
Sudah empat bulan berlalu sejak pertama kali aku menangani Celline dan kurang satu bulan lagi menuju akhir tahun, Daniel pun sudah dinyatakan sembuh namun dia tetap ingin berada di rumahku saat itu. Entah apa yang aku pikirkan hari ini, aku merasa seperti menghadapai detik - detik pembuktian diri kepada orang - orang dilingkungan ku. Aku begitu bangga dengan perkembangan Celline dan ada sisi bagian dalam pikiranku ingin mempermalukan Rachel dengan pencapaianku yang tepat akan mencapai 200 kalinya, Celline sudah mendekati kesembuhan totalnya dan berhak untuk kembali ke tengah masyarakat.
Selama empat bulan juga aku masih dengan keyakinanku jika Celline tidak memiliki kepribadian ganda, perkembangan yang Celline perlihatkan kepadaku tidak jauh berbeda dengan pasienku sebelumnya. Kecemasan Rachel semakin tidak berarti bagiku dan itu membuatku merasa Rachel tidak jauh berbeda dengan dokter senior lain yang akan menghambat karirku, bisa saja kan Rachel menusukku dari belakang. Jaman sekarang ini sering kali musuh kita adalah orang terdekat karena mereka akan mudah menancapkan pisau mereka saat memeluk kita erat.
"Sempurna" ucapku saat itu.
Keesokan hari di suatu pagi aku berjalan menuju ruanganku seperti biasa namun suasana kantor saat itu tidak menyenangkan seperti biasanya, nampak dokter dan para staf perawat seperti berbisik - bisik sambil melihat ke arahku hampir bersamaan. Aku mengacuhkan mereka semua dan secara kebetulan aku melihat Rachel baru keluar dari ruang kepala dokter Han dan kami berpapasan di koridor.
"Hai..." Sapanya dengan nada ketus
"Ada apa?" tanyaku penasaran saat itu, tidak biasanya aku melihat Rachel berada di ruang kepala
"Aku secara khusus meminta Celline untuk berada di pengawasanku, maaf aku tidak mendiskusikan ini dulu denganmu" dengan tenang dan tanpa rasa bersalah Rachel mengatakan itu padaku, saat itu aku sungguh marah padanya.
Keputusan Rachel secara sepihak tentu saja membuatku geram, hal itu membuatku menguatkan dugaan jika Rachel akan menyingkirkan ku dan akan menggagalkan keberhasilan yang ke dua ratus ku. Wanita yang aku cintai ternyata berani berbuat curang dan licik, aku sangat membenci hal itu.
"Apa katamu?! kamu tidak berhak melakukan itu padaku!!" dengan nada bentakan aku katakan itu dan langsung masuk kedalam ruang kepala dokter Han untuk meminta kejelasan dan juga memintanya agar menolak permintaan Rachel.
"Apa ini Dokter kepala Han?!" aku masih agak emosi saat itu, namun Dokter Han hanya menatap ku beberapa saat tanpa memberikan penjelasan
Saat memasuki ruangan dokter Han aku melihatnya duduk dengan santai seolah tidak terjadi apapun, bahkan keluhanku hanya ditanggapi dengan biasa saja. Tidak seperti biasanya ketika dokter Han selalu mengiyakan apa yang aku katakan. Tentu saja hal itu memantik emosiku, di mataku semua semakin jelas jika mereka ingin menghancurkan karirku.
"Apa kah ini cara kalian menjegal ku? tinggal satu bulan lagi aku akan mencapai targetku dan kalian berdua lakukan ini padaku?!" aku masih tidak dapat mengontrol emosiku
"Sejak kapan rekor pribadimu lebih penting daripada kesehatan pasien, dokter Lee?" tanya dokter Han terdengar sedikit marah
Tentu saja kalimat itu tidak berarti bagiku, aku adalah dokter dengan profesionalitas yang tinggi. Berimbang dengan karir yang baik tentu saja keutamaan pasien adalah hal yang penting bagiku, itulah mengapa aku tidak menyukai ketika Rachel mengambil alih tugasku dan dokter Han tidak menolaknya. Bagiku penelitian dan data yang aku punya tentang Celline tidak bisa terbantahkan dan aku akan membuktikan hal itu dengan segera.
