
"Kalau begitu begini saja, anggap saja kita sudah menikah dan aku yang menceraikanmu." Usul Dziban.
"Apa kau bilang?! Jangan mimpi, orang lemah sepertimu tidak seharusnya bersikap sombong! Seharusnya aku yang mengusulkan hal itu!" Teriak Anna penuh amarah.
"Sampai matipun, aku tidak akan pernah melakukannya, terlebih lagi pada putri tidak tau malu sepertimu." Ucap Dziban tenang.
"Hmph! Seenaknya saja mempermainkan kata mati, memangnya kau berani melakukannya?!"
"Kalau begitu lihat saja." Ucap Dziban sebelum akhirnya menghilang dari tempatnya, dan muncul kembali dengan tangan kanan yang menggenggam pedang milik Anna.
"Lihat baik-baik!" Tegas Dziban sambil melemparkan pedang itu pada Anna, setelah Anna berhasil menangkapnya ia langsung melesat menusukkan tubuhnya sendiri pada pedang itu.
Sontak semua orang langsung terkejut melihat hal itu, bahkan Anna sampai melepas pedangnya dan langsung melompat mundur.
"Kau... Apa yang kau lakukan?!" Teriak Anna cemas.
"Haha... Sekarang kau percaya bukan?! Aku tidak takut akan kematian, lebih baik aku mati daripada membiarkanmu membatalkan pertunangan ini. Ingat, harga diri adalah suatu hal yang paling penting bagi setiap pria." Ucap Dziban sebelum akhirnya mencabut pedang itu, lalu melemparkannya pada Anna.
"Kakak!" Teriak Aurora yang kemudian langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya "Awas saja! Jika sampai terjadi sesuatu pada kakak, aku tidak akan pernah mengampuni kalian! Clan Scarlet akanku bantai dengan kekuatan clan kuno ku!"
"Baiklah baiklah, sebagai hadiah atas keberanianmu, aku berjanji akan menuruti permintaanmu. Aku akan meminta seseorang untuk menulis surat penceraian kita." Ucap Anna.
"Baguslah, kalau begitu kalian boleh pergi dan tingggalkan bayaran kalian. Kuharap jangan mengingkari janjimu, atau kau akan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya." Ucap Dziban sebelum akhirnya berjalan kembali ke tempatnya semula.
"Tunggu dulu! Putri Anna sudah berjanji akan menuruti permintaanmu, bagaimana bisa kami meninggalkan semua yang kami bawa, bukannya tidak ada yang harus kami bayar?" Tetua Lucy mengangkat suaranya.
"Anggap saja sebagai bayaran karna luka yang kuterima ini, jika kalian tidak datang, bukankah hal ini tidak akan terjadi?" Dziban tersenyum licik.
"Kau... Jangan bertindak sembarangan meskipun ini adalah wilayah clanmu! Dasar bocah sampah tak berguna, kau pikir aku takut membunuhmu ditempat ini?!" Teriak tetua Lucy sambil mengeluarkan Mythical Weapon miliknya, seketika itu pula muncul sebuah tombak dalam genggaman tangan kanannya. Tombak itu sepenuhnya berwarna putih, terpancar aura yang sangat kuat darinya.
__ADS_1
Para tetua tidak hanya diam saja, mereka juga langsung mengeluarkan Mythical Weapon milik mereka, begitupun dengan Holder. Tetua Lucy menyadari ia tidak bisa menang jika melawan mereka berlima sekaligus, terlebih lagi tempatnya sangat tidak menguntungkan. Juga, putri Anna saat ini sedang bersamanya. Mungkin saja putri Anna akan menjadi tawanan mereka untuk mengancamnya, jadi ia memilih untuk memasukkan Mythical Weapon miliknya kembali. Para tetua pun melakukan hal yang sama dengannya, memasukkan kembali Mythical Weapon mereka masing-masing.
"Bagaimana kalau begini saja, kita buat sebuah perjanjian. Kita adakan pertarungan antara putraku dengan putri Anna, 3 tahun dari sekarang pertarungannya akan dimulai. Lokasinya diarena Cloud Sky milik clan Scarlet." Usul Holder dengan tujuan agar clan Scarlet tidak menyimpan dendam pada clan Ashura.
"Baiklah, kalau begitu aku setuju. Hmph! Sepertinya kau terlalu mengharapkan putra sampahmu itu, saat waktunya tiba, biarkan harapanmu itu sirna oleh kekalahan putra sampahmu itu." Ucap Holder sebelum akhirnya membalikkan badannya.
Wuzz
Hawa membunuh yang sangat kuat terpancar dari tubuh Dziban, semua orang terhempas dari tempatnya seketika, bahkan tetua Lucy dan Holder mengalami hal yang sama. Semua pandangan langsung mengarah menuju Dziban, nafas mereka semua terasa sesak karna tekanan hawa membunuh itu.
"Sekali lagi kau mengatakan aku sampah, jangan harap kalian bisa pulang. Walaupun harus menjadi musuh clan Scarlet, aku tidak akan ragu untuk melakukannya." Ucap Dziban dingin sebelum akhirnya menghilang dari tempatnya.
"Anak itu... Memiliki hawa membunuh sekuat ini?" Pikir Holder tak percaya.
"Kakak, sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?" Pikir Aurora sambil beranjak bangkit.
