Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Rumor


__ADS_3

Setelah mobil sedan berwarna hitam itu berhasil kabur, tidak lama rombongan polisi, pemadam kebakaran dan sebuah ambulan datang ketempat kami.


"Terlambat!!" teriakku begitu kesal pada mereka semua


Tidak lama setelahnya garis polisi telah terpasang disekitar tempat kejadian perkara, wartawan dan orang - orang disekitar mulai berkumpul dengan rasa penasaran tinggi ingin tahu apa yang sedang baru saja terjadi. Polisi, pemadam kebakaran dan petugas medis juga melakukan tugas mereka masing - masing, sedangkan aku yang masih duduk disekitar bengkel mencoba untuk menenangkan pikiran setelah kekacauan itu sembari memperhatikan sebuah selongsong peluru dengan kaliber 5,56 mm yang dilepaskan orang tidak dikenal itu kepadaku.


"Ini peluru militer, jadi memang tujuannya untuk membunuhku ya" aku berkata pada diri sendiri dengan suara yang pelan terkesan sedang bergumam, didalam otakku sedang berperang sendiri untuk mempertahankan kewarasanku.


"Jadi anda Dokter Lee?" tanya seseorang yang mendekatiku, ketika aku mengalihkan pandanganku saat itu sosok polisi tepat berada di depanku.


"Iya, itu aku. Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku sambil memberikan peluru bekas yang telah ditembakkan


"Jendral Simon Dalton menelpon kami dari pusat dan kami ingin melaporkan keadaan anda kepada Jendral Simon Dalton sesegera mungkin" jawab petugas itu seraya memasukkan peluru bekas itu ke sebuah kantong plastik bening


"Aku baik - baik saja, jadi ada apa disini?" tanyaku pada petugas, lalu petugas itu memberikan beberapa foto dan laporan - laporan yang bertuliskan 'Rahasia'


"Sebenarnya kami tidak diperbolehkan memberikan berkas ini pada orang sipil, tapi Jendral Simon Dalton memerintahkan kami untuk menjelaskan pada anda sedetail mungkin yang terkait dengan kejadian ini" jawab petugas itu


Aku menerima dan melihat berkas - berkas dan juga foto - foto yang diberikan oleh petugas polisi, sesaat aku dapat menyimpulkan dari semua berkas dan foto yang ada bahwa Martin dan Darwin terlibat dalam perjudian balap liar yang mereka adakan sekitar enam bulan lalu dengan suatu kelompok.


"Darwin dan Martin memenangkan balap liar itu dengan total taruhan lima ratus ribu dollar, tapi mereka berdua sepertinya melakukan cara curang yang diketahui oleh pihak lawan. Sesuai informasi intel kami sampaikan, kelompok yang dikalahkan ingin balas dendam dan kami tidak menyangka aksi itu akan terjadi hari ini. Tepat saat anda..." belum selesai petugas menjelaskan, aku memotong


"Jadi secara kebetulan aku terlibat lagi dalam kejadian yang tidak ada hubungannya denganku? itu yang akan anda katakan petugas?" aku agak marah saat itu, emosiku benar - benar memuncak


"Bisa dikatakan seperti itu Dokter Lee" petugas itu menjawab ku dengan tenang


"Aku baru saja mengalami hal yang serupa sebelum sampai kemari dan ini terjadi lagi padaku sampai dua kali berturut - turut!! Bisakah anda menjelaskan bagaimana itu sampai bisa terjadi?!" luapan emosiku sudah tidak dapat aku bendung, aku membentak petugas di hadapanku namun petugas itu tidak terpancing dengan amarahku


"Maaf Dokter Lee, tapi aku juga mendapatkan laporan tentang kejadian di bar itu dan sepertinya anda memiliki andil disini" tegas petugas itu mengatakannya, dia seolah sedang menyalahkan ku tentang keadaan yang terjadi


"Andil? aku memiliki andil katamu?" tanyaku masih dengan nada tinggi


"Anda sudah ditawarkan pengawalan namun anda menolaknya, jika saja anda menerima pengawalan itu mungkin kejadian ini tidak akan sampai terjadi pada anda" jawab petugas itu


"Aku sedang dalam posisi tidak mempercayai institusi kalian, apa kalian tahu apa yang aku alami sebelum aku melakukan perjalanan ini?! aku mencurigai salah satu dari kalian adalah komplotan yang ingin membunuhku!" timpal ku dengan bentakan, petugas itu menatapku tajam lalu sedikit menggeleng gelengkan kepalanya


"Alasan anda tidak berdasar Dokter Lee, untuk kali ini aku meminta pada anda agar memperbolehkan kami melakukan pengawalan sampai ke ibu kota" petugas itu mengatakannya sembari berjalan meninggalkanku.


