
Setelah kejadian tidak menyenangkan pagi tadi, hari - hariku dimulai seperti biasa dengan membuka klinik lalu memeriksa pasien - pasienku yang datang silih berganti untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Namun ada satu hal yang membuatku sedikit bisa melupakan kejadian buruk pada pagi hari ini, Aida terlihat beberapa kali menemui ku di ruang pemeriksaan walau tanpa sepatah katapun.
Sesekali kepalanya tiba - tiba muncul dari balik tirai pembatas antara klinik dan ruang keluarga, dia menatapku yang berada di ruang pemeriksaan sambil tersenyum. Itu manis kan? Seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun tahun melakukan hal itu didepan seorang pria berusia tiga puluh tahun ini. Sesekali tingkah Aida saat itu membuat pasienku tertawa dan ikut tersenyum, membuat ruang pemeriksaan yang biasanya dipenuhi rasa cemas menjadi berbeda.
Siang hari berlalu, ketika sore menjelang ketika itu aku mendengar suara dering telpon rumah. Aku yang sedang memeriksa pasienku saat itu sempat mengalihkan pandanganku menatap tirai penghubung klinik dengan ruang keluarga, "Siapa telpon disaat seperti ini? apa keadaan darurat?" tanyaku dalam hati
"Tunggu sebentar" ucapku pada pasienku ditengah pemeriksaan
Aku beranjak dari klinik untuk mengangkat telepon yang berada diruang keluarga namun kepala Aida kembali muncul tiba - tiba dari balik tirai, dari raut wajahnya seakan ingin mengatakan 'Apa aku boleh mengangkatnya' kepadaku. Aku tersenyum lalu memberikan gestur tangan agar Aida mengangkat telepon itu, Aida memahami gestur tanganku lalu dia mengangguk sambil tersenyum dan aku segera kembali untuk memeriksa pasienku.
Waktu tutup klinik pun telah tiba karena tidak ada pasien lagi yang terlihat mengantri didepan klinik, aku membereskan beberapa peralatan dokterku lalu mencuci tangan. Setelah mengunci pintu klinik, aku segera berjalan masuk kedalam ruang keluarga. Saat itu aku tidak melihat Aida ditempat biasanya, namun suara dentingan frying pan dan spatula membuatku yakin dimana keberadaan Aida sore itu, aku segera menuju dapur lalu duduk dimeja makan.
"Selamat Sore dokter... kerja keras hari ini..." sapa Aida saat melihatku berada di ruang makan, senyumnya benar - benar melunturkan rasa lelahku setelah seharian bekerja.
"Ya, selalu melelahkan namun semua sebanding dengan apa yang aku dapat" sambil meregangkan badan aku mengatakan itu
"Apa itu?" tanya Aida
"Senyuman pasien saat sembuh, seperti senyumanmu saat ini. Itu membuat pekerjaanku terasa menjadi lebih ringan" aku mengatakan itu sambil menatap matanya dan pipinya nampak memerah, sungguh manis sikapnya sekarang.
Waktu berlalu, kulihat masakan Aida sudah selesai dan dia segera menyajikannya di hadapanku.
"Omurice? hmm... sepertinya lezat" pujiku saat itu
"Aku harap dokter suka dan ini note dari nyonya West saat dia telepon tadi" ucap Aida seraya memberikanku sebuah note kecil
Didalam note kecil itu aku melihat tulisan tangan Aida yang terlihat sedikit berantakan, aku bisa memahami jika saat menulis di note itu sebenarnya tangan Aida bergetar hebat. Tapi dia berusaha sangat keras untuk tetap mencatat apapun yang disampaikan oleh nyonya West, aku tersenyum lalu membaca apa yang tertulis di dalam note itu.
**** Isi note****
Makan malam bersama jam tujuh malam di restoran keluarga The Winkel 1884.
*****************
Aku meletakkan note kecil itu diatas meja makan setelah membacanya, tatapan mataku kini beralih menatap jam dinding yang terletak di dapur. Ketika itu jam menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit, perlahan aku menatap Aida kembali.
