
"Baiklah, pertarungan kali ini dimenangkan oleh Dziban! Dengan ini ujian kedua telah selesai, ujian ketiga akan dimulai 30 menit lagi!" Tetua Vlare mengumumkan.
Dziban segera berjalan menuruni arena, menghampiri tetua Asgorth. Setelah mengambil barang taruhan yang dimenangkannya, selanjutnya ia berjalan menghampiri Aurora dan pergi bersama dengannya.
Saat ini, mereka berada didalam kamar Dziban, memulihkan energi mereka bersama-sama.
"Kakak, sebenarnya kakak sudah mencapai tingkatan apa? Apa mungkin tingkat Gold?" Tanya Aurora sekaligus menebak.
"Haha... Ternyata memang tidak ada yang bisa disembunyikan dari adikku ini." Ucap Dziban sambil tertawa kecil mencubit pipi Aurora, seketika itu kedua pipi gadis berambut putih itu langsung memerah.
"Maksud kakak? Aurora masih belum mengerti." Tanya Aurora.
"Tebakanmu itu sepenuhnya benar! Sekarang aku sudah mencapai tingkat Gold bintang 1!" Jawab Dziban semangat sambil memukul dadanya.
"Wow, hebat! Berarti, energi kakak sudah bisa dilatih lagi kan?" Tebak Aurora.
"Kau benar lagi!" Jawab Dziban membenarkan.
"Waahh... Kakak memang hebat!" Puji Aurora dengan mata berbinar-binar.
Dziban mengeluarkan sebilah pedang dari kalungnya, lalu memberikannya kepada Aurora "Ambil pedang ini, anggap saja sebagai hadiah karna telah membantuku memenangkan taruhan."
Pedang itu sepenuhnya berwarna biru tua mengkilap, terlihat sebuah kristal putih menyala ditengah-tengahnya, dan bilahnya terlihat seperti es bergerigi. Hanya ada satu kata yang bisa menjelaskan pedang ini, UNIK.

"Woaahhh... Pedang ini keren sekali." Puji Aurora sambil menatap pedang ditangannya.
"Pedang itu bernama Absolute Ice Core, memiliki sebuah kemampuan spesial, yaitu Ice Exploit. Selain itu, ada kemampuan uniknya juga, yaitu membekukan siapapun yang menyentuhnya kecuali pemiliknya. Tapi kemampuan unik ini hanya berlaku pada makhluk hidup saja." Jelas Dziban panjang lebar.
Belum puas mereka berbincang-bincang, terdengar suara tetua Asgorth mengumumkan bahwa ujian ketiga akan segera dimulai. Dziban dan Aurora langsung bergerak menuju arena, begitupun dengan para peserta lainnya.
__ADS_1
Arena yang tadinya sepi kini sudah penuh oleh para penonton, suasana menjadi ricuh kembali. Diatas arena, terlihat tetua Asgorth menyampaikan sebuah pengumuman "Ujian Ketiga adalah babak eliminasi. 25 peserta yang tersisa akan bertarung diatas arena, ujian ketiga akan selesai sampai ada 15 orang yang tersisa diatas arena."
Seketika itu para peserta langsung berjalan menaiki arena, mereka semua kini sudah berkumpul diatas arena.
"Baiklah! Langsung saja, ujian ketiga resmi dimulai!" Teriak tetua Asgorth mengumumkan.
Dziban langsung melompat tinggi keatas, mengeluarkan skateboard dari kalungnya, dan mendarat tepat diatas skateboard tersebut. Blog, seorang pria berambut pirang pendek memukulkan genggaman tangannya kearah Dziban "Mythical art : Eagle Claws!
Seketika itu, muncullah sebuah gelombang energi kuning berbentuk seekor elang dari pukulannya. Elang itu langsung mengepakkan sayapnya dan melesat cepat menuju Dziban, untungnya Dziban menyadari hal itu dan langsung mengeluarkan Earth Shaking Tread.
Gelombang energi berbentuk genggaman tangan raksasa bertubrukan diudara dengan gelombang energi berbentuk seekor elang, kedua serangan itu menciptakan sebuah ledakan yang membuat 2 orang peserta terhempas keluar arena karna tekanannya.
"Sudah 2 orang, tinggal 8 orang lagi. Dan sudah ditentukan, orang ini akan menjadi orang ketiga!" Gumam Dziban sambil tersenyum menatap Blog.
Ia mengeluarkan 10 Darkness Knife, lalu melesat sambil melemparkannya satu persatu kearah Blog. Blog terus bergerak menghindari semua serangan itu, namun tanpa sadar ia kini sudah dilingkari oleh 10 pisau hitam yang menancap dipermukaan arena.
"Well, waktumu sudah habis." Ucap Dziban sebelum akhirnya menjeltikkan jari tangan kanannya.
Beberapa saat kemudian, asap hitam pekat yang membungkus tubuhnya itu tiba-tiba berubah warna menjadi merah cerah, kemudian menyala terang dan akhirnya meledak. Blog terhempas keluar arena karna ledakannya, ia langsung pingsan tak sadarkan diri terkapar diluar arena. Asap putih merambat keluar dari tubuhnya, sekujur tubuhnya dihiasi oleh luka bakar.
