KING OF KINGS

KING OF KINGS
BAB 28 : TUAN MUDA CLAN DUST


__ADS_3

BAB 28 : TUAN MUDA CLAN DUST


Karna masih sore, Dziban mengajak Aurora untuk pergi kepasar. Kebetulan ada beberapa barang yang harus dibelinya, dan semua itu adalah permintaan dari Lawrance.


Setibanya disana, mereka langsung berpencar, sebelumnya Dziban sudah memberikan uang sejumlah 100 gold pada Aurora. Dziban berjalan mendekati sebuah dagangan sederhana yang dijaga oleh seorang kakek tua berambut uban panjang, dikatakan sederhana karna memang dagangannya hanya diletakkan begitu saja diatas tanah dengan beralaskan sebuah tikar berwarna merah. Biasanya para pedagang menggunakan meja untuk meletakkan barang-barang yang dijualnya, tapi kakek tua ini sedikit berbeda.


"Kakek, apa kau menjual inti core beast tingkat 2 berelemen kayu?" Tanya Dziban sopan, kini posisinya adalah berlutut didepan kakek tua tersebut.


"Maksudmu batu coklat ini?" Tanya kakek tua itu sambil memperlihatkan sebuah kristal coklat menyala, didalamnya terlihat jiwa seekor Black Wood Eagle.


"Yap, benar! Kebetulan sekali inti core ini juga bertingkat 2." Ucap Dziban sambil mengambil inti core tersebut dari tangan kakek tua itu.


"Berapa harganya, kek?" Tanya Dziban sambil mengamati inti core ditangannya.


"Ambil saja 50 gold." Jawab kakek tua itu.


Dziban mengeluarkan selembar uang kertas berwarna emas dari kalungnya, bernominal 100 gold. Ia memasukkan inti core tersebut kedalam kalungnya, lalu menyerahkan uang kertas itu pada kakek tersebut "Maaf kek, sepertinya ini kelebihan."


"Ah, terima kasih banyak nak. Kakek tua ini sangat beruntung bisa bertemu denganmu, akhirnya kakek tua ini punya uang untuk membeli makanan. Kakek sebenarnya belum makan selama 3 hari, hanya memakan sisa-sisa makanan dari orang-orang disini." Ucap kakek tua itu penuh rasa syukur.


"Kalau begitu kakek tunggu saja disini, aku ada sedikit keperluan." Ucap Dziban sebelum akhirnya menggunakan Ghost Shadow Step, lalu melesat pergi.


Beberapa menit kemudian, iapun kembali lagi. Ia mengeluarkan sebuah cincin Nightcore dari dalam kalungnya, lalu memberikannya pada kakek tua tersebut "Kakek, ini ada sedikit makanan, anggap saja sebagai hadiah karna kakek sudah membantu menemukan barang yang kucari."

__ADS_1


Kakek tua itu menerima cincin Nightcore tersebut dari tangan Dziban, lalu memasukkannya kedalam kantong jubah "Nak, kau sungguh baik. Terima kasih banyak karna sudah membantu kakek tua ini."


Kakek tua itu merogoh kantong jubahnya yang lain, lalu mengeluarkan 3 gulungan kertas hitam usang yang diikat dengan tali berwarna emas. Kakek itupun memberikan ketiga gulungan tersebut kepada Dziban "Maafkan kakek, sepertinya hanya ini yang bisa kakek berikan sebagai balas budi perbuatan baikmu."


Seketika Lawrance keluar dari kalung itu dan melayang disebelah Dziban, ia menatap ketiga gulungan itu selama beberapa saat. Salah satu gulungan itu diselimuti oleh aura emas yang sangat pekat, satunya lagi diselimuti aura hitam yang sangat mengerikan, dan terakhir aura merah yang sangat dahsyat. Sepertinya ia penasaran dengan isi ketiga gulungan itu, karna ia merasakan aura yang sangat hebat terpancar dari ketiga gulungan tersebut.


"Nak, kau ambil saja ketiga gulungan itu. Sepertinya ketiganya bukan barang biasa, aku terkesan penasaran saat pertama kali melihatnya." Ucap Lawrance dengan telepati.


"Emang, siapa juga yang tidak mau menerimanya? Kau pikir hanya kau saja yang bisa melihat auranya." Jawab Dziban dengan telepati juga.


Lawrance tiba-tiba merasakan sebuah firasat buruk, ternyata firasat buruk itu berasal dari tatapan kakek tua itu padanya. Tak pikir panjang Lawrance langsung masuk kedalam kalung itu kembali "Darimana ia menyadari keberadaanku?! Apa tadi itu dia benar-benar menatapku?!"


