KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 17 : WARISAN DEWA DAN MALAIKAT


__ADS_3

Lawrance tersenyum mendengar ucapan Dziban, lalu melancarkan serangan yang sama seperti sebelumnya. Dampaknya masih sama seperti yang sebelumnya, hingga akhirnya total serangan yang sudah diterimanya berjumlah 10. Dziban langsung terkapar pingsan diatas permukaan tanah, tak sadarkan diri lagi. Lawrance kembali melakukan hal yang sama, memasukkan pil Green Leaf kedalam mulut Dziban dan menunggunya sadar.


"Guru, apa kita akan melanjutkan latihan kedua ini lagi?" Tanya Dziban sambil beranjak bangkit, ia sudah tersadar dari beberapa detik yang lalu.


"Tidak, setiap harinya cukup 10 serangan saja. Sekarang kita lanjutkan kebagian latihan ketiga, yaitu menumbangkan 10 pohon yang ada dihutan ini dengan mengandalkan kemampuan fisik." Jawab Lawrance.


Dziban langsung berjalan menuju pohon yang paling dekat dengan lokasinya saat ini, lalu mulai memukulnya. Latihan ketiga ini memang tidak terlalu sulit, tapi yang menjadi rintangannya adalah tangan yang terasa sakit karna memukul benda sekeras itu. Baru saja ia selesai menumbangkan 7 pohon, kedua tangannya sudah berdarah. Kakinya pun mengalami hal yang sama, ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melancarkan serangan selanjutnya.


"Tidak! Tidak boleh! Aku harus menyelesaikan latihan ini! Aku sudah muak dengan sebutan sampah yang mereka berikan padaku!" Pikir Dziban saat mengingat kembali kata-kata Lawrance.


Ia mengangkat tangan kanannya sekuat tenaga, dan melancarkan pukulan menyerang batang sebuah pohon dihadapannya. Pukulannya tidak berefek apapun, malahan ia merasa kesakitan setelah melancarkan serangan itu.


Bruukkk


Tubuhnya sudah tidak bisa ditahan lagi, ambruk terkapar diatas permukaan tanah. Akan tetapi kata-kata yang diucapkan Lawrance terus mengganggu pikirannya, ada 1 kata yang terus bergema dipikirannya, yaitu "Kalau kemampuanmu hanya ini saja, tidak salah mereka menyebutmu sampah."


Pikirannya diganggu lagi oleh hal lainnya, yaitu hinaan dari semua orang padanya. Semua kata-kata hinaan orang-orang itu bergema dikepalanya, terus berganti tanpa henti.


"Tidak! Tidak! Kumohon, hentikan! Kumohon... Hentikan!" Pikir Dziban ketakutan.


Tanpa disadarinya, hawa membunuh yang sangat kuat terpancar dari tubuhnya. Bagi Lawrance, hawa membunuh itu memang tidak ada apa-apanya. Tapi bagi para beast tingkat 2 kebawah yang menghuni hutan ini, hawa membunuh itu sangatlah dahsyat, bahkan mereka semua terbunuh karnanya.


Seiring berjalannya waktu, hawa membunuh itu semakin bertambah pekat, bahkan sudah melapisi sekujur tubuhnya. Dalam waktu beberapa menit saja, hawa membunuh itu sudah menyelimuti tubuh Dziban sampai membuatnya tidak terlihat lagi.


"Hentikan!!!" Teriak Dziban penuh amarah.


Whuzzz

__ADS_1


Gelombang energi kegelapan yang sangat kuat terpancar dari tubuhnya, menyebar kesegala penjuru hutan. Tidak peduli sekuat apapun beast yang menghuni hutan ini, semuanya langsung terbunuh dalam sekejap oleh gelombang energi tersebut. Lawrance juga terdorong mundur beberapa cm karnanya, dan pohon-pohon yang tumbuh dalam radius 10 meter langsung tumbang karnanya.


"Hmm... Sepertinya malaikat Raphael dan dewa Ashura sudah memberikan warisan mereka pada bocah ini. Beruntung sekali, keberuntungannya memang tidak terbatas." Pikir Lawrance sambil tersenyum memandangi Dziban.


Hawa kematian yang menyelimuti tubuhnya perlahan-lahan menghilang, dan penampilannya pun sedikit berubah. Perubahannya hanya terletak pada kedua matanya, pupil mata kirinya berubah menjadi pupil naga berwarna merah dengan bagian putihnya yang berubah warna menjadi hitam pekat, sedangkan mata kanannya sepenuhnya berubah menjadi mata Phoenix yang terlihat seperti kobaran api berwarna biru menyala.


"Guru, apalagi yang harus kulakukan?" Tanyanya sambil menatap Lawrance.


"Terimalah seranganku tanpa harus meminimalisirnya dengan energi Mythical mu, hanya 3 serangan saja sudah cukup." Jawab Lawrance.


"Baiklah! Kalau begitu murid ini akan berusaha untuk menahannya!" Ucap Dziban tegas sambil memasang kuda-kudanya.


