KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 26 : KEMENANGAN MUTLAK


__ADS_3

"Pertandingan selanjutnya! Nomor urut 51 dan 52, harap menaiki arena!" Teriak tetua Vlare memanggil peserta selanjutnya.


"Ayah, tetua! Kalau begitu aku pergi dulu! Cobalah untuk tidak bengong saat melihat pertarunganku nanti!" Seru Dziban sebelum akhirnya berjalan menuju arena.


Diatas arena, kini Dziban sudah berhadapan dengan seorang pria berambut putih yang terponi menutup setengah bagian mata kanannya, berpupil mata biru dengan tubuh tinggi dan berkulit putih.


"Silahkan memperkenalkan diri kalian masing-masing." Ucap tetua Vlare.


"Kurasa aku tidak perlu mengenalkan diriku lagi, bukankah semua orang sudah mengenalku?" Protes Dziban.


"Baiklah, terserah kau saja." Tetua Vlare mengalah, tidak ingin berdebat panjang dengan bocah didepannya.


"Hei, kau sudah mengenalku juga kan?" Tanya Dziban memastikan pada lawannya.


"Haha... Tentu saja! Memangnya siapa yang tidak mengenalmu disini?! Orang yang dulunya berbakat kini menjadi sampah!" Jawab pria berambut putih itu sambil tertawa terbahak-bahak.


"Tarik kembali ucapanmu, atau kau akan tahu apa yang terjadi selanjutnya." Ucap Dziban.


"Haha... Sampah! Kau sombo-" Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan yang tak dapat dielakkan menghantam wajahnya dan membuatnya terhempas keluar arena.


Pria berambut putih itu beranjak bangkit dan kembali berjalan menaiki arena sambil menggosok-gosok hidungnya yang terasa sakit "Sampah! Tunggu saja pertarungannya dimulai, aku akan membalas perbuatanmu saat ini."


"Sudah cukup!" Teriak tetua Vlare yang seketika itu membuat pria berambut putih itu terdiam, sedangkan Dziban hanya tersenyum kecil menanggapinya "Sekarang, kau perkenalkan dirimu."


"Namaku Glen, Mythical tingkat Bronze bintang 10 tahap awal." Ucap pria berambut putih itu memperkenalkan diri.


"Hanya tingkat Bronze bintang 10? Mana mungkin cukup sebagai pemanasan. Apa aku boleh mengusulkan, lebih baik 10 peserta yang tersisa melawanku bersama-sama." Ucap Dziban meremehkan.


"Kau..." Glen menjadi geram dan raut wajahnya berubah kesal seketika.


"Baiklah! Jika itu keinginanmu, maka aku tidak akan menolak." Tetua Vlare menyetujui sebelum akhirnya kembali mengumumkan "10 peserta yang tersisa, diharapkan untuk segera menaiki arena!"


Suasana langsung berubah ricuh, seperti yang sebelumnya, semua cemoohan, ejekan, dan hinaan dilempar pada Dziban. Bahkan ada beberapa penonton yang melemparkan sampah keatas arena, namun mereka tidak berani mengulanginya lagi setelah tetua Vlare melarang.

__ADS_1


7 orang pria dan 3 orang gadis beranjak bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan keatas arena. Kini mereka berbaris rapi diatas arena, dan memperkenalkan diri mereka masing-masing.


Dari urutan paling kiri, pesertanya bernama Nina, Ella, Fanny, Clay, Dom, Lord, Flight, Gin, Son, Leo, dan Glen. Nina adalah seorang gadis berumur 10 tahun, memiliki rambut ungu panjang yang terikat kebelakang, pupil matanya berwarna hitam dan tubuhnya tinggi dengan kulit seputih salju. Ella adalah seorang gadis berumur 11 tahun, memiliki rambut putih panjang yang terurai kebelakang dan terponi kedepan menutup keningnya, berpupil mata hitam dan tubuhnya tinggi dengan kulit seputih salju. Fanny adalah seorang gadis berumur 10 tahun, memiliki rambut kuning panjang yang dikuncir 2, pupil matanya berwarna coklat dan tubuhnya pendek dengan kulit seputih salju. Clay adalah seorang pria berumur 11 tahun, memiliki rambut cokelat pendek yang tersisir rapi kekanan, pupil matanya berwarna coklat dan tubuhnya tidak terlalu tinggi. Dom adalah seorang pria berumur 10 tahun, berkepala botak dengan pupil mata hitam pekat, tubuhnya cokelat muda seperti sawo matang dan lumayan tinggi. Lord adalah seorang pria berumur 11 tahun, berambut biru dengan pupil mata berwarna biru menyala. Flight adalah seorang pria berumur 10 tahun, berambut merah gelap dengan pupil mata kuning. Gin adalah seorang pria berumur 10 tahun, memiliki rambut merah terang dengan pupil mata biru. Son adalah seorang pria berumur 11 tahun, memiliki rambut hitam pekat dengan pupil mata berwarna biru menyala. Terakhir, Leo adalah seorang pria berambut pink dengan pupil mata berwarna ungu menyala.


"Baiklah! Kalau begitu, pertarungannya resmi dimu-" Belum sempat tetua Vlare menyelesaikan ucapannya, Dziban langsung memotong cepat "Tunggu dulu, ada yang harus kutanyakan pada tetua Asgorth."


Ia langsung melempar pandangannya pada tetua Asgorth, lalu menantangnya "Tetua, apa kau berani bertaruh lagi? Jika aku memenangkan pertarungan ini dalam waktu 10 menit, berarti aku menang."


"Setuju! Aku pertaruhkan sebuah buku Mythical art tingkat 2 bintang 3, Dance Of Death." Tetua Asgorth menyetujui.


