Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Kegagalan


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri sebuah koridor yang menuju kesebuah ruang kumpul bagi para dokter jika ada konferensi pers atau acara - acara khusus resmi lainnya, aku yakin Charlotta dan Aida tidak akan ada ditempat itu karena akan sangat berlawanan dengan posisi mereka bersembunyi tadi. Dengan sengaja aku melakukannya agar semakin membingungkan para polisi itu, atas kasus yang terjadi tadi aku masih memiliki kecurigaan pada Rick dan Shane meski harus aku akui Rick yang membunuh pengkhianat itu.


Ditengah bisingnya suara sirine yang ada diluar gedung, aku tetap mencoba untuk meningkatkan kewaspadaan ku. Tidak ingin sedikit pun kendor karena jika itu terjadi, bisa saja aku, Aida, ataupun Charlotta akan celaka. "Tunggu, bagaimana dengan Rachel dan dokter Robert? apa mereka selamat?" tanyaku dalam hati, saat itu aku langsung berlari di persimpangan koridor untuk menuju ruang utama dokter. Disana biasanya para dokter akan berkumpul ditengah istirahatnya saat berkerja, namun aku tidak terlalu yakin jika disaat seperti ini para dokter akan berkumpul disana.


Ketika aku sampai ruang itu, dengan segera aku membuka pintunya dan melihat kondisi ruangan. Disini pun terlihat banyak bekas tembakan baik di kaca maupun ditembok, sepertinya penyerangan itu dilakukan secara merata di semua sudut gedung institusi ini. Sesuai dugaanku, tidak ada lagi orang disini.


Perlahan aku hendak menutup pintu itu, namun aku mendengar suara lemari yang terketuk pelan. Begitu samar tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas jika suara itu berasal dari dalam ruangan, aku mengurungkan niat untuk menutup pintu ruangan itu lalu mengendap - endap berjalan mendekati salah satu lemari yang aku duga suara ketukan itu berasal dari situ.


Hanya dengan berbekal sebuah balok kayu kecil yang dapat aku genggam dengan baik, aku membuka pintu lemari itu perlahan.


"Hiiiii!!" teriak Rachel yang ada didalam lemari, dia terlihat sangat ketakutan dan tubuhnya juga bergetar hebat.


Hal itu pasti berat bagi Rachel, peristiwa penembakan itu memang mengerikan untuk terjadi ditempat yang seharusnya aman untuk berlindung. Aku memahami apa yang Rachel rasakan dan melihatnya ketakutan membuatku ingin segera memberikan rasa aman padanya.


"Rachel!! Rachel!! ini aku!" ucapku mencoba untuk menyadarkannya dari kepanikan


Disaat itu aku menyadari Rachel berusaha untuk menyelamatkan rekan kami sesama dokter yang tertembak tepat pada dadanya, dengan darah yang mengalir begitu banyak sampai membuat baju putih khas dokter kini berubah warna menjadi merah darah. Tubuhnya sudah terbaring kaku dipangkuan Rachel, sepertinya dia tidak bisa diselamatkan lagi. Seketika aku memahami apa yang menjadi ketakutan Rachel ternyata lebih dari yang aku bayangkan. Amarahku terhadap para pelaku penyerangan itupun memuncak.


Mata ini kini menatap untuk mencari cidera yang mungkin dialami Rachel, tapi sepertinya dia hanya terkena noda - noda darah dari rekan kami yang tertembak itu. Aku segera membuang kayu yang aku genggam tadi sembari menarik mayat yang menahan pergerakan Rachel didalam lemari itu, setelah itu tangan ini menarik lengan Rachel untuk mengeluarkannya dari dalam lemari.


Aku berusaha untuk membangunkannya dan mengajaknya untuk mencari tempat aman, namun Rachel mengalami syok berat sampai membuatnya tidak dapat berdiri. Rachel bersimpuh dilantai dan aku segera memeluknya dengan erat, aku berharap dia segera meluapkan emosinya agar aku tahu mentalnya sedang baik - baik saja.


"Rachel.... tenang, semua sudah selesai... kamu aman sekarang" ucapku kembali berusaha menenangkannya, seketika itu tangisan Rachel pun pecah namun hal itu membuatku lega karena tangisan itu menandakan Rachel berhasil mengendalikan syok yang dia alami.


