
Aku mendengar deru suara mesin mobil menjauhi klinik bersamaan dengan suara itu Charlotta berlari mendekatiku lalu duduk tepat di depanku yang terdiam sambil memandangi tanah, tangannya menyentuh kedua pipiku lalu memaksaku untuk menatap matanya.
"Andrews!! apa yang kamu lakukan?! kamu tidak menolong Aida? Andrews!!" teriaknya tepat didepan wajahku
"Hah? ya...?" gumamku saat itu sambil memandangi wajah Charlotta
"Andrews!! kita harus mengejar mereka! Mereka tidak boleh membawa Aida seperti itu!!" teriaknya lagi didepan wajahku, aku hanya bisa diam memandangi wajahnya tanpa melakukan apapun.
"Andrews...?" tanya Charlotta dengan nada pelan
"Aaah iya... apa katamu tadi?" aku mengatakannya dengan pelan, ketika itu tiba - tiba Charlotta menamparku cukup keras hingga membuatku sedikit terjatuh.
"Inikah... Inikah seorang dokter hebat itu? yang meninggalkan kejayaannya di ibu kota untuk membantu orang - orang di kota terpencil seperti ini? inikah sikapnya yang sebenarnya? kemana Dokter Andrews Hopkins yang aku kenal?!!" Charlotta mengatakannya dengan penuh emosi sambil menangis
Tamparan itulah yang membuatku sadar, tanpa tamparan itu aku bahkan tidak bisa berpikir apapun. Kondisi itu bisa dibilang syok berat dan tekanan mental karena tumpukan beban yang tak tersalurkan dengan baik. Tamparan itu juga membuatku menyadari betapa aku hanyalah pengecut yang menyamar menjadi dewa penolong bagi kesehatan orang di kota kecil ini, kota pelarian seorang dokter Lee.
"Aku ini sampah Charlotta... aku ini SAMPAH!! kamu salah paham tentangku!! aku pergi dari kota untuk menghindari masalahku!! aku sudah tidak tahan dengan pekerjaanku disana!! menolong korban - korban kejahatan, memperbaiki mental mereka dan tidak ada habisnya silih berganti!! aku putus asa!!!" aku berteriak saat mengatakannya
Lalu aku berbaring di tanah sambil menangis setelah mengakui dosa - dosaku pada seseorang yang menganggap aku adalah orang baik, dia tidak tahu seberapa jahatnya aku karena telah meninggalkan tanggung jawabku. Secara tidak langsung... aku telah membunuh mereka.
"Aku... Aku tidak peduli lagi... aku ingin pergi dan melupakan ini..." Ucapku lirih
"Aku tahu... aku tahu kamu sampah..." timpal Charlotta saat itu, lalu ia berdiri hendak meninggalkanku disana
Kali ini kalimatnya lah yang menjadi tamparan lebih keras untuk hatiku, perlahan aku melihat Charlotta yang memandangku dengan penuh rasa kecewa. Tapi aku tidak ingin berbuat apapun,aku membiarkan Charlotta mengatakan apapun yang ingin dia katakan.
"Aku menganggap mu sampah bukan karena kamu meninggalkan tanggung jawabmu yang lalu, tapi karena kamu membiarkan Aida bertarung sendirian saat ini. Aku harap tamparan tadi sepadan dengan betapa pengecutnya dirimu Andrews Hopkins" ucap Charlotta lalu meninggalkanku disana
Beberapa saat setelah Charlotta meninggalkanku di halaman depan rumah, aku beranjak berdiri untuk masuk kedalam klinik lalu berjalan menuju ruang keluarga. Disana aku teringat Aida yang selalu mengucapkan salam ketika aku bertemu dengannya ditempat ini, aku duduk di sofa untuk menenangkan diri namun suara Aida masih terngiang di telingaku. Perlahan aku melihat sekeliling yang tampak kacau seperti terjadi sebuah peperangan sebelumnya, aku beranjak dari sofa lalu berjalan menuju kamar Aida dan melihat bagaimana kasur dan sprei yang biasanya rapih menjadi berantakan tanda Aida berusaha keras menolak untuk ikut.
