tenaga karena rasa lemas yang aku rasakan di sekujur tubuhku.
"Apa aku bermimpi dalam tidurku ketika teringat tentang kejadian Celline?" pikirku
Aku hampir tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan saat itu, perasaan bersalahku masih menghantui bahkan ketika delapan tahun sudah aku tinggalkan semua kenangan buruk dan rasa tanggung jawabku sebagai dokter psikiatri. Terutama kenangan tentang Celline yang begitu menghantuiku, hanya butuh sedikit pemicu dan semua kenangan itu kembali terputar didalam kepala.
Kembali ketempat ini membuat kenangan terburuk ku kembali terputar dengan begitu mudahnya, sejauh manapun aku menghindar dan menghilang tidak akan dengan mudah menghilangkan semua ingatan tentang Celline. Bukan lagi tentang karirku yang gagal, namun bayangan ketika Celline menancapkan gunting pada lehernya lah yang sulit untuk aku hilangkan dari pikiranku.
"Ting Tong"
Kembali aku mendengar suara bel rumah dan menyadari suara bel rumah itu bukanlah sebuah mimpi, aku pun beranjak dari kasur hendak membuka kan pintu bagi siapapun yang menekan bel rumahku pagi itu. Sebelum benar - benar membukanya saat itu aku sempat untuk mengintip dari sebuah lubang intip di pintu karena penasaran siapa yang datang, ku dapati Rachel berada didepan pintu rumahku dan tanpa ragu aku pun membukakan pintu.
"Hai..." sapa Rachel terdengar santai,
Aku hanya memandangi wajahnya tanpa mengatakan apapun, perasaan bersalahku padanya membuatku tidak tahu harus berkata apa disaat seperti ini. Aku masih tidak punya muka untuk bertemu dengannya, terlebih setelah yang terjadi pada kami baru - baru ini.
"Kamu baru bangun tidur? lihat... betapa berantakannya kamu pagi ini..." ucapnya seraya ingin menyentuh pipiku dengan tangannya, namun tanganku menahannya
"Aku akan bersiap - siap dulu, masuklah" timpal ku, aku berbalik meninggalkannya didepan pintu masuk.
Aku merasakan Rachel mengikuti ku masuk kedalam rumah lalu menutup pintu, bersamaan dengan suara pintu tertutup itu Rachel kembali membuatku terkejut dengan perkataannya.
"Apa kamu sudah melihat isi lemarimu? semua pakaianmu selalu aku laundry satu bulan sekali" celetuk Rachel seraya berjalan menuju ruang keluarga lalu menaruh sling bag dan beberapa paper bag di sebuah meja, dia duduk santai di salah satu sofa saat aku masih terpaku menatapnya.
Tidak ada yang berubah dari diri Rachel, pagi ini dia datang seolah semalam dia tidak meneteskan air mata karena terluka atas perlakuan yang dia terima dariku. Aku memanglah pria yang tidak baik untuknya, untuk sesaat aku merasa tidak pantas diperlakukan baik oleh Rachel.
"Kenapa? apa kamu membutuhkanku untuk menggosok punggungmu?" dengan nada bercanda Rachel mengatakannya padaku
"Tidak, bukan itu... semalaman ini aku teringat masa lalu dan aku jadi teringat betapa jahatnya aku padamu dulu, perasaan bersalahku dulu tidak mampu aku kubur hingga sekarang" jawabku penuh penyesalan, lalu aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Tidak usah dipikirkan, aku sudah lupakan itu semua. Tapi jika kamu berbicara tentang Celline, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Suara Celline sampai sekarang masih menghantuiku" timpal Rachel sambil mengalihkan pandangannya kesebuah jendela disana
Lalu aku meninggalkan Rachel diruang itu untuk menuju kamar mandi yang terletak di lantai dua bersebelahan dengan kamarku. Guyuran air hangat dari shower ke tubuhku seperti merelaksasi dan memberiku energi baru, lalu aku teringat mungkin sudah tiga hari berlalu dan aku tidak membersihkan diriku. Entah seberapa baunya aku hari ini, mungkin selama ini sudah mengganggu orang di sekitarku namun aku tidak menyadarinya.
Saat aku keluar dari kamar mandi yang berada di sebelah kamar, aku melihat sebuh kemeja merah dan sebuah celana kain berwarna hitam sudah tersedia di kasur. Sepertinya Rachel yang telah menyiapkannya saat aku mandi tadi, aku mengenakan pakaian yang sudah tersedia itu lalu segera bersiap untuk berangkat ke gedung institusi perlindungan korban dan saksi.