"Baiklah, kalau begitu aku pertaruhkan pedangku lagi dan cincinmu." Ucap Dziban.


"Sudah cukup?" Tetua Vlare memastikan.


"Ya, hanya itu saja." Jawab Dziban.


"Baiklah! Kalau begitu, pertarungan ini resmi dimulai!" Teriak tetua Vlare yang seketika itu disambut oleh sorakan-sorakan gembira para penonton.


Semua lawan Dziban langsung mengeluarkan Mythical art mereka masing-masing, Nina mengangkat busur ditangan kanannya dan tangan kirinya menarik anak panah "Mythical art : Ultimate Arrow!"


Dziban mengangkat jari telunjuk tangan kanannya kedepan, dan membuat anak panah itu terhenti "Apa cuma ini saja kemampuanmu?"


Suasana berubah sepi seketika, banyak dari penonton menggosok mata mereka karna tidak percaya dengan apa yang mereka lihat, bahkan keempat tetua juga melakukan hal yang sama. Berbeda dengan yang lainnya, Aurora dan Holder hanya tersenyum menanggapinya.


Dziban mendorong anak panah raksasa itu dengan jari telunjuknya, membuat anak panah itu berbalik arah dan melesat menuju kesebelas lawan didepannya.


Blaarrr


Tidak ada seorangpun lawan yang terkena oleh serangan balik itu, semuanya berhasil menghindar. Dziban mengeluarkan sebuah Frost Knife, lalu melemparkannya kearah Son.


Son berhasil menghindarinya dengan mudah, akan tetapi sesuatu yang tidak diduga-duga terjadi. Meleset mengenai tubuhnya, pisau biru itu meledak dan membuat tubuhnya membeku.


"Terlalu lemah, ternyata masih tidak cukup untuk pemanasan." Ucap Dziban meremehkan.

__ADS_1


Leo dan Lord dibuat kesal oleh ucapannya, mereka langsung melesat menerjang Dziban dari arah yang berlawanan. Sebuah gelombang energi biru berbentuk cakar menyelimuti genggaman tangan kanan Leo, sedangkan genggaman tangan kanan Lord diselimuti oleh api merah membara.


"Mythical art : Flaming Punch!" Teriak Lord sambil melepaskan pukulannya, bersamaan dengan itu Leo juga melakukan hal yang sama "Mythical art : Tiger Claw!"


Dziban terkekeh kecil sebelum akhirnya melakukan aksi yang membuat semua orang yang melihatnya tercengang, ia menahan serangan Leo dengan kaki kanannya, sedangkan serangan Lord ditahan oleh lengan kirinya "Lemah!"


Tepat setelah mengatakan itu, Dziban langsung melesat dan tiba-tiba saja sudah berada dibelakang Lord. Sebelum Lord menyadari keberadaannya, ia langsung melepaskan sebuah pukulan kepunggungnya dan membuatnya terhempas bertubrukan dengan tubuh Leo.


"Mythical art : Earth Shaking Tread!" Teriak Dziban sambil memukulkan genggaman tangannya kearah Lord dan Leo yang sedang beranjak bangkit.


Genggaman tangan raksasa meluncur keluar dari genggaman tangannya dan berhasil mengenai Lord dan Leo, membuat mereka terhempas keluar arena.


"Baiklah, waktu bermain-main sudah cukup. Sekarang saatnya serius." Ucap Dziban sambil mengeluarkan sebilah pedang dari kalungnya. Pedang itu berwarna hitam dengan sedikit paduan warna emas, diantara gagang dan bilahnya terlihat sebuah bentuk mutiara biru bulat yang memiliki sepasang sayap emas, gagangnya terlihat tipis dan diujungnya terdapat sebuah mutiara berwarna hitam pekat.



"Pedang Dark Golden Angel ini yang akan membuat kalian semua kalah." Tepat setelah mengatakan itu, ia langsung menghilang dari tempatnya.


Craattt


Tebasan demi tebasan beterbangan diudara, karna terlalu banyak tidak ada seorangpun lawannya yang berhasil menghindar. Semuanya tersayat oleh serangan itu, dan beberapa detik kemudian semua lawannya yang tersisa pun tak sadarkan diri, tergeletak pingsan diatas arena. Terlihat beberapa luka sayatan ditubuh mereka masing-masing, hebatnya tidak ada satupun luka sayatan yang terlihat dibagian vital. Tepat setelah serangan itu selesai, Dziban kembali muncul diatas arena dan langsung memasukkan pedang itu kembali kedalam kalungnya.


"Bagaimana? Apa aku sudah bisa dibilang pemenang?" Tanya Dziban pada tetua Vlare.


Suasana menjadi hening, lebih sepi dari yang sebelumnya. Selain suara angin yang berhembus, tidak ada lagi suara lainnya.


"Kakak... Kau hebat sekali... Aku jadi penasaran sekarang kau sudah mencapai tingkatan apa." Pikir Aurora sambil tersenyum lembut menatap Dziban.


"Anakku... Sekarang kau sudah lebih kuat dari sebelumnya... Ibumu pasti akan senang jika bisa melihat kejadian ini, tapi meskipun tidak bisa melihatnya mungkin saja ia akan lebih tenang dialam sana." Pikir Holder sambil tersenyum haru.


"Bocah itu... Mengerikan!" Pikir tetua Asgorth.


"Darimana ia mendapatkan kekuatan itu?" Pikir tetua Brighton.

__ADS_1


"Bukannya ia sudah kehilangan kekuatannya?" Pikir tetua Vlare.


"Sampah? Apa benar bocah itu adalah sampah seperti yang dikatakan orang-orang?" Pikir tetua Goro.


__ADS_2