Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Teror


__ADS_3

Dengan DB berwarna silver kesayanganku ini, aku melanjutkan perjalanan yang entah sudah berapa jam karena langit mulai gelap namun sinar bulan memancarkan sinarnya dengan indah. Rasa haus dan lapar pada akhirnya mulai kurasakan, sepanjang perjalanan pikiranku terfokus untuk segera menemui Aida hingga rasa lelah mulai terasa.


Sebuah bar yang cukup ramai aku lihat ditengah perjalanan malam ini kemudian aku memutuskan untuk beristirahat disana, sengaja aku memarkirkan mobil agak jauh dari bar karena ketika itu aku melihat area parkir bar terlihat cukup penuh dengan truk - truk besar. Setelah mobil terparkir dengan baik dengan segera aku berjalan menuju bar untuk makan dan beristirahat sejenak, namun rasa lelah benar - benar mulai terasa menggangguku saat itu.


Nafasku terengah - engah dan aku merasa tidak mampu lagi untuk terus berjalan, jadi aku memutuskan untuk bersandar pada kap mesin mobil entah siapa pemiliknya yang kebetulan dekat denganku.


"Aku kesulitan bernafas, mungkin aku benar - benar terlalu lelah saat ini" gumamku dengan nafas yang terengah - engah


"Atau mungkin karena aku merasa lega setelah mendapat kabar dari Aida bahwa dia baik baik saja? secara psikologis itu membuatku tersadar seberapa lelah aku saat ini. Berbicara dengan diri sendiri lagi? mungkin benar jika aku sudah gila" gumamku lagi, aku sedikit tertawa saat itu


Tidak lama setelah aku bergumam saat itu sorot lampu dari sebuah mobil van menyita perhatianku, mobil itu melaju lambat seakan dengan sengaja mendekatiku lalu berhenti sejenak tepat di hadapanku, beberapa saat kemudian mobil van itu kembali melaju dengan kecepatan rendah dan menjauh dariku. Aku terus menatap kemana mobil itu berjalan, terlihat mobil itu hanya terus berjalan sampai sebuah truk menutupi pandanganku.


Sejenak aku merasa sedang diawasi, tapi aku buang pikiran buruk itu dengan segera agar aku tidak lagi dihantui oleh pemikiran buruk ku. "Ayo Andrews, pertahankan kewarasanmu!" ucapku dalam hati seraya menepuk keras kedua pipi dengan tanganku, setelah itu aku menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan. Merasa sudah lebih baik, aku pun kembali berjalan untuk masuk kedalam bar.


"Selamat datang" ucap seorang pria tua didalam bar ketika aku sudah masuk kedalam.


Sebuah Bar dengan konsep klasik yang berada ditengah tanah kosong dan tandus ini cukup membantu para pengendara yang melintas. Cukup jauh aku melakukan perjalanan namun baru ditempat ini aku menemukan Bar, pantas saja jika pengunjung disini ramai. Mereka semua pasti menggunakan Bar ini sebagai tempat beristirahat juga melepas lelah, lapar dan dahaga.


"Tolong segelas kopi dan Beef Burger terbaikmu" pintaku sembari duduk didepan counter bar itu


"Segera datang tuan, anda sedang dalam perjalanan jauh?" tanyanya penuh keramahan


"Iya, saya harus segera sampai di ibu kota" Jawabku


"Aku sarankan anda harus beristirahat dulu, mata anda nampak sangat lelah dan dengan penampilan berantakan seperti itu sepertinya anda memerlukan kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan tangan anda" ucap pria itu memberi saran sambil menyiapkan pesananku, aku pun mulai melihat penampilanku disebuah cermin kecil yang ada di dekat counter itu dan ya benar, aku sangat berantakan saat itu.


"Anda benar, bisakah aku..." belum sempat aku lanjutkan pertanyaanku tiba - tiba pria tua itu memotongnya...


