Ketakutan Aida

Ketakutan Aida
Permintaan Simon Dalton


__ADS_3

Setelah membiarkan Aida menangis didalam pelukanku beberapa saat, dia pun tertidur begitu pulas disebuah sofa yang tersedia diruang kerja milik tuan Simon. Aku, Rachel, dan dokter Robert berkumpul disebuah ruang terpisah yang masih menjadi satu kesatuan dari ruang kerja tuan Simon, namun cukup lama kami masih saling terdiam larut dalam pikiran kami masing - masing. Kejadian mengerikan yang menimpa kami membuat kami mengalami syok dan trauma, terutama bagi Rachel yang aku yakin dia tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan menimpanya.


Dokter Robert... salah satu orang yang paling membuatku menaruh curiga paling besar saat ini, meski aku melihat raut wajah yang terlihat menyimpan ketakutan darinya namun kenyataan jika ruang kerjanya di gedung perlindungan saksi dan korban tidak tersentuh membuatku bertanya - tanya. "Bagaimana mungkin ketika hampir semua ruangan terkena tembakan, hanya ruangan dokter Robert yang terlihat baik - baik saja?" tanyaku dalam hati, aku memang melamun saat itu namun tatapan mataku tertuju pada dokter Robert.


"Ehem... lalu apa yang akan kita lakukan kedepannya? aku bingung harus bagaimana setelah kejadian seperti ini menimpaku, tentu aku tidak bisa bekerja secara normal kan?" celetuk Rachel memecah keheningan diantara kami, aku pun mengalihkan pandanganku menatapnya.


Dedikasi Rachel memang begitu tinggi, bahkan kejadian yang sangat mengerikan ini tidak menyurutkan niatnya untuk terus melanjutkan tugasnya. Rachel seperti tidak memikirkan jika hal serupa akan kembali terjadi padanya, tapi perkataan Rachel memanglah benar karena kerusakan yang terjadi pada gedung itu sangatlah parah.


"Yah, gedung mengalami kerusakan parah. Aku akan segera meminta dana kepada perdana menteri dan dewan untuk memperbaiki gedung itu, tentu akan menghabiskan banyak dana dan juga waktu. Namun aku yakin semua akan baik - baik saja" jawab dokter Robert


"Apa aku masih harus melakukan absensi rutin, dokter? jika tidak, mungkin aku bisa mengajukan cuti" ucap Rachel


"Maaf, aku tidak bisa memberikanmu izin cuti" jawab dokter Robert seraya menghela nafasnya


Berada diantara dua orang yang saling berbicara membuatku hanya bisa terdiam sembari sesekali mendengarkan obrolan antara Rachel dan dokter Robert karena memang kami sedang dalam satu ruangan yang sama. Aku terdiam dengan banyaknya pertanyaan yang mengganggu ketenanganku, sejak kedatangan Aida kehidupan yang aku jalani menjadi penuh misteri. Aku ingin segera memecahkan semuanya dengan baik agar kejadian yang mengerikan ini segera berakhir.


"Kenapa? apa lagi yang bisa aku lakukan disaat seperti ini?" terdengar lagi suara Rachel dengan nada yang begitu kecewa atas jawaban dokter Robert, aku bisa mengerti kenapa dia kecewa namun disisi lain aku paham kenapa dokter Robert menolak pengajuan cuti dari Rachel.


"Kita masih tidak tahu berapa banyak dokter dan pasien kita yang selamat, setidaknya beri aku waktu lebih untuk menentukan keputusan dari pengajuan cuti mu itu" jawab dokter Robert


"Baiklah... setidaknya kita tahu jika ada tiga dokter disini untuk sementara..." dengan helaan nafas Rachel mengatakannya, tidak lama dokter Robert berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati sebuah meja dan mencari sesuatu didalam sebuah tas yang berada diatas meja itu.


"Ucapanmu mengingatkan aku akan sesuatu" sembari merogoh isi dalam tas dokter Robert mengatakannya, aku mengernyitkan dahiku dan terus menatap kearah dokter Robert.