"Ini bukan cuma tentang rekor pribadi, pengambilalihan seperti ini tidak bisa aku terima!" masih dengan bentakan aku katakan
"Bukankah ini sudah hal wajar dokter Lee? kamu juga sering melakukan itu kan?" timpal dokter Mark yang ternyata tepat di belakangku, entah sejak kapan dia berada disana.
Aku tahu dia menyindirku, diantara semua dokter yang ada disini... aku tahu dialah yang paling terlihat iri dengan semua prestasi dan pencapaianku, aku akui aku mengambil alih beberapa pasiennya ketika itu dan seakan aku menghinanya dengan berhasil menyembuhkan pasien - pasien itu dengan cepat.
"Dokter Mark? jadi kamu menyimpan dendam denganku? hah?!" bentak ku lalu aku menarik kerah bajunya, emosiku benar - benar meledak hari itu.
"Cukup Andrews!! sejak kapan kamu menjadi seperti ini?!!" Dokter Han membentak ku
"Dokter Han..." aku sedikit terkejut dengan bentakannya, Dokter Han adalah mentor ku sekaligus seperti ayah kedua bagiku. Dia yang mengajariku banyak hal sejak aku berada di Universitas hingga sekarang, aku tidak menyangka dia akan membela dokter Mark disaat seperti ini
__ADS_1
Kepalaku terasa mau meledak ketika itu, emosi benar - benar telah merasuki hati dan pikiranku. Aku dikuasai ambisi pribadiku sendiri dan tenggelam dalam semua pujian - pujian semu manusia, tapi ketika itu aku sama sekali tidak memahami apa yang telah terjadi. Perlahan aku lepaskan tanganku dari kerah baju dokter Mark, aku berbalik lalu berjalan mendekati meja dokter Han.
"Apa aku melakukan kesalahan Dokter Han? bukan kah kamu yang mengakui kemampuanku? apa aku gagal menjalankan tugasku? Katakan dimana letak salahku Sir Steve Smith?!" tanyaku dengan bentakan, aku menatap mata Dokter Han begitu tajam.
Sir Steve Smith adalah nama asli dari dokter Han, disini kami semua memiliki nama samaran agar kami bisa terhindar dari segala macam bentuk balas dendam para penjahat. Sangat jarang diantara kami yang mengetahui nama asli rekan - rekannya, namun berbeda dengan Sir Steve Smith karena aku sudah menganggapnya sebagai ayah keduaku.
"Kamu dipenuhi ambisi pribadi dan membahayakan nyawa pasien, aku minta kamu untuk ambil cuti mu yang tidak pernah kamu ambil dari tahun lalu hingga sekarang. Aku akan segera terbitkan surat cuti mu" timpal Dokter Han mengatakan itu dengan nada tenang seperti biasanya, aku pun berbalik lalu hendak berjalan keluar dari ruang kerja dokter Han. Saat itu aku sempat menghantam pintu ruang kerja dokter Han dengan sangat keras, aku begitu marah padanya.
Tatapan mata dan nada bicara dokter Han mengganggu pikiranku hari itu, aku merasa telah kehilangan sosok pelindung dan penyemangatku nomer satu saat itu. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa semua seperti hendak menyerang ku, aku tidak pernah salah dengan semua analisisku selama ini. Terbukti Daniel adalah pasienku yang ke seratus sembilan puluh sembilan, mereka bahkan melihat perkembangan Celline dengan baik. Aku memutar otak mencoba mempercayai apa yang mereka katakan namun sia - sia karena bagiku hanya analisisku lah yang benar dan tepat terhadap kondisi Celline.
Aku berada di ruangan kerjaku dan duduk di kursi kerjaku, menopang kepalaku dengan kedua tanganku dan berusaha menenangkan diri. Hatiku dipenuhi rasa amarah dan perasaan terhina, aku benar - benar tidak menyangka ini akan terjadi padaku.
Sebuah berkas tentang Celline mengalihkan perhatianku, itu adalah laporan terakhir milik Celline yang memperlihatkan grafik emosionalnya selama empat bulan dalam penanganan ku, semua nampak sempurna dengan perkembangan yang positif. Perkembangan Celline tidak memiliki hambatan yang berarti dan dia sudah siap untuk terjun ke masyarakat dalam waktu seminggu lagi paling lama, memang kadang dia menunjukkan sikap amarah berlebihan ketika dia gagal melakukan kegiatan bersamaku namun itu masih dibatas wajar.
