
Dziban sudah bangun pagi sekali, bahkan jam baru menunjukkan pukul 5 pagi, tapi ia sudah bersemangat sekali. Bukan karna kekuatannya yang sudah mencapai tingkat Gold bintang 1, tapi karna hari ini adalah ujian clan. Sudah saatnya ia membungkam mulut semua orang yang pernah memanggilnya sampah, ia akan membuktikan pada semua orang bahwa sekuat apa orang yang mereka sebut sampah.
Dziban segera membersihkan badannya, lalu menyantap sarapan yang tadi sempat dibuatnya. Setelah itu, ia langsung mengganti pakaiannya. Sebuah jubah perang bangsawan berwarna hitam dengan sedikit paduan armor emas dibagian pundak dan dada lengkap dengan armor emas dibagian lengan serta kakinya, dipadukan dengan celana hitam panjang dengan paduan armor emas dibagian dengkul lengkap dengan sepatu hitam bertali emas. Itulah pakaian yang dikenakannya saat ini, ia sengaja menggunakan jubah andalannya untuk menambah kekaguman semua orang padanya.
Setelah selesai bersiap-siap, ia langsung melesat menuju rumahnya. Diperbatasan hutan, ia bertemu dengan Aurora yang saat itu berniat untuk mencarinya, namun kebetulan bertemu dengan orang yang dicarinya disini. Merekapun berjalan bersama kerumah, setibanya disana mereka disambut oleh Holder dengan sebuah senyuman hangat.
"Perhatian kepada semua anggota clan yang akan mengikuti ujian, dimohon untuk berkumpul diarena Blue Silver. Ujian akan dimulai sekarang, bagi peserta yang terlambat akan langsung dieliminasi oleh para tetua." Dziban mengenal suara ini, tidak lain adalah salah satu dari empat tetua yang membenci dirinya, tetua Asgorth.
Dziban dan Aurora langsung berjalan ketempat yang sudah diumumkan, setibanya disana mereka langsung duduk dikursi yang sudah disiapkan. Arena ini berbentuk sebuah persegi dengan ketinggian 1 meter, dan ukurannya sama dengan rumah pohon milik Dziban. Sebenarnya arena ini tidak terlalu besar, tapi yang membuat tempat ini dikatakan besar adalah sebuah bangunan setinggi 7 meter yang melingkari arena tersebut ditengah-tengahnya, bangunan itu fungsinya sebagai tempat duduk para penonton dan kurang lebih bentuknya seperti stadiun sepak bola.
"Para peserta diharapkan untuk mendaftar terlebih dahulu, kalian bisa mengambil formulir pendaftarannya pada tetua Goro, kemudian dikumpulkan pada tetua Brighton. Tetua Vlare berperan menjadi juri pada ujian clan kali ini. Kalau begitu jangan membuang waktu lagi, semua peserta diberikan waktu 30 menit, ujian clan akan dimulai 30 menit kemudian dan yang terlambat akan langsung dieliminasi."
Tak ingin terlambat dan dieliminasi, Dziban dan Aurora langsung melesat menuju tetua Goro dan mendapatkan sebuah formulir pendaftaran. Mereka berdua mengisi formulir itu terlebih dahulu, lalu menyerahkannya pada tetua Brighton. Para peserta lainnya juga melakukan hal yang sama dengan mereka, suasana berubah ricuh seketika dan menjadi lebih ramai.
Seorang pria berambut cokelat berjalan menghampiri Dziban, pupil matanya berwarna biru terang, tubuhnya tinggi dan warna kulitnya coklat muda seperti sawo matang. Ia mengenakan celana panjang berwarna putih tanpa baju yang menutupi tubuh kekarnya, jadi hanya celana dan sepatu kets hitam.
"Hoho... Ternyata kau berani juga keluar dari tempat persembunyianmu." Ucap pria berambut cokelat itu menyapa.
"Oh, ternyata Gin. Sudah lama kita tidak bertemu, kupikir kau sudah mati menjalani latihan tetua Brighton." Dziban merespon santai.
"Kau..." Gin mengangkat genggaman tangan kanannya dan langsung melancarkan serangan pada Dziban "Jangan berani-beraninya menghina guruku!"