"Bagaimana? kamu mau memenuhi undangan ini?" tanyaku kepada Aida dengan ragu, aku hanya ingin memastikan bahwa Aida baik - baik saja setelah apa yang terjadi pagi tadi.
"Ketika nyonya West menelepon tadi... nyonya West mengatakan padaku permintaan maaf yang dalam dari tuan West karena tuan West tidak bisa mengendalikan emosinya sampai membuatku ketakutan..." jawab Aida, sesaat Aida berhenti berbicara lalu menaruh kembali sendok dan garpunya sembari kepalanya perlahan menunduk.
Dari gerak tubuhnya aku memahami jika sedang ada yang ingin Aida katakan, pasti sesuatu sedang menggangu pikirannya. Aku paham jika kejadian pagi tadi yang melibatkan tuan Benson menyisakan sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku.
"Kata dokter... aku boleh mengutarakan pendapatku dirumah ini, kan?" tanyanya ragu dan sedikit terbata
"Tentu... aku senang kamu mengutarakan pendapatmu, bicaralah" dengan nada lembut aku katakan itu.
Menghadapi pasien dengan gangguan mental seperti Aida memang dibutuhkan kelembutan dan sikap yang tenang, kedua hal itu akan membuat Aida merasa nyaman untuk mengutarakan apa yang ada dipikirannya. Cara itu berkali - kali berhasil membuat Aida berbicara tanpa rasa takut dan tenang.
"Aku menyukai tuan West, nyonya West, dan Dokter.... aku ingin dokter memenuhi undangan itu...." ucapnya ragu
Tanpa merespon perkataannya, aku langsung melahap omurice itu dengan cepat lalu segera beranjak dari ruang makan menuju ruang keluarga. Aida sepertinya kaget dengan responku, dia berdiri dari duduknya lalu sedikit berlari mendekatiku untuk menahan langkahku dengan cara menarik bagian belakang bajuku.
__ADS_1
"Kalau begitu tinggal 2 jam lagi persiapan kita, tunggu apa lagi Aida? ayo bersiap, pilih pakaian paling baik yang kemarin kita beli. kamu harus tampil mempesona hari ini" ucapku penuh semangat
"Terima... kasih...." dengan nada yang pelan namun aku yakin dia mengatakan itu, kepalanya juga tertunduk bersamaan dengan ucapan terima kasihnya.
Setelah bersiap, tepat pukul tujuh malam kami sudah sampai di restoran keluarga bernama The Winkel 1884. Aku dan Aida menunggu di lobby restoran untuk menunggu kedatangan tuan dan nyonya West, ketika menunggu dari seberang jalan aku melihat Charlotta berjalan entah dari atau mau kemana.
Aku memanggil namanya sembari mengangkat tanganku dan ketika Charlotta menoleh menatapku dia seperti memberi gestur tangan tanda dia akan menuju tempatku. Charlotta sedikit berlari menyebrang jalan dan langsung memelukku ketika kami sudah berdekatan, aku cukup terkejut dengan reaksinya namun ini bukanlah hal yang baru terjadi. Dia selalu saja seperti itu ketika kami kebetulan bertemu dijalan.
"Hai Selamat malam, makan malam dengan Aida hari ini?" tanya Charlotta sembari melepaskan pelukannya
"Iya, kami juga sedang menunggu Tuan dan Nyonya West untuk makan malam bersama" jawabku
"Aaah~ aku tadi berpapasan dengan mereka di suatu toko, mungkin mereka sudah didalam" timpal Charlotta sambil berusaha melihat kedalam restoran
"Malam Aida, Apa kamu suka gaun malam yang aku pilihkan itu?" tanya Charlotta yang tiba - tiba mengalihkan pandangan matanya pada Aida yang berada tepat di sebelahku
"Selamat malam Nona Charlotta... iya, ini sangat... bagus dan nyaman, apa aku pantas menggunakannya?" tanya Aida terdengar malu - malu.
