KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 25 : UJIAN KEDUA


__ADS_3

BAB 25 : UJIAN KEDUA


"Perkenalkan, saya adalah Jay Park. Umur 11 tahun, tingkat Bronze bintang 6 akhir." Ucap seorang pria berambut hitam sambil membungkukkan badannya.


"Perkenalkan, saya adalah Park Jin. Umur 11 tahun, tingkat Bronze bintang 6 menengah." Ucap seorang pria berambut kuning memperkenalkan dirinya.


"Tidak menunggu waktu lagi! Ujian kedua resmi dimulai!" Teriak tetua Vlare tegas.


"Mythical Weapon!" Panggil Jay yang seketika itu muncul sebilah pedang merah mengkilap dalam genggaman tangannya, kemudian iapun melesat menerjang lawannya "Biarkan pedang Red Flame milikku ini yang akan membuatmu gagal!"


Jin tidak hanya diam begitu saja, ia berhasil menghindar dari serangan Jay dan segera memanggil Mythical art miliknya juga. Seketika muncullah sebuah palu besar dalam genggaman tangannya, berwarna biru mengkilap dengan ukiran-ukiran berwarna putih menyala "Palu Ice Glow ditanganku inilah yang akan menggagalkan niatmu!"


Pertarungan terus berlanjut, hingga akhirnya saat-saat terakhir pun tiba. Jay tidak punya pilihan lain lagi selain menggunakan Mythical art terkuatnya, karna hanya itu satu-satunya jalan keluar untuk memenangkan pertarungan ini. Meski luka yang diberikannya pada Jin lebih banyak daripada yang diberikan Jin padanya, hanya tinggal menunggu waktu untuk menunggu energinya habis dan disaat itulah Jin akan menyerangnya untuk memenangkan pertarungan.


Jay mengambil nafas dalam-dalam, lalu menyebar energi Mythical kesekujur tubuhnya.


"Mythical art : Flaming Blue Fist!" Teriaknya sambil memukulkan telapak tangan kanannya ketanah.


Seketika itu muncullah sebuah gelombang energi biru berbentuk telapak tangan raksasa diatas tubuh Jin yang kemudian langsung meluncur kebawah.


Dbuaarrr


Telapak tangan raksasa itu menghilang setelah menghantam permukaan arena, tapi anehnya Jin menghilang entah kemana.


Tanpa disadarinya Jin muncul dibelakang tubuhnya dan langsung menendang punggungnya hingga membuatnya jatuh tersungkur. Belum sempat ia beranjak bangkit, sebuah gelombang energi hitam berbentuk genggaman tangan raksasa melesat kearahnya.


"Mythical art : Drakness Legacy Tread!" Teriak Jin.


Blaarrr


Serangan itu berhasil memberikan luka parah pada Jay, diatas arena Jay sudah terkapar tidak sadarkan diri, asap putih keluar dari tubuhnya.


"Pemenangnya sudah ditentukan! Jin memenangkan pertandingan ini dan berhasil lolos keujian selanjutnya!" Teriak tetua Vlare mengumumkan.


Ujian kedua terus berlanjut, hingga akhirnya sampailah dimana nomor urut 49 dan 50 dipanggil untuk naik keatas arena.


Nomor 49 adalah Aurora, sedangkan nomor 50 adalah seorang pria berambut hijau tua yang tersisir rapi kekiri dan kanan. Mereka berdua langsung berjalan keatas arena, dan memperkenalkan diri masing-masing. Ternyata pria yang harus dilawan Aurora adalah Leon, murid khusus tetua Asgorth dan salah satu orang terhebat diclan Ashura. Diujian sebelumnya, Leon temasuk 10 besar peserta dengan kekuatan tertinggi, tepatnya tingkat Bronze bintang 10 menengah. Tapi Aurora tidak peduli dengan hal itu, karna dirinya sendiri berada ditingkat Bronze bintang 10 puncak.

__ADS_1


"Berani bertaruh? Pertarungan kali ini, aku memilih muridku." Tetua Asgorth menantang Holder.


Belum sempat Holder mengucapkan sesuatu, Dziban langsung berbicara mendahuluinya "Muridmu? Haha... Kau tidak tahu sekuat apa Aurora! Kalau begitu bertaruh denganku saja, aku pilih adikku."


"Hmph! Dasar bocah tidak tahu diri, memangnya apa yang berani kau pertaruhkan?" Tanya tetua Asgorth ketus.


