
Aku berlari menyusuri setiap ruangan yang aku lewati namun masih juga tidak dapat bertemu dengan keduanya, hingga diujung koridor aku berhenti berlari untuk mengatur nafasku yang semakin terengah - engah. Aku tidak biasa berlari - lari seperti ini, umur yang tidak lagi muda juga membuatku kehilangan banyak stamina. "Dimana mereka berdua? apa Charlotta membawa Aida pergi? tidak... itu tidak mungkin" ucapku dalam hati, sempat aku berpikir buruk pada Charlotta.
Charlotta adalah sosok yang membuatku bingung untuk saat ini, bagaimana mungkin aku yang seorang psikiatri dibuat bingung dengan kepribadian Charlotta. Harusnya bukan hal yang sulit bagiku untuk membaca kepribadian seseorang dengan kemampuan yang aku punya, entah aku sedang lelah atau sudah cukup lama tidak aku gunakan kemampuanku karena beralih menjadi dokter umum sejak tinggal di desa kecil tempat pelarianku saat itu.
Kembali aku susuri koridor gedung itu hingga sampailah aku di lantai tiga, pemandangan yang aku lihat sangatlah mengerikan karena terlalu banyak bekas tembakan pada sisi gedung bahkan atap dari koridor. Selongsong peluru pun bertebaran yang bisa aku pastikan itu adalah peluru dari senjata laras panjang, seketika pikiranku menjadi tidak tenang karena membayangkan bagaimana jika Aida dan Charlotta melewati lorong ini dan mengalami hal yang buruk. Charlotta beberapa kali memang menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi situasi yang berbahaya, namun untuk situasi seperti ini pastilah sulit dihadapi oleh seorang wanita apalagi dia sedang membawa Aida.
Sebuah ruangan yang cukup luas tepat pada ruang pertama saat itu aku mendengar suara tangis ringan yang sayup - sayup aku dengar. Ruangan itu memperlihatkan pintu yang telah dibuka, perlahan aku mendekati pintu ruang itu untuk melihat ada siapa didalamnya. Samar - samar aku melihat punggung seorang wanita yang tidak asing bagiku sedang berdiri terdiam dan membatu dari balik celah antara pintu dan kusen, "Charlotta?" gumamku.
Ruangan itu tampak berantakan dengan beberapa rak penyimpanan berkas yang tergeletak seperti bekas dirobohkan dengan bantingan yang keras, bekas tembakan pun masih terlihat disisi tembok dan cukup banyak.
Aku melihat sekeliling dan mendapati ada sebuah gagang sapu yang terbuat dari besi ringan, "Mungkin ini bisa berguna" gumamku lagi sembari meraih gagang sapu itu. Aku sedikit melakukan pemanasan untuk mengayunkan gagang itu lalu bersiap masuk kedalam ruangan, mengendap - endap aku melangkah masuk dan benar dugaanku saat itu aku melihat Charlotta yang berdiri membatu menatap lantai.
Ketika itu aku tidak tahu apa yang membuat Charlotta membatu karena beberapa meja menjadi penghalang pandanganku untuk melihat apa yang Charlotta lihat, aku menatap sekeliling untuk memastikan jika disana hanya ada aku dan Charlotta meski dalam hatiku bertanya - tanya siapa yang tadi terdengar menangis dan dimana Aida berada.
"Charlotta?" sapaku untuk menarik perhatiannya ketika aku sudah ada didalam ruangan itu, perlahan Charlotta menoleh menatapku dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Terkejut aku melihatnya karena beberapa bercak darah yang menempel di wajah dan juga baju dress yang dia kenakan siang itu, tapi aku yakin itu bukanlah darah yang keluar dari tubuh Charlotta. Perlahan garis bibirnya terangkat dan tersenyum padaku, dia juga perlahan membalik badannya untuk menghadap ku.
"Syukurlah kamu selamat, apa kamu terluka?" tanyanya, aku sempat terdiam sejenak karena masih syok melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh Charlotta di hadapanku.
Dengan lumuran darah yang menempel pada tubuhnya dan ruangan yang tampak mencekam untuk seorang wanita, Charlotta masih bisa mengkhawatirkan keadaanku seperti tidak mempedulikan keadaannya sendiri yang terlihat lebih mengkhawatirkan. Bukankah aku yang seharusnya mengkhawatirkannya? di hadapanku Charlotta kembali menunjukkan ketangguhannya sebagai wanita, bukankah wanita biasa saja tidak mungkin bersikap seperti itu? aku dibuat tidak bisa berkata apa - apa dengan sikap yang Charlotta tunjukkan padaku.
"Andrews? kamu baik - baik saja?" tanyanya lagi kini dengan nada suara yang terdengar mengkhawatirkan ku, senyumnya pun menghilang dan kini dia menatapku penuh rasa khawatir.
"Aah yah.. maaf aku tadi... aah sudahlah, apa yang terjadi dan kenapa kamu berdarah seperti itu?" tanyaku
"Aku membunuh satu polisi yang berusaha membunuh Aida dengan pisau ini..." jawabnya tanpa beban seakan itu bukanlah pembunuhan pertamanya. Charlotta bahkan menunjukkan pisau yang dia gunakan untuk membunuh seorang polisi tanpa getaran pada tangannya. Begitu tenang dan dingin seperti hal itu tidak menakutkan baginya.