Ketika aku berjalan turun ke lantai satu saat itu aku mendengar suara seseorang sedang beraktifitas di dapur, langkahku mengarah ke dapur dan mendapati Rachel sedang memasak. Mata kami bertemu ketika aku akan memasuki ruang makan yang menyatu dengan dapur, Rachel tersenyum padaku dan berkata...
"Kamu selalu cocok menggunakan kemeja berwarna merah" celetuknya
Kata pujian yang pernah dia ucapkan dulu saat aku mengenakan kemeja berwarna merah, kini aku mendengarnya lagi setelah delapan tahun berlalu. Sudah lama aku tidak pernah mendengar pujian tertuju lagi padaku dan terakhir kali adalah ketika Aida yang mengatakannya, ketika kali ini mendapatkannya lagi jujur saja aku merasa senang. Rachel... dia tidak pernah berubah meski sudah berlalu begitu lama.
Seperti itulah kegiatan Rachel ketika berada di rumahku, dialah wanita yang selalu menyiapkan segala keperluanku. Itulah mengapa dulu aku begitu mencintainya, dan hal itu juga yang membuatku kini membawa rasa bersalah yang teramat sangat dalam. Bagaimana bisa tidak, sebelum kejadian Celline bunuh diri Rachel mencoba untuk menyelamatkan dari petaka namun aku dengan kesombonganku malah melukai hatinya dengan sikap yang kasar. Andai saja waktu bisa ku putar, pasti aku sudah mendengarkan sarannya. Saran yang dia berikan karena dia begitu peduli dan mencintaiku dengan tulus.
"Kenapa repot - repot seperti ini?" tanyaku dengan nada yang keberatan atas perlakuannya padaku, jujur saja sejak kejadian aku meninggalkannya di cafe saat itu semakin membuatku merasa canggung terhadap Rachel
__ADS_1
"Ini tidak pernah merepotkan ku dari dulu hingga sekarang" jawabnya dengan tenang
Aku terdiam seraya berjalan menuju salah satu kursi meja makan, aku duduk disana dan terus aku tatap Rachel yang tersenyum meski dia tidak menatapku. Aku ingin sekali tahu apa yang sedang dia pikirkan, "Bagaimana bisa dia terus tersenyum padaku yang terus - menurus menyakiti hatinya? terbuat dari apa hati Rachel..." tanyaku dalam hati.
"Ada yang harus kamu tahu sejak kamu tiba - tiba menghilang selama delapan tahun ini" sembari memasak Rachel ingin menceritakan sesuatu padaku, tapi aku sangat paham apa yang coba Rachel ceritakan padaku.
"Dokter Han... apa dia masih menjadi kepala Dokter?" tanyaku saat itu, Rachel hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Sejak kejadian itu, tepatnya dua minggu setelah kamu menandatangani surat cuti mu... aku dan dokter Han ketempat ini untuk menjenguk mu namun kamu sudah tidak ada dirumah" ucap Rachel mengawali ceritanya
"Aku pergi tiga hari setelah menandatangani berkas pengajuan cutiku, aku juga menitipkan Daniel pada Tuan Simon agar dia memasukkannya ke akademi polisi" jelas ku singkat
"Dokter Han menemui menteri kesehatan dan mengajukan pengunduran dirinya lalu dua bulan setelahnya Dokter Han meninggal dunia" terdengar sedih saat Rachel mengatakannya, aku terkejut mendengarnya sampai aku tidak mampu berkata apapun.
Aku menundukkan kepalaku menatap meja dan kami terdiam, tidak lama aku mendengar suara langkah kaki Rachel yang berjalan mendekatiku. Perlahan aku menatap Rachel yang membawakan dua piring pasta saus bolognese yang dia olah tadi, mungkin raut wajah ini membuat Rachel yakin jika aku mengalami syok atas berita meninggalnya dokter Han yang telah lama berlalu.
Selain terhadap Rachel aku juga merasa bersalah kepada dokter Han, aku juga menyesal karena tidak menerima sarannya ketika itu. Aku tahu penyesalan hanya akan terjadi dibelakang dan tidak menyisakan apapun selain rasa bersalah.
"Pasta Saus Bolognese kesukaanmu... Semoga seleramu tidak berubah" dengan senyum Rachel menyajikannya diatas meja tepat di depanku, aku masih mematung menatap piring dengan pasta itu sampai Rachel duduk di depanku.
"tentu, ini masih menjadi favoritku.. terima kasih, lalu bagaimana dengan dokter lain?" tanyaku dengan suara yang bergetar, aku penasaran dengan apa yang sudah berjalan selama delapan tahun ini.