Tidak lama benda yang dicari oleh dokter Robert berhasil dia temukan setelah cukup lama mencari - cari, aku melihatnya berbalik dan berjalan mendekatiku sembari membawa sebuah kartu akses ditangan kanannya. Dokter Robert memberikan kartu akses itu kepadaku, ketika aku menerimanya aku baru mengetahui jika itu adalah kartu izin kedokteran ku dan secara tidak langsung aku dinyatakan lulus tes. "Apa dia bercanda?" tanyaku dalam hati, aku merasa sedikit marah saat itu.

__ADS_1


Setelah mengetahui hasil ujianku secara tidak sengaja diruang kerja dokter Robert, aku merasa marah akan hasilnya. Seakan dokter Robert sengaja memberikan penilaian jelek terhadapku agar aku dan Aida bisa terpisah, aku tahu itulah yang sedang terjadi. Aku tidak menampik kenyataan jika aku kadang - kadang merasa sedikit gila dengan apa yang telah terjadi padaku akhir - akhir ini, emosiku pun kadang kala tidak terkontrol disaat - saat tertentu. Tapi aku masih sadar dan dapat menjaga kewarasanku, aku masihlah seorang dokter psikiatri. Bukankah seharusnya kartu akses ini tidak aku dapatkan jika hasil dari tes yang aku jalani mengalami banyak kegagalan? Lalu apa maksud dokter Robert memberikan kartu ini kepadaku? Masihkah aku dihadapkan dengan hal yang harus ku pecahkan sendiri jawabannya?


"Dokter Lee, seharusnya tidak seperti ini upacara penyambutan dokter baru namun kamu tahu kondisi kita tidak baik untuk melakukan upacara penyambutan yang layak. Jadi aku harap kamu bisa menerima ini dengan lapang dada, selamat bergabung bersama kami" ucap dokter Robert padaku setelah aku menerima kartu akses yang menjadi identitas resmi ku menjadi dokter


Raut wajah dokter Robert saat itu seperti tidak mempunyai masalah apapun dengan penerimaan ku kembali sebagai dokter psikiatri, bahkan kalimat yang dia katakan begitu tenang dan meyakinkan membuat seolah hasil ujian yang aku lihat adalah sebuah kesalahan.


"Apa ini, dokter Robert?" tanyaku sedikit menekannya, aku terus menatap kartu akses yang tertera nama samaran, foto diriku, dan juga nomor induk.


"Itu kartu anggota kedokteran di gedung perlindungan, apa kamu lupa?" timpal Rachel, aku tertawa sinis mendengar perkataan Rachel saat itu.


Entah apa yang ada dipikiran Rachel dan dokter Robert melihatku bersikap aneh, aku yakin mereka keheranan dengan ekspresi yang aku tunjukkan namun aku tidak peduli karena aku lelah untuk berada dilingkungan yang penuh dengan banyak teka - teki.


"Benarkah aku diterima? apa yang sebenarnya sedang terjadi? apa anda tidak salah, dokter Robert?" tanyaku setelah puas tertawa, aku pun menatap wajah dokter Robert yang terlihat bingung.


"Apa... yang anda katakan, dokter Lee?" terdengar kebingungan dokter Robert saat mengatakannya


"Ini omong kosong!!" bentak ku sembari membuang kartu akses itu ke lantai, aku pun berdiri dan berhadapan langsung dengan dokter Robert.


"Andrews!! aku peringatkan kamu untuk hentikan apapun yang kamu pikirkan saat ini!!" Rachel kembali membentak ku, dia pun berdiri lalu menghalangiku untuk dekat dengan dokter Robert.


Aku terus menatap mata dokter Robert dengan tajam, marah? tentu saja, tidak ada alasan untukku tidak marah padanya. Aku yakin ada sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan rencana dokter Robert saat ini sehingga aku harus dinyatakan lulus, mungkin karena Aida masih bertahan hidup sejauh ini.


Jika aku disingkirkan saat ini, aku yakin para penjahat ini akan berpikiran jika aku akan membawa kabur Aida dan mereka akan kembali kesulitan untuk melacaknya. Sehingga untuk menahan Aida tidak jauh dari pengawasan mereka, rencana penyingkiran ku pun harus ditunda untuk sementara. Namun sayang sekali, aku sudah dapat membaca semua rencana busuk mereka. Dokter Robert adalah salah satu pion dari rantai kejahatan ini, aku harus mengungkap rahasia dimulai dari dia.