"Sampah itu... Darimana ia mendapatkan hawa membunuh sekuat itu?" Pikir tetua Lucy.
"Hanya dengan hawa membunuh saja, ia mampu membuat semua orang terhempas." Pikir tetua Brighton, seorang pria berambut hijau tua yang tersisir rapi kekiri dan kanan, pupil matanya berwarna hitam pekat.
"Anak itu mengerikan!" Pikir tetua Asgorth dengan mata melotot.
Dziban kini sudah berada didalam kamarnya, ia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Sweater putih yang dipadukan dengan celana hitam pendek diatas dengkul, setelahnya ia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Untung saja aku tahu cara menggunakannya, jadi aku bisa memberikan kesan pada mereka semua. Tak kusangka aku akan mendapatkan hawa membunuh sekuat ini, sebenarnya darimana datangnya? Perasaan aku tidak memilikinya sedikitpun, bahkan saat kekuatanku belum menghilang, aku tidak memilikinya." Pikir Dziban.
Pandangannya tiba-tiba buram, matanya tertutup dengan sendirinya. Tanpa sadar, ia pingsan didalam kamarnya. Ia tersadar tepat pada sore harinya. Kini ia tidak mengenakan sweaternya lagi, tubuhnya telah dibalut dengan perban putih. Tak pikir panjang ia langsung beranjak duduk, lalu memasang sweaternya kembali dan mengamati sekelilingnya. Ia menemukan sebuah kotak emas yang dibawa oleh putri Anna dan rombongannya, baru saja ia akan beranjak dari kasurnya, tiba-tiba seseorang datang membuka pintu kamarnya.
"Eh, kakak. Syukurlah, ternyata kau sudah sadar." Ucap Aurora yang saat itu membawa semangkuk sup dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Ia meletakkan sup tersebut diatas meja kecil yang berada didekat kasur, lalu memeluk tubuh Dziban kuat-kuat.
"Kakak! Apa kau tahu, Aurora sangat cemas dengan kakak! Aurora takut tidak bisa melihat kakak lagi!" Teriak Aurora sambil menguatkan pelukannya. Seketika itu pula, air matanya mulai mengalir deras membasahi kedua pipinya, dan suara tangisannya pun mulai terdengar.
"Eng... Aurora, apa kau bisa melepaskan pelukanmu? Aku kesulitan bernafas, dan juga luka ditubuhku terasa sakit." Pinta Dziban sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.
Tepat setelah mendengar hal itu, Aurora pun langsung melepaskan pelukannya "Eh, maafkan Aurora. Kakak jangan marah, Aurora melakukannya karna sangat senang tidak terjadi apapun pada kakak."
"Haha... Tidak perlu meminta maaf, dan juga tidak mungkin aku marah padamu." Ucap Dziban sebelum akhirnya menarik tangan Aurora yang secara otomatis membuatnya mendekat, ia mengusap setetes air mata yang masih tersisa dikantung mata Aurora dengan ibu jarinya.
Seketika itu pula, wajah Aurora langsung merona. Ia segera menutup wajahnya dan memalingkannya dari hadapan Dziban.
"Haha... Kau terlihat lucu saat malu wajahmu memerah seperti itu, tak kusangka Aurora si pemalu tiba-tiba memelukku." Ucap Dziban Sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ahh... Kakak! Jangan katakan itu, Aurora malu!" Teriak Aurora dengan wajah yang semakin memerah, ia masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Haha... Baiklah baiklah, ngomong-ngomong apa yang kau bawa?" Dziban menyetir alur pembicaraan untuk mengganti topik.
"Ah, itu adalah sup herbal untuk kakak. Aurora sendiri yang membuatnya untuk kakak, mungkin rasanya tidak terlalu enak. Hehe..." Ucap Aurora sambil terkekeh kecil, rasa malunya hilang seketika itu pula.
"Kau ada-ada saja, padahal makanan yang kau buat selalu enak, tapi kau selalu saja bilang tidak enak." Ucap Dziban sebelum akhirnya mengambil sup tersebut dan langsung meneguknya beberapa kali sampai habis tak bersisa.
"Benar kan, padahal rasanya sangat enak. Sangat cocok untuk ditambahkan sebagai menu khusus direstoran bintang lima." Ucap Dziban sambil meletakkan mangkuk kosong itu kembali ketempatnya.
"Kakak terlalu berlebihan, padahal rasanya pas-pasan. Kalau begitu kakak beristirahat saja dulu, Aurora akan berkultivasi lagi dikamar." Ucap Aurora.
"Kau terburu-buru sekali, memangnya ada apa? Bukannya sekarang tingkatanmu Bronze bintang 7?" Tanya Dziban.
"Iya, tapi 2 bulan lagi akan diadakan ujian clan. Meski syaratnya sudah terpenuhi, tapi saat ujian tarung nanti belum tentu Aurora bisa menang, pasti ada beberapa orang yang kekuatannya lebih hebat dari Aurora." Jelas Aurora.
__ADS_1
"Ah ya! Aku lupa, kalau begitu lanjutkan saja latihannya. Jangan khawatir denganku, aku pasti akan mencuri perhatian semua orang saat ujian dimulai nanti." Ucap Dziban.
"Baiklah, kalau begitu Aurora berharap banyak pada kakak." Ucap Aurora sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar Dziban, tak lupa ia membawa mangkuk kosong yang terletak diatas meja.