"Dokter Maggie pun mengundurkan diri sejak kematian dokter Han, lalu Dokter Mark menggantikannya. Namun keadaan disana memburuk, kasus bunuh diri terhadap pasien meningkat hingga tujuh puluh lima persen dan Dokter Mark di berhentikan. Saat ini dokter Robert yang menjadi Dokter kepala, dia orang baru di institusi" jelas Rachel
"Bagaimana denganmu?" tanyaku seraya mengalihkan pandanganku menatap Rachel
"Semua tidak berjalan baik sejak kehilanganmu dan Dokter Han, hingga saat ini kami mengalami kesulitan dan aku harap kamu bisa kembali..." celetuk Rachel mencoba merayuku agar kembali
Tidak mungkin seorang dokter sombong dan angkuh dengan karir yang gagal karena menelan satu korban bunuh diri kembali menjadi dokter psikiatri. Aku hanyalah dokter yang membunuh pasienku dengan keangkuhan yang aku miliki, aku takut mengulang hal yang sama.
"Rachel, aku tidak mungkin bisa kembali... aku..." belum selesai aku berbicara, tangan Rachel memberikanku sebuah tape recorder yang dia letakkan diatas meja dekat denganku.
"Apa ini?" tanyaku seraya menatap tape recorder itu
"Maukah kamu mendengarkannya? ini diberikan oleh dokter Han padaku dua minggu sebelum beliau meninggal" jawab Rachel dengan nada memohon padaku, perlahan tangan ini mengambil tape recorder itu dan menatapnya untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya aku menyalakannya.
***Suara Yang Terekam Didalam Tape Recorder Terputar***
Hai Dokter Lee... tidak maksudku Andrews Hopkins.... ini aku Dokter Han, Aku tahu kamu saat ini melarikan diri untuk menenangkan dirimu tapi aku yakin suatu saat kamu akan kembali dan ketika kamu mendengarkan rekaman ini aku harap kamu sudah dapat melupakan kejadian itu.
Tentang Celline memang sungguh sangat disayangkan namun akhir - akhir ini aku berfikir bahwa semua itu adalah salahku.... Salahku karena telah salah melakukan penanganan terhadapmu, sebagai mentor mu aku seharusnya melakukan pendampingan secara langsung saat aku tahu kamu sedang dikuasai oleh nafsumu menjadi yang terbaik. Aku terlambat menyadarinya dan sebagai mentor mu aku telah gagal.
Andrews, aku tahu tentang bakatmu, kamu dilahirkan untuk itu dan jika ada hal lain itu adalah keniscayaan sebagai manusia. Andrews... kali ini aku akan berbicara sebagai ayah angkat mu, Sir Steve Smith berbicara....
Sejak usiamu lima belas tahun kita telah bertemu, ayah dan ibu mu meninggal karena sebuah kecelakaan mobil yang membuatmu trauma jika melihat sebuah mobil tepat di hadapanmu. Aku adalah dokter yang menangani mu saat itu untuk menghilangkan rasa trauma itu... tapi lebih dari itu, aku menganggap mu sebagai anakku.
Sebagai ayahmu, aku tidak memiliki keraguan atas bakatmu namun mungkin aku adalah seorang ayah yang buruk. aku tidak berada di sampingmu saat kamu benar - benar membutuhkanku, maaf kan aku Andrews. Jika kita dipertemukan lagi suatu saat, aku hanya ingin berada di sampingmu bukan untuk menjadi mentor mu namun menjadi ayahmu. Semoga kamu bisa bahagia Andrews, dari ayah angkat mu Sir Steve Smith."
__ADS_1
***Rekaman Berakhir***
Tidak terasa air mataku menetes saat rekaman itu berakhir, tidak selesai rasa bersalahku pada Celline, Rachel, kini rasa bersalah itu bertambah kepada Tuan Steve yang menjadi sosok ayah bagiku. Aku telah berusaha menahan semua air mata ini, tapi itu tidak tertahankan lagi. Terasa sesak hati ini ketika mengingat semua kebaikan dokter Han kepadaku, tapi aku malah mengecewakannya.
"Setelah memberikan rekaman itu Dokter Han memintaku untuk menjagamu dan meyakinkanmu agar mau kembali bekerja di Institusi, tanpa dirimu disana tidak berjalan baik, Andrews..." ucap Rachel seraya memegang tanganku yang sedari tadi berada diatas meja, hangatnya genggaman tangan Rachel seakan membuatku dapat menguatkan tekat untuk kembali.
"Kembali lah Andrews.... banyak orang menunggumu. Dokter Han telah merekomendasikan dirimu kepada menteri dan meminta mereka mencari mu saat itu, bahkan tuan Simon dilibatkan namun kami semua benar - benar telah kehilanganmu. Kini kamu sudah kembali, aku harap kamu bisa menjawab permintaan terakhir dari Dokter Han" suaranya terdengar lembut memintaku, saat itu kami bertatapan mata dan sorot mata Rachel terlihat menaruh harapan padaku.