Aku melempar berkas itu dan kemudian memutar kursiku agar aku dapat menatap jendela dimana aku bisa menikmati langit cerah pagi itu, aku berusaha menenangkan pikiranku dan mencoba untuk menerima semua penghinaan itu.
"Tidak, aku akan buktikan aku benar!" gumamku saat itu sembari berdiri hendak menuju kamar Celline.
Didalam kamar itu aku melihat Celline menata balok susun membangun sebuah rumah dengan balok - balok itu, aku mengetok pintunya perlahan dan dia nampak senang melihatku kehadiranku pagi itu. Tangannya menyapu semua balok - balok susun dari meja hingga balok - balok itu terhempas ke lantai, lalu tangannya segera mengambil papan othello yang dia letakkan diatas meja.
"Ayo kita bermain ini Dokter Lee" Celline nampak antusias, tangannya memberi gestur agar aku cepat mendekati dan duduk berhadapan dengannya.
Celline selalu bersemangat dan ceria di depanku, nyaris semua yang dia pikirkan berhasil dengan sempurna dia sampaikan padaku. Sama sekali tidak ada sikap yang mencurigakan dari Celline yang bisa menggangu penilaianku terhadapnya.
Aku duduk dihadapannya dan kami pun mulai menyusun papan permainan itu untuk bermain bersama, beberapa gerakan kami sudah lakukan namun aku masih terdiam tidak mengatakan apapun. Sampai pada satu titik dimana Celline terlihat kebingungan dengan langkah selanjutnya, aku pun membuka obrolan.
"Jadi... mungkin bulan depan kamu sudah boleh keluar dari tempat ini Celline" celetukku sembari bermain dengan Celline
"Ooh iya? senangnya aku sudah dinyatakan sembuh" timpal Celline dengan tenang mengatakan itu
"Jadi... apa kamu merasa kamu masih tertekan oleh sesuatu didalam dirimu?" tanyaku seraya jari telunjukku menunjuk kepala dan dadaku, aku memberi gestur tangan yang mungkin dapat dipahami Celline tentang apa yang aku ingin tanyakan padanya. Celline hanya tersenyum melihatku sejenak lalu fokusnya kembali ke papan othello, dia terdiam sejenak sampai tangannya kembali meletakkan kepingan othello itu diatas papan.
"Tidak... aku seperti merasa terlahir kembali, seperti bayi yang sudah siap untuk menyambut kehidupan baru" jawab Celline terdengar tenang dan terdengar dia senang dengan semua perkembangannya.
"Baguslah... aku senang kamu berfikir seperti itu, sebagai orang yang terlahir kembali aku harap kehidupanmu lebih baik kedepannya" timpal ku sambil masih memperhatikan permainan papan itu
"Dokter Lee, tahu dengan kerajinan tangan Kirigami?" tanya Celline dengan ekspresi wajah dan nada bicara yang tenang
"Tentu... kenapa?" tanyaku balik
__ADS_1
"Aku membaca tentang kerajinan itu beberapa hari ini dan memperhatikan cara membuatnya, boleh kita lakukan itu ketika permainan papan ini berakhir?" Pintanya kepadaku dengan penuh semangat
"Tentu, aku akan segera mempersiapkannya dulu" aku beranjak dari tempat itu dan menuju gudang stasioner.
Kerajinan Kirigami adalah seni menggunting atau memotong kertas. Istilah kirigami berasal dari kata kiru, yang berarti memotong dan kami yang artinya adalah kertas dari bahasa jepang. Sesuai dengan namanya, dalam kirigami kita akan memotong kertas mengikuti pola yang sudah dibuat. Namun kita tidak sembarang memotong kertas, karena ada teknik dan pola yang harus kita gunakan saat memotong kertas.
Didalam ruang stasioner aku pun mengambil kertas lipat, gunting dan spidol lalu segera berlari keluar dari gudang itu namun Rachel menunggu didepan gudang sambil menatapku dengan tajam. Aku mengacuhkan keberadaannya untuk berjalan menuju kamar Celline, namun Rachel menarik jas ku dan menghentikan langkahku.
"Tunggu!! Dokter Lee!! mau apa kamu dengan gunting itu?!!" tanya Rachel mengatakannya dengan nada marah
"Aku akan membuat kirigami dengan Celline" dengan singkat aku jelaskan pada Rachel apa yang ingin aku lakukan dengan semua benda yang aku bawa dari stasioner
"Gunting tidak boleh diberikan pada pasien! jangan lupakan peraturan itu!!" bentaknya, Rachel langkahku dengan cara menahan pundakku saat itu, dia sepertinya sangat kesal dengan ego ku
"Aku akan buktikan kamu salah, ikuti aku dan kita lihat apa yang sudah aku kerjakan selama ini!!" bentak ku ke Rachel, aku tahu dia akan menangis saat itu namun dia menahannya sekuat tenaga.