Aku biarkan dia menangis didalam pelukanku, dengan lembut aku membelai rambut panjang Rachel yang tidak seperti biasanya dia biarkan terurai begitu saja saat bekerja. Tidak aneh bagiku melihat seorang wanita histeris dan panik ditengah situasi seperti ini, karena itulah hal yang wajar terjadi pada mereka ditengah situasi antara hidup dan mati. Charlotta adalah pengecualian, pemikiranku tentang siapa sosok sebenarnya Charlotta kembali menggelitik ku. Entah dia kawan atau lawan, namun untuk saat ini aku harus percaya bahwa dia juga berniat untuk menyelamatkan Aida.


"Apa... yang terjadi... Andrews...? kenapa bisa seperti ini...?" tanya Rachel ditengah keheningan kami, aku menghela nafasku sejenak lalu berkata...

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi, tapi akan segera aku cari tahu penyebabnya... saat ini yang pasti hanya lah Aida yang mereka incar, aku akan mencoba untuk menjauhkannya darimu agar kamu tetap aman" jawabku, Rachel mendorongku agar aku melepaskan pelukanku padanya saat itu.


"Itu bukan penyelesaian masalah!! jika memang Aida yang mereka incar, biarkan Aida berada ditempat aman dengan pengawalan militer atau apapun itu!! kamu bukanlah siapa - siapa, Andrews!! kamu juga bisa mati karena hal seperti ini!! jangan paksakan keberuntungan mu!!" timpal Rachel dengan bentakan


Perkataan Rachel tidak sepenuhnya salah namun juga tidak sepenuhnya benar, Aida memang seharusnya berada ditempat yang aman dengan pengawalan yang tepat namun yang aku butuhkan dan inginkan lebih dari itu. Aida adalah pasien yang harus aku tangani, bersamaku Aida menunjukkan peningkatan yang baik dan aku pasti bisa menyembuhkan mentalnya selain itu Aida adalah saksi kunci untuk keterlibatan Daniel dalam kasus mafia ini. Masih banyak yang harus aku pecahkan dan institusi kepolisian masih sulit untuk aku percayai mampu untuk menjaga Aida juga mengungkap kasus besar ini.


"Rachel... kamu tahu aku tidak bisa melakukan itu, Aida sangat penting untuk..." belum selesai aku berkata, Rachel menimpali perkataanku dengan bentakan dan penuh amarah...


"Dia bukan siapa - siapa untukmu!! Kamu bisa mati konyol karena Aida!! mengertilah kalau sampai kamu kenapa - kenapa... aku akan sangat sedih... berhentilah bersikap seperti super hero... kamu bukan siapa - siapa... Andrews..." ucap Rachel, ketika itu dia kembali meneteskan air matanya.


Mungkin dia benar, aku bukanlah siapa - siapa. Berpikir menjadi hero untuk menyelamatkan Aida dari cengkraman para mafia yang berniat untuk membunuhnya, siapa aku? aku hanyalah seorang dokter psikiatri... tidak ada kewajiban untukku menyelamatkannya dengan mengorbankan nyawaku, tapi semua itu jika aku adalah orang yang memiliki tujuan untuk hidup.


Andrews yang sekarang tidak memiliki tujuan hidup kecuali membuat Aida dapat hidup kembali ditengah orang - orang tanpa rasa takut, setelah kejadian yang menimpa Celline... Andrews telah mati bersamanya, begitu pula dengan semua kesombongan dan juga keangkuhannya. Atas nama Sir Steve Smith juga Andrews yang sekarang akan menjadi sosok hero meski itu artinya aku harus mengorbankan satu - satunya nyawaku, semua demi pasien. Aku memiliki tanggung jawab untuk itu, sebagai dokternya dan juga atas sumpah profesiku.