"Mythical art : Death Poison Spear!" Teriak Lawrance sambil mengangkat tinggi telapak tangan kanannya. Seketika itu pula, muncullah sebuah tombak raksasa diatas telepak tangan kanannya. Tombak itu memiliki bentuk yang unik, panjangnya kurang dari 2 meter dan mata tombaknya sangatlah besar. Mata tombaknya berwarna hijau muda menyala, sedangkan tongkatnya berwarna hitam pekat.


"Meluncurlah!" Teriaknya sambil melemparkan tombak raksasa tersebut kearah Dziban.


Craattt


"Immortality! Ternyata Mythical art itu yang diwariskan malaikat Raphael pada bocah ini. Sedangkan dewa Ashura mewariskan Mythical art terkuatnya, yaitu Heart Slaying Rays." Pikir Lawrance sambil tersenyum kecil.


Secara tiba-tiba saja, seluruh tubuh Dziban yang berserakan menyatu kembali. Tubuhnya kembali seperti semula, begitupun dengan celana pendek yang dikenakannya. Tidak ada bekas luka sedikitpun ditubuhnya, sangat normal seolah tidak pernah terjadi apapun padanya, padahal yang sebenarnya ia sudah mati dengan sangat mengenaskan.


"Guru, silahkan lanjutkan kembali serangannya." Ucap Dziban sambil memasang kuda-kudanya.


"Apa dia akan baik-baik saja jika aku menyerangnya dengan Mythical art tingkat 10 bintang 10?" Pikir Lawrance sedikit ragu.


"Guru, aku sudah siap!" Dziban menyadarkan Lawrance dari lamunannya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu kita coba saja." Pikir Lawrance sebelum akhirnya mengangkat tinggi telapak tangan kanannya. Seketika itu pula, muncul sebuah gelombang energi emas berbentuk teratai raksasa diatas telepak tangan kanannya.


"Mythical art : Golden Lotus Sky Doze!" Teriaknya sambil melemparkan teratai raksasa tersebut kearah Dziban.


Dbuaarrr


Muncul ledakan yang sangat dahsyat karna serangan itu, tubuh Dziban berubah menjadi abu karnanya. Namun terjadi sesuatu mustahil seperti yang sebelumnya, abu-abu itu kembali menyatu membentuk tubuhnya. Dalam beberapa saat saja tubuhnya sudah kembali seperti semula, tanpa ada luka sedikitpun yang menghiasi.


"Hebat! Mythical art ini memang diciptakan langsung oleh dewa! Bahkan hanya dengan memilikinya, seorang Mythical tingkat Silver bintang 9 bisa menahan serangan Mythical art tingkat 10 bintang 10 dari seorang Mythical legendaris sepertiku. Setelah ini, aku yakin tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya, bocah ini akan menjadi orang terkuat yang pernah ada didunia." Pikir Lawrance.


"Guru, silahkan lancarkan serangan terakhirmu." Ucap Dziban sambil memasang kuda-kudanya kembali.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menggunakan salah satu dari 100 Mythical art terkuat yang kumiliki. Aku ingin lihat, kau masih bisa bertahan apa tidak setelah terkena serangan kali ini." Pikir Lawrance sebelum akhirnya mengeluarkan Mythical Weapon miliknya.


Seketika itu pula, pedang Excalibur langsung muncul dihadapannya. Pedang itu memiliki bentuk yang unik, gagangnya berwarna emas mengkilap dan bilahnya juga memiliki warna yang sama. Lawrance langsung menggenggam gagang pedang itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi "Mythical art : No Man's Death!"


Seketika itu pula, bilah pedangnya terselimuti oleh aura hitam yang sangat pekat. Baru saja ia melangkahkan kakinya sekali kearah Dziban, secara tak kasat mata ia sudah berada dibelakangnya. Kini, punggung mereka saling membelakangi, dan jarak diantara mereka hanya 1 meter.


Craattt craattt craattt


Secara tiba-tiba tubuh Dziban terpotong-potong menjadi ribuan bagian kecil, dan berserakan diatas permukaan tanah. Tidak hanya itu, beberapa saat kemudian setiap potongan tubuhnya terbakar oleh api hitam pekat, dan lenyap tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.


Akan tetapi beberapa saat kemudian, Dziban muncul kembali dihadapan Lawrance. Tidak terlihat sedikitpun luka pada tubuhnya, semuanya normal seolah tidak pernah terjadi apapun padanya.


"Mythical art ini ternyata terlalu hebat dari yang kubayangkan! Aku penasaran, ia memiliki kelemahan atau tidak?" Pikir Lawrance yang seketika itu pedangnya perlahan-lahan menghilang.


"Sudahlah, kalau begitu mode ini kita hentikan dulu. Latihanmu masih harus dilanjutkan, aku sudah puas bermain-main denganmu." Ucap Lawrance sambil melayang mendekati Dziban, lalu memukul bagian belakang lehernya.

__ADS_1


Seketika itu pula, Dziban langsung pingsan dan terjatuh ketanah. Penampilannya sudah kembali seperti semula, kedua matanya tidak seperti yang sebelumnya lagi. Lawrance kembali menunggunya untuk sadar, tak lupa ia memasukkan pil Green Leaf kedalam mulutnya terlebih dahulu.


__ADS_2