
Sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, Dziban beranjak turun dari kasurnya, lalu mencari apapun yang bisa dimakan. Beruntung ia menemukan selembar roti tawar didalam lemari penyimpanan, tak pikir panjang roti itu langsung dimasukkan kedalam mulutnya. Namun hanya selembar roti saja tidak mungkin bisa melawan rasa laparnya, iapun kembali melanjutkan pencariannya. Setelah beberapa menit mencari, ia hanya menemukan sepotong keju, satu buah apel, dan satu buah pisang. Semua tempat didalam rumah itu sudah ditelusurinya, namun rasa laparnya masih belum mereda.
Dengan terpaksa ia berjalan keluar dari rumah tersebut, lalu menuruni pohon raksasa itu dengan sangat hati-hati. Butuh waktu puluhan menit untuk menginjakkan kaki diatas permukaan tanah, meski kelelahan ia terus melanjutkan pencariannya. Ia terus berjalan menyusuri hutan, hanya dalam beberapa menit saja ia berhasil menemukan puluhan buah-buahan, semuanya dimasukkan kedalam kantung plastik hitam besar yang tadi digunakan Aurora untuk mengumpulkan buah juga.
Ia melihat isi kantung plastik tersebut, ternyata buah yang dikumpulkannya hanya setengah memenuhi kantung tersebut. Karna belum merasa cukup, ia terus melanjutkan pencariannya sambil memakan buah-buahan itu. Beberapa jam kemudian, akhirnya ia berhasil mengumpulkan buah-buahan dalam jumlah besar yang ia bawa dengan 4 kantung plastik hitam dengan ukuran yang sama.
Meski terasa berat, ia terus berjuang berjalan kembali kerumah pohon. Memanjat pohon sambil membawa beban terasa sangat sulit, apalagi ketinggian pohon tersebut luar biasa. Untungnya pohon raksasa itu memiliki banyak dahan, disaat kelelahan ia menggunakannya untuk beristirahat sejenak mengisi perut dan memulihkan tenaga. Cara itu terus digunakannya, hingga akhirnya ia sampai diatas dahan tempat rumah pohonnya berada.
Baru saja ia akan membuka pintu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari bawah. Ledakannya bukan hanya sekali, tapi terus saling menyahut. Setelah memasukkan keempat kantung plastik hitam itu kedalam lemari penyimpanan, ia langsung melesat keluar dari rumah, lalu turun ketempat yang lebih rendah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Didekat batang pohon raksasa itu, terlihat Alex dan keempat anak buahnya tengah waspada dengan sekitarnya. Tubuh mereka dipenuhi oleh luka, pakaian yang mereka gunakanpun sobek dibeberapa tempat. Beberapa meter didepan mereka, terlihat Aurora dengan penampilan yang berbeda. Tubuhnya diselimuti oleh aura biru muda yang sangat kuat, selain itu tubuhnya melayang beberapa cm diatas permukaan tanah. Ditangan kanannya, ia menggenggam sebilah pedang yang murni seluruhnya terbuat dari es, bentuknya pun terlihat unik.
"Gadis itu... Apa benar itu adalah Aurora?" Pikir Dziban sambil menatap gadis tersebut.
"Kenapa kau menyerang kami?! Aku tidak ingat pernah membuat masalah denganmu!" Teriak Alex menunjuk Aurora.
"Benar, kau memang tidak pernah membuat masalah denganku. Tapi membuat masalah dengan orang yang ku cinta, sama saja dengan membuat masalah denganku." Ucap Aurora tenang, nada suaranya terdengar sangat dingin.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud?! Kami tidak pernah membuat masalah dengan siapapun selain si minus itu!" Alex tak mau kalah.
"Benar! Kami hanya membuat masalah dengan Dziban, si minus itu!" Sahut Belial.
"Sudah membuat masalah, dan merendahkannya didepanku, sepertinya kematian terlalu rendah buat kalian." Ucap Aurora sambil bergerak mendekati mereka.
