
Meski sudah mengkonsumsi pil Green Leaf, Dziban masih belum sadar juga berjam-jam lamanya, ia baru sadar saat sore harinya. Setelah menyantap makanan yang baru saja dimasaknya, ia melanjutkan kembali latihannya. Latihan ketiga akhirnya selesai dalam waktu kurang dari 1 jam, dan langsung dilanjutkan kebagian latihan keempat.
Dalam waktu beberapa menit, ia berhasil menemukan seekor Black Thunder Deer. Lawrance juga sedikit kebingungan, kenapa masih ada beast yang hidup dihutan ini? Padahal semuanya sudah mati karna ledakan gelombang energi kegelapan dari tubuh Dziban, ia menyimpulkan mungkin saja para beast yang masih hidup ini bersembunyi disuatu tempat yang tidak bisa ditembus oleh energi kegelapan itu.
Akan tetapi meski sudah berhasil menemukannya, Dziban masih kesulitan untuk menangkapnya. Memang dalam hal kekuatan beast itu tidak sekuat dirinya, tapi dalam hal kelincahan dan kecepatan, ia kalah telak darinya. Baru saja ia berjalan selangkah untuk mendekatinya, rusa hitam itu langsung melesat kabur dengan kecepatan tinggi. Untungnya Dziban berhasil menyusulnya, jadi ia tidak kehilangan jejak beast itu.
Dengan usaha mati-matian, akhirnya Dziban berhasil menangkapnya dalam waktu 1 jam. Meski tidak terlalu sulit, latihan keempat ini sangat menguras tenaga. Tidak hanya itu, tantangan lainnya adalah menghindari serangan kejutan dari beast lainnya. Tubuh Black Thunder Deer memiliki aroma kuat yang sangat menggiurkan, akan tetapi aroma ini hanya bisa tercium oleh beast, dan aroma itulah yang memancing para beast untuk menangkapnya.
Tepat malam harinya, Dziban akhirnya berhasil menyelesaikan latihan keempat, dan langsung pingsan karna kelelahan. Ia tersadar tepat pada jam 8 malam, lalu kembali kerumah pohonnya, membersihkan badannya dan menyantap makan malam yang tadi dimasaknya. Setelah itu, latihanpun kembali dilanjutkan.
Seperti yang sudah dijelaskan, Dziban menutup matanya dengan sebuah kain putih tebal. Pandangannya penuh waspada, beberapa meter didepannya terlihat Lawrance sudah siap dengan setumpuk batu kecil didekatnya.
"Ingat, mainkan instingmu, karna aku akan menyerangmu dari segala arah." Ucap Lawrance sebelum akhirnya melemparkan batu pertama.
Batu itu mengenai kepala Dziban, dan membuatnya langsung lengah karna menggosok kepalanya yang terkena oleh batu tersebut. Lawrance langsung berpindah ketempat yang berbeda dan melemparkan batu selanjutnya, akan tetapi Dziban berhasil menghindarinya dengan mudah.
__ADS_1
"Wow, ini pasti kebetulan." Pikir Lawrance sebelum akhirnya melemparkan sebuah batu lagi dari tempat yang berbeda.
Dziban membalikkan badannya dan menangkap batu itu, lalu melancarkan serangan balik. Tapi serangan balik itu sia-sia saja, tidak berguna bagi Lawrance yang sudah menyandang gelar Mythical terkuat.
"Mythical art : 3000 Lightning Movement'!" Teriaknya sebelum akhirnya melesat cepat memutari Dziban.
Kecepatannya sangat luar biasa bahkan membuat tubuhnya tidak terlihat, yang terlihat hanyalah kilatan-kilatan kuning yang memutari tubuh Dziban dalam radius beberapa meter darinya. Dalam waktu yang tidak ditentukan, Lawrance terus melemparkan batu pada Dziban. Terlihat Dziban sangat kebingungan menghindarinya, karna belum sempat ia menghindari batu yang dilemparkannya, batu yang lainnya sudah datang menyusul. Rentetan batu itu mengenai tubuh Dziban tanpa henti, jika kalian bertanya bagaimana rasanya? Tentu saja itu sangat sakit, apalagi jika mengenai kepala.
"Dia menggunakan Mythical art, curang sekali! Bagaimana aku bisa menghindarinya jika serangannya seperti ini?!" Pikir Dziban kesal sambil menahan rasa sakit lemparan batu-batu yang mengenai tubuhnya.