"Dipojok sebelah sana kemudian ke arah kanan, anda akan menemukan tempat yang anda butuhkan" timpalnya sambil menunjuk arah dimana kamar mandi berada, seakan tahu bahwa aku memang akan menanyakan sebuah kamar mandi.


Segera aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah dan merapihkan rambut serta bajuku, setelah merasa penampilanku sudah kembali rapih saat itu aku segera kembali ke counter berharap pesananku sudah siap. Aku begitu menantikan makan malamku karena memang perut ini seakan sudah memberontak dengan kuatnya, bersamaan dengan itu aku mendengar suara berita dari televisi yang menyala.


****suara dari dalam televisi***


"Disinilah sering terlihat sesuatu yang menyeramkan, rumah ini telah lama tidak di huni namun beberapa saksi mengatakan sering melihat ada cahaya di jendela - jendela pada lantai dua" ucap reporter


"Yah... saya benar - benar melihat, kadang - kadang seperti ada aktifitas namun di jalan green street nomor 710 ini tidak ada satu pun orang yang tinggal" ucap seseorang yang sedang diwawancarai


*************************************


Di Jaman yang sudah modern ini masih ada saja orang yang percaya dengan takhayul, setidaknya itulah yang berada di pikiranku sejenak ketika mendengar berita itu sebelum akhirnya penjaga bar memecah konsentrasi ku.


"Anda percaya hantu tuan?" tanya penjaga bar padaku ketika aku sudah duduk kembali di counter bar


"Aaah panggil saja aku Andrews, aku termasuk orang yang tidak percaya dengan hal supranatural seperti itu" jawabku


"Aku Thomas, senang berkenalan denganmu" timpal Thomas memperkenalkan dirinya


***suara dari dalam televisi***


"Di rumah dengan nomor 710 ini kami tidak dapat memasukinya, karena sepertinya selain di gembok dengan kuat pintu ini juga telah berkarat, bagaimana bisa ada kegiatan didalam" Ucap reporter itu


**********************************


"Mungkin kah ada pintu rahasia atau semacamnya?" tanya Thomas kembali merespon acara itu, saat itu dia juga menyajikan pesanan di depanku.


Sepertinya Thomas tertarik dengan berita yang kami dengar bersama - sama ini, cukup menarik memang sebuah berita yang menyajikan hal berbau supranatural di era modern seperti saat ini. Pertanyaan Thomas itu bisa membuatku sedikit menjaga kewarasanku dengan mengajak mengobrol, sepanjang perjalanan aku hanya beradu dengan pikiranku sendiri dan berbicara dengan diriku sendiri. Saatnya memulai kehidupan normal berbicara dengan lawan sungguhan, cukup melegakan sepertinya.


"Tidak, tidak... dengan keadaan rumah seperti itu aku ragu benar - benar ada orang didalam sana" jawabku menyangkal perkataan Thomas

__ADS_1


"Bagaimana dengan cahaya - cahaya itu?" tanyanya lagi dengan rasa penasaran yang tinggi


"Mungkin pantulan lampu di sekitar atau mungkin delusi para saksi karena dia sudah tersugesti dalam bawah sadar bahwa disana adalah rumah angker" jawabku santai dengan sedikit teori psikologi yang aku pahami


"Anda... seorang dokter atau semacamnya?" tanyanya setelah mendengarkan jawabanku yang mungkin baginya bukan jawaban dari seseorang pada umumnya.


"Aaah ya... bagaimana anda tahu?" tanyaku


"Aku menyukai acara ini dan sering berbagi pendapat dengan para pengunjung lainnya, dari sekian banyak itu baru anda yang mengatakan tentang delusi dan sugesti semacam itu" jawabnya


"Aaah begitu ya..." timpal ku sembari memakan pesananku yang sudah disajikan, aku tidak tertarik dengan pembicaraan ini namun aku terus melihat siaran misteri di televisi itu.


