KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 11 : RENCANA MENGELABUI AURORA


__ADS_3

"Matilah!" Tegas Dziban sebelum akhirnya mengayunkan pedangnya menebas tubuh Red Yellow Tiger.


Seketika itu pula, tubuh harimau itu langsung tertebas, dan langsung diserogoti oleh aura hitam pekat. Beberapa saat setelahnya, harimau itupun langsung lenyap oleh aura hitam tersebut. Dziban mengubah kembali pedangnya menjadi Seven Deadly Sins Card, dan memasukkannya kembali kedalam tubuhnya. Ia mengambil inti core milik Red Yellow Tiger yang tergeletak diatas permukaan tanah, lalu melesat kembali menuju rumah pohon.


Selama perjalanan, tak terhitung berapa banyak jumlah inti core yang didapatnya. Semua itu ia dapatkan dengan sangat mudah, dikarnakan banyak beast yang mati berserakan diatas permukaan tanah. Semua inti core itu ia masukkan kedalam cincin Nightcore, penyimpanan cincinnya masih belum penuh juga, padahal begitu banyak barang yang sudah tersimpan didalamnya.


Setibanya dirumah pohon, Dziban langsung merebus air dengan panci, dan memasukkan Ginseng Ocean Regeneration serta Daun Life Soul kedalam panci tersebut. Dziban terus menunggu sambil memulihkan tenaganya, tepat 1 jam kemudian ia kembali memeriksa panci tersebut, namun ternyata kedua tanaman herbal itu masih utuh dan belum meleleh sedikitpun. Selang waktu 1 jam, ia terus melakukan hal yang sama. Namun beberapa kali ia memeriksa, kedua tanaman herbal itu masih belum memperlihatkan tanda-tanda akan meleleh.


Karna bosan terus menunggu, tanpa sadar ia tertidur dengan posisi duduk dikursi, dan kepalanya meniduri meja dihadapannya. Pagi harinya, pagi-pagi sekali bahkan sang fajar belum menampakkan diri, ia sudah terbangun dan langsung mencuci wajahnya. Setelah itu, ia memeriksa panci itu kembali. Ternyata kedua tanaman itu sudah meleleh, kini warna airnya berubah menjadi biru kental dengan serbuk-serbuk kecil berwarna kuning. Dziban menuangkannya kedalam mangkuk, lalu menambahkan beberapa bahan lainnya seperti bawang goreng, rempah-rempah, dan bumbu masakan.


"Sup Glodarium ini pasti bisa menjaga jiwanya, racun itu tidak akan bisa menyentuhnya sama sekali." Ucap Dziban sambil berjalan menghampiri pria berambut putih itu sambil membawa semangkuk sup dikedua tangannya.


Ia mengangkat tubuh pria itu hingga posisinya menjadi duduk dan bersandar pada tembok kayu dibelakangnya, setelah itu ia pun membuka mulut pria itu dan memasukkan sup tersebut kedalam mulutnya.


"Ini pasti berhasi!" Pikir Dziban penuh harap sambil memegang mangkuk kosong itu ditangan kanannya.

__ADS_1


"Efeknya akan terlihat 1 jam lagi, jika jiwanya keluar berarti orang ini akan selamat." Ucap Dziban sambil berjalan meninggalkan pria itu, lalu membersihkan alat-alat makan yang sudah digunakannya, dan meletakkannya ditempat semula.


Dziban mengingat bahwa Aurora selalu datang ketempat ini pada jam 7 pagi untuk mengunjunginya, ia kebingungan dimana harus menyembunyikan tubuh pria berambut putih itu. Akhirnya ia mendapat ide saat menatap lemari kayu bercat hitam diujung ruangan, tak pikir panjang ia langsung memasukkan tubuh pria itu kedalam lemari tersebut. Sebenarnya lemari itu ia gunakan untuk menyimpan pakaian, akan tetapi tidak terlalu banyak pakaiannya yang disimpan disana, sehingga membuat tubuh pria itu muat didalam lemari tersebut. Untuk mengecoh Aurora jika tempat ia menyembunyikannya berhasil ditemukan, ia menumpukkan pakaiannya untuk menutup tubuh pria itu, dan menyelimutinya dengan selimut merah tebal.


Tepat setelah rencananya selesai, terdengar suara Aurora yang memanggilnya dari luar. Tak pikir panjang ia langsung membukakan pintu untuk Aurora, dan menyambutnya dengan senyum hangat.


