
Aku membaca semua berkas - berkas milik Charlotta yang berada diatas meja tuan Simon, aku tahu itu tidak sopan namun sepertinya tuan Simon juga tidak keberatan aku membaca berkas - berkas yang ada diatas mejanya. Dia membiarkanku membaca semua berkas itu tanpa memberikan sedikitpun teguran ataupun larangan, aku yakin tuan Simon melakukannya agar aku bisa menarik kesimpulan sendiri tentang Charlotta.
Aku memang mengenali wajah dibalik foto itu namun sosok yang aku kenal benar - benar berbeda, dalam foto itu Charlotta terlihat lebih muda dari yang aku kenal namun bukan itu yang menjadi fokus utamaku, adalah sorot mata tajam dan dingin dari Charlotta yang membuatku seperti melihat sisi lain dirinya. Charlotta adalah gadis periang yang selalu memberikan senyum indahnya untukku, tak jarang godaannya selalu membuatku salah tingkah hal itu berbanding terbalik dengan apa yang aku lihat dari fotonya.
Dari berkas - berkas itu aku mengetahui jika Charlotta atau Isabella Rosenberg adalah anak sebatang kara sejak umur enam tahun karena kedua orang tuanya meninggal akibat perang, dia kemudian diasuh oleh sebuah panti asuhan selama dua tahun lalu direkrut tentara bayaran untuk dijadikan mata - mata pada usia delapan tahun. Mendapatkan tempaan dan pendidikan militer selama tiga tahun dan menjadi salah satu mata - mata terbaik bagi kelompok tentara bayaran selama enam tahun hingga direkrut secara resmi oleh salah satu militer negara, namun itu tidak bertahan lama karena terhitung Charlotta hanya tiga tahun menjadi mata - mata resmi negara lalu dia mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Charlotta kini usia dua puluh enam tahun dari apa yang pernah aku dengar.... berarti dia telah enam tahun berhenti menjadi mata - mata resmi negara..." gumamku setelah membaca berkas - berkas itu
"Apa kesimpulanmu, Andrews?" tanya tuan Simon padaku, aku mengalihkan pandanganku menatapnya.
"Ada yang aneh tuan Simon, penduduk desa di tempatku dulu tinggal... mereka sangat mengenal sosok Charlotta seakan dia adalah penduduk desa sejak lama dan jika benar dia telah enam tahun berhenti menjadi mata - mata maka... itu hanya satu tahun sebelum aku menetap di desa itu..." jawabku
"Kejanggalannya adalah Charlotta sudah menjadi penduduk disana sejak sepuluh tahun dari informasi yang aku dapat" timpal tuan Simon sembari memberikanku berkas kependudukan Charlotta padaku, aku membaca dengan seksama berkas itu dan aku kembali dibuat kebingungan.
"Wanita yang menempel padamu selama ini memiliki cerita tersendiri dan itu menarik perhatianku, dia patut menjadi orang yang dicurigai atas semua yang terjadi" tegas tuan Simon mengatakannya, seakan dia memintaku untuk turut mencurigai Charlotta yang selama ini membantuku.
Aku tidak bisa membantah dan membela Charlotta karena kejadian antara aku dengan dokter Robert, aku tidak ingin lagi terlihat sebagai orang yang bergerak hanya karena emosi sesaat. Semua harus berjalan dengan pertimbangan matang disertai data - data yang telah ada, aku akan memperbaiki kesalahanku sebaik mungkin agar tuan Simon dapat mempercayaiku bahwa aku adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini bersama dengan dirinya.
"Aku mengerti, tugasku saatini adalah memastikan jika Charlotta berada di pihak kita atau lawan" ucapku tanpa keraguan, tuan Simon mengangguk beberapa kali merespon perkataanku.
"Kamu akan bertemu dengannya dan interogasi dia dengan baik, dapatkan informasi sebanyak - banyaknya lalu tentukan di pihak mana dia saat ini" perintah tuan Simon
"Dimengerti" timpal ku
Aku berdiri dan meminta izinnya untuk segera menemui Charlotta yang ditahan disalah satu ruangan didalam gedung ini, tuan Simon memberikanku secarik kertas yang bertuliskan izin kepadaku untuk menemui Charlotta. Setelah mendapatkan izinnya, aku segera keluar dari ruangan itu lalu menuju ruang tahanan dimana Charlotta berada. Bersama seorang polisi yang memandu ku, tidak butuh waktu lama untuk aku sampai disebuah ruang khusus interogasi yang menjadi ruang tahanan bagi Charlotta.
__ADS_1
Perlahan tanganku menarik ganggang pintu untuk membuka pintunya, aku dorong perlahan pintu itu dan mengintip sedikit untuk melihat keberadaan Charlotta. Di Ruangan itu hanya ada dua kursi yang terpisah oleh sebuah meja, disalah satu kursi aku melihat Charlotta duduk sembari menundukkan pandangannya. Tangannya terlihat masih saja terborgol, sepertinya dia begitu tertekan dengan semua yang menimpanya saat ini.
"Bisa aku minta kunci borgolnya?" tanyaku pada salah satu polisi yang menjaga ruangan itu
"Maaf, itu tidak bisa dilakukan" jawabnya
"Tidak akan ada hal buruk terjadi, aku sangat mengerti dirinya" pintaku
Polisi yang sejak tadi memandu ku pun memberi gestur tangan agar polisi penjaga memberikan kunci borgol padaku, aku menerima kunci borgol itu lalu berjalan memasuki ruang interogasi. Ketika aku masuk, aku melihat Charlotta perlahan mengangkat kepalanya untuk menatapku. Dia tersenyum manis padaku seakan tidak ada masalah apapun yang sedang dia hadapi, ketenangannya semakin meyakinkanku tentang asal - usul Charlotta yang baru saja aku baca.