"Sir Steve mengajariku semua yang dia tahu dan mengatakan bahwa pekerjaannya sangat penting bagi dirinya lalu ingin aku meneruskan perjuangannya, tapi aku telah mengecewakannya" agak bergumam aku katakan itu, aku masih tidak dapat menahan tangisanku.
"Dia tidak pernah menyalahkan mu atas kejadian itu, dia masih menyimpan harapan besar di pundakmu. Jadi tolong pertimbangkan, please" pinta Rachel lagi
Suara dokter Han menusuk relung hatiku, aku tahu bagaimana harapan itu dia titipkan padaku dengan sangat besar. Dia benar bahwa manusia pasti memiliki kesalahan namun bukan berarti tidak bisa memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik dimasa yang akan datang.
Aku hanya terlalu malu akan kesalahan yang aku buat, aku malu karena egoku mengalahkan naluri. Aku malu karena begitu sombong mengukuhkan diri sebagai dokter terbaik namun pada akhirnya kegagalan tampak didepan mataku sendiri. Aku malu karena meremehkan banyak orang yang juga hebat di bidangnya dan ternyata merekalah yang benar.
Tapi sejauh apapun aku berlari sepertinya Tuhan mentakdirkan aku untuk kembali, dan Aida adalah salah satu alasan aku harus kembali menjadi dokter Lee.
"Akan aku lakukan... sebagai langkah awal, Aida adalah target pertamaku..." timpal ku seraya menyeka air mata yang masih membasahi pipi
"Bagus... Aku merasakan persamaan antara Aida dan Celline. Tebus dosamu dengan mengobati Aida, Dokter Lee" Rachel tersenyum sambil mengatakan itu, aku membalas senyumannya.
Rachel benar, Aida dan Celline memanglah memiliki kesamaan dan aku baru saja menyadari itu. Mungkin hal itu juga yang membuatku merasa harus bertanggung jawab untuk kesembuhan Aida, semua karena rasa bersalahku kepada Celline sejak pelarianku.
Kami pun mulai menyantap hidangan didepan kami, tidak lama setelahnya aku mendengar ponselku berdering. Ketika aku melihat layarnya, aku membaca "Tuan Simon" yang meneleponku. Segera aku angkat panggilan itu, berharap ada kabar baik agar aku bisa menemui Aida hari ini.
"Siang Tuan Simon" ucapku dengan penuh semangat
"Siang Andrews, aku sudah berada di Institusi perlindungan korban dan saksi. Kapan kamu akan sampai disini?" tanyanya terdengar santai
"Aku akan segera berangkat Tuan Simon" jawabku senang karena akhirnya aku bisa segera bertemu dengan Aida.
"Baiklah, aku juga ingin mengenalkan mu pada temanku yang menjadi Dokter kepala disini. Sepertinya semua berjalan baik ya Andrews, Hahaha..." timpal Tuan Simon
"Benar Tuan Simon, jika diperbolehkan bisakah anda membantuku sekali lagi?" pintaku saat itu
"Tentu tentu... apapun itu, sahabatku" jawab Tuan Simon
"Aku ingin menjadi Dokter disana... maaf, maksudku... aku ingin menjadi dokter disana lagi, bisakah..." belum selesai aku berbicara Tuan Simon memotong ku
"Jadi kamu sudah mendengarkan rekaman suara dokter Han?" tanya Tuan Simon yang nada suaranya terdengar sedih, aku merasakan perasaan kehilangan dari suara tuan Simon ketika itu.
"Ya... aku sudah mendengarkannya..." aku menjawabnya dengan nada sedih
"Dia benar - benar ayah angkat yang baik kan, Andrews? sayang dia tidak dapat melihatmu menjadi Dokter kepala, tapi aku yakin saat ini di surga dia bangga atas dirimu" timpal tuan Simon dan kata - kata itu memecahkan tangisku kembali.
Hari ini perasaanku benar - benar campur aduk, aku sedih akan kegagalanku, malu akan perbuatanku terhadap Rachel, marah akan kebodohan dan keangkuhanku, hatiku sakit atas meninggalnya dokter Han dan aku juga rindu akan sosok ayah angkat ku itu. Rachel, entah jika dia tidak menemaniku sampai saat ini mungkin langkahku gamang. Semangatku kembali membara, aku ingin memulai semua dengan baik dari awal, impian dokter Steve Smith akan aku wujudkan. Dan Aida....
__ADS_1
" Tunggu aku Aida, tidak akan aku biarkan kejadian Celline terjadi padamu" hembusan nafasku mengawali semangatku hari ini. ucapku tentang Aida adalah awal dari kembalinya seorang dokter Lee.