KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 30 : UJIAN KEEMPAT


__ADS_3

Pagi harinya, sebangun dari tidurnya Dziban langsung membersihkan badannya, lalu memasang pakaiannya sambil bercermin. Sweater putih bertutul hitam, ceana jeans hitam panjang, dan sepatu kets berwarna hitam, itulah pakaian yang dikenakannya saat ini.


Setelah itu, iapun bergegas menuju arena. Ia sengaja tidak sarapan dirumah karna sudah berjanji akan sarapan bersama Aurora disebuah restoran yang tidak jauh dari arena. Setibanya disana, terlihat 14 peserta yang tersisa sudah berkumpul diatas arena, Aurora juga ada disana.


"Hei, kenapa kau belum naik keatas arena?" Tanya seorang gadis sambil menepuk pundaknya dari belakang.


Ia menoleh kebelakang dan mendapati seorang gadis berambut biru tua mengkilap telah tersenyum lembut padanya, pupil mata gadis itu juga berwarna biru tua serasi dengan rambutnya, tubuhnya tinggi dan kulitnya putih. Ia mengenakan sebuah baju bangsawan berwarna biru tua dengan celana pendek berwarna hitam, kaki kirinya dibalut oleh kaos kaki panjang sepaha, sedangkan kaki kirinya memperlihatkan sebuah tanda aneh berwarna biru tua, dan sepasang sendal antik hitam terpasang dikakinya. Sebuah pedang yang sangat panjang terlihat jelas dibelakang punggungnya, ukurannya kira-kira sedikit lebih panjang daripada tubuhnya. Sarung pedang itu berwarna biru tua dengan ukiran-ukiran berwarna biru cerah, gagang pedangnya terlihat tipis.



Dziban membalikkan badannya, lalu bertanya "Kau... Siapa?"


"Panggil saja Aqua, umurku genap 14 tahun." Jawab gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut.


"Aqua yah... Seingatku aku tidak pernah melihatmu, apa kau orang luar?" Tanya Dziban.


"Yah begitulah... Aku kebetulan datang ketempat ini untuk membeli persediaan makanan, selagi pedagang dipasar masih menyiapkannya, aku memilih untuk menunggu disini dan menonton pertandingan." Jawab Aqua lembut.


"Ah, jadi begitu yah... Kalau begitu perkenalkan, namaku Dziban Ashura, umu-" Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tetua Asgorth mengumumkan bahwa ujian keempat akan segera dimulai dan semua peserta yang tersisa diharapkan untuk berkumpul diatas arena.


"Maaf, aku harus berkumpul diarena bersama peserta lainnya. Kalau begitu perkenalannya kita lanjutkan nanti saja, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Dziban sambil membungkukkan badannya.


"Tak apa, kita bisa melanjutkannya nanti. Kebetulan aku akan beristirahat dikota ini selama beberapa hari, lalu melanjutkan perjalananku kembali."


Dziban tersenyum menganggukkan kepalanya, lalu berlari keatas arena. Setelah ia berkumpul diatas arena bersama para peserta lainnya, tetua Asgorth mengumumkan sebuah informasi mengenai ujian keempat "Ujian keempat adalah pertarungan berpasangan, kalian bisa mengambil nomor kalian masing-masing pada tetua Goro. Dari 15 nomor, ada 1 nomor yang tidak bertuliskan apapun, peserta yang mendapatkannya tidak perlu mengikuti ujian keempat dan bebas melakukan apapun sampai ujian kelima dimulai. Peraturannya seperti ini, peserta yang mendapat nomor 1 dan 2 akan bertarung melawan peserta yang mendapat nomor 3 dan 4, sampai seterusnya. Sedangkan Nomor 13 dan 14 akan melawan pasangan yang bisa mengalahkan lawannya dengan waktu tercepat."


Setelah mengambil nomor mereka masing-masing, para peserta kembali ketempat duduknya masing-masing. Dziban mendapatkan nomor 1, ia tidak tahu Aurora mendapatkan nomor berapa. Sebenarnya ia juga ingin menanyakannya, namun tetua Asgorth sudah mempertegas siapapun yang memberitahukan nomornya pada peserta lain, maka akan langsung dieliminasi.