"Aurora! Apa kau butuh bantuan?!" Teriaknya kencang sambil melihat kearah Aurora yang sedang bertarung melawan seorang pria berambut merah.
"Tidak! Aurora bisa melakukannya sendiri, kak!" Jawab Aurora dengan suara tinggi dengan tujuan agar Dziban bisa mendengarnya lebih jelas.
"Baguslah! Kalau begitu kau coba saja kemampuan spesial pedang itu." Usul Dziban sambil terbang mendekati Aurora, lalu melayang diatas tubuhnya.
"Baiklah! Aurora juga penasaran sekuat apa pedang buatan kakak!" Ucap Aurora semangat sebelum akhirnya mengeluarkan pedang Absolute Ice Core dari cincin Nightcore yang terpasang pada jari telunjuk tangan kanannya.
"Weapon art : Ice Exploit!" Teriaknya sambil menancapkan pedang itu kearena dengan kedua tangannya.
"Burning Knife, bersatulah melindungiku!" Perintah Dziban tegas.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya ribuan pisau merah yang diselimuti api merah membara muncul disekitar tubuhnya, lalu bergerak otomatis membuat sebuah bola besar yang menyelimuti tubuh Dziban didalamnya. Semua pisau itu menyatu dengan sangat padat, bahkan tidak terlihat ada celah sedikitpun.
Blaarrr
Ledakan dahsyat tercipta oleh pedang yang ditancapkan Aurora, seketika arena diselimuti oleh asap biru terang yang menghalangi pandangan semua orang. Setelah asap itu menghilang, terlihat sebuah fenomena yang sangat luar biasa diatas arena. Tubuh para peserta membeku, terkurung dalam sebuah bongkahan es. Bola api yang menyelimuti tubuh Dziban juga ikut membeku, namun beberapa saat kemudian es yang menyelimuti perlahan-lahan mencair oleh api merah membara yang menyelimuti semua pisau tersebut.
"Hmm... Sepertinya sudah berakhir." Pikir Dziban sambil memerintahkan semua pisaunya untuk kembali kedalam kalung, seketika semua pisau itu bergerak otomatis melayang disekitarnya, lalu menghilang dalam sekejap.
Dziban melihat kebawah, mendapati para peserta yang membeku, bahkan permukaan arena juga rata diselimuti oleh es. Dari sekian banyak peserta, hanya ia dan Aurora yang terbebas dari ledakan es itu.
"Aurora, jangan cabut pedangmu dulu. Jika kau melakukannya, maka seluruh es diarena ini akan langsung mencair." Ucap Dziban menjelaskan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Aurora.
"Kita keluarkan 7 peserta dari arena, entah itu menendangnya atau memukulnya, terserah serangan apapun itu yang penting bisa membuat mereka keluar. Dengan begitu, maka ujian ketiga ini akan selesai." Jelas Dziban.
"Baiklah! Kalau begitu ayo kita lakukan! Kakak 4 orang, Aurora 3 orang!" Ucap Aurora penuh semangat.
Seperti yang sudah direncanakan, Dziban segera mengeluarkan 4 peserta dari atas arena. Keempatnya ia keluarkan dengan Earth Shaking Tread, dan keempat peserta yang dikeluarkannya adalah anak-anak yang paling sering mengganggunya. Aurora juga melakukan hal yang sama, ia memilih-milih terlebih dahulu peserta mana yang paling sering mengganggu kakaknya itu, kemudian ia menghempaskan mereka keluar dengan sebuah pukulan. Hebatnya, bongkahan es yang menyelimuti tubuh mereka tidak pecah saat membentur pembatas arena dengan tempat duduk penonton, bahkan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan retak.
"Well, sekarang kau bisa mencabut pedangnya." Jelas Dziban.
Aurora menganggukkan kepalanya, lalu mencabut pedangnya. Tepat setelahnya, semua es yang diciptakan oleh ledakan pedang itu langsung mencair seketika. Semua peserta tergeletak pingsan diatas arena, dari sekian banyak orang yang membeku, hanya tetua Asgorth saja yang tidak mengalaminya. Dziban melompat dari skateboard nya dan menginjakkan kakinya kembali keatas arena, lalu memasukkan skateboard nya kembali kedalam kalung.
"Tetua, apa ujiannya sudah selesai?" Tanya Dziban sambil berjalan menghampiri tetua Asgorth.
"Hebat! Aku melihatnya dengan sangat jelas! Pedang itu menciptakan sebuah ledakan yang membuat apapun disekitarnya membeku! Dan gadis itu berkata bocah inilah yang membuatnya?!" Pikir tetua Asgorth dengan mata terbelalak sambil menatap Dziban.
"Jadi bagaimana?" Tanya Dziban memastikan.
"Ah! Tidak ada, tidak ada apa-apa!" Tetua Asgorth tersadar dari lamunannya, lalu mengumumkan pada semua orang "Karna sudah ada 10 peserta yang keluar dari arena, maka ujian ketiga telah resmi selesai! Ujian keempat akan diadakan besok jam 7 pagi, sekarang para peserta boleh beristirahat!"
__ADS_1