
Malam harinya, akhirnya Dziban tersadar. Namun ia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun, rasanya sangat-sangat mengerikan. Tidak bergerakpun rasanya sangat menyakitkan, hampir mendekati kematian.
Gruukkk...
Perutnya mengeluarkan suara khas, meminta untuk diisi. Namun ia hanya bisa menahannya, tidak ada apapun yang bisa dilakukan. Rasa lelah, sakit, lapar, semuanya bercampur menjadi satu. Ia memilih untuk tidur saja, daripada hanya memandangi bintang yang berkilauan diatas langit. Dengan bersusah payah memaksakannya, akhirnya iapun berhasil.
Ia tertidur pulas meski keadannya sangat memperihatinkan dan ditambah angin malam yang bertiup kencang. Tubuhnya menggigil kedinginan, berlawanan dengan perasaan yang dipendamnya, kebencian dan amarah membara membakar hatinya.
Pagi harinya, Dziban terbangun karna suara orang yang terus memanggilnya, karna merasa terganggu perlahan-lahan ia membuka kedua matanya. Awalnya pandangannya buram tak jelas, hingga akhirnya beberapa saat kemudian menjadi normal kembali.
Orang yang pertama kali muncul dihadapannya saat itu adalah Aurora, seorang gadis berumur 9 tahun. Memiliki rambut putih panjang yang terurai kebelakang hingga melewati pahanya, sedangkan bagian depannya terponi menutup mata kanannya. Pupil matanya berwarna biru muda, terlihat sangat pekat sehingga warnanya sedikit gelap. Tinggi tubuhnya hanya kurang sedikit dari tubuh Dziban untuk bisa sejajar, kulitnya putih, dan ia sudah menjadi seorang Mythical tingkat Bronze bintang 7 hari ini. Saat ini ia mengenakan sebuah jaket putih tebal sebagai atasan, celana jeans hitam pendek diatas dengkul dan sendal jepit hitam sebagai bawahan.
Bukannya kalah, Dziban sebenarnya sudah pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Mythical tingkat Silver bintang 9. Namun sekarang semua kekuatannya itu menghilang, energi yang sudah ia kumpulkan selama beberapa tahun lenyap tak bersisa.
Sebenarnya ia telah menjadi seorang Mythical sejak berumur 6 tahun, meski begitu bakatnya sangat luar biasa sampai-sampai tidak ada yang bisa menandinginya. Namun hal yang tidak biasa terjadi, saat mencapai tingkat Silver bintang 9, semua energinya menghilang, lenyap tak bersisa sedikitpun. Sebenarnya ia mewarisi bakat dari ibunya, namun ia tidak sempat menanyakan kejadian aneh itu kepada ibunya, dikarenakan meninggal beberapa hari sebelum kejadian itu.
Sekarang, ia sudah dianggap tidak berguna oleh clan Ashura. Karna tidak ingin mendengar gosip-gosip buruk tentang dirinya dari para warga, ia memilih untuk tinggal dihutan. Sampai saat ini, hanya ada 2 orang yang masih menganggapnya penting bagi mereka masing-masing, yakni Hellbert sang ketua clan saat ini sekaligus ayahnya dan Aurora sang gadis cantik yang memiliki essence Ice Absolute didalam tubuhnya.
Kembali ketopik utama.
Aurora tiba-tiba mengangkat tubuh Dziban dengan hati-hati, lalu menggendongnya dipunggung. Setelahnya, ia langsung melesat secepat kilat menuju sebuah pohon raksasa yang tumbuh tepat ditengah-tengah hutan. Ia tidak perlu memanjat untuk menaiki pohon tersebut, namun terus berlari keatas dengan menggunakan batangnya sebagai jalur. Pohon itu sering disebut 'Pohon Iblis' oleh banyak orang, karna usianya sudah mencapai 300 tahun, dan ketinggiannya 20 meter serta kelilingnya mencapai 50 meter.
__ADS_1
Siapa sangka, ternyata didahan tertinggi pohon itu terdapat sebuah rumah yang sepenuhnya terbuat dari kayu murni. Rumah itu berwarna emas pekat, bukan karna dicat atau apa, tapi memang warna kayunya yang asli seperti itu. Atapnya dibuat dari rumput kering berwarna merah kecoklatan, rumput itu juga adalah warna aslinya. Ukuran rumah itu tidak terlalu besar, kira-kira seperti sebuah kamar seluas 5×5×5×5m. Rumah itu sepenuhnya digunakan sebagai kamar, karna memang sengaja dibuat sebagai tempat persembunyian.