"Aku memang bukan siapa - siapa untuk Aida, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang kamu sarankan. Aku sudah tidak memiliki tujuan hidup selain melindunginya, Rachel" timpal ku dengan tegas


Aku tahu seberapa besar kekhawatiran Rachel kepadaku, cinta yang dia miliki untukku juga masih bisa aku rasakan begitu besar walau aku tidak bisa membalasnya dengan perasaan yang kembali sama. Sejak kepergianku Rachel banyak mengalami kehilangan orang terdekatnya, dia tentu tidak ingin kehilanganku juga. Tapi tekadku untuk kembali menjadi dokter Lee yang berdedikasi dengan sepenuh hati sudah sangat bulat dan tidak ingin aku hentikan, ini juga penebusan dosaku terhadap Celline.


"Rachel maafkan aku atas semua yang terjadi, aku tahu aku sudah menyakitimu dan aku tidak tahu harus bagaimana agar kamu memaafkan mu. Mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa aku ucapkan padamu... hiduplah dengan bahagia tanpa perlu memikirkan tentangku, aku akan selalu mendoakan kebahagiaan mu dan.." belum selesai aku berkata, Rachel menamparku begitu keras dan kami kembali saling terdiam.


Tidak lama Rachel berdiri dengan air mata yang menetes begitu deras membasahi lantai, aku tidak memiliki keberanian untuk menatap wajahnya karena rasa bersalahku yang terlalu besar kepadanya. Tidak lama setelahnya aku melihat Rachel melangkahkan kakinya keluar dari ruang dokter, dia meninggalkanku sendiri di ruangan ini dengan semua rasa bersalahku padanya. Aku membiarkan Rachel berlalu tanpa mengejarnya, aku tidak ingin memberikan harapan untuk Rachel.


Tapi yah sudahlah... hubunganku dengan Rachel memang sudah berantakan sejak delapan tahun lalu, saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa dengan semua hal yang terjadi diantara aku, Rachel, dan Celline. Semua adalah kesalahanku, dokter Lee sudah mengambil semuanya dariku dan kini hanya tersisa pecundang bernama Andrews Hopkins.


Aku berdiri dari bersimpuh ku lalu mengambil taplak meja untuk menutupi jenasah rekanku yang gugur tertembak, setelah memastikan dia sudah tertutup dengan baik saat itu aku segera keluar dari ruangan untuk kembali mencari Charlotta dan Aida. Diujung lorong aku melihat beberapa polisi menyisir tempat ini dan aku pun segera memanggilnya dengan gestur tangan, aku mengatakan jika rekan dokterku ada yang meninggal didalam.


Dengan segera beberapa orang dari tim penyelamat mengevakuasi jenasah, sepertinya keadaan sudah mulai kondusif saat ini dan aku yakin sebentar lagi aku akan dapat penjelasan tentang apa yang terjadi. Aku hanya berharap Aida dan Charlotta benar - benar berada ditempat yang aman, karena antara kawan dan lawan benar - benar tidak jelas perbedaannya.

__ADS_1


Seorang polisi mendekatiku dan bertanya tentang keadaanku, aku mengatakan padanya jika aku baik - baik saja dan aku segera berlalu begitu saja meninggalkan mereka untuk mencari keberadaan Aida dan Charlotta. Melihat kegaduhan didalam gedung institusi ini, sepertinya keadaan diluar sudah benar - benar dapat teratasi dengan baik. Setidaknya aku tidak lagi mendengar suara tembakan, hanya tersisa suara sirine yang saling bersahutan.


Di Koridor lantai dua aku menyusuri setiap ruangan, sampai akhirnya aku sampai disebuah ruang kepala dokter. Seketika itu aku teringat aku belum juga mengetahui bagaimana keadaan dokter Robert sejauh ini, aku mengetuk pintu itu beberapa kali namun tidak ada jawaban dari seseorang, entah apa dokter Robert sudah pergi atau malah sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Aku membuka pintu secara perlahan lalu mengintip bagian dalam ruangan untuk memeriksa keadaan didalam lewat celah kecil yang terbuka, namun keadaan disana terlihat baik - baik saja tanpa ada tanda - tanda jika ruangan ini mendapatkan serangan. Tidak seperti ruangan lain yang terlihat kacau akibat dari peluru, disini benar - benar tidak tersentuh sedikitpun oleh peluru yang ditembakkan para penjahat.