Aku tidak dapat menolaknya, semua hal yang berkaitan tentang pengawalan telah dipersiapkan. Bahkan DB ku juga telah diambil alih oleh petugas dengan senjata lengkap, sedangkan aku diarahkan oleh petugas lainnya untuk segera memasuki salah satu mobil dinas kepolisian untuk duduk di kuris penumpang belakang dan perjalananku akan segera dimulai kembali. Semua berjalan lancar hingga sampailah aku disebuah perbatasan kota dimana dulu aku memantapkan hatiku untuk pergi dari kota ini lalu menghilang selamanya, tempat dimana aku menjadi manusia paling tidak bertanggungjawab dimulai.


Rombongan kami langsung menuju gedung perlindungan saksi dan korban, lagi - lagi aku teringat masa laluku disana yang membuatku sedikit melamun. Tapi lamunan itu tidak bertahan lama ketika mobil telah sampai didepan pintu masuk gedung dan berhenti disana, seseorang menyentuh dengkulku yang membuatku sedikit terkejut.


"Dokter Lee, anda sudah boleh keluar sekarang" seorang petugas yang duduk di depanku menyadarkan ku


"Aah ya maaf aku agak melamun" timpal ku sembari keluar dari mobil itu

__ADS_1


Ketika keluar dari mobil lalu menutup kembali pintunya, aku melihat DB ku sudah terparkir tidak jauh dari posisiku berdiri saat itu. Aku berjalan menuju pintu masuk dikawal oleh 4 orang petugas kepolisian dengan senjata lengkap, namun langkahku terhenti di depan pintu masuk untuk sesaat.


"Ada yang salah Dokter Lee?" tanya petugas di sebelahku


"TIdak, tidak ada... hanya saja... ini agak membingungkan bagiku" jawabku sembari membuka pintu itu lalu aku masuk kedalam lobby gedung, tatapan orang - orang didalam lobby itu mendadak tertuju padaku. Jujur aku gugup namun aku berusaha untuk tidak mempedulikan dan terus melangkah menuju resepsionis


"Ada keperluan apa?" tanya seorang resepsionis di depanku


"Aku ingin bertemu dengan pasien bernama Aida" jawabku


"Ada Id Card, surat tugas atau semacamnya?" tanyanya lagi


"Tidak, aku tidak memilikinya. Tapi bisakah anda memanggilkan salah satu dokter disini" pintaku


"Tentu, dengan dokter siapa anda ingin bertemu? dan nama anda?" resepsionis menanyakan itu padaku sambil bersiap untuk melakukan panggilan telpon


"Rachel, Dokter Rachel Pinsky katakan Andrews ingin bertemu dengannya" jawabku, aku menyebutkan nama seorang dokter dengan begitu jelas.


Kulihat resepsionis itu mulai menghubungi Rachel dan berbicara singkat dengannya melalui telepon itu, tidak lama dia segera menutup telponnya setelah pesanku telah tersampaikan.


"Mohon tunggu di ruang tunggu, dokter Rachel akan segera datang" ucapnya dengan ramah, aku mengangguk merespon perkataannya


Aku berjalan menuju ruang tunggu kemudian menunggu Rachel bersama dengan empat petugas polisi yang menemaniku sejak tadi dan sepertinya mereka benar - benar tidak membiarkan aku mengalami hal buruk lagi bahkan ditempat yang terasa aman ini, agak lama aku menunggu dan Rachel pun terlihat muncul dari balik pintu masuk ruang tunggu lalu tersenyum ketika dia melihatku, dia berjalan mendekatiku sembari tatapan matanya tertuju padaku.