"Jangan bilang si minus it-"
Belum sempat Alex melanjutkan ucapannya, Aurora langsung melesat cepat menuju mereka.
Beruntung Alex langsung menghindar, jika tidak mungkin saja serangan itu akan membelah tubuhnya menjadi 2 bagian. Serangan Aurora meleset mengenai batang pohon raksasa itu, tebasannya berbekas pada batang pohon tersebut, dan secara langsung bagian batang disekitar tebasan itu langsung membeku dalam sekejap.
Alex, Belial, Orchen, Broz, dan Jazz hanya bisa terbengong menyadari kekuatan Aurora yang ternyata sangat jauh diatas mereka. Mereka sadar bahwa saat ini adalah situasi hidup dan mati, salah langkah saja bisa membuat mereka terbunuh.
Melihat serangan Aurora gagal, Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung melesat kabur dengan Mythical art 'Lightning Movement' miliknya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keempat anak buahnya, yang sekarang dipikirannya adalah berusaha untuk menyelamatkan diri.
"Hmm... Pengecut, jangan harap bisa kabur dariku." Ucap Aurora sambil menatap kearah Alex melarikan diri.
__ADS_1
"Aku akan menyusulnya nanti, lebih baik selesaikan ini dulu." Ucapnya sambil menatap keempat anak buah yang ditinggalkan Alex.
Ia mengangkat tinggi pedang esnya, dan mengeluarkan salah satu skill yang dimilikinya "Mythical art : Ice Meteor Shower!"
Seketika itu pula, beberapa meter diatasnya muncul puluhan meteor seukuran bola basket yang terbuat dari es. Tidak ada yang tahu darimana kemunculannya, yang jelas tiba-tiba muncul diudara. Semua meteor es itu menghantam semua yang ada disekitar Aurora, siapapun yang terkena olehnya otomatis akan langsung membeku. Belial dan yang lainnya terus berusaha untuk menghindari serangan itu, tapi semakin lama keadaannya semakin sulit, karna yang mereka pijak bukan lagi permukaan tanah, melainkan es. Hal itu membuat gerakan mereka menjadi lebih lambat, karna jika dipaksakan untuk terus bergerak cepat, otomatis mereka akan tergelincir dan akan terkena oleh batuan meteor es tersebut.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja tidak ada lagi meteor es yang menghantam kepermukaan tanah. Belial dan yang lainnya menghembuskan nafas lega, mengira bahwa serangan itu selesai dan berhasil selamat.
"Ahh... Akhirnya hidupku masih diperpanjang, para dewa memang selalu berpihak deng-"
Belial langsung menghentikkan ucapannya saat melihat keatas, ternyata ada puluhan meteor es yang diudara. Tapi kali ini beda dari yang sebelumnya, meteor es itu saling menyahut menyerang apapun yang ada dibawah, satu meteor es hancur, maka akan muncul satu meteor es lagi. Serangan itu seperti hujan, tak henti-hentinya menyerang, tak ada habisnya.
"Broz! Diatasmu!" Teriak Belial memperingatkan.
Broz memandang keatas, ternyata ada sebuah meteor es yang bergerak tepat kearahnya. Jaraknya dengan meteor es itu membuatnya mustahil untuk menghindar, akhirnya ialah yang menjadi korban pertama. Tepat setelah dihantam oleh meteor es itu, sekujur tubuhnya langsung membeku, tidak bisa digerakkan sedikitpun. Meteor es yang lain datang menyerang tubuhnya yang membeku, membuat tubuhnya hancur berkeping-keping bersamaan dengan es yang menyelimutinya.
Belial dan yang lainnya yang masih tersisa hanya bisa menelan ludah melihat kejadian itu, namun Belial merasa hatinya terbakar hebat melihat seorang teman baiknya terbunuh didepan matanya sendiri, berbeda dengan Orchen dan Jazz yang masih memegang teguh prinsip mereka saat ini "Tidak peduli apapun yang terjadi, aku harus selamat!"
__ADS_1