Dalam penanganan kasus mental yang terganggu akibat trauma berat, penggunaan barang berbahaya memang selalu dihindari sampai penelitian selesai dan pasien dinyatakan sembuh. Setelahnya pun masih ada terapi khusus yang dijalani pasien dalam penggunaan barang - barang yang cukup membahayakan.
Hari itu entah mengapa emosi dan keangkuhan memenuhi pikiranku sejak kejadian semua dokter menunjukkan ketidaksetujuannya dengan keputusanku terhadap Celline, aku merasa pantas untuk membuktikan jika yang aku yakini adalah benar.
Wajah putihnya pun nampak memerah menahan emosi kepadaku, aku tak menghiraukannya dan segera beranjak menuju ruangan Celline dan di ikuti oleh Rachel. Di dalam kamar itu Celline nampak bahagia melihatku membawa perlengkapan untuk membuat kirigami, aku menaruhnya di meja dan duduk didepan Celline namun Rachel hanya berdiri di belakangku saat itu.
"Baik... mulai darimana ya? sepertinya langkah pertama seperti ini" Celline benar benar antusias mengerjakan kerajinan kirigami itu, aku dan Rachel hanya menatap Celline saat itu.
Semua berjalan baik, setelah beberapa menit Celline sudah selesai dengan kirigami nya yaitu sebuah kertas yang dibentuk menyerupai manusia bergandengan tangan. Dia juga membuat sebuah bola dari beberapa kertas lipat dan mengelilingi bola itu dengan kirigami buatannya, aku sedikit tidak mengerti apa yang dia ingin sampaikan
"Apa ini?" tanyaku dengan penuh semangat
"Indahkan dokter Lee, bola itu melambangkan Dunia dan orang orang ini bergandengan tangan melindungi keindahan bumi ini" sedikit tertawa Celline mengatakan itu
"Aaah kamu benar, aku paham sekarang apa yang kamu buat" ucapku dengan nada senang
"Benarkah? Senangnya... ini seperti diriku, aku terlahir kembali berkat bantuan Dokter Lee dan Dokter Rachel hingga aku bisa menatap indahnya dunia kembali sambil bergandengan tangan melindungi dunia ini" ucap Celline, aku menatap kearah belakang dengan senyuman yang menyindir Rachel saat itu, namun Rachel seakan melihat sesuatu saat aku berbalik melihatnya. matanya Rachel melotot dan seperti kaget akan sesuatu, aku segera berbalik menatap Celline
"Tapi itu cuma khayalan, Celline yang terlahir kembali itu sudah putus asa" Celline mengatakannya lalu menancapkan gunting yang tadi dia gunakan untuk membuat kirigami kearah lehernya hingga memuncratkan darah ke ruangan itu.
Suaranya yang sejak awal terdengar ceria dan penuh semangat mendadak hilang saat dia ucapkan kalimat terakhirnya itu, suaranya lirih dan penuh dengan rasa takut.
"Kyaaaa!!!!!!" teriakan Rachel membuat seisi gedung itu mendengar
__ADS_1
Semua orang berlarian kearah kamar Celline. Aku segera melepaskan gunting itu dan memastikan nyawa Celline, namun tanganku terlalu bergetar saat itu. Otak dan tubuhku sudah tidak sinkron, aku ditarik oleh seseorang saat itu menjauh dari mayat Celline. Setelah itu aku tidak ingat apa yang terjadi, memory ku kacau dan tidak dapat mengingat dengan jelas kejadian setelah itu.
Beberapa polisi sudah nampak di hadapanku, aku yang entah sejak kapan sudah terduduk disebuah ruangan konseling berhadapan dengan dua orang polisi seperti ingin meminta keterangan atas apa yang sudah terjadi namun aku tidak bisa menjelaskan dengan baik saat itu sehingga Dokter Han meminta kepada kedua polisi itu untuk membiarkan aku sendiri. didalam kepalaku suara lirih Celline yang mengatakan dia telah putus asa dan kucuran darah itu tidak bisa hilang seperti menghantuiku setiap saat.