
"Hmph, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu, masih ada waktu beberapa jam untuk beristirahat. Tepat jam 9, kau langsung kerumah dan bersiap-siap, jangan sampai kau terlambat, karna itu akan mencoreng nama baik clan kita." Ucap Holder sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
"Bla bla bla... Ayah, kau terlalu banyak berbasa-basi. Cukup intinya saja, aku pasti tidak akan terlambat." Ucap Dziban acuh tak acuh.
"Hmph, kupegang ucapanmu itu. Jangan sampai membuatku kembali ketempat ini lagi untuk mencarimu." Ucap Holder sambil berjalan keluar dari rumah pohon tersebut.
Setelah Holder keluar, Dziban melanjutkan tidurnya kembali. Tanpa sadar, sekelebat bayangan hitam berjubah menghampirinya, lalu meneteskan darah kekeningnya. Dziban langsung terbangun dari tidurnya, namun bayangan hitam itu langsung menghilang, jadi tidak ada siapapun yang dilihatnya. Karna terlalu ngantuk, ia kembali melanjutkan tidurnya dan sudah terlelap hanya dalam beberapa saat.
Pagi harinya, tepat jam 8 pagi, ia dibangunkan oleh air yang menetes diwajahnya. Ternyata pelakunya adalah Aurora, karna hanya ia yang dilihatnya saat pertama membuka mata. Aurora meminta Dziban untuk membersihkan badannya terlebih dahulu, lalu menyantap sarapan yang sudah dihidangkan diatas meja. Diatas meja, telah terhidang sepiring roti bakar berselai coklat dan segelas susu, serta sepiring buah-buahan.
Selesai membersihkan badannya, Dziban langsung menyantap sarapan yang sudah dihidangkan oleh Aurora.
"Aurora, terima kasih, sepertinya aku merepotkanmu lagi." Ucap Dziban sambil membersihkan bibirnya dengan sapu tangan.
"Hehe... Tak apa, Aurora sengaja melakukannya agar kakak tidak terlambat untuk pertemuan hari ini." Ucap Aurora sambil terkekeh kecil, bersamaan dengan itu ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Hahh... Pertemuan itu lagi... Merepotkan saja, kenapa juga aku harus menghadirinya." Keluh Dziban sambil menumpukkan alat-alat makannya yang kotor "Aurora, apa kau tahu? Sebenarnya aku lebih memilih bertunangan denganmu daripada putri Anna itu. Lagipula, aku belum pernah melihatnya, mungkin saja ia tidak lebih cantik darimu."
Seketika itu pula, wajah Aurora langsung memerah. Ia segera menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu memalingkannya dari hadapan Dziban. Melihat hal itu, Dziban menjadi kebingungan dan langsung bertanya "Kau kenapa?"
"Ti... Tidak ada! Tidak ada apa-apa!" Teriak Aurora dengan posisi yang masih sama.
__ADS_1
"Benarkah? Jangan bilang ka-" Dengan cepat Aurora langsung memotong ucapannya "sudahlah, tidak ada apa-apa. Ayo cepat, kita pergi kerumah kakak."
"Ah, benar! Kalau begitu ayo." Ucap Dziban sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari rumah pohon.
"Hahh... Untung saja kakak tidak menanyakannya lagi... Selamat... Selamat..." Gumam Aurora sambil menghembuskan nafas lega.
Tidak membuang waktu, ia segera menyusul Dziban. Tepat pada jam 9, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan dan langsung disambut oleh Holder. Tak pikir panjang Dziban langsung berjalan masuk kedalam kamarnya, lalu mengganti pakaiannya. Ia mengenakan kemeja hitam lengkap dengan jas dan dasi putih, sebagai bawahan ia mengenakan celana putih panjang dan sepatu kets putih.
Saat ia keluar dari kamar, terlihat Aurora dan Holder sudah menunggunya. Kedua pipi Aurora terpana melihat penampilan Dziban saat itu, Dziban yang menyadarinya langsung menatapnya, dan Aurora segera memalingkan wajahnya secepat mungkin.
"Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa putri itu sudah datang?" Tanya Dziban sambil merapikan dasinya.
"Ahh... Menyusahkan saja, seharusnya mereka datang lebih cepat." Keluh Dziban sebelum akhirnya berjalan menghampiri Aurora "Karna tidak ada yang harus dikerjakan, aku akan pergi dulu dengan Aurora. Tenang saja, kalau saatnya sudah tiba aku akan langsung datang."
Dziban menggenggam telapak tangan Aurora, lalu pergi bersama-sama. Kedua pipi Aurora kembali memerah, namun ia terus memaksa dirinya untuk tetap tenang.
"Kau mau kemana?" Tanya Holder.
"Tidak ada, hanya berkeliling saja melihat-lihat kepaviliun. Ayah tenang saja, jangan terlalu khawatir." Ucap Dziban sambil menoleh kebelakang.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." Nasihat Holder sambil melambaikan tangannya yang dibalas dengan Dziban dan Aurora dengan lambaian tangan juga.
