KING OF KINGS

KING OF KINGS
Bab 1 : NASIB SIAL


__ADS_3

Bab 1 : NASIB SIAL


Dziban memanjat sebuah pohon apel yang lumayan besar dan tinggi, lalu duduk santai sambil meluruskan kedua kakinya diatas dahan pohon tersebut. Rambutnya berwarna hitam pekat dengan beberapa helai rambut bagian depannya yang berwarna putih keperakan, rambutnya tersisir rapi kekanan hingga terurai di pipi kanannya, bagian kiri dan kanannya dipotong lebih tipis, dan bagian belakangnya terlihat seperti ekor burung, terlebih lagi terurai sepunggung. Pupil matanya berwarna merah menyala, bertubuh tinggi dan berkulit putih, saat ini berumur 10 tahun. Ia mengenakan hodie putih bertudung sebagai atasan, celana panjang dan sepatu kets hitam sebagai bawahan.


"Tolong! Siapapun tolong aku! Aku mohon!"


Dari kedalaman hutan tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang gadis, suaranya sangat keras sampai terdengar jelas ditelinganya.


Dziban langsung turun dari pohon tersebut, dan tentu saja tidak dengan cara melompat langsung, karna ketinggiannya tidak kurang dari 10 meter, bisa dipastikan kedua kakinya akan patah.


Tidak sampai 1 menit ia sudah menginjakkan kaki diatas permukaan tanah, mungkin ia sudah biasa melakukannya sehingga bisa turun secepat itu, orang biasa tidak mungkin bisa melakukannya dan perlu latihan berbulan-bulan.


Tak pikir panjang ia langsung melesat kearah suara tersebut, dan menemukan seorang gadis kecil berambut kuning yang diganggu oleh beberapa orang pria yang seumuran dengannya. Gadis itu berumur 6 tahun, dan pria yang mengganggunya berumur 10 tahun, terlebih lagi jumlahnya 4 orang.


"Hei kalian! Berhenti mengganggunya!" Teriak Dziban yang seketika itu membuat keempat pria tersebut melihat kearahnya.


"Hehe... Sepertinya rencana kita berhasil, akhirnya kau keluar juga bocah minus." Ucap seorang pria berambut biru, pupil matanya hitam pekat seperti manusia pada umumnya. Dziban mengenal jelas pria itu, namanya Belial, salah satu dari sekian banyak orang yang sering mencari masalah dengannya.


Mendengar respon Belial, Dziban langsung mengetahui sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.


"Hmm... Jadi begitu ya... Keempat pengganggu itu sengaja menyuruh gadis itu berteriak agar bisa memancingku keluar. Rencana yang sangat matang, sepertinya mereka sudah merencanakannya dari beberapa hari yang lalu." Pikir Dziban penuh waspada.


Seorang pria berambut hijau tua berjalan kearah Dziban, pupil matanya juga berwarna hitam. Tentu saja Dziban juga mengenal pria itu, namanya Orchen, pengganggu yang sekomplotan dengan Belial.


Tak pikir panjang Dziban langsung membalik badannya, lalu berlari sekencang mungkin, berusaha menjauh dari mereka. Namun usahanya itu sia-sia, tiba-tiba saja seorang pria berambut hitam muncul didepannya, menghadang jalannya untuk kabur dan secara otomatis membuatnya menghentikan langkah.

__ADS_1


Pria itu berpupil mata kuning, namanya Alex, ia sama saja dengan mereka dan merupakan orang terkuat diantara mereka. Diantara mereka, hanya ia yang berumur 12 tahun.


"Sudah kutebak ada yang kurang dari kelompok mereka, dan akhirnya muncul juga sekarang." Pikir Dziban.


"Sudahlah... Tidak ada gunanya kau kabur, pasrah saja." Ucap Alex dengan senyum mengerikan yang menghiasi wajahnya.


"Benar! Lebih baik kau diam dan terima saja nasibmu!" Sahut seorang pria berambut dan berpupil mata hitam, namanya Broz.


"Kebetulan saat ini aku membutuhkan bahan percobaan untuk mengetes Mythical art yang baru saja kupelajari." Timpal Jazz, seorang pria berambut coklat dan berpupil hitam.