"Peserta yang mendapatkan nomor 1 sampai 4, diharapkan untuk menaiki arena." Tetua Asgorth mengumumkan.


Dziban berjalan menaiki arena, begitu juga dengan 3 peserta lainnya. Ternyata diantara ketiga peserta itu ada Aurora juga, seketika ia langsung panik harus melakukan apa jika Aurora bukanlah pasangannya, tidak mungkin ia tega menyerangnya.

__ADS_1


"Nomor 1 dan 2 silahkan berdiri disebelah kiri, sedangkan nomor 3 dan 4 disebelah kanan." Ucap tetua Asgorth.


Dziban segera berjalan kebagian kiri arena, Aurora juga berjalan kearah yang sama. Ternyata ia berpasangan dengan Aurora, seketika wajah paniknya langsung berubah bahagia.


Dibagian kiri arena, Dziban sudah berdiri bersama Aurora. Sedangkan disebelah kanan berdiri 2 orang pria yang satunya berambut hitam dan satunya lagi berambut kuning, Dziban sudah mengenal mereka, namun Aurora mungkin tidak. Pria berambut hitam itu adalah kakak kandung Belial, namanya Exo. Sedangkan pria berambut kuning itu adalah kakak kandung Alex, namanya Jack.


"Karna kalian sudah mengenal satu sama lain, maka perkenalannya tidak perlu lagi, pertarungannya langsung dimulai!" Teriak tetua Asgorth mengumumkan.


"Hehe... Beruntung sekali, ternyata aku bertemu denganmu bocah sampah." Ucap Exo sambil memanggil Mythical Weapon miliknya melalui telepati, seketika muncullah sebuah busur emas bertali hitam dalam genggaman tangan kanannya.


"Sepertinya kita akan menjadi pasangan yang memenangkan pertarungan dalam waktu tercepat." Ucap Jack sambil mengeluarkan Mythical Weapon miliknya juga, seketika muncullah sebuah tongkat perak dalam genggaman tangannya, ujung tongkat itu diselimuti oleh api biru membara.


"Maaf, mungkin aku akan mengecewakan kalian." Respon Dziban sambil mengeluarkan sebuah belati merah mengkilap dari kalungnya. Pisau itu sepenuhnya berwarna merah dan hitam mengkilap, bentuknya terlihat unik dan ujungnya tajam mengintimidasi. Hawa disekitarnya langsung berubah, kini menjadi sangat panas seperti terbakar api.



"1 menit, belati Nether Sovereign ini akan mengalahkan kalian." Ucap Dziban sebelum akhirnya mengayunkan belati itu secara horizontal kearah Exo dan Jack "Waktu habis."


Dziban terkekeh kecil, lalu menjeltikkan jari tangan kanannya. Seketika api merah membara yang membakar tubuh mereka langsung lenyap, meninggalkan tubuh mereka yang sudah gosong berasap. Mereka sudah pingsan sejak terkena serangan itu, oleh karna itulah tidak terdengar suara teriakan-teriakan mereka yang sedang kesakitan.


Tim medis datang membawa mereka kerumah sakit terdekat, sedangkan Dziban menarik tangan Aurora dan berjalan bersama menuju restoran yang sudah direncanakan.


Setelah menyelesaikan sarapan, mereka berdua kembali kearena dan menonton pertarungan yang sedang berlangsung. Ternyata ini adalah pertarungan terakhir, pertarungan kedua sudah selesai beberapa menit yang lalu, sepertinya mereka terlalu lama menghabiskan waktu direstoran. Untungnya pertarungan terakhir ini masih belum dimulai, masih menunggu tetua Asgorth untuk mengumumkan bahwa pertarungan akan dimulai.


"Pertarungan terakhir langsung dimulai!" Teriak tetua Asgorth mengumumkan.


Disebelah kiri ada Brown dan Lexa, sedangkan disebelah kanan ada Leona dan Zyan. Brown adalah seorang pria berambut pirang panjang dengan pupil mata berwarna biru cerah, Lexa adalah seorang gadis berambut hijau tua panjang sepunggung dengan pupil mata berwarna hijau muda, Leona adalah seorang gadis berambut jingga pendek sebahu dengan pupil mata berwarna hitam, dan Zyan adalah seorang pria berambut abu-abu dengan pupil mata berwarna hitam.