__ADS_1
Seperti yang sudah direncanakan, Dziban dan Aurora pergi menuju paviliun yang paling dekat dengan lokasi mereka saat ini, yaitu paviliun Twin Tails. Selama perjalanan, Dziban selalu mendapatkan tatapan tajam dari setiap orang yang ditemuinya. Tidak hanya itu, banyak juga pria yang iri karna melihatnya berjalan bersama sambil berpegangan tangan dengan Aurora. Akan tetapi ia sudah terbiasa dengan hal itu, jadi yah tidak usah dipedulikan.
Hanya dalam beberapa menit saja mereka tiba ditempat tujuan, karna memang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumahnya. Bangunan paviliun Twin Tails terlihat persis seperti pagoda, terdiri atas 3 lantai, bercat hitam dan emas, diatas pintu utamanya terukir nama paviliun tersebut dan seekor rubah kecil yang memiliki 2 ekor.
Dziban dan Aurora tidak dilayani seperti pendatang pada umumnya, karna memang didunia ini kekuatan adalah yang paling dihormati. Meski zaman sudah modern, hukum rimba masih berlaku didunia ini. Karna waktu tidak menguntungkan, mereka tidak bisa berlama-lama disana. Dziban hanya membeli beberapa tanaman herbal dan sebilah pedang disana, bukan karna tidak ingin membeli barang yang lain, tapi karna ekonomi terlalu rendah.
Dziban memasukkan semua yang dibelinya kedalam cincin Nightcore yang terpasang dijari tengahnya, setelah itu mereka langsung berjalan pulang. Setibanya dirumah, Dziban hanya duduk menunggu didalam kamarnya, ditemani dengan Aurora. Ia mengeluarkan sebilah pisau hitam kecil dari cincin Nightcore, lalu mengamatinya selama beberapa saat. Pisau hitam itu diselimuti oleh aura hitam pekat dan hawa membunuh yang tidak terlalu kuat, pisau itu dibuat sendiri olehnya menggunakan inti core seekor Skull Spyder, ia menamainya dengan pisau Death Spyder.
"Hmm... Aneh, perasaan sebelumnya pisau ini tidak terlalu kuat, tapi sekarang kok rasanya berbeda? Kekuatannya mungkin setara dengan artefak tingkat 1 bintang 5, padahal aku membuatnya hanya dari inti core Skull Spyder tingkat 2 bintang 1, usianya pun hanya 100 tahun." Pikir Dziban sambil terus mengamati pisau tersebut. Tanpa disadarinya, Aurora terus menatapnya saat itu, wajahnya terlihat jelas sedang terpana.
Bruakkk
Pintu kamar Dziban dibuka dengan keras, terlihat sosok Holder dibalik pintu itu. Dari raut wajahnya, jelas ia terlihat sedang terburu-buru.
"Cepat! Kita harus berkumpul digedung aula, rombongan putri Anna sebentar lagi akan datang!" Ucapnya tegas.
Tak pikir panjang mereka langsung bergegas menuju aula, karna tempat itu memang sering digunakan jika ada acara pertemuan. Tak lupa, Dziban memasukkan pisau Death Spyder terlebih dahulu kedalam cincin Nightcore. Setibanya mereka disana, terlihat 4 orang tetua clan sudah duduk dikusri mereka masing-masing. 2 kursi diletakkan disebelah kiri dan 2 lagi disebelah kanan, dibatasi oleh sebuah karpet panjang merah gelap yang mengarah kekursi ketua clan yang berada diujung tengah. Holder duduk dengan hormat dikursinya, menjaga ketenangan. Sedangkan Aurora berdiri disebelah kirinya, dan Dziban berdiri disebelah kanannya.
Tak lama kemudian, akhirnya rombongan yang ditunggu-tunggu datang juga. Terlihat seorang gadis cantik berdiri dibarisan paling depan, didampingi oleh seorang tetua paruh baya. Dibelakang mereka, terlihat beberapa prajurit berjalan menyusul sambil mengangkat sebuah kotak besar yang sepenuhnya terbuat dari emas.
Gadis itu adalah orang yang ditunangkan dengan Dziban, Anna Scarlet. Berambut kuning panjang yang diikat kebelakang seperti ekor kuda, rambut bagian depannya terponi menutup keningnya. Pupil matanya berwarna biru cerah, tingginya sedikit lebih pendek dari Dziban, dan kulitnya putih halus bagaikan salju. Gadis sepertinya termasuk kecantikan yang lumayan langka, namun jika dibandingkan dengan Aurora, gadis itu tidak ada apa-apanya. Pakaian yang dikenakannya sangat menarik perhatian, zirah perak yang melapisi sekujur tubuhnya, dengan sebilah pedang putih bergagang emas yang disarungkan disebelah kanan pinggulnya. Sedangkan seorang tetua yang berjalan disebelahnya bernama Lucy, saat ini kekuatannya berada ditingkat Grandmaster bintang 5. Ia memiliki rambut uban panjang yang terurai dibelakang punggungnya, pupil matanya berwarna hitam pekat seperti manusia pada umumnya. Pakaiannya sederhana, sebuah jubah putih panjang yang dilapisi jaket hitam, serta sepasang sendal antik yang murni terbuat dari Iron Wood. Melihat dari penampilannya, umurnya tidak kurang dari 70 tahun.
__ADS_1