Dziban berhasil menahan serangan itu dengan sangat mudah, hanya dengan mengandalkan telapak tangan kanannya saja tanpa menggunakan energi Mythical sedikitpun. Orang-orang yang melihat kejadian itu dibuat tercengang, bahkan Aurora juga tak percaya Dziban berhasil menangkis serangan itu dengan sangat mudah.
"Ini... Tidak mungkin! Aku adalah seorang Mythical tingkat Bronze bintang 8! Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa melatih energinya berhasil menahan seranganku dengan sangat mudah?!" Pikir Gin terbelalak.
"Apa hanya ini kekuatan seranganmu?" Tanya Dziban dengan nada sombong.
"Hmph! Serangan kali ini hanya untuk menakut-nakuti mu saja, bahkan aku tidak menggunakan sedikitpun energi Mythical. Kekuatanku yang sebenarnya akan kau lihat sendiri diatas arena, aku berharap kita bisa bertemu saat ujian tarung nanti." Jawab Gin sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Semoga saja kita bisa bertemu lebih cepat!" Teriak Dziban sambil melambaikan telapak tangan kanannya yang seketika itu membuat Gin merasa semakin kesal.
Setelah itu, Dziban berpaling menatap Aurora, membuat kedua pipi gadis itu memerah "Aurora, aku akan beristirahat sebentar. Tidak perlu khawatir, aku pasti akan kembali saat waktunya tiba."
"Iya, kalau begitu kakak hati-hati." Ucap Aurora lembut sambil tersenyum manis.
Dziban terpana melihat senyum manis Aurora, tapi untung saja ia segera sadar dan langsung melesat kearah hutan Falling Heart berada. Tak lama kemudian akhirnya iapun tiba diperbatasan hutan, tak pikir panjang ia segera memanjat sebuah pohon dan merebahkan tubuhnya diatas dahan pohon tersebut.
Sejuknya angin yang berhembus pelan saat itu membuatnya sedikit mengantuk, tak berapa lama akhirnya iapun tertidur pulas diatas dahan pohon tersebut.
Setengah jam kemudian, terlihat Dziban masih tertidur pulas diatas dahan pohon. Sedangkan dilain tempat, terlihat ujian sudah dimulai. Diatas arena diletakkan sebuah batu besar berwarna hitam, terlihat ukiran-ukiran tulisan aneh berwarna biru menyala pada batu tersebut.
"Baiklah, kalau begitu ujiannya akan langsung dimulai! Ujian pertama adalah mengetes kekuatan, barang siapa yang kekuatannya berada dibawah tingkat Bronze bintang 5, maka akan dinyatakan gagal dan tidak bisa mengikuti ujian selanjutnya." Ucap tetua Asgorth mengumumkan ditengah arena. Meski tidak menggunakan pengeras suara, suaranya terdengar sangat keras dan didengar jelas oleh semua orang yang ada disana.
"Peserta dengan nomor urut 1-10 harap berbaris diatas arena, masing-masing dari kalian harus memukul batu itu sekeras-kerasnya dengan menambahkan sedikit energi Mythical, dan secara otomatis batu itu akan memberitahukan kalian berada ditingkatan apa."
Tepat setelah itu, terlihat 10 anak mulai berjalan menaiki arena. Anak dengan nomor urut pertama melakukan sesuatu seperti yang sudah dijelaskan oleh tetua Asgorth, dan hasilnya ia gagal. Dari 10 anak yang menarik arena, hanya ada 1 anak yang berhasil lulus, itupun kekuatannya pas-pasan dengan batas kekuatan yang sudah ditentukan.
"Peserta dengan nomor urut 140-150 harap berbaris diatas arena dan memulai ujian pertama satu persatu." Ucap tetua Asgorth mengumumkan.
Para peserta dengan nomor urut yang sudah ditentukan segera berjalan menaiki arena. Namun ada yang aneh, hanya 9 anak yang berbaris diatas arena, sedangkan anak dengan nomor urut terakhir tidak terlihat diatas arena. Tetua Asgorth langsung memeriksa formulir pendaftaran, dan menemukan nama seorang peserta dengan nomor urut terakhir yang ternyata adalah Dziban.
"Peserta ujian atas nama Dziban akan dieliminasi jika belum datang saat waktunya tiba!" Teriak tetua Asgorth tegas.