Pertarungannya berakhir dengan cepat, kira-kira dalam waktu setengah jam. Wajar saja, karna tim Leona dan Zyan jauh lebih kuat daripada tim Brown dan Lexa. Hal itu membuat pertarungannya menjadi tidak seimbang, sekaligus menjadi tidak menarik dan membosankan bagi para penonton.


"Pasangan yang berhasil menyelesaikan pertarungannya dalam waktu tercepat adalah Dziban dan Aurora! Dengan waktu kurang dari 10 detik, dan membuat lawannya kalah telak tak berkutik. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, peserta nomor 13 dan 14 akan melawan peserta yang berhasil menyelesaikan pertarungannya dalam waktu tercepat. Bagi peserta yang berkaitan, diharapkan untuk naik keatas arena." Tetua Asgorth kembali mengumumkan.

__ADS_1


Dziban dan Aurora kembali naik keatas arena, dihadapan mereka terlihat seorang pria berambut merah dengan seorang gadis berambut ungu disebelahnya. Dziban dan Aurora sudah mengenal mereka dari ujian sebelumnya, pria berambut merah itu bernama Zaxs, sedangkan gadis berambut ungu itu bernama Marrie.


"Pertarungan tambahan kali ini, secara resmi dimulai!" Teriak tetua Asgorth mengumumkan.


"Kalian mau turun sendiri, atau aku yang akan membuat kalian turun?" Tanya Dziban sambil tersenyum iblis.


"Maaf, kami menolaknya." Jawab Zaxs dan Marrie serempak.


"Kalau begitu terserah kalian saja." Ucap Dziban sebelum akhirnya mengeluarkan belati Nether Sovereign, lalu menancapkannya kedalam arena "Weapon art : Meteor Rain!"


Seketika hujan meteor mulai turun satu persatu dari langit, terus menghantam arena. Semakin lama, hujannya menjadi semakin deras. Meski ukuran meteor itu semuanya sama seukuran bola kasti, tapi kekuatan penghancurnya tidak bisa diremehkan. Bahkan 1 meteor saja bisa menciptakan sebuah kawah berradius 2 meter diatas arena, bayangkan saja jika semua meteor itu terus-menerus mengenai kalian. Zaxs dan Marrie tidak bisa menghindari serangan itu, karna memang siapa yang bisa menghindari hujan? Jadi mereka memilih untuk keluar sendiri dari arena, lalu menyatakan untuk menyerah.


Dziban mencabut belatinya, seketika hujan meteor itu langsung berhenti. Iapun memasukkan belatinya kembali, lalu berjalan menuruni arena yang sudah hancur itu bersama Aurora.


"Kekuatan bocah itu... Semakin lama semakin mengerikan saja, aku jadi sedikit ragu apa bisa menang jika melawannya..." Pikir tetua Asgorth dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.


"Wow! Ternyata dia sangat kuat! Mungkin saja dia lebih kuat dariku, aku sendiri bahkan tidak yakin bisa menang melawannya." Pikir Aqua sambil tersenyum lembut menatap Dziban yang sedang berjalan bersama Aurora.


---------------------------------------------------------


Ini adalah sedikit info bagi kalian yang masih penasaran dengan wujud Dziban dan Aurora, mungkin juga ada beberapa orang yang masih belum bisa membayangkan wjudnya.


#Dziban


Ini versi dewasanya, versi kecilnya masih belum dibuat. Intinya, seperti itulah.



#Aurora


Jadi sebenarnya warna rambutnya itu bukan putih bersih, tapi sedikit berpadu dengan pirang. Informasi tambahan, pakaian favoritnya adalah sebuah sweater putih dengan 2 garis biru dimasing-masing lengannya dan sebuah angka '25' dibagian tengahnya, ia sering mamadukannya dengan sebuah rok pendek hitam diatas dengkul lengkap dengan sepatu kets putih dan kaos kaki biru tua panjang sedikit melewati dengkul.

__ADS_1



__ADS_2