Rumah ini sebenarnya dibuat oleh Dziban, dan ia sendiri yang sering mengajak Aurora kerumah ini. Selain Aurora, tidak ada seorangpun yang tahu dimana letaknya, sampai saat ini tidak ada.
Aurora meletakkan tubuh Dziban
diatas kasur yang terletak diujung ruangan, lalu melepas baju yang dikenakannya. Ia membalut tubuh Dziban dengan sebuah kain putih panjang, hasilnya sangat rapi karna ia tidak tergesa-gesa saat melakukannya. Kemudian ia memberikan sebuah pil kepada Dziban yang warnanya merah pekat bagaikan darah.
"Telanlah." Ucap Aurora halus.
Dziban menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menelan pil tersebut, lalu mengucapkan terima kasih atas pertolongan Aurora.
"Jawab, siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Aurora. Nada bicaranya sedikit benubah, niatnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
"Katakan saja pada Aurora, Aurora juga ingin tahu..." Nada bicara Aurora kembali seperti semula, terdengar halus dan lembut.
"Baiklah, sebenarnya... Alex dan keempat anak buahnya yang melakukan ini pada kakak..."
Dzibanpun menceritakan hal yang dialaminya dari sejak ia mendengar suara teriakan suara gadis kecil, sampai ia dibuat pingsan oleh Mythical art milik Jazz. Aurora mendengarnya dengan tenang, tidak terlihat ada tanda-tanda amarah dari raut wajahnya, masih lembut seperti biasa. Namun tidak ada yang tahu, didalam hatinya ia bersumpah untuk membalas perbuatan mereka.
"Ngomong-ngomong, kakak." Aurora menatap kearah Dziban sambil memperlihatkan senyumnya yang lembut "Tadi paman Holder mencari kakak, katanya ada sesuatu yang ingin ia berikan. Kemungkinannya ia akan datang malam ini, sekaligus membahas tentang pertunangan kakak dengan tuan putri dari clan Scarlet."
__ADS_1
"Eh, bukannya sudah kubilang aku tidak ingin menikah dengannya. Lagian ada apa dengan ayah, kenapa ia menyetujui pertunanganku dengan gadis yang tidak kukenal sedikitpun." Ucap Dziban ketus.
"Kakak tidak boleh seperti itu, katanya kan gadis itu sangat cantik, juga kekuatannya sudah mencapai tingkat perak. Ia adalah pemimpin clan Scarlet selanjutnya, anak dari ketua clan saat ini dan cucu dari ketua clan sebelumnya. Kekayaan, kecantikan, kekuatan, jabatan, semuanya lengkap. Apalagi yang kurang darinya?" Ucap Aurora menjelaskan dengan penuh semangat.
Belum sempat Dziban mengucapkan sesuatu, suara perutnya mendahuluinya. Ya benar, suara perut yang kosong meminta untuk diisi. Aurora tersenyum kecil, kemudian langsung melesat keluar rumah setelah mengucapkan "Kakak tunggulah."
Tak berapa lama, akhirnya Aurora kembali datang. Terlihat sebuah kantung plastik hitam besar yang ia bawa ditangan kanannya, berisi berbagai macam buah-buahan yang ia petik dihutan ini. Ia mengambil satu buah apel dari kantung plastik hitam itu, lalu duduk disebuah kursi kayu yang berada didekat kasur tersebut.
Ia memasukkan buah apel itu kedalam mulut Dziban sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis, lalu diganti dengan buah yang lainnya. Ia terus melakukannya sampai Dziban sudah merasa kenyang, dan tepat buah didalam kantung plastik hitam itu habis. Ia menatap Dziban dengan kebingungan, sekaligus terbengong.
"Kau... Kenapa?" Tanya Dziban bingung.
"Eh! Tidak ada, Aurora hanya tidak percaya ternyata nafsu makan kakak besar juga." Jawab Aurora.
"Hehe... Begitulah..." Ucap Dziban terkekeh kecil.
"Kalau begitu Aurora mohon undur diri dulu, masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan." Ucap Aurora sambil membungkukkan badannya.
"Eh, pekerjaan apa?"
"Itu... Membantu bibi untuk membuat kue, setelah selesai Aurora akan berkultivasi lagi."
__ADS_1
"Ohh... Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah."
Aurora langsung melesat keluar dari rumah tersebut, kembali keurusannya masing-masing. Beberapa menit setelah Aurora pergi, Dziban kembali terlelap, tenggelam dalam mimpinya. Ia terbangun malam harinya, disebabkan oleh rasa lapar yang menyerang perutnya.