Aku merapihkan nya dan kemudian duduk di ujung kasur itu sembari melihat sekeliling dimana Aida menata hadiah pemberian warga kota ketika kami datang mengunjungi mereka, mendadak aku teringat liontin dari tuan West yang aku letakkan disebelah kepala Aida saat itu dan berusaha mencarinya namun tidak aku temukan. Aku mengelilingi kamar itu namun tidak juga dapat aku temukan hingga ada satu hal yang menarik perhatianku di sudut kamar, aku mendekatinya dan aku dapati...
Selembar kertas dan beberapa pensil tergeletak disana, aku mengambil kertas itu lalu melihat sebuah gambar sudut ruangan namun tanpa sisi gelap. Nampak ada gambar beberapa orang didalam kertas itu dan masing - masing memiliki nama, Tuan West, Nyonya West, Aida, Dokter, Nona Charlotta. Dibawahnya ada sebuah pesan yang bertuliskan "Terima kasih telah menjadi temanku, Jika aku mati aku tidak ada dalam penyesalan lagi dan semoga aku menjadi hadiah yang berharga bagi kalian" Aku langsung bersimpuh saat itu dan membenturkan kepalaku dilantai
Wajah lugu Aida tergambar jelas di pelupuk mataku, suara dengan nada rendah juga lembutnya juga seakan terdengar dekat dengan telinga. Andrews... tindakanmu kali ini semakin menguatkan betapa pengecutnya dirimu. Air mataku mengalir dan dadaku terasa sesak, kesombonganku untuk mampu merawat Aida dengan baik kini runtuh. Aku tidak lebih hanya seorang dokter yang gagal dan dihancurkan oleh kesombonganku sendiri.
"Maafkan aku Aida!! maafkan aku!! aku dokter yang buruk!!! kamu tidak pantas berada ditangan sampah seperti ku!!" aku menangis sejadi jadinya saat itu
Mentalku hancur dan kemudian kata - kata Charlotta terngiang didalam kepalaku yang mengatakan aku pengecut karena membiarkan Aida berjuang sendiri saat ini, begitu sakit kata - kata itu terdengar namun kata - kata itu menyadarkan ku bahwa memang tidak pantas bagiku untuk membiarkan Aida berjuang sendiri.
"Benar! aku tidak boleh membiarkan Aida bertarung sendiri saat ini! aku masih bisa menolongnya!!" ucapku dengan teriakan.
Kadang untuk seorang pengecut sepertiku, sebuah tamparan bisa memiliki arti yang luar biasa. Baiklah dokter Lee ini saatnya untuk kembali melakukan hal yang harus dilakukan.
__ADS_1
Aida.. tunggulah!! Aku pasti akan datang membawamu kembali, jangan pernah lepaskan dream catcher jika itu sedang bersamamu
Maafkan aku yang terlambat menyadari semua ini Aida, saat ini kamu pasti ketakutan dan entah berada dimana. Maafkan aku harus kembali membuatmu merasakan takut dan berada dalam mimpi buruk mu lagi.
Aku berdiri lalu berlari menuju kamarku, mencari - cari sebuah kartu nama disebuah laci meja kerja dan aku menemukannya. Aku segera berlari kembali menuju ruang keluarga lalu menelpon nomor yang tertulis di dalam kartu nama itu, aku berharap ini akan berhasil.
Beberapa kali aku mencoba melakukan panggilan telpon namun tidak ada yang mengangkat tetapi aku tidak mau menyerah, aku terus menelpon nomor yang sama berkali - kali hingga pada akhirnya terdengar seseorang mengangkat telepon itu
"Halo" terdengar suara berat ada suara diujung telpon.
"Halo! Tuan Simon Dalton! ini aku, aku Dokter Lee. kamu masih ingat?" kataku dengan nada yang tergesa gesa
"Dokter Lee? maaf... nama itu terlalu banyak untuk di ingat hanya untuk satu orang saja" ucapnya saat itu
"Aku dokter kepolisian yang bertugas untuk merehabilitasi korban - korban kejahatan!" tegas ku memperkenalkan diriku, hanya itu yang bisa membuatnya mengingatku.