"Mungkin anda benar, kadang aku berkhayal terlalu jauh tentang sesuatu yang terjadi akhir - akhir ini. Aku merasa di sabotase saat komporku terbakar atau tentang kran yang tiba - tiba patah sehingga pelangganku pergi semua saat itu. Mungkin aku sudah gila karena sering begadang larut malam seperti ini" jelasnya dengan sedikit bercerita, sambil terus melihat saluran televisi itu aku tersadar tentang diriku sendiri.


Aku sama seperti Thomas, aku merasa diriku gelisah dan gila. Semua yang terjadi padaku selalu aku kaitkan tentang pekerjaanku dimasa lalu, tentu saja banyak penjahat yang tertangkap karena korban berhasil aku pulihkan mentalnya. Para korban itu pun akhirnya mau berbicara dan menuntun para penegak hukum untuk menangkap satu per satu penjahat yang telah melakukan perdagangan manusia, tidak heran jika diantara mereka akhirnya ada yang dendam kepadaku. Itulah yang terus aku pikirkan dan membuatku hampir gila, setidaknya aku sudah menyadari buruknya pikiranku.


Setelah menyelesaikan makan dan menghabiskan segelas kopi pesananku tadi, aku memutuskan untuk segera kembali melanjutkan perjalanan panjangku menuju ibu kota. Berpamitan pada Thomas lalu membayar makanan itu, segera setelahnya aku beranjak berjalan keluar bar. Ketika aku berada diluar bar, pandangan mataku terpaku pada mobil yang sempat aku pakai untuk bersandar tadi. Ide pun muncul seketika itu, aku berhenti sesaat dan memutuskan untuk kembali masuk kedalam bar.


"Tidak salahkan jika aku membawa segelas kopi? mungkin aku membutuhkannya saat di pertengahan jalan nanti" gumamku seraya berbalik dan berjalan beberapa langkah untuk masuk kedalam bar.


"BOOOM!!"


Aku terpental cukup jauh karena ledakan itu, mobil yang tadi aku gunakan untuk bersandar tiba - tiba meledak dan membuat beberapa mobil bahkan truk disebelahnya juga terkena dampaknya. Kejutan tidak hanya berhenti sampai disana, aku melihat ada sebuah mobil van yang mendekat lalu dari dalam mobil van tersebut beberapa orang menembaki ku dengan senjata laras panjang.


Aku berdiri lalu berlari berusaha menghindari hujanan peluru yang mereka tembakkan, aku bersembunyi dibalik truk yang sedang terparkir tidak jauh dari tempatku tersungkur tadi. Tidak lama terdengar beberapa orang turun dari mobil van itu dan terasa mereka berniat mengejar ku, bersamaan dengan turunnya beberapa orang dari dalam mobil van tersebut aku juga mendengar suara tembakan yang berasal dari dalam bar.


Terjadi baku tembak ditempat yang awalnya terasa begitu sunyi dan damai, keadaan berubah seketika menjadi riuh dengan suara baku tembak berbagai jenis senjata api. Tidak lama setelahnya aku juga mendengar beberapa mobil lainnya memasuki lahan parkir bar dan membuat baku tembak semakin sengit, kekacauan terjadi saat itu namun aku tidak dapat melakukan apapun.


"Kamu baik - baik saja, Andrews?!" tanya Thomas yang menghampiriku


Ditengah kepanikan yang terjadi aku tidak sempat berfikir bagaimana cara Thomas menemukanku, namun keberadaannya cukup membuatku senang karena aku tidak mengenal wilayah ini dengan baik.


"Di Wilayah ini terjadi sengketa, beberapa maniak uang ingin mendapatkan wilayah ini namun aku menolak untuk pindah. Sejak 3 bulan lalu aku memang sering mendapatkan terror namun ini adalah jenis teror terparah sejak saat itu" jelasnya menjawab pertanyaanku


Tidak lama terdengar suara sirine polisi yang menghiasi kekacauan ditempat itu, tembakan semakin membabi buta namun aku dapat mendengar beberapa mobil van mulai meninggalkan tempat itu dan perlahan tapi pasti suara tembakan juga semakin menghilang. Dirasa mulai tenang, Thomas berdiri dan melihat kondisi disekitar sana.