Apa yang harus aku katakan, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Semua membingungkan ku dan juga membuatku terkejut untuk kesekian kalinya, Charlotta... menurutku dia bukanlah wanita biasa dengan aktifitas yang selama ini aku kenal, ada hal yang dia sembunyikan di belakangku dan itu berhubungan dengan kehidupan masa lalunya. Entah harus waspada atau bersyukur dia berada di sisiku, aku belum tahu motif apa yang dia sembunyikan dan itu sangat menggangguku.
"Apa ada yang salah?" tanyanya dan aku tersadar dari lamunanku
"Kamu masih bertanya apa ada yang salah?" aku bertanya balik padanya dengan penuh kecurigaan
"Dokter.." suara lembut ketakutan terdengar dari belakangku, aku segera berbalik dan mendapati Aida yang sepertinya bersembunyi sejak tadi dibawah salah satu meja yang ada disana.
Aku segera berlari mendekati Aida lalu berlutut dan memeriksa kondisi tubuhnya dengan baik untuk memastikan dia baik - baik saja, meski ada beberapa memar yang dapat aku lihat secara kasat mata namun aku rasa dia dalam kondisi yang cukup baik. Lebih dari itu aku bersyukur karena dia tidak mengalami guncangan mental yang berarti, meski tubuhnya terlihat sangat bergetar dengan semua hal mengerikan yang telah kami alami bersama. Tidak dapat dipungkiri, aku pun merasakan apa yang Aida rasakan.
__ADS_1
Perkembangan kesehatan mental yang ditunjukkan Aida membuatku senang, setidaknya sampai saat ini aku merasakan jika dia memang sudah membaik dan tidak lagi seperti apa yang aku lihat darinya ketika kami pertama kali bertemu. Bagiku, ini adalah hal baik diantara semua hal buruk yang telah menimpa kami semua.
"Kamu baik - baik saja kan? apa ada yang terasa sakit, Aida?" tanyaku sembari menatap matanya, dengan gelengan kepala Aida menjawab pertanyaanku.
"Tadi nona Charlotta menyelamatkan ku dari polisi jahat... polisi itu mencoba untuk membunuhku dan nona Chorlotta menyerangnya sendirian, dokter... periksalah nona Charlotta..." ucap Aida yang terdengar mengkhawatirkan Charlotta
"Aku baik - baik saja" timpal Charlotta, aku menoleh kebelakang dan menatap wajahnya dan dia benar - benar menunjukkan seberapa baik dirinya saat ini.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanyaku pada Charlotta, aku pun berdiri dan berjalan mendekati Charlotta dengan menggandeng tangan Aida.
"Dilantai dasar tadi aku berlari bersama Aida saat kamu berbicara dengan beberapa polisi, disaat bersamaan dengan suara tembakan yang berasal dari tempatmu berada tiba - tiba aku dan Aida dikejar oleh polisi itu" jawabnya, aku pun mengalihkan pandanganku pada mayat polisi yang terkapar tewas dilantai.
Polisi itu menggunakan seragam dengan perlindungan yang lengkap bahkan dipersenjatai senjata laras panjang juga pistol dan aku lihat dia juga membawa kantong belati di pinggangnya.
"Dia... memiliki senjata dan perlindungan yang lengkap, kamu bisa membunuhnya hanya dengan pisau kecil itu? siapa sebenarnya kamu ini, Charlotta?" tanyaku, sejenak kami terdiam sampai mataku kembali menatap wajah Charlotta.
"Apa yang aku lakukan adalah kesalahan bagimu?" tanyanya, aku menggelengkan kepalaku beberapa kali lalu menghela nafas.
Charlotta tidak pernah benar - benar menjawab pertanyaan ku dengan jawaban yang aku inginkan, dia bahkan sering melempar tanya yang membuatku tidak ingin untuk kembali memberikan pertanyaan yang sama padanya.
"Apa aku harus waspada padamu atau aku harus senang karena kamu ada di sisiku, aku hanya sedang bingung" jawabku
Ternyata kami belum bisa lolos dari kejaran polisi, entah yang kami hadapi ini adalah polisi yang berada di pihak kami atau malah pengkhianat seperti dua polisi yang telah tewas yang pasti ketegangan ini belum berakhir.
Aku segera melindungi Aida dibalik tubuhku dan aku acungkan besi gagang sapu itu pada mereka, begitu juga dengan Charlotta yang menodongkan pisau kecil berlumur darah itu pada mereka. Sejenak otakku langsung berpikir jika kami akan mati saat ini juga jika kami mendapatkan serangan dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tidak ada kesempatan untuk kami bisa melawan balik polisi - polisi itu yang mungkin jumlahnya lebih dari lima orang.
"Kalian akan bermasalah jika membunuh kami, Jendral Simon tidak akan pernah melepaskan kalian begitu saja" ancam ku pada mereka, berharap mereka akan pikir - pikir lagi untuk menghabisi kami.