"Dokter Lee? Andrews Hopkins?" tanyanya mencoba memastikan siapa aku
"Benar Tuan Simon... ini aku... Apa kamu masih mengingatku?" tanyaku penuh harap
"Jika kamu adalah Dokter psikiatri dengan tingkat keberhasilan mencapai seratus persen itu aku yakin aku mengingatnya, namun sayang tiba - tiba dia menghilang tanpa jejak" ucapnya dengan nada dengan ketus, aku merasakan amarah yang terdengar.
Benar yang dikatakan tuan Simon Dalton, aku memang meninggalkan semua disana tanpa jejak. Tanpa ada satu orangpun yang mengetahui, pekerjaanku sebagai dokter rehabilitasi mental pun aku tinggalkan begitu saja tanpa pemberitahuan.
"Kata - kata apa itu? tentu saja sahabatku! aku akan menolong mu semampuku, apa yang membuatmu tiba - tiba meneleponku seperti itu? haha... kamu masih saja terlalu sensitif" tiba - tiba nadanya terdengar sangat ramah, jujur saat itu aku seperti lega dan merasa memiliki harapan
"Jadi anda tidak menyalahkan ku atas apa yang terjadi?" tanyaku
"Bagaimana aku bisa menyalahkan mu? Aku tahu saat itu kamu sangat terintimidasi, berusaha sekuat tenaga dan memperhatikan semua detail tiap korban. Menjadikan nyawa orang lain diatas segalanya, aku memahami mu dengan sangat baik Dokter Lee. Tapi, mendengar suaramu aku tahu kamu membutuhkan pertolonganku segera. ada apa Dokter Lee?" ucapnya tegas saat itu, aku merasa dapat mengandalkannya saat ini
Saat itu nada bicara tuan Simon terdengar serius, karena itulah aku merasa seperti awal pekerjaanku kembali sudah dimulai. Aku berharap ini menjadi langkah pertamaku untuk bisa kembali membawa Aida bersamaku. Aku Pun akhirnya menyampaikan permintaanku dengan rasa profesional.
"Salah satu pasienku saat ini sedang bersama petugas Rick dan Petugas Shane, dia adalah korban perdagangan anak yang dibawa oleh anak yang dulu pernah aku selamatkan, Daniel Osborn... anda ingat? Aku ingin anda membiarkan aku dapat merawatnya dan membiarkannya tinggal bersamaku" aku berkata dengan terburu buru
"Tenang Dokter Lee tenang... aku agak tidak memahami mu, pendengaranku agak terganggu di usiaku saat ini" jawabnya tiba - tiba
"Aah maaf... aku paham, aku sedang dalam kondisi yang tidak baik" ucapku sambil menenangkan diri, aku menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Boleh aku simpulkan secara sederhana, pasienmu dibawa oleh petugas karena dia menjadi saksi bagi suatu kasus dan kamu ingin aku memberikanmu ijin untuk merawat pasien itu. Benar begitu?" ucapnya dengan nada yang tenang
"benar, seperti itu... boleh aku.." belum selesai aku berkata, tuan Simon kembali berbicara padaku
"Kemari Lah Dokter Lee dimana pun kamu berada saat ini!" timpalnya
__ADS_1
"Ten... tentu... aku akan kesana dan akan menjemput Aida" penuh keyakinan aku katakan itu pada Tuan Simon.
"Aida? jadi nama anak itu Aida? Hadiah yang berharga... Apa kamu tahu arti nama anak itu, dokter Lee?" tanya tuan Simon dengan nada yang terdengar antusias
"Aku tahu Tuan Simon, anak itu yang memberitahuku" jawabku singkat dengan helaan nafas
"Aku paham yang kamu khawatirkan sekarang, aku hanya ingin kamu sedikit tenang. Kamu masih menyimpan ponsel yang aku berikan padamu?" tanya Tuan Simon padaku
"Iya, aku masih menyimpannya" jawabku
"Aida akan menelpon mu secepat mungkin di nomer ponselmu" dengan penuh rasa percaya diri tuan Simon mengatakan itu padaku.
"Baik... aku paham..." dengan perasaan lega aku mengatakannya.
"Dengan itu aku pun bisa memantau keberadaan mu, sampai jumpa Andrews Hopkins sahabat lamaku" Terdengar Tuan Simon akan segera mengakhiri percakapan kami.
