
Satu jam telah berlalu sejak Charlotta dan Aida bertemu, ketika itu Charlotta meminta waktu kepadaku dan Rachel agar diizinkan untuk bicara berdua didalam kamar Aida. Rachel sepertinya tidak dapat menghalangi keinginan Charlotta karena melihat kedekatan keduanya dan kini kami hanya bisa menunggu Charlotta selesai berbicara dengan Aida disebuah ruangan dekat dengan kamar Aida, kami berdua hanya terdiam saja sejak satu jam itu berlalu.
Canggung, ya cuma itu kata yang tepat untuk menggambarkan situasiku dan Rachel saat ini. Dengan kehadiran Charlotta ditengah kami, dia pasti sangat marah padaku karena penantiannya selama ini aku khianati. Meski aku juga tidak ingin terlalu disalahkan, sudah delapan tahun berlalu dan aku tidak menyangka dia akan menanti ku selama itu. Ditengah kebisuan antara aku dan Rachel, suara pintu terbuka perlahan menjadi pemecah suasana canggung ini. Dari balik celah kecil pintu yang terbuka, aku melihat Charlotta membuka pintu itu lalu tersenyum saat melihatku.
"Kamu tidak terlalu menekan Aida kan?!" mendadak Rachel berdiri dan sedikit membentak kepada Charlotta
"Rachel, tenanglah... Charlotta tahu apa yang harus dia lakukan" timpal ku menenangkan Rachel
Charlotta tidak menghiraukannya dan langsung berjalan menuju salah satu kursi yang berhadapan langsung denganku didalam ruangan lalu duduk sembari melepaskan nafasnya agak keras, sepertinya dia mendapatkan beberapa informasi dari Aida meski mungkin tidak semuanya sesuai dengan yang dia inginkan. Rasa penasaranku pun meningkat, bagiku informasi sekecil apapun itu pasti akan berguna bagi tuan Simon.
"Bagaimana?" tanyaku penasaran, Charlotta hanya menatapku beberapa saat lalu menggeleng - gelengkan kepalanya beberapa kali menandakan tidak ada informasi yang didapat olehnya.
"Ternyata tetap tidak bisa ya" dengan nada kecewa aku katakan itu sambil sedikit menggebrak meja di depanku.
"Mencari keberadaan Daniel dari Aida memang sebuah jalan buntu, aku tidak bisa membantu selain mengatakan fakta yang mungkin akan mengejutkan kalian berdua. Aida menganggap Daniel adalah malaikat pertamanya sebelum kamu, Andrews" ucap Charlotta terdengar begitu tegas dan menekan, sepertinya dia tidak ingin perkataannya diragukan olehku dan Rachel.
"Apa maksudmu? tidak mungkin Aida menganggap Daniel seperti itu kan?!" Rachel mempertanyakan kata - kata Charlotta dengan tekanan sambil menatapnya dengan sinis, mengingat kenangan buruknya bersama Daniel tentu perkataan Charlotta seperti sebuah bualan baginya.
"Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi Aida memintaku untuk menyampaikan ini padamu, Andrews. Jangan sakiti Tuan Daniel, dia malaikat pertamaku sebelum bertemu dengan dokter" ucap Charlotta, aku dan Rachel terkejut dengan yang kami dengar sampai membuatku tidak tahu harus berkata apa.
"Aida juga mengatakan bahwa Daniel menyelamatkannya dari majikannya, dia terselamatkan dari dunia yang menurutnya lebih baik mati daripada harus terus tersiksa seperti itu setiap harinya" setelah mengucapkannya, Charlotta menarik nafasnya dalam - dalam lalu menghembuskannya cukup keras seakan dia tidak sampai hati untuk mengatakannya.
Entah apa yang telah dikatakan Aida kepada Charlotta tadi, namun dari penilaianku saat ini sangat terlihat jika Charlotta lebih percaya dengan perkataan Aida yang mengatakan jika Daniel adalah orang baik. Perkembangan misteri ini menuju ke jalan yang buntu, tentu tidak akan bisa lagi meminta Charlotta untuk mencari informasi lebih dalam dari Aida karena Charlotta pasti akan menolak permintaan itu.
"Aku harus percaya yang mana? Aida tidak mungkin berbohong, tapi Tuan Simon juga tidak mungkin mengada - ngada kan?" gumamku, kepalaku terasa mau pecah memikirkan bagaimana caranya untuk menyelesaikan semua teka - teki ini.
Kami bertiga terdiam untuk beberapa saat, mungkin saat itu baik Rachel dan Charlotta sama - sama berusaha mencerna segala informasi yang telah kami dapatkan secara acak itu. Aku sendiri saat ini tidak dapat menemukan benang merah yang membuatku semakin dekat pada misteri, "Apa aku melewatkan sesuatu? Apa yang Daniel coba sampaikan padaku dengan menitipkan Aida kepadaku? mengapa rentetan ini bersamaan dengan kemunculan Aida didalam hidupku?" aku masih tidak dapat menata kepingan kepingan puzzle informasi ini.