Heran... tapi aku tetap berusaha untuk berpikir positif, mungkin para penjahat itu tidak menembak karena memang tidak terlihat orang didalam ruangan ini. Tidak seperti ruangan lain yang terlihat adanya aktifitas, ruang kepala dokter memang khusus untuk satu orang dan mungkin saja dokter Robert tidak sempat masuk kedalam ruangan saat penyerangan terjadi.


Aku ingin menutupnya kembali, tapi sebuah berkas diatas meja menarik perhatianku. Hanya ada satu berkas dengan map yang nampak tidak asing bagiku, aku sangat mengenali berkas apa itu karena aku pernah bekerja disini untuk waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Map itu adalah map khusus untuk setiap peserta tes masuk di institusi, adalah aku satu - satunya calon dokter setidaknya di tahun ini yang mendaftar dipertengahan tahun.


Setelah menguatkan tekad, aku pun memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan dan mengambil berkas itu. Perlahan aku membukanya dan membaca setiap hasilnya, namun hal yang membuatku terkejut adalah kenyataan jika aku gagal di semua tes. Aku tidak berhasil lolos kompetensi sebagai dokter psikiatri dan yang lebih mengejutkan bagiku adalah kenyataan jika aku mengalami gangguan kejiwaan tahap awal, aku dinyatakan mengalami gangguan psikotik.


Aku tidak dapat berkata - kata saat itu, aku telah membaca semua datanya dan jikapun aku harus jujur maka aku katakan jika aku memang bisa dinyatakan menderita psikotik lewat data - data yang sudah tertulis ini. Tapi aku tidak merasa aku mengalaminya, apapun yang sudah aku katakan dan ceritakan itu adalah sebuah kebenaran. Sudah kesekian kali ketakutanku benar - benar menjadi kenyataan. Aku tidak berhalusinasi dengan itu semua, ini adalah sebuah penghinaan terhadapku.


Aku menutup berkas itu lalu aku letakkan kembali diatas meja tepat seperti posisinya semula, aku akan bersikap tidak tahu akan hasil yang baru saja aku baca itu. Entah kenapa dokter Robert tidak segera memberitahuku tentang hasil ini, tapi dia pasti akan beralasan jika serangan pagi ini adalah penyebab dia tidak segera memberitahuku tentang hasil yang sudah dia dapat dari tes kompetensi ku. Aku tidak sabar mendengar alasannya meski aku sudah tahu itu akan menjadi jawaban klasik, aku sudah tahu apa yang akan terjadi kedepannya.


"Andrews!! apa kamu masih ada didalam?!! Andrews!! ini Simon Dalton yang berbicara!!!"


Suara tuan Simon yang diperkeras dengan pengeras suara terdengar jelas di telingaku, aku segera berlari menuju sebuah ruangan dimana aku akan dapat melihat keluar dari jendela yang terdapat di ruangan itu. Dibalik jendela aku melihat area parkir gedung ini sudah dipenuhi oleh penjagaan ketat dari polisi, suasana diluar juga sudah sangat terlihat aman dan kondusif. Aku membuka jendela kaca itu lalu menatap tuan Simon dari lantai dua, entah sejak kapan dia berada disana.


"Tuan Simon!! aku baik - baik saja!!" teriakku untuk menarik perhatiannya, dengan senyum yang terlihat lega tuan Simon menatapku.


"Syukurlah kamu selamat!! bagaimana dengan Aida dan Charlotta?!" masih berbicara dengan menggunakan pengeras suara tuan Simon mengatakannya, aku takut seorang pengkhianat yang berada didalam gedung akan mendengarkan pembicaraan kami dan dia memiliki harapan untuk mencari keberadaan Aida dan Charlotta lebih dulu daripadaku aku.


"Dia ada bersamaku!! mereka baik - baik saja!! aku akan segera turun dan menemui anda!!" jawabku lalu kembali menutup kaca jendela itu setelah mendapatkan gestur tangan dari tuan Simon.


Aku berlari untuk mencari keberadaan Aida dan Charlotta dan aku yakini satu hal, yaitu mereka berdua belum ditemukan oleh siapapun dan juga keduanya berada di gedung yang sama denganku.

__ADS_1


__ADS_2