"Hai dokter Lee, aku rasa kita akan canggung saat ini setelah apa yang pernah kamu lakukan padaku" celetuknya dengan nada yang sedikit menggodaku.


"Yaah lagi pula itu sudah berlalu sangat lama, kenapa tidak langsung masuk?" tanya Rachel


"Aku sudah tidak memiliki Id Card, dulu aku membuangnya dan aku juga tidak memiliki surat tugas" jawabku menjelaskan pada Rachel alasan aku menunggunya untuk memberikanku izin masuk agar aku dapat bertemu dengan Aida


"Oooh jadi karena itu kamu memanggilku? aku pikir karena alasan lain, aku akan bicarakan dulu pada resepsionis" timpal Rachel terdengar kesal padaku lalu dia meninggalkanku disana, tidak beberapa lama Rachel kembali menghampiri ku.


"Maaf Dokter Lee, aku tidak bisa membantu. Saat ini ada pengetatan penjagaan, jadi tamu tidak diperbolehkan untuk masuk dengan alasan apapun" dengan nada menyesal Rachel katakan itu


"Begitu ya... mungkin Tuan Simon bisa membantuku" timpal ku sembari aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku celana lalu menelpon Tuan Simon dengan ponsel itu namun tidak juga ada jawaban, beberapa kali pun aku coba sepertinya Tuan Simon tidak dapat di hubungi.


"Maaf menyela Dokter Lee, mungkin Jendral Simon Dalton sedang rapat dengan jendral lainnya untuk pengamanan pemilu yang akan diselenggarakan sebentar lagi" celetuk seorang petugas yang sejak tadi mengawal ku


"Begitu ya, sepertinya aku hanya bisa menunggunya" ucapku sambil memasukkan ponselku kembali kedalam saku celana


"Jika begitu kita bisa kencan sambil menunggu tuan Simon selesai kan?" tanya Rachel tiba - tiba terdengar begitu bersemangat


"Tidak tidak... aku tidak ingin melakukan itu" tolak ku dengan tegas


"Baik, tugas kami juga sudah selesai sampai disini. Sudah waktunya untuk undur diri Dokter Lee, kesempatan kencan kalian sepertinya bisa dilaksanakan karena pertemuan Jendral Simon Dalton benar - benar akan memakan waktu yang sangat lama" petugas itu menyela dengan sedikit meledek, dia mengembalikan kunci DB milikku setelah mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Terima kasih petugas, ucapkan terima kasihku pada petugas lain dan maaf jika aku merepotkan kalian" ku sampaikan itu karena petugas yang lain berada diluar.


"Siap! kami undur diri" ucap serentak empat orang petugas yang mengawal ku lalu mereka bersama meninggalkan tempat hingga tersisa lah aku dan Rachel diruang tunggu.


"Ayoo kita pergi dari sini sambil menunggu Tuan Simon menelpon mu" ajaknya terdengar seperti ajakan sebuah kencan.


Rachel pun berjalan keluar dari ruang tunggu, aku terpaksa mengikutinya karena aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu. Kami memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe tempat kami pernah berkencan untuk pertama kalinya menggunakan DB ku, saat itu aku benar - benar merasa canggung dan jujur aku pun tidak tenang sehingga sikapku membuat Rachel tidak nyaman berada di dekatku.


"Masih kepikiran Aida? dia baik - baik saja dengan fasilitas yang lebih baik daripada yang lain, apa lagi yang kamu khawatirkan?" tanyanya dengan nada kesal


"Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya ingin segera bertemu dengannya, tujuanku itu cuma dia" jelas ku pada Rachel


"Kamu menyukainya? pedofil" sambil menatapku dengan curiga Rachel mengatakan itu


"Heii tidak seperti itu, Aku sedang tidak ingin bercanda Rachel" aku agak meninggikan nada bicaraku, seketika itu Rachel pun tertawa.


Sepanjang siang di cafe Rachel terus memberikan beberapa pertanyaan kepadaku dan aku pun menjawab sebisaku meski terkesan aku hanya menjawab sebatas ingin menghargainya, tidak beberapa lama pandangan mataku yang sejak tadi menatap wajah Rachel kini teralihkan. Mata dan perhatianku tertuju pada dua orang yang baru masuk kedalam cafe, aku tidak asing dengan kedua orang itu.