Seketika itu suasana berubah ricuh, terdengar suara cemoohan, ejekan, dan hinaan dari mulut para penonton, dan semuanya bertujuan pada satu orang, yaitu Dziban sendiri. Beberapa saat kemudian, akhirnya kesembilan peserta yang berada diatas arena sudah mengetes kekuatan mereka dan semuanya dinyatakan gagal. Sekarang, hanya tinggal menunggu peserta terakhir menyelesaikan ujiannya untuk melanjutkan ujian ketahap kedua.
5 menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu masih belum datang juga. Dari sekian banyak orang yang kesal padanya, tetua Asgorth masih lebih kesal karna harus terus berdiri diatas arena.
"Sudah lima menit dan peserta terakhir masih belum datang juga! Kalau begitu, peserta terakhir akan resmi die-" Belum sempat tetua Asgorth menyelesaikan ucapannya, Dziban langsung memotong cepat sambil melompat tinggi keatas arena "Maaf! Maaf! Sepertinya aku sedikit terlambat, tapi untung saja waktunya masih belum habis."
__ADS_1
"Kau turun saja! Tidak ada gunanya kau mengikuti ujian clan!"
"Ikut maupun tidak ikut sama saja bagimu! Kekuatan milikmu akan membuatmu langsung gagal dalam ujian pertama!"
"Lebih baik kau turun saja! Jangan membuang-buang waktu!"
Suasana mulai berubah ricuh, kata-kata tajam dari semua orang bertuju pada Dziban. Namun Dziban tidak memperdulikan perkataan-perkataan mereka dan terus berjalan menuju batu hitam didepannya.
"Akanku buktikan pada semua orang." Dziban menggenggam erat telapak tangan kanannya, lalu mengangkatnya dan langsung menyerang batu hitam yang ada dihadapannya "Bahwa aku bukanlah sampah seperti dulu lagi!"
Dbuaarrr
Batu hitam itu langsung hancur karna pukulannya, seketika suasana langsung berubah sepi.
"Batu itu... Hanya dapat mengukur kekuatan seseorang dengan tingkatan Bronze, jika diatasnya maka batu itu akan hancur." Pikir tetua Asgorth tak percaya sambil melemparkan pandangannya kepada Dziban.
"Sepertinya kakak sudah mencapai tingkatan Silver, kakak memang hebat!" Pikir Aurora gembira.
"Hmm... Anakku, sepertinya kau sudah bisa melatih energimu kembali. Tapi kau sangat mengejutkanku, tak kusangka kau sudah berkembang jauh secepat ini." Pikir Holder sambil tersenyum lembut menatap anaknya.
"Baiklah! Peserta terakhir dinyatakan lulus dalam ujian kali ini! Dalam ujian pertama, hanya ada setengah dari seluruh peserta yang berhasil lulus. Hanya 60 orang peserta yang berhasil lulus, sedangkan sisanya gagal. Ujian selanjutnya akan dimulai 30 menit lagi, para peserta bisa memanfaatkannya untuk beristirahat." Tetua Asgorth mengumumkan.
Seketika itu pula, para peserta dan penonton segera meninggalkan tempat itu. Semuanya kembali keurusannya masing-masing, dan kembali berkumpul ditempat ini 30 menit kemudian.
"Baiklah, saya akan menyampaikan sedikit informasi mengenai ujian krdua! Ujian kedua adalah ujian tarung! Aturannya seperti ini, peserta dengan nomor urut pertama akan bertarung melawan peserta dengan nomor urut kedua, dan terus dilanjutkan seperti itu. 30 peserta yang berhasil memenangkan pertarungannya bisa melanjutkan ujiannya." Ucap tetua Asgorth mengumumkan panjang lebar dari kursi penonton disebelah kanan Holder.
"Peserta dengan nomor urut pertama dan kedua! Harap segera naik keatas arena!" Panggil tetua Vlare yang sudah berdiri diatas arena.
2 orang peserta langsung melesat menaiki arena, satunya adalah seorang pria berambut hitam dan satunya lagi adalah seorang pria berambut kuning.
__ADS_1
"Silahkan memperkenalkan diri kalian terlebih dahulu." Ucap tetua Vlare.