"Andrews, aku senang melihatmu baik - baik saja" ucapnya memecah keheningan, aku hanya bisa terdiam sembari berjalan mendekatinya.
"Dimana Aida? kenapa kamu tidak bersamanya?" tanyanya, aku duduk di kursi tepat dihadapannya lalu menghela nafasku.
"Dia berada ditempat yang aman, aku yakin semua akan baik - baik saja" jawabku, aku memberikan gestur tangan agar Charlotta mendekatkan tangannya yang terborgol itu kepadaku.
"Lalu? bagaimana cara kita pergi dari tempat ini?" tanya Charlotta padaku
"Aku tidak terpikirkan untuk meninggalkan tempat ini, Charlotta" jawabku
"Apa maksudmu? kita belum tentu aman disini, kamu tahu?" suara Charlotta pun terdengar meninggi, sepertinya dia kesal dengan jawabanku.
Instingnya masih saja bekerja disaat seperti ini, tak heran jika Charlotta adalah seorang agen interpol handal. Entah aku harus merasa aman atau tidak bersamanya namun berkali - kali Charlotta berhasil meyakinkanku dengan penyelamatan yang dilakukannya untuk Aida.
"Charlotta, siapa kamu sebenarnya?" tanyaku
__ADS_1
"Kita sudah pernah membahas ini, Andrews. Aku tidak punya waktu untuk..." belum selesai Charlotta berkata, aku memotongnya.
"Isabella Rosenberg, aku mohon padamu untuk menjawab pertanyaan ku" ucapku menekannya, aku melihatnya begitu terkejut dengan perkataanku.
"Seorang anak yang menjadi yatim piatu pada usia enam tahun, selama dua tahun dirawat oleh panti asuhan St Mazanovski lalu diambil alih oleh tentara bayaran Serpahim sampai pada umur sebelas tahun dan menjadi..." belum selesai aku berkata, aku mendengar Charlotta bergumam sembari menundukkan kepalanya.
"Hentikan...." timpalnya, tapi aku harus mendapatkan informasi sebanyak mungkin darinya sehingga aku tidak bisa menuruti permintaannya meski aku tahu perkataanku seakan menyakitinya.
"Kamu menjadi mata - mata sejak umur sebelas tahun sampai pada usia tujuh belas tahun, prestasimu tidak main - main. Berkatmu, tentara bayaran mendapatkan berbagai kemenangan dan..." kembali Charlotta mencoba menghentikan perkataanku dengan gumaman nya. Aku tidak akan membiarkannya menghentikan setiap kalimatku karena semua yang aku katakan akan menjadi penentu untuk siapa Charlotta berada.
"Hentikan... aku mohon..." gumamnya
".... Dan kemudian diangkat menjadi mata - mata negara namun hanya berjalan tiga tahun kemudian dia..." belum selesai perkataanku, Charlotta berdiri dan menaiki meja yang memisahkan kami lalu menarik kerah bajuku.
"Berhenti aku bilang!!!" bentaknya
Tidak lama beberapa polisi masuk kedalam ruangan dan menjauhkan Charlotta dariku, Charlotta memberontak sampai membuat para polisi itu kerepotan. Dia berusaha untuk mendekatiku dengan semua tenaganya yang tersisa, namun aku tahu Charlotta sangat kelelahan dengan semua yang dia alami hari ini. Para polisi berhasil mengamankan Charlotta dengan cara menarik kedua tangannya kebelakang lalu mendorong tubuhnya sampai menempel tembok, perlakuan kasar itu membuatku tidak tega namun saat ini aku masih belum bisa memastikan di pihak siapa Charlotta saat ini.
"Bisakah kamu tenang, Isabella Rosenberg?" pintaku padanya, aku ingin segera polisi melepaskan kuncian dan perlakuan kasar mereka pada Charlotta.
"Hentikan!!! jangan sebut nama itu lagi di hadapanku!!!" teriaknya begitu histeris
Setelah berteriak cukup keras saat itu Charlotta membenturkan kepalanya berkali - kali ditembok tepat dihadapannya, dia menangis begitu keras dengan suara yang memilukan. Entah apa yang terjadi dan apa arti nama itu baginya, setidaknya aku tahu saat ini bahwa nama itu memiliki arti yang memuakkan bagi Charlotta.
Dengan gestur tangan aku meminta para polisi untuk melepaskan kuncian mereka, perlahan para polisi itu pun melepaskan kunciannya. Charlotta terduduk begitu saja dan terus menangis sesenggukan, dia benar - benar sudah kehabisan seluruh tenaganya hari ini.
__ADS_1
Aku kembali memberikan gestur tangan agar para polisi meninggalkan kami berdua, aku tahu keputusanku berat untuk diambil karena mereka memikirkan keselamatanku. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka, pada akhirnya para polisi keluar secara teratur hingga menyisakan aku dan Charlotta didalam ruang interogasi ini. Aku berjalan mendekati Charlotta yang masih menangis dan terduduk dilantai, aku memeluknya dari belakang dan meletakkan dahiku diatas bahunya.
"Siapapun kamu dimasa lalu... aku sebenarnya tidak peduli, aku hanya harus memastikan apa kamu pantas untuk menjaga Aida atau tidak. Kalaupun ternyata yang kamu incar adalah nyawaku, aku mohon padamu biarkan aku selesaikan tugasku dulu untuk menyelamatkan Aida. Setelahnya, ambillah nyawaku kapanpun kamu mau" pintaku padanya