"Anda dokter Andrews?" tanya salah satu polisi itu padaku, tidak lama aku melihat dua orang berjalan menyela barisan polisi yang mengepung kami.
"Dokter Lee!" dengan teriakan Rick menyebut namaku, saat itu aku mengetahui jika kedua orang yang menyela barisan polisi itu adalah Rick dan Shane.
"Petugas Rick, sepertinya ini pertama kalinya aku senang melihat keberadaan mu" celetukku dengan sindiran
"Bagaimana denganku?" timpal Shane dengan tawa sinis nya, aku pun tertawa sinis mendengar celetukannya.
"Komandan Flick, mereka berdua adalah orang yang dicari oleh Jendral Simon" ucap Rick pada salah satu polisi yang sempat menanyakan namaku, seketika itu mereka semua menurunkan arah tembakannya lalu beberapa langsung bergerak mengamankan ruangan.
__ADS_1
Akhirnya ketenangan untuk sementara bisa aku rasakan karena aku yakin mereka tidak akan menyerang ku juga Charlotta dan Aida.
"Bagus, dengan begini tugas kita telah selesai" ucap Flick
"Dimana Aida?" tanya Shane
"Dia ada dibelakang ku" jawabku singkat, hampir bersamaan aku melihat Shane, Rick, dan Flick mencoba untuk melihat Aida dibalik badanku dari posisi mereka.
"Dokter Andrews atau harus aku panggil anda dokter Lee?" tanya Flick padaku
"Keduanya adalah aku, terserah kamu mau memanggilku apa" jawabku
"Baik dokter Lee, kami akan segera mengawal anda menuju tempat Jendral Simon" timpalnya
"Komandan Flick, ada petugas terbunuh disini dengan luka tusuk pada bagian leher!" teriak salah satu polisi yang tadi mengamankan ruangan, kami semua menoleh menatap petugas itu yang berdiri didekat mayat polisi yang dibunuh oleh Charlotta.
"Dokter Lee, bisa jelaskan?" tanya Flick
"Aku, aku yang membunuh petugas itu karena dia berniat membunuh Aida" jawab Charlotta yang menyela begitu saja, aku menoleh menatap Charlotta dan cukup terkejut dengan responnya.
"Nona, itu adalah pelanggaran berat" timpal Flick
"Aku tidak punya pilihan selain melakukannya, sudah aku katakan tadi kalau dia berniat membunuh Aida" tanpa keraguan sedikitpun Charlotta mengatakannya
"Tangkap dia, kita harus selidiki dulu motif pembunuhannya" perintah Flick pada beberapa anak buahnya, aku segera menarik lengan Charlotta untuk menghalangi petugas yang hendak menangkapnya.
"Tuan Flick, anda tidak dapat melakukan itu karena ini adalah bentuk perlindungan diri. Setidaknya biarkan kami bertiga bertemu dengan Jendral Simon, biar aku mencoba jelaskan padanya" ucapku
"Kalian akan berbicara dengan Jendral Simon namun kami tetap harus mengamankan nona ini demi keamanan Jendral kami, aku harap dokter Lee memahami tugas kami" tolaknya, seketika itu Charlotta membuang pisau yang sejak tadi dia genggam lalu berjalan melewati ku.
"Aku akan koperatif" ucap Charlotta sembari mengajukan kedua tangannya untuk diborgol, tanpa berkata apapun dua orang polisi mendekati Charlotta untuk memborgol tangannya dan satu polisi lainnya mengambil pisau yang digunakan Charlotta tadi lalu memasukkannya kedalam kantung plastik klip sebagai barang bukti.
"Aku menghargai kerjasama anda, nona" ujar Flick lalu memberi kode tangan yang meminta semua anak buahnya untuk meninggalkan ruangan itu dan mengawal ku juga Aida, Charlotta hendak digiring oleh dua orang polisi yang tadi memborgolnya namun ketika itu aku menarik lengan Charlotta dan hal itu menarik perhatian semua orang yang berada disana.
"Setidaknya biarkan dia tetap dekat denganku, aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi padanya" pintaku pada Flick, sempat terdiam sejenak menatapku tidak lama Flick mengangguk dan memberikan izin atas permintaanku saat itu.
"Terima kasih" gumam Charlotta dan ketika itu aku mendengar suaranya bergetar, sepertinya kali ini dia menunjukkan sisi feminimnya menghadapi hal seperti ini.
__ADS_1
"Sudah jadi kewajibanku untuk berusaha melindungi mu meski aku masih tidak tahu harus mewaspadai mu atau senang kamu ada di sisiku" timpal ku
Aku meraih tangan kanan Aida lalu aku minta dia merangkul lengan kiri Charlotta dengan perintah tangan, saat itu Aida segera merangkul tangan Charlotta dengan begitu kuat. Aku merangkul pundak Aida dan membiarkannya berada ditengah antara aku dan Charlotta demi melindunginya, setelah itu kami berjalan untuk menemui tuan Simon yang berada diluar gedung bersama - sama dengan pengawalan polisi yang terlihat begitu ketat.