"Jika ada yang mengatakan kamu tidak pantas, aku akan memeriksakan mata orang itu kepada Dokter Andrews. Matanya pasti tidak baik - baik saja, Benarkan Dokter Andrews?" jawab Charlotta dengan sedikit suara tawa, aku membalas tawanya untuk memancing tawa Aida.
Namun sayang Aida hanya tersenyum walau suasananya saat itu terasa sangat nyaman, aku juga melihat Aida menikmati berada ditengah orang - orang yang juga menjadi pengunjung restoran itu. Hal itu wajar karena Aida hanya akan bersikap lebih lepas dan terbuka kepada orang yang benar - benar dia percaya, kedekatan antara Aida dan Charlotta baru saja terjalin dan aku yakin dengan kebaikan hati Charlotta yang aku kenal, suatu saat nanti akan membuatnya menjadi tempat ternyaman bagi Aida.
"Ooh sudah aku duga, aku mendengar suara kalian diluar restoran ini" celetuk nyonya West yang tiba - tiba muncul dari dalam restoran, hampir bersamaan Aku, Aida dan Charlotta mengalihkan pandangan kami menatapnya.
"Selamat malam nyonya West" sapaku, Aida, dan Charlotta nyaris bersamaan, kami sempat tertawa kecil bersama namun tentu saja Aida hanya tersenyum ketika itu.
"Ayo masuk, Suamiku sudah menunggu kalian" ucap nyonya West sembari langsung menarik tangan Aida untuk membawanya masuk.
"Aaah kalau begitu aku undur diri, ada keperluan saat ini dan..." perkataan Charlotta ketika itu di potong oleh nyonya West, dengan gestur jari menolak permintaan undur diri Charlotta ketika itu.
"Seperti usiamu ya Dokter Andrews" celetuknya terdengar mengejek
"Jangan menggodaku seperti itu" timpal ku, aku pun masuk kedalam restoran itu disusul Charlotta di belakangku.
Didalam restoran aku melihat tuan dan nyonya West menjamu Aida dengan sangat baik, Aida duduk diantara kedua pasangan yang sedang merayakan pernikahan mereka. Diatas meja juga terlihat banyak sajian yang menggugah selera, menyadari kedatangan kami ketika itu tuan West memberi gestur tangan agar aku dan Charlotta duduk di kursi depan mereka.
Melihat Aida duduk bersama tuan dan nyonya West dengan senyum yang terlihat membuatku seperti sedang menyaksikan sebuah keluarga yang harmonis dan mencintai cucu mereka. Aida memanglah gadis kecil yang lugu, wajahnya yang cantik dengan tatapan mata yang teduh menggambarkan kepribadiannya yang sebenarnya adalah anak kecil yang baik dan berhati lembut. Hal itu yang membuatku sakit hati jika mengingat bagaimana untuk pertama kalinya Aida datang bersama Daniel ke rumahku.
"Selamat malam Charlotta, nikmatilah hidangan pesta pernikahan kami" ucap tuan West sambil menuangkan sebuah wine ke sebuah gelas yang berada didepan kami.
"Terima kasih Tuan West, aku tidak enak berada disini karena menjadi tamu yang tidak di undang" timpal Charlotta lalu meminum wine yang sudah dituangkan oleh tuan West didalam gelasnya.
"Bagaimana mungkin kamu tidak di undang? Selama ini bukannya kamu selalu menempel pada Dokter Andrews? Jika aku mengundangnya artinya kamu pun harus datang kan?" timpal nyonya West menggoda kami
"Oohh... begitu? Dokter Andrews tidak memiliki pikiran seperti itu, sepertinya..." nada genit yang terlontar membuatku menjadi sedikit salah tingkah, aku sampai tersedak karena ketika itu aku sedang meneguk wine.
"Umurmu tahun ini 26 tahun kan Chalotta? Tidak ada kemajuan dari hubungan kalian berdua?" tanya Nyonya West menggoda kami lagi saat itu, kami pun tertawa bersama dan saling mengobrol dengan sangat hangat.