"Rick dan Shane?!" celetuk ku mendadak dan seketika itu Rachel berbalik sambil melihat apa yang aku lihat


Terlihat Shane saat itu menoleh kanan kiri dan menyadari aku berada ditempat itu, dengan senyum sinis nya Shane saat itu menepuk pundak Rick untuk memberitahu keberadaan ku kepadanya. Ketika Rick berbalik dan menatapku, keduanya terlihat berjalan mendekatiku. Beberapa saat kedua petugas polisi itu sudah tepat berdiri di depanku dan menatapku, sempat terdiam beberapa saat dan saling menatap pada akhirnya Rick yang memecahkan keheningan diantara kami.


"Senang melihatmu disini dokter Andrews, atau aku harus memanggil anda dengan nama dokter Lee?" tanya Rick menyapaku


"Heii kalian sudah saling kenal?" tiba - tiba Rachel menyela pembicaraan diantara aku, Rick dan Shane


"Ya tentu, Aida adalah pasien dokter Lee dan kami yang membawanya kemari" petugas Shane menimpali


"Sudah jangan mengingat kejadian yang tidak menyenangkan itu, tapi dokter Lee aku benar - benar tidak tahu bahwa dokter Andrews adalah dokter Lee yang terkenal itu. Bagaimana aku harus mengatakannya? intinya hanya aku ingin meminta maaf padamu atas kejadian saat itu" timpal petugas Rick sambil mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke dekatku


"Apa ini?" tanyaku dengan nada sinis


"Tidak ada maksud apapun, aku dan Shane hanya harus meluruskan kesalahpahaman diantara kita. Tidak ada yang lain, ayolah balas fist bump ini untuk saling memaafkan lalu melupakan kesalahpahaman diantara kita, Dokter Lee" dengan santai Rick mengatakan itu, aku pun memberikan fist bump kearah Rick dan Shane saat itu secara bergantian


"Nikmati hari - harimu di ibu kota Dokter Lee, jika ada sesuatu anda bisa menghubungi kami" ucap Rick lalu keduanya berbalik dan berjalan meninggalkanku dan Rachel berdua saat itu.


"Bagaimana kamu bisa mengenal mereka?" tanya Rachel dengan nada penasaran


"Ya seperti yang tadi kamu dengar, mereka yang merebut Aida dariku" jelas ku singkat


"Kamu tahu, rumor tentang mereka itu tidak menyenangkan untuk diketahui" dengan nada agak berbisik Rachel mengatakan itu


"Rumor? apa itu?" Tanyaku dengan nada penasaran


"Mereka itu petugas paling berprestasi saat ini, entah sudah berapa penjahat yang mereka tangkap tapi tidak ada satu pun penjahat yang melawan mereka berdua dapat selamat nyawanya. Jadi beberapa rumor mengatakan jika kamu dikejar petugas Rick dan petugas Shane lebih baik langsung menyerah atau nyawamu melayang. Seram ya..." Rachel menjelaskan itu kepadaku.

__ADS_1


Lalu pikiranku pun kemana - mana setelah mendengar apa yang Rachel katakan, jika memang mereka sudah terbiasa melakukan pembunuhan bukan tidak mungkin mereka merencanakan pembunuhan ku? tuan West merupakan penghalang utama tujuan mereka berdua, apa mungkin benar mereka yang melakukan pembunuhan pada keluarga West? Rick dan Shane tahu aku mengejar Aida sampai ke ibu kota dan aku mengalami percobaan pembunuhan sampai dua kali, apa mereka dalangnya? aku sampai melamun saat itu memikirkan semua persepsi ku


"Tapi saat aku melihat apa yang keduanya lakukan pada Aida, aku rasa itu cuma rumor tanpa dasar. Mereka berdua membawa Aida dengan sangat hati - hati dan bahkan menitipkan pesan pada resepsionis bahwa Aida adalah pasien Dokter Lee, siapapun dokter yang tidak memperlakukannya spesial akan berurusan dengan mereka berdua" timpal Rachel, perkataannya semakin membuatku tidak dapat berfikir mana kah kebenaran dan mana kebetulan.


__ADS_2