"Tumbenan kakak bangun sepagi ini, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Aurora kebingungan.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak ingin terlalu menyulitkanmu saja." Jawab Dziban sambil mengusap rambut putih Aurora.


"Bagaimana dengan roti bakar pisang coklat? Salad buah? Atau jamur saus tiram?" Usul Aurora dengan riang.


"Kalau begitu kita buat saja ketiganya, untuk minumannya cukup 2 gelas jeruk hangat." Ajak Dziban.


Sesuai yang sudah direncanakan, mereka langsung bersiap-siap untuk memasak menu sarapan pagi ini. Dziban mengambil beberapa buah-buahan dari lemari penyimpanan, lalu mengulas kulitnya dan memotongnya kecil. Semua potongan itu ia masukkan kedalam 2 mangkuk kosong yang sudah disiapkan, setelahnya ia langsung membasahi potongan buah-buahan tersebut dengan mayonaise, dan menaburi parutan keju diatasnya.

__ADS_1


Setelah selesai, ia langsung mengambil beberapa jeruk manis dari dalam lemari penyimpanan, lalu memerasnya. Hasil perasannya itu ia masukkan kedalam panci, lalu ditambahkan dengan sedikit perasan jeruk nipis. Ia mengambil 2 butir telur, sekotak kecil susu cair, dan sepotong jahe. 2 butir telur itu ia masukkan kedalam panci, lalu ia menuangkan susu cair tersebut kedalam panci juga, dan diakhiri dengan memasukkan parutan jahe kedalam panci itu juga.


Ia kemudian mengaduk semua bahan itu dengan pelan, selama beberapa menit hingga akhirnya semua bahan itu tercampur rata.


Setengah jam kemudian, akhirnya semua menu masakan merekapun siap. Semuanya telah terhidang diatas meja, Aurora yang sudah membersihkan badannya sebelum datang kemari langsung duduk dikursi untuk menunggu Dziban yang masih membersihkan badannya. Setelah selesai, merekapun menyantap sarapan itu bersama-sama.


"Efeknya akan terlihat dalam 20 menit lagi, Aurora harus pergi dari tempat ini sebelum waktunya tiba. Jika tidak, ia akan terkejut dengan jiwa yang tiba-tiba muncul itu, dan mengira akulah orang yang membunuh jasadnya. Intinya, kejadian ini tidak boleh diketahui olehnya. Atau akan terjadi kesalahpahaman diantara aku dengannya." Pikir Dziban sambil membersihkan bibirnya dengan sapu tangan.


Ia mengumpulkan semua alat makan yang kotor, lalu membawanya kedalam kamar mandi. Aurora tidak hanya diam saja, ia juga membantu Dziban untuk membawa sisanya. Agar tidak menumpuk, mereka membersihkannya bersama-sama, hanya dalam beberapa menit saja akhirnya pekerjaan itupun selesai.


Dziban mendapatkan sebuah ide saat melihat sebuah sapu lidi yang tersandar ditembok. Gagang sapunya berwarna hitam pekat, sedangkan lidinya berwarna emas menyala. Ia sendiri yang menciptakan sapu lidi itu dan menamainya dengan Blacky, jika digolongkan mungkin akan setara dengan artefak tingkat 2 bintang 10, namun sudah memiliki kecerdasan layaknya manusia. Sapu lidi itu bisa bergerak dengan sendirinya, seperti manusia pada umumnya dan seolah memiliki pikiran sendiri. Namun jika Dziban memerintahkannya untuk melakukan sesuatu, maka ia akan langsung menjalankannya dan tidak bisa menolak. Bisa dibilang perintahnya itu sangat ABSOLUTE.


"Aurora, setelah ini aku akan mencoba sebuah eksperimen. Apa bisa kau jangan datang lagi untuk sementara waktu? Aku khawatir itu akan membahayakan nyawamu, jika itu aku mungkin tidak apa-apa. Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan datang kekota saat ujian clan dimulai. Kebetulan, eksperimen kali ini berhubungan dengan kekuatanku yang menghilang." Jelas Dziban panjang lebar.


"Kalau begitu baiklah, tapi kakak berhati-hatilah. Jika kakak butuh bantuan, jangan ragu untuk menemui Aurora. Aurora percaya pada kakak, kakak pasti bisa menyelesaikan eksperimen kali ini. Selain itu, Aurora juga percaya kakak pasti akan menggemparkan clan Ashura saat waktunya tiba." Ucap Aurora sebelum akhirnya berpamitan dan langsung keluar dari rumah pohon tersebut.

__ADS_1


__ADS_2