"Bocah, ayo cepat tinggalkan kakek tua itu! Sepertinya ia menyadari keberadaanku!" Perintah Lawrence panik dengan telepati.


"Bodoh! Hanya orang-orang dengan tingkatan Legend keatas yang bisa menyadari keberadaanku!" Jawab Lawrance dengan nada kesal.


"Memangnya kenapa? Aku kan tidak pernah memprovokasinya, malahan aku membantunya." Ucap Dziban.


"Hahh... Ya sudahlah, terserah kau saja." Ucap Lawrance menyerah.


"Kakek, terima kasih banyak atas kebaikanmu." Ucap Dziban sambil menerima ketiga gulungan itu, lalu memasukkannya kedalam kalung dan beranjak bangkit "kalau begitu aku pergi dulu kek, masih ada beberapa barang yang harus kucari."


Setelah berpamitan, Dziban langsung melanjutkan pencariannya. Karna uangnya yang melimpah, ia tidak kesusahan sedikitpun mencari barang-barang seperti yang sudah dikatakan Lawrance. Memang benar, uang adalah segalanya.

__ADS_1


Setelahnya, Dziban segera pergi menuju pos penjaga clan Ashura, ia sudah berjanji dengan Aurora akan bertemu disana. Setibanya disana, ia tidak menemukan Aurora, melainkan hanya beberapa orang penjaga berzirah hijau. Iapun memilih untuk menunggunya, namun sudah setengah jam ia menunggu, gadis berambut putih itu masih belum datang juga. Ia pun memilih untuk mencarinya saja, daripada harus menunggu lagi selama beberapa jam, rasanya sangat membosankan.


Belum 5 menit, akhirnya ia menemukan orang yang dicarinya. Tapi justru bukannya merasa senang, tapi malah merasa kesal dan marah melihat kejadian didepannya. Ia melihat Aurora sedang dilingkari oleh 5 orang penjaga clan Dust, semuanya berzirah merah. Sedangkan ditengah-tengah lingkaran mereka ada Aurora dan seorang pria berambut ungu yang tersisir rapi kekiri dan kanan, pria itu berpupil mata hitam pekat, tubuhnya tinggi dan kulitnya putih, jika dilihat dari sudut pandang perawakannya ia mungkin saja berumur 15 tahun. Dziban mengenali pria itu, ia sudah bertemu dengannya beberapa kali saat ada pertemuan 5 clan kota Semi. Yah benar, pria itu adalah tuan muda clan Dust, Belliaz Dust.


"Tuan muda *******! Berani sekali kau mengganggu Aurora!" Teriak Dziban penuh amarah sambil menunjuk Belliaz.


Para penjaga segera merubah posisi mereka, kini mereka sudah berbaris rapi dibelakang tuan muda mereka. Aurora langsung berlari menghampiri Dziban, lalu bersembunyi dibelakang punggungnya.


"Hoho... Ternyata itu kau, tuan muda sampah. Sekarang kau sudah berani bertemu denganku lagi, aku penasaran apa yang membuatmu seberani itu?" Belliaz berjalan menghampiri Dziban.


"Sebenarnya aku tidak pernah takut bertemu denganmu, tapi yang membuatku tidak ingin bertemu denganmu adalah... Jijiknya wajahmu itu, aku rasanya ingin muntah saja." Dziban terkekeh kecil. Sebenarnya ia sengaja mencemoohnya, bertujuan agar bisa membuatnya terprovokasi.


"********! Sampah sepertimu tidak pantas mengatakannya pada tuan muda terhormat sepertiku!" Sepertinya rencana Dziban untuk memprovokasinya sepenuhnya berhasil.


Belliaz mengambil nafas dalam-dalam, lalu melompat menerjang Dziban diatasnya sambil mengangkat genggaman tangannya yang sudah siap untuk memukul. Tiba-tiba saja lengan kanannya berubah menjadi besi, berwarna perak mengkilap. Iapun mengayunkan genggaman tangannya pada Dziban seraya berteriak "Mythical art : Iron Hand!"


Bukk


Dziban berhasil menahan serangan itu hanya dengan telapak tangan kanannya saja, akan tetapi rasa sakitnya sangat terasa ditelapak tangannya. Belliaz terkejut dengan hal itu, dulunya bocah sampah itu tidak pernah berhasil menghindari serangannya dan langsung pingsan sekali terkena pukulan tangan besinya. Tapi sekarang berbeda, bocah sampah itu sudah bisa menahannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2