"Aku akan pulang, sampai bertemu besok" celetuk Rachel memecah keheningan,
Aku hanya diam menatapnya yang beranjak dari kursi lalu berjalan menuju pintu, namun seseorang terlihat membuka pintu itu sebelum Rachel membukanya. Dari pintu yang terbuka itu aku melihat wajah petugas Shane, dia menatapku dan tertawa kecil sebelum mengatakan...
"Ooh disini kamu, Dokter Lee" celetuk Shane saat itu
__ADS_1
"Petugas Shane" sapaku, entah kenapa rasanya suasana yang ada akan menjadi buruk ketika aku bertemu dengannya.
"Wah wah... apa ini? rapat cinta segitiga? haha" Shane melontarkan candaan
"Tidak ada yang seperti itu, permisi. Aku harus pulang" timpal Rachel dengan ketus, dia melewati petugas Shane yang berada di depan pintu.
"Sepertinya aku datang disaat yang salah, maaf Dokter Lee. haha" kembali Shane melontarkan candaan
Aku merasa dia tidak paham situasi atau memang dia tidak tahu dengan situasinya jika bercanda tidaklah dibutuhkan sekarang, semua sedang bertaruh nyawa dan dia masih saja menanggapi itu dengan candaan. Tapi aku juga tidak menampik jika aku tidak suka dengannya, mungkin itu yang membuatku selalu memandangnya dengan cara yang buruk.
"Apa ada masalah Petugas?" tanyaku pada Shane
"Tidak, tidak ada... aku hanya menyapamu sebagai bentuk tanggung jawabku kepada tugas dan kamu nona yang ada di desa itukan?" jawab Shane sembari mengalihkan pandangannya kearah Charlotta, saat itu aku melihat Charlotta hanya diam namun tatapan matanya begitu tajam penuh rasa benci kepada Shane.
"Heii... aku dan Dokter Lee sudah berdamai, tidak bisakah kita berdamai Nona?" dengan sedikit suara tawa kecil Shane bertanya, aku pun penasaran mengapa Charlotta begitu membencinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?" tanyaku penasaran, ini juga pasti berkaitan dengan ucapan Aida ketika Charlotta bertemu dengan Aida tadi.
"Tidak banyak, Nona ini berhasil merebut pistolku saat aku membawa Aida menuju mobil" jawab Shane lalu tersenyum sinis menatap Charlotta, aku terkejut dengan jawaban itu dan ketika ingin mengkonfirmasi jawaban Shane saat itu Charlotta menimpalinya.
"Aku ragu saat itu kamu berani untuk menarik pelatuknya, Nona" ucap Shane meremehkan Charlotta
"Hooo~ yakin sekali ya, kamu mau melihatku melakukannya saat ini?" tanya Charlotta dengan nada mengancam, aku merasa yang terjadi saat itu diluar dari yang dapat aku bayangkan.
"Tunggu... tunggu... ada apa diantara kalian?" tanyaku agak panik saat itu karena permusuhan keduanya terasa begitu panas.
"Dia menarik Aida dengan kasar saat itu, jadi aku berinisiatif mengambil pistol miliknya lalu menodongkan pistol itu kepadanya. Aku berharap dia melepaskan tangannya dari lengan Aida, sayang Aida memintaku untuk membiarkannya" jawab Charlotta
"Dia ingin membunuhku dan membunuh petugas Rick saat itu, tapi aku menyadarkannya bahwa tindakannya akan mengakibatkan kasus hukum yang berat" Shane menimpali
"Aku tidak peduli, setelah aku selesai menembak mu dan temanmu saat itu aku akan bunuh diri lalu Aida akan hidup tenang tanpa kalian" terdengar tanpa beban saat Charlotta mengatakannya, aku terkejut dengan apa yang dia katakan. Begitu mudahnya dia membicarakan tentang mencabut nyawa, tidak pernah aku bayangkan Charlotta bisa mengatakan hal itu dengan ringannya.
"Charlotta?! apa - apaan kamu?" bentak ku, aku kesal saat itu dengan kata - kata Charlotta
__ADS_1
"Dia benar - benar mengatakannya di depanku, petugas Rick dan Aida, percayakah anda Dokter Lee?" tanya Shane sambil menatapku, lalu pandanganku beralih kembali menatap Charlotta.
"Mengapa sampai melakukan sejauh itu?" tanyaku dengan nada khawatir, Charlotta menatapku lalu sedikit tertawa sebelum menjawab pertanyaanku.
"Aku memang bukan siapa - siapa bagi Aida, hanya saja sisi kemanusiaan memanggilku untuk melindunginya dengan segala cara. Maka aku akan lindungi dia semampuku, Aida sangat berarti bagiku" jawab Charlotta dengan tegas
Jawaban Charlotta mengingatkanku tentang tujuan mengapa aku sampai bertaruh nyawa sejauh ini untuk melindungi dan menyembuhkan Aida, entah sejak kapan aku malah peduli pada hal lain selain sisi kemanusiaan sehingga membuat Aida kembali membangun temboknya untukku.