5 menit berlalu, Lawrance sudah melemparkan batu kurang lebih sebanyak 345, tapi tidak ada satupun batu yang berhasil dihindari oleh muridnya itu. Karna kesal terus menerus terkena oleh lemparan batu itu, Dziban memutuskan untuk membuka kain putih yang menutup matanya, ia juga sangat penasaran dengan Mythical art yang digunakan oleh gurunya itu.
"Jangan harap kau bisa melakukannya, ingat aku selalu mengawasimu. Kau sudah berhasil menangkap 2 batu yang kulemparkan, jangan membuat semua usahamu itu sia-sia karna emosimu." Nasihat Lawrance.
Meski sedang berbicara, ia terus menyerang Dziban dengan batu-batu yang dilemparkannya. Dziban semakin penasaran dengan Mythical art yang digunakannya itu, karna tidak mungkin ada orang yang bisa melemparkan batu secepat itu dan tempatnya pun berbeda-beda.
__ADS_1
Dziban mencoba untuk berkonsentrasi, tapi ternyata sangat sulit dari yang dibayangkan. Batu-batu itu terus-menerus mengenai tubuhnya, dan secara tak langsung membuat konsentrasinya terganggu. Meski begitu, ia masih belum mengurungkan niatnya dan kembali mencoba untuk berkonsentrasi penuh. Beberapa jam kemudian, akhirnya ia berhasil melakukannya. Berkat konsentrasi penuhnya, instingnya meningkat drastis berkali-kali lipat. Setiap ada batu yang melesat ke tubuhnya, ia langsung bisa merasakan kehadirannya dan langsung saja bergerak untuk menghindarinya.
"Sepertinya insting bocah itu sudah bangkit, ternyata inilah salah satu kelebihan yang dimilikinya." Pikir Lawrance sambil tersenyum terus-menerus melemparkan batu.
Beberapa jam kemudian, akhirnya semua batu yang dikumpulkannya habis, dan latihan kelima pun selesai.
"Bocah, kau berhasil menyelesaikan latihan kelima ini. Dari 1000 batu yang kulempar, hanya 370 batu yang berhasil kau hindari. Aku sedikit terkejut dengan bakatmu, sekarang kau bisa membuka kain itu.
"Hmph! Latihan ini terlalu mudah, apa tidak ada yang lebih sulit?" Dziban berlagak sombong setelah membuka kain putih yang menutup matanya.
"Kalau begitu aku akan memberikanmu latihan yang lebih sulit, latihan kelima diubah. Kau harus menghindari semua batu yang kulempar, dan totalnya bertambah menjadi 5000 batu." Jawab Lawrance.
"Hei hei! Aku hanya bercanda, jangan menganggapnya serius!" Protes Dziban.
"Terserah, walaupun kau tidak mengatakannya, aku akan tetap mengubahnya juga jika kau berhasil menyelesaikannya. Meski instingmu sudah sangat tajam dan terhebat diantara anak-anak yang seumuran denganmu, kau masih harus meningkatkannya. Ingatlah, masih banyak orang diluar sana yang lebih hebat darimu, dan juga kau pasti akan mati jika mengandalkan instingmu saat ini. Diluar sana, banyak orang yang kelincahannya diluar nalar manusia, belum lagi jika ditambahkan dengan Mythical art tipe kecepatan yang mereka kuasai, tentu saja kau tidak ada kesempatan sedikitpun untuk tetap hidup. Selain itu, banyak orang diluar sana yang memiliki Mythical art yang bisa membuat tubuh penggunanya menghilang. Jika kau bertemu dengan salah satu dari mereka, apa yang akan terjadi? Tentu saja kau akan menjadi bahan mainan bagi mereka, walaupun kau memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan langit, jika tidak bisa menyerang lawanmu apa gunanya kekuatan itu?" Lawrance panjang lebar menasihati.
__ADS_1
"Baiklah, untuk hari ini cukup sampai disini saja. Kau masih ada waktu 5 jam untuk beristirahat, jam 7 pagi kita akan memulai latihannya lagi." Sambungnya sebelum akhirnya masuk kedalam kalung Absolute Phoenix Dragon Emperor.
Dziban kembali kedalam rumah pohon, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia masih terpikir dengan nasihat Lawrance tadi, ternyata memang ada benarnya juga. Beberapa menit kemudian, rasa kantuk mulai datang menyerangnya, dan matanya tertutup dengan sendirinya.