"Sampai jumpa Tuan Simon dan terima kasih" ucapku dan pembicaraan itu pun berakhir, aku menutup telpon ku
Aku berlari menuju kamar lalu membuka lemari pakaianku, didalam lemari paling dalam aku mengambil sebuah kotak hitam lalu segera membukanya. Disana aku mengambil ponsel pintar ku yang telah lama mati lalu menghidupkannya, bersamaan dengan menunggu ponsel itu untuk hidup tidak lupa aku mengambil sebuah kunci mobil dan membawanya ke sebuah gudang yang tepat berada disebelah rumah.
Aku membuka pintu gudang itu lalu membuka sebuah tudung yang didalamnya terdapat sebuah mobil Aston Martin DB 6 yang masih mulus, aku memasangkan aki mobil itu lalu mencoba menghidupkannya kembali setelah sekian lama mobil ini hanya menjadi pajangan di garasi. Mobil itu bekerja dengan baik, mesinnya menyala tanpa kendala berarti.
"Nostalgia ya DB, aku sering menggunakan mu dulu agar selalu tepat waktu ketika korban - korban itu membutuhkanku sesegera mungkin, sampai saat ini kamu menemaniku untuk lari dari masalahku dan menutupi mu seperti ini. Sekarang aku membutuhkan pertolonganmu lagi DB" gumamku pada mobil itu sampai tiba - tiba ponselku berdering, tertulis nama Simon Dalton pada layarnya dan segera aku mengangkat telepon itu.
"Halo tuan Simon!" sapaku saat itu
"Kamu lari cukup jauh ya, mobil itu masih bekerja dengan baik?" tanya tuan Simon tiba - tiba
"Ya... aku sengaja melepas aki mobil ini dan mematikan ponselku agar anda tidak dapat melacak ku, aku minta maaf untuk itu" penuh penyesalan aku mengatakannya
Selain handphone, tuan Simon menghadiahi aku sebuah mobil yang kini bersamaku. Hal itu dia lakukan sebagai hadiah atas keberhasilanku menangani dan menyembuhkan ratusan anak korban perdagangan dan mental yang terganggu. Namun mobil dan handphone ini memiliki sinyal pelacak, hal itu karena keberadaan ku begitu penting bagi tuan Simon. Dia merupakan salah satu orang yang juga peduli terhadap kesehatan mental anak, dengan aku sebagai dokter yang menangani para anak itu membuat tuan Simon seakan menggantungkan harapannya padaku. Tingkat keberhasilanku pun mencapai seratus persen, sebelum petaka itu datang.
"Tidak apa, aku paham. Dengan kemampuanmu mengendarai mobil itu, kamu akan sampai tiba disini dalam waktu satu hari perjalanan penuh. Sebelum kamu sampai aku pastikan Aida telah menelepon mu lebih dulu, keberadaannya bersama orang yang baik Dokter. Petugas Rick dan Petugas Shane adalah lulusan terbaik dari akademi pada masanya, kamu pantas untuk tetap tenang" ucap tuan Simon, dari apa yang dikatakannya aku tahu saat itu dia menginginkan aku agar tetap tenang.
"Tidak... ada yang tidak beres dengan mereka" ku katakan itu tanpa penjelasan lebih.
"Aku tahu.. Aku tahu... Kejadian kepala Benson West sangat disayangkan, aku juga telah melihat calon - calon yang akan menggantikannya disana. Aku harap kalian akan akrab nanti jika kamu memutuskan untuk kembali ke desa itu bersama Aida" ucap tuan Simon kembali berusaha menenangkan ku.
"Aku paham tuan Simon, hingga aku sampai sana, tolong jaga kesehatan mental Aida. Dia sangat berarti bagiku" pintaku pada Tuan Simon.
"Dimengerti, serahkan padaku Dokter Lee" ucap tuan Siman lalu telepon pun berakhir
Aku segera mematikan mobil itu untuk segera bersiap - siap untuk melakukan perjalanan ke ibu kota, kota yang pernah aku tinggalkan dengan banyak permasalahan disana. Aku harap semua akan berjalan baik - baik saja, aku berharap... sangat berharap...
__ADS_1