"Tolong!! Tolongg!! disini ada yang tertembak!" jerit seseorang, aku dan Thomas segera mendekati arah jeritan


"Arrggghhh!!" seseorang merintih di depanku karena luka tembak di bahu nya


"Serahkan padaku, aku minta pisau, sebuah pinset, lilin, perban atau kain dan alcohol!! cepat!" perintahku saat itu, beberapa orang bergerak dengan cepat berlari memasuki bar untuk menyediakan apa yang aku butuhkan.


"heeii heii... tuan, tunggu ambulan akan datang sebentar lagi" ucap seorang polisi kepadaku


"Aku seorang dokter! Jika tidak cepat ditolong, nyawa orang ini tidak akan selamat!!" aku sedikit membentak saat itu


"Ini Dok, ini yang kamu tadi perlukan kan?" seseorang memberikan ku barang - barang yang aku minta, segera aku memberikan pertolongan pertama untuk mengambil proyektil peluru dari korban. Tidak lama datang lagi beberapa orang yang juga tertembak, terasa sangat kacau namun kekacauan saat itu berhasil aku redam.


"Wow... anda dokter yang hebat" puji Thomas ketika aku sudah berhasil mengoperasi empat orang dengan waktu yang singkat, setidaknya aku berhasil mengeluarkan proyektil dan menghentikan pendarahan mereka.


Tidak beberapa lama mobil ambulan datang dan menyelesaikan sisanya, aku duduk bersandar ditembok luar bar sambil mengatur tarikan nafasku yang kacau. Thomas datang mendekatiku dan berkata


"Terima kasih, orang - orangku selamat berkat anda. Setidaknya itu yang dikatakan orang di ambulan tadi" celetuk Thomas


"Sudah tugasku" timpal ku singkat


"Apa yang meledak itu mobilmu?" tanya Thomas


"Tidak... tapi aku sempat bersandar di mobil itu sebelum aku masuk kedalam bar mu, itu benar... sepertinya aku sedang di incar" jelas ku

__ADS_1


"Apa maksud anda Dokter?" tanyanya semakin penasaran


"Diantara semua mobil yang terparkir mengapa mobil itu yang meledak? van itu tiba - tiba datang dan berhenti tepat di depanku saat aku bersandar pada mobil itu, sepertinya memang aku lah yang diincar" jawabku dengan nada khawatir


"Woo Woo... tunggu dulu Andrews... Aku tidak paham" kata Thomas,


Namun aku tidak merespon perkataan Thomas karena aku segera berlari menuju DB lalu mengambil ponselku untuk menghubungi Tuan Simon, agak lama aku menunggu Tuan Simon mengangkat teleponnya. Hingga beberapa saat berlalu, akhirnya tuan Simon pun mengangkat teleponku.


"Halo Andrews? ada apa pagi buta seperti ini tiba - tiba meneleponku?" sapa Tuan Simon ketika mengangkat teleponnya


Jika saja tuan Simon tidak mengatakan waktu saat itu, aku benar - benar tidak menyadari jika saat itu sudah pagi buta. Sepertinya baru saja aku sampai ditempat ini tengah malam, itu artinya kejadian menegangkan tadi cukup lama terjadi sampai aku berhasil mengatasi beberapa korban luka tembak.


"Aku sedang di incar oleh seseorang yang tidak aku ketahui siapa dan mengapa, aku minta tolong kepada anda untuk mengamankan Aida di rumah anda!" pintaku dengan terburu - buru


"Di incar? ada apa Andrews? bisakah kamu tenang dan ceritakan padaku?" tanya Tuan Simon dengan nada yang terdengar khawatir


"Aku baru saja terlibat baku tembak disini dan seseorang sepertinya sedang mengincar nyawaku, aku beristirahat sebentar disebuah bar dan ketika itu aku sangat lelah saat keluar dari mobilku dan bersandar pada mobil orang lain, namun sepertinya penjahat itu salah mengira tentang mobilku dan meledakkan mobil itu" jelas ku dengan tergesa - gesa


"Aku sudah melacak mu, aku bisa bilang tempat itu sedang dalam kondisi konflik. Tapi terlibat baku tembak dan ledakan itu nampak tidak normal memang, bisa beri aku waktu sebentar?" ucapnya merespon perkataanku


"Baiklah!" aku memutusakan teleponku dengan tuan Simon.