"Kalian-"


Buak


Belum sempat Dziban menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan dari Belial tepat mengenai wajahnya dan membuatnya terjatuh beberapa meter dari tempat awal. Belum sempat ia bangkit berdiri, Orchen menarik kedua kakinya dan melemparnya keatas, dilanjutkan dengan Alex yang tiba-tiba muncul diatas dan menendang wajahnya hingga membuatnya terjatuh membentur tanah.


"Sudah-sudah! Aku belum kebagian!" Protes Jazz.


"Kalau begitu ayo kita selesaikan, aku ada urusan yang belum diselesaikan. Gunakan gerakan yang sama, biarkan Jazz melakukan serangan terakhir!" Perintah Alex.


Secara tiba-tiba Belial muncul dihadapan Dziban dan langsung mencekik lehernya, lalu mengangkatnya. Ia mengepalkan tangannya keras-keras sebelum akhirnya melepaskan pukulan mengenai perut Dziban.


Dziban terhempas tak berdaya, wajahnya sudah babak belur dari serangan sebelumnya. Serangan Belial disambut oleh Orchen dengan sebuah tendangan lurus yang membuat Dziban kembali terhempas, kali ini kearah Alex.


Alex mengangkat kaki kanannya lurus keatas, kemudian menyerang perut Dziban dengan ujung tumit kakinya. Dziban terhempas cepat membentur tanah dan terpental melayang kembali diudara, sejajar dengan kepala Alex.

__ADS_1


Dengan sangat cepat Alex melesat dari tempatnya, dan secara tiba-tiba Bros muncul menggantikannya. Dengan kaki kanannya Bros menendang punggung Dziban hingga membuatnya terhempas jauh keatas "Haha... Pertunjukan kali ini lebih menarik daripada yang sebelumnya! Teruslah terbang keatas!"


"Jazz, sekarang giliranmu. Aku ingin lihat sekuat apa mythical art yang kau bilang itu." Ucap Alex santai.


"Baiklah, inilah saat yang kutunggu-tunggu!" Pikir Jazz percaya diri.


"Elemental art : Land Soars High!" Teriaknya sambil memukulkan kedua tangannya ketanah.


Beberapa saat setelahnya tanah berguncang, meski tidak terlalu kuat sudah cukup untuk mengejutkan orang. Dihadapannya muncul sebuah tebing dari dalam tanah, terus meninggi keatas. Semua yang melihatnya menganga sejenak, bahkan Alex pun sempat melakukannya.


Ujung tebing tersebut menyerang punggung Dziban yang masih melayang diatas langit, karna kecepatannya dampak serangan itu semakin bertambah kuat. Dziban merasakan sakit yang luar biasa, beberapa tulang punggungnya patah, dan ia terdorong semakin tinggi keatas. Setelahnya, tebing itu pun kembali masuk kedalam tanah.


Dziban mulai kehilangan kesadarannya, namun ia menolak untuk itu. Pandangannya mulai buram, dipaksakannya untuk tetap sadar. Sementara itu, tubuhnya perlahan-lahan terjatuh keatas tanah.


Dhuar


Tubuhnya membentur tanah dengan keras, membuat sebuah kawah dipermukaan tanah. Karna itu, kesadarannya sudah menghilang, ia tidak dapat mempertahankannya lagi.


"Sepertinya ia sudah pingsan, kalau begitu ayo pergi, kita tinggalkan saja dia." Ajak Alex yang kemudian berlalu pergi.


"Mythical art yang bagus! Tak kusangka kau bisa mendapatkan yang jenis elemental!" Puji Orchen sambil menepuk pundak Jazz, kemudian berjalan bersama menyusul Alex.


"Ayo pergi juga!" Belial mengajak Broz.


"Eh, tunggu dulu. Ngomong-ngomong dimana gadis tadi?" Tanya Broz kebingungan.

__ADS_1


"Hehe... Aku sudah menyuruhnya pergi duluan, kira-kira beberapa menit yang lalu." Jawab Belial.


"Baguslah, kalau begitu ayo pergi juga." Broz mengajak balik sebelum akhirnya berlalu pergi bersama Belial.


__ADS_2