Aida juga terlihat menikmati keadaan saat itu, aku merasa tugasku sebagai Dokter sudah berhasil dan perkembangan Aida hanya tinggal menunggu waktu saja. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam saat aku melihat arlojiku, hidangan disana pun nampak sudah habis dan kami semua telah bersiap - siap untuk meninggalkan restoran keluarga itu.
"Temani lah aku ke Winchester Bar Dokter Andrews? aku masih ingin mengobrol denganmu" dengan tiba tiba tuan West mengatakan itu
__ADS_1
"Aku ingin, tapi Aida..." jawabku agak ragu
"Aku yang akan mengantarnya dan menunggumu pulang" Charlotta menimpali pembicaraan kami
"Bagaimana Aida?" sambil memandangi Aida, aku seperti menunggu persetujuannya, Aida hanya mengangguk sembari tersenyum
"Baiklah, apa lagi yang harus kita tunggu? Istriku aku ingin menghabiskan malamku dulu bersama dengan Dokter Andrews" ucap tuan West dengan senang
"Tapi kamu tidak boleh terlalu mabuk, di umurku sekarang aku sudah tidak kuat jika harus mengangkat mu dari luar rumah menuju kamar!" nada Nyonya West agak sinis namun kami timpal dengan tertawa, akhirnya kami pun berpisah saat itu dan bersama dengan tuan West aku pindah kesebuah Bar yang buka 24 jam
Didalam bar itu kami banyak bercerita dan minum - minum, entah sudah berapa gelas yang diminum oleh tuan West hingga aku menyadari dia sudah sangat mabuk dan mulai melantur.
"Saat aku muda, aku adalah Polisi yang gagah dan berani. Aku selalu menangkap banyak penjahat dan memiliki banyak prestasi. kamu tahu? jika aku meneruskan karir ku saat itu aku akan menjadi kepala kepolisian negara ini!!" ucap tuan West dengan nadanya agak keras dan bersemangat
"Anda sudah terlalu mabuk tuan West, jangan tambah lagi Bir nya. sebagai dokter mu aku melarang itu" Ucapku sambil menyingkirkan gelas bir nya
"Ini adalah wilayah hukum ku!! kamu tidak berhak melarang ku!! Aku adalah kepala polisi!!" tiba - tiba tuan West marah dan sedikit membuatku kaget saat itu, namun aku memakluminya karena dia dalam kondisi dipengaruhi alkohol. aku memberi gestur kepada pelayan untuk segera menyingkirkan gelas - gelas di meja kami.
"kata - kata itu aku dapatkan dari mantan atasanku" mendadak suaranya pilu sambil menaruh dahinya diatas meja diantara lingkaran tangannya, aku bisa menebak saat itu tuan West menangis
"Pekerjaan - pekerjaan kotor saat itu membuat aku menentang atasanku, namun mereka tidak peduli aku harus tetap melakukannya. Mereka itu orang - orang brengsek!!" ucapnya tiba - tiba kembali emosi
Perubahan nada dan ekspresi itu... itu bukanlah hal yang baik - baik saja. Apa yang terjadi dengan tuan West sebenarnya? mengapa dia begitu menggebu, inikah tujuannya mengajakku ketempat ini. Menggunakan alkohol sebagai media untuk bisa mengutarakan isi hati dan pikirannya, hal itu tentu saja bukan sesuatu hal yang biasa saja.
"Pekerjaan kotor seperti apa?" tanyaku penasaran
"Pekerjaan yang harusnya dilakukan oleh penjahat, namun orang - orang bodoh itu menggunakan kekuasaan mereka untuk melegalkannya!! aku marah, aku ingin menangkap mereka!! aku aku!!!" saat mengatakannya, air mata tuan West pecah saat itu
Aku membiarkan tangisnya pecah tanpa aku sela sedikitpun perkataannya, memberikannya rasa nyaman agar dia percaya padaku akan membuatnya melanjutkan semua yang ingin tuan West utarakan padaku.