"Dokter Lee... ada apa ini?" tanya dokter Robert terbata

__ADS_1


Aku menyingkirkan Rachel dengan mendorongnya ke kananku lalu segera memukul wajah dokter Robert dengan kuat, dia pun tersungkur dilantai. Tidak berhenti sampai disana, aku kembali menghantam pipi dan wajahnya beberapa kali sampai dia berdarah - darah.


Kalap, saat itu aku benar - benar dikuasai amarahku padanya. Aku bahkan tidak mempedulikan sekitarku lagi sampai sebuah tenaga yang begitu kuat menarik ku yang saat itu duduk menindih tubuh dokter Robert agar aku dapat memukulinya bertubi - tubi, aku ditarik menjauhi dokter Robert yang terkapar dilantai dan menahan tubuhku agar aku tidak bisa kembali mendekati dokter Robert. Barulah aku sadar jika beberapa polisi yang menarik dan menahan ku saat itu, tapi itu tidak membuatku kendur untuk kembali menghantamkan tinjuku padanya.


"Andrews!! hentikan kebodohanmu!!!" bentak tuan Simon saat itu, sekejap rasa amarahku mereda mendengar suara berat dan terdengar berwibawa itu.


Aku menoleh mencari sumber suara itu, tuan Simon berdiri di pintu masuk ruang kerjanya. Dia menatapku dengan tatapan penuh kesedihan, aku tidak tahu kenapa dia menatapku seperti itu. Aku pikir dia akan menunjukkan amarah karena aku sudah mengacak - acak ruang kerjanya, namun tidak ada amarah apapun saat itu melainkan sebuah tatapan penuh kesedihan. "Apa itu? kenapa dia menatapku seperti itu?" tanyaku dalam hati, benakku meracau.


"Kalian, bawa dokter Robert untuk dirawat" perintah tuan Simon pada dua anak buahnya yang berdiri tepat dibelakang


Tanpa banyak tanya, keduanya pun berjalan mendekati dokter Robert dan membawanya keluar dari ruangan. Setelah pintu tertutup, aku mendengar suara helaan nafas tuan Simon yang begitu berat. Dia berjalan mendekatiku yang masih ditahan oleh dua orang polisi, dengan keras tuan Simon pun menamparku ketika kami sudah berdekatan.


"Apa kamu sudah sadar dari kegilaanmu?" tanya tuan Simon, aku hanya bisa terdiam dengan tatapan yang masih terasa berkunang - kunang.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?" tanyanya lagi sembari berjalan mendekati Rachel


"A.. aku tidak tahu... dia... tiba - tiba dia marah dan menyerang dokter Robert begitu saja tanpa memberikan alasan apapun" jawab Rachel terdengar dia berbicara sembari menangis


"Andrews, duduk lah" perintah tuan Simon padaku


"Tapi.." belum selesai aku berkata, tuan Simon memotong dengan bentakan.


"Duduk!!" begitu keras suaranya sampai terasa menggema di ruangan itu


Entah kenapa tubuh ini terasa tidak berdaya, tanpa aku sadari tubuhku berjalan sendiri menuju sebuah sofa ketika kedua polisi yang menahan tubuhku sejak tadi melepaskan tangannya dariku. Ketika aku duduk, kepalaku terasa menunduk sendiri dan aku tidak berani untuk menatap mata tuan Simon secara langsung. Aku seperti seorang anak remaja yang akan dimarahi oleh ayahnya setelah melakukan kesalahan, jantungku berdetak kencang setelah mendengar bentakan tuan Simon padaku.

__ADS_1


Tidak lama aku merasakan tuan Simon duduk di depanku yang terpisah oleh sebuah meja kecil, mataku saat itu dapat sedikit melihat sepatu tuan Simon dilantai dan diatas meja aku melihat tuan Simon melempar kartu aksesku. Aku benar - benar tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menatap matanya, aku hanya bisa terus menatap kartu akses itu tanpa melakukan apapun.


"Sepertinya insting polisi tua ini masih sangat kuat, aku bisa tahu motif dari kemarahan mu... Andrews, akulah yang meminta dokter Robert memberikanmu kartu akses itu dan meluluskan mu meski kamu tidak memiliki kompetensi untuk melakukannya" ucap tuan Simon


__ADS_2