"Aku pertaruhkan pedang ini." Jawab Dziban sambil memperlihatkan sebuah pedang bergagang putih yang ditutup oleh sarung pedangnya yang berwarna kuning, ia membuka sarungnya dan memperlihatkan bilah kuning mengkilap pedang tersebut "Ini adalah artefak tingkat 3 bintang 10, pedang Snow Lightning. Kau pasti sudah tahu, pedang ini adalah salah satu dari 3 artefak yang diberikan oleh clan Scarlet sebagai bayaran."


"Baiklah! Kalau begitu aku pertaruhkan cincin ini!" Tetua Asgorth memperlihatkan sebuah cincin hitam yang mata cincinnya adalah sebuah kristal berwarna merah pekat, tidak lain adalah cincin Nightcore tingkat tinggi "Didalamnya ada 100 ginseng Blue Ocean, 100 daun Blood Spirit dan 100 teratai Azure."


"Baiklah, setuju!" Dziban mengambil cincin Nightcore itu dari tangan tetua Asgorth, lalu memberikan cincin itu beserta pedangnya pada Holder "Ayah, kau saja yang pegang barang taruhannya. Dengan begitu, tetua busuk ini nanti tidak akan melawan kalau muridnya itu kalah."


"Tidak menunggu lebih lama lagi, kita mulai saja pertarungannya!" Teriak tetua Vlare mengumumkan.


"Mythical Weapon!" Panggil Leon yang seketika itu muncullah sebilah pedang besar berwarna merah mengkilap dalam genggaman tangannya. Ukuran pedang itu sama dengan tubuhnya, tapi ia tidak terlihat keberatan saat mengangkatnya.


"Bersiaplah!" Setelah mengatakan itu, Aurora langsung melesat menuju Leon, melompat dan berputar diudara sebelum akhirnya menendang bagian kanan kepala Leon dengan kaki kirinya hingga membuatnya terhempas.


Akan tetapi Leon berhasil menahan tubuhnya dengan menancapkan pedang besarnya, rencana Aurora untuk mengeluarkannya dari arena pun gagal.


"Mythical art : Ice Blue Shield!" Teriak Aurora yang seketika itu muncullah sebuah pelindung es berbentuk lingkaran dihadapannya, meski terlihat tipis pelindung tersebut berhasil menahan serangan yang dilancarkan Leon "Maaf, bukannya sombong. Tapi untuk mengalahkanmu, kupikir aku tidak perlu menggunakannya."


"Aurora! Cepat selesaikan pertarungannya! Jangan bermain-main lagi!" Teriak Dziban dari kursi penonton.


Aurora memalingkan pandangannya kearah Dziban, lalu tersenyum lembut menganggukkan kepalanya.


Alex segera menarik pedangnya, lalu melancarkan serangan bertubi-tubi dengan pedang besarnya "Cih! Sebenarnya apa hebatnya sampah itu?! Kenapa kau senang sekali bersamanya?!"


Pelindung es Aurora bergerak otomatis menahan semua serangan yang dilancarkan Leon "Kau bertanya kenapa aku senang sekali bisa bersama kakak? Jawabannya sederhana saja, karna siapapun itu tidak akan pernah bisa memberikan sesuatu seperti yang pernah diberikan kakak."


Leon tidak ingin membuang-buang tenaganya lagi, karna serangannya terus-menerus ditahan oleh pelindung es Aurora. Ia memilih untuk melesat mundur, kemudian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya "Memangnya sesuatu seperti apa itu?! Jika sampah itu saja bisa memberikannya padamu, maka tidak mungkin aku tidak bisa memberikannya juga!"


Leon menancapkan pedangnya, lalu meneriakkan sebuah Mythical art "Burning Sword Rain!"


Seketika muncullah puluhan pedang diatas tubuhnya, semua pedang itu bentuknya persis seperti pedang miliknya, namun seluruhnya terbuat dari api merah membara. Satu persatu pedang api itu meluncur menuju Aurora, pedang api pertama berhasil ditahan oleh pelindung esnya, namun membuat pelindungnya mencair seketika.


Dengan terpaksa iapun melesat menghindari semua serangan itu, tanpa sadar ia berhasil masuk kedalam perangkap Leon. Saat semua pedang api itu habis, ia terjebak dalam sebuah lingkaran api yang berkobar dahsyat. Ketinggiannya bahkan mencapai 2 meter, tidak memberikan ia kesempatan untuk keluar.

__ADS_1


"Hahaha... Sekarang kau tidak punya jalan keluar lagi! Kalau kau membiarkanku untuk mencicipi tubuhmu selama 1 malam saja, mungkin aku akan mengalahkanmu tanpa memberikan luka pada tubuhmu." Teriak Leon sambil tertawa keras.