Aku seakan melupakan hal penting bahwa kesehatan mental Aida adalah yang utama dibanding dengan misteri dan rentetan kejadian ini, "Sejak kapan aku kehilangan arah seperti ini?" tanyaku dalam hati. Aku sama sekali tidak berkembang menjadi lebih baik selama delapan tahun ini, ini masih sama ketika aku menghadapi Celline. Aku segera berjalan meninggalkan ruangan itu menuju kamar Aida, disana aku melihat Aida masih duduk di kursi kamarnya dengan tatapan memandangi meja kosong entah apa yang dia pikirkan.
"Aida..." sapaku dengan lembut
Seketika itu Aida menoleh menatapku sembari berdiri dan melangkah mundur beberapa kali hingga kursi yang dia gunakan tadi terdorong hingga terjatuh, ketika berjalan masuk kedalam kamar itu aku akhirnya tahu yang dipandanginya bukanlah meja kosong melainkan liontin Dream Catcher yang diberikan Tuan West padanya. Aku melihatnya gemetaran sembari terus memandangiku dengan tatapan mata ketakutan, tidak ada alasan lain aku kemari selain meminta maaf padanya atas apa yang telah aku lakukan.
"Dokter..." suara lirih bercampur ketakutan saat Aida mengatakannya, aku langsung berlutut lalu meletakkan tanganku dilantai untuk menunjukkan seberapa menyesalnya aku atas sikapku padanya.
"Maafkan aku... aku tahu kamu takut padaku karena sikapku tadi, tidak ada pembenaran atas sikapku kepadamu namun aku benar - benar meminta maaf padamu" ucapku saat itu
"Dokter tidak boleh... aku tidak..." Aida terbata - bata ingin mengatakan sesuatu namun dia tidak dapat mengungkapkannya, aku pun menimpalinya dengan berkata
"Kamu tidak harus memaafkan ku hari ini, esok atau berapa lama pun yang kamu butuhkan untuk bisa memaafkan ku. Aku hanya kehilangan arah sebagai dokter mu dan melupakan bahwa.... kamu lah yang terpenting dalam hidupku saat ini, Aida" timpal ku sambil menatap matanya, Aida pun terkejut ketika mendengar ku mengatakan itu.
"Bahwa kamu sangat berarti bagiku" ucapku lagi, terlihat Aida terus berusaha menahan air matanya namun dia tidak bisa menahannya lebih lama. Dia kemudian berlari ke arahku dan memelukku begitu erat, entah kenapa hatiku terasa begitu lega setelah mendapatkan pelukan dari Aida.
"Aku tidak marah pada dokter.... aku tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini dari dokter... maafkan aku dokter harus berlutut seperti ini untuk aku... berhenti bersikap baik seperti ini untukku... aku tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini..." tangis Aida semakin pecah saat mengatakannya
Air mataku pun ikut pecah saat itu, perlahan aku membalas pelukannya seraya mengelus kepalanya dengan lembut. Kalimatnya begitu lancar dan dia bicara lebih banyak dari biasanya, mendengarnya membuat bahagia. Aku merasa Aida kembali menerimaku dengan baik dan apa yang ditunjukkan Aida di depanku hari ini membuatku yakin aku sudah melakukan hal yang benar, aku tidak boleh menyia - nyiakan apa yang sudah berkembang dengan baik ini.
Aku lega sudah berhasil meruntuhkan tembok yang sempat dibangun kembali oleh Aida, dilain sisi aku juga lega bahwa Aida telah menemukan kembali emosinya sebagai manusia. Dia yang sekarang sudah tidak segan - segan untuk tersenyum, menangis, dan tertawa, tidak seperti pertama kali aku bertemu dengannya saat Daniel membawanya. Aku mendadak nostalgia sesaat sambil memeluk Aida yang masih menangis terisak - isak, ingatanku terputar ketika dia hanya berdiri dan terdiam diruang keluarga rumahku ketika itu.
"Kamu tahu Aida, aku mendadak teringat sesuatu" celetukku tanpa melepaskan pelukanku
"Apa itu dokter?" tanya Aida, aku melepaskan pelukanku dan memegang bahunya lalu agak menjauhkan Aida dariku agar aku dapat memandang kedua bola mata birunya itu
__ADS_1
"Wajah dan ekspresimu saat kita pertama kali bertemu, Aida yang dulu sudah berubah menjadi Aida yang berani mengekspresikan perasaannya dengan baik" jawabku dengan senyuman walau tidak bisa aku pungkiri aku terharu, Aida juga terlihat beberapa kali mengusap air matanya namun air matanya terus mengalir.
Ada sebuah harapan dalam diriku tentang Daniel seiring membaiknya hubunganku dengan Aida, sepertinya aku bisa sedikit demi sedikit mengungkap tentang sosok Daniel dari Aida tanpa harus melibatkan orang lain. Akan aku lakukan pendekatan sebaik mungkin agar Aida bisa menjelaskan semua yang terjadi antara dia dengan Daniel, Aah... entah butuh waktu berapa lama sampai misteri tentang Daniel akan terungkap. Aku hanya tidak sabar ingin fokus untuk menyembuhkan mental Aida dan membawanya pulang bersamaku, kemudian menepati janjiku membawanya ke makam Tuan dan Nyonya West.