"Aku melakukan pekerjaan buruk saat aku masih muda... Aku membiarkan seseorang yang menaruh harapan keselamatan nyawanya padaku tewas gantung diri.... Aku malu pada ayah dan ibuku saat itu, Benson kecil yang bercita cita memberantas kejahatan malah menjadi pembantu penjahat..." dengan terus menangis suaranya terdengar pilu bagiku, jujur aku bingung pada saat itu. Aku tidak dapat membedakan mana cerita bohong dan cerita jujur dari seseorang yang aku kenal sangat baik ini.
Benarkah ini? bagaimana bisa aku terkecoh dengan wajah dan sikap tuan West, sulit untuk aku percaya. Bahkan Aida pun merasa aman dan nyaman berada didekat tuan West. Aku berharap semua ini tidak benar, dia hanya sedang mabuk saja.
"saat umurku 28 tahun aku mengajukan pemindahan tugasku di kota kecil ini ditengah berprestasinya aku, aku frustasi, aku mulai gila, namun kedamaian aku dapatkan disini setelah aku bertemu dengan Lucielle. Pelayan!! mana bir ku!!!" tuan West kembali emosi saat itu, namun aku melarang pelayan untuk mendekat
"Seorang anak perempuan berusia sama dengan Aida, dia memohon pertolonganku saat itu.... tapi... tapi.... aku harus mengabaikannya karena perintah atasanku...." ucap tuan West kembali meneruskan ceritanya dengan tangisan yang tambah menjadi jadi, hingga beberapa saat kami pun terdiam dalam keheningan itu
"Tolong jaga Aida Dokter Andrews... aku tidak ingin kamu melakukan hal yang sama denganku" tuan West tampak mengeluarkan dompetnya dan menaruh uang di meja itu dan hendak keluar dari bar, tuan West jalan sempoyongan dan aku langsung merangkulnya dengan segera membopongnya keluar dari bar
"Terima kasih Dokter Andrews" ucapnya saat itu
"Sudah menjadi tugasku mengantarkan anda pulang tuan West" sambil terus merangkulnya hingga sampai depan kediaman tuan West, dia pun mulai berjalan memasuki rumahnya dan tiba - tiba berbalik menatapku kembali
"Jika aku mati sekarang, apakah tuhan akan mengampuniku Dokter Andrews?" ucapannya membuatku sedikit terkejut
"Tentu, kebaikan anda selama ini pasti akan menyelamatkan anda. Tuhan Maha Pengampun" aku berusaha meyakinkan diriku juga saat mengatakan itu. Tidak beda dari tuan West, aku pun sebenarnya telah putus asa sehingga kota ini aku jadikan sebagai pelarian
Akhirnya aku mengetahui, dibalik semua kebaikannya selama ini tuan West menyimpan luka dihatinya selama bertahun - tahun. Tak jauh beda dengan yang sudah aku alami, memang bukanlah hal yang mudah untuk lepas dari belenggu siksaan mental yang terjadi pada diri sendiri. Tuan West... Andai tuan tahu, aku pun tidak jauh berbeda seperti tuan.
"Anda benar benar orang baik Dokter Andrews, sampai jumpa kembali" Ucap tuan West dan menutup pintunya, aku pun mulai beranjak dari kediamannya untuk menuju klinik ku. Baru beberapa langkah aku meninggalkan kediaman tuan West dan tiba tiba
__ADS_1
"BOOOOM!!"
Suara ledakan dahsyat terdengar begitu dekat, hembusan angin dari ledakan itu membuatku terpental cukup jauh. Kobaran api dan kepulan asap hitam tebal menyelimuti rumah kediaman tuan Benson West yang sudah menjadi puing menjadi pemandangan yang menyedihkan ketika aku berbalik untuk mencari sumber suara ledakan itu. Rumah tuan West lah yang hancur karena ledakan dahsyat itu.