Dilain tempat, tetua Asgorth membalikkan kepalanya, menatap Dziban yang duduk tepat dibelakangnya "Bagaimana? Bocah sampah? Apa aku sudah memenangkan taruhannya?"


Dziban terkekeh kecil mendengar pertanyaan tetua Asgorth, tetua Asgorth yang kebingungan dengan responnya itu, padahal ia sudah memperkirakan mungkin pria berambut hitam dibelakangnya akan bergidik ketakutan.


"Hehe... Tetua Asgorth, kau terlalu cepat 100 tahun mengucapkannya. Ini masih terlalu awal, Aurora bahkan baru mengeluarkan 1 Mythical art nya saja." Respon Dziban santai.


"Hmph! Kalau begitu kita lihat saja! Kau terlalu mengandalkan gadis itu, apa mungkin karna kau menyukainya?" Tanya tetua Asgorth ketus.


"Entahlah, pikir saja sendiri. Kau terlalu kepo dengan privasiku, apa para tetua clan Ashura sepertimu juga?" Dziban terkekeh tak peduli.


"Cih! Bocah sampah, sombong sekali kau! Tunggu aku mengalahkanmu dalam taruhan kali ini, aku ingin lihat apa kau masih bisa terkekeh lagi!" Tetua Asgorth kembali membalikkan kepalanya dan mengamati pertandingan diatas arena.


"Mencicipi tubuhku? Kau terlalu banyak bermimpi. Tapi yah sudahlah, aku tidak peduli juga denganmu. Sekarang waktunya bermain-main sudah selesai, saatnya serius!" Ucap Aurora sambil mengangkat tinggi telapak tangan kanannya, seketika itu pula salju mulai turun diatas arena "Mythical art : Zone Of Ice!"


Whuzzz


Angin bertiup kencang, menerbangkan salju yang turun diatas arena. Dalam beberapa saat saja, api yang mengelilingi tubuhnya langsung padam. Selain itu, arena tersebut sudah diselimuti oleh badai salju, menutupi pandangan semua orang yang mengamati pertarungan. Leon juga mengalami hal yang sama, namun tidak berlaku bagi Aurora.


"Sekarang aku akan memperlihatkan, seperti apa bentuk Mythical Weapon milikku." Pikir Aurora sambil mengangkat telapak tangan kanannya tinggi-tinggi.


Seketika muncullah sebilah pedang berwarna biru tua mengkilap diatas telapak tangan kanannya, tepat diantara gagang pedang dan bilahnya terlihat sebuah mutiara berwarna biru mengkilap yang disebelah kanannya terlihat sebuah bagian yang berbentuk seperti kepala burung, sedangkan disebelah kirinya terlihat sebuah bagian yang bentuknya seperti sayap burung.



Aurora langsung menggenggam gagang pedang tersebut "Sword Of The Seven Snow inilah yang akan mengalahkanmu."


Aurora langsung melesat menuju Leon, mengayunkan pedangnya beberapa kali dengan sangat cepat, dan secara tiba-tiba sudah berada dibelakangnya. Kini tubuhnya dengan Leon saling membelakangi, namun dibatasi oleh beberapa meter jarak "Seharusnya kau merasa terhormat bisa mendapatkan serangan dari pedangku."


Tepat setelahnya, tubuh Leon tiba-tiba terluka, membuatnya berteriak kesakitan. Didadanya, terlihat beberapa luka sayatan yang lumayan panjang, namun anehnya tidak ada darah yang keluar dari luka tersebut, malahan luka itu dan disekitarnya membeku.


Tak lama kemudian, akhirnya badai salju yang menyelimuti arena itu lenyap. Kini diatas arena terlihat Aurora berdiri tegak tanpa ada luka sedikitpun disekujur tubuhnya, sedangkan Leon terkapar tak sadarkan diri.


"Pertarungan kali ini, resmi dimenangkan oleh Aurora!" Teriak tetua Vlare yang seketika itu disambut oleh sorakan-sorakan para penonton, terlebih lagi para pria yang naksir dengan sang pemenang.


"Maaf saja tetua Asgorth, sepertinya aku memenangkan taruhannya." Ucap Dziban sambil tersenyum mengambil barang taruhan dari tangan ayahnya, lalu memasukkannya kedalam cincin Nightcore "Lain kali kita bertaruh lagi, aku senang sekali bisa mendapatkan hadiah dari seorang tetua clan."

__ADS_1


__ADS_2