Mungkinkah sebuah kebetulan atau memang hanya pikiranku yang berlebihan setelah semua rentetan yang terjadi  pada diriku sejak kedatangan Aida. Entahlah, tapi kejadian demi kejadian itu semakin mengganggu ketenanganku sebagai Andrews Hopkins. Aku juga begitu yakin jika semua ini bukan kebetulan, setidaknya itu yang dikatakan instingku.


"Semua baik baik saja Dokter?" tanya Thomas sudah berada disebelah ku, aku benar - benar tidak menyadarinya dan wajah kaget ku saat itu tidak dapat aku sembunyikan.


"Waa... Thomas, maaf aku kaget. ya semua baik baik saja" jawabku dengan nada kaget


"Polisi ingin meminta keterangan darimu" ucapnya saat itu, aku mengangguk lalu segera keluar dari DB dan berjalan mendekati polisi - polisi itu namun tiba - tiba teleponku berbunyi kembali dan aku segera mengangkatnya.


"Andrews, sepertinya kamu mengalami hal yang tidak menyenangkan. tapi itu hanya kebetulan, kamu berada disebuah wilayah sengketa" ucap Tuan Simon saat itu menjelaskan padaku


"Apa? kebetulan kata anda? Tidak! aku sangat yakin ini bukan kebetulan! aku mohon padamu tuan Simon amankan Aida di sebelah anda, saat ini hanya anda yang dapat saya percaya" ucapku agak dengan nada tinggi


"Sebentar lagi akan ada yang menelpon anda dokter Andrews" tiba - tiba Tuan Simon memutuskan salurannya


"Semua baik baik saja Tuan?" tanya seorang polisi yang berada di depanku


"Ya... ya semua baik baik saja" jawabku dan tidak lama ponselku kembali berdering, kali ini sebuah nomor asing yang memanggil


"Halo!" ucapku


"Dokter...?" suara Aida terdengar dari teleponku, aku langsung terduduk saat itu. Hatiku terasa sangat lega ketika mendengarkan suaranya


"Dokter... baik - baik saja? seseorang disini memberikan saluran telepon pribadi untukku, katanya dokter sangat ingin mendengarkan suaraku... apa dokter baik - baik saja?" tanya Aida penuh dengan rasa khawatir


"Aku... aku baik - baik saja... Aida... kamu sendiri bagaimana?" tanyaku, aku berusaha menahan tangisku


"Aku baik - baik saja... Seseorang ditempat perlindungan ini mengatakan bahwa aku adalah pasien spesial karena aku adalah pasien Dokter Lee..." jawabnya


Suara Aida kini seperti candu untuk ketenanganku, seperti sebuah obat penenang yang bekerja seketika setelah diminum. Tujuan utamaku memanglah untuk menemui Aida yang saat ini belum bisa aku pastikan keadaannya, dengan bantuan tuan Simon aku bisa mendengar suaranya itu dan itu sangat membantu kewarasanku terjaga.


"Benar... kamu spesial untukku... kamu harus tenang disana, tidak akan lama lagi aku sampai ditempat itu untuk menjemputmu.." ucapku berusaha meyakinkannya


"Benarkah? kenapa? kenapa aku spesial untuk dokter?" tanyanya saat itu, aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Air mataku pecah saat itu, hatiku lega mendengarkannya diperlakukan baik.


"Dokter? apa dokter baik baik saja?" tanyanya kembali


"Karena kamu adalah langkah awal sebagai penebusan dosaku, aku akan menyelamatkan mu apapun yang terjadi" jawabku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2