
[ Menunggu seseorang ]
Ketika Putri membalikkan tubuhnya, ia pun melihat Kevin dan Exsel yang lagi berjalan mendekatinya dengan senyuman sumringah ala Pepsodent!!
"Ada apa?" tanya Putri dengan datar, hatinya pun masih terasa mendung dan hunjan
Kevin dan Exsel pun berdiri didepan Putri.
"Kelas lu udah sepi?" tanya Kevin dengan senyuman yang penuh dengan arti.
"Sudah!! Nggak ada orang, ada apa emangnya?" Tanya Putri sekali lagi.
"Biasa!! misi rahasia Harta Karun!!" jawab Kevin dengan nada alay, sambil mengedipkan matanya.
Putri pun hanya menghela nafas dengan pelan, sambil menatap kedua pria yang berada didepannya itu dengan tatapan sinis.
"Misi rahasia nyari bolpoin dikolong meja gitu, maksud lu?" sindir Putri dengan sinis.
"THAT'S RIGHT!!" serempak Kevin dan Exsel dengan semangat yang melebihi 50.
"Kenapa nggak di kelas lu aja? Kenapa harus di kelas gue coba?" protes Putri dengan nada di tinggikan.
"Soalnya si Siti ngamuk-ngamuk kalau bolpoinnya hilang terus!! Hehehe" cengir Exsel yang tanpa tak berdosa.
"Yaelah!! lu kalau bolpoinnya habis.. tinggal beli aja di kantin!!" gumam Putri dengan cetus.
"Di kantin mahal!! lebih baik gue mulung bolpoin, Hehehe.." ketawa Kevin yang nggak jelas.
"Mahal darimana coba? lu aja makan dikantin sampai 50 ribu, tapi beli bolpoin yang cuma 2 ribu atau 3 ribu!! masa kagak mampu?" tanya Putri dengan heran terhadap kedua pria ini.
__ADS_1
"Tapi kita kagak mau rugi!! mending buat makan biar kenyang, daripada beli bolpoin! yang ada kagak kenyang" jawab Exsel dengan nada semangat.
"Terserah lu aja lah!! 3 ribu doang dianggap rugi? aneh" gumam Putri dengan pelan, kepada dirinya sendiri.
Putri pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat tingkah dua pria yang tak waras ini. Ia pun tak menghiraukan Kevin dan Exsel, dan Putri pun melanjutkan langkahnya lagi. Membiarkan dua pria itu masuk kedalam kelasnya dan memulai misi rahasianya itu yang kayak seperti maling bolpoin.
****
Putri pun melangkah melewati lorong sekolah dengan kepala tertunduk, kedua kakinya terasa begitu lemas, hatinya pun terasa sedih sama sekali tak ada semangat selama 4 hari ini. Ia tak seceria seperti kemarin-kemarinnya. Ia benar-benar sangat rindu dengan Devano, Sangat!!
Tapi!! ternyata Devano sama sekali tidak rindu dengannya, sama sekali tidak ada kangen atau kabar.
"Haish.. gue kenapa lemah kayak gini si!! gue kan udah tau, kalau Devano memang tidak menyukai gue sama sekali, jadi wajar aja kalau dia tidak memberi kabar atau rasa kangen ke gue!!" gumam Putri dengan pasrah kepada dirinya sendiri.
"Dan seharusnya tadi gue jangan mengharapkan apa yang gue mau dan tunggu!! kalau ternyata yang tadi manggil gue adalah Kevin dan Exsel"
"Gue sayang dia!! tapi.. dia dingin ke gue, walaupun ia tau gue sayang dia" gumam Putri yang nggak jelas.
"Haish.. udahlah, buat apa gue mikirin dia!! yang penting gue akan tetap berusaha untuk membuatnya suka sama gue!! semangat Putri!! lu kan anak Indonesia jadi lu nggak boleh lemah!!" gumam Putri yang lagi menyemangati dirinya sendiri.
"PUT!!" teriak seseorang lelaki sekali lagi dari arah belakangnya Putri.
"Apa itu Devano? tapi kalau bukan bagaimana? yang ada bikin harapan palsu lagi" gumam hatinya Putri dengan nada pasrah.
"PUT!!" sekali lagi lelaki itu meneriakinya.
Langkah Putri pun berhenti untuk kedua kalinya, Kar'na suara itu memanggil Putri beberapa kali dan Putri pun mengenali siapa pemilik suara khas itu. Bibir Putri pun tersenyum kecil, Putri pun berteriak kegirangan didalam hatinya, Kar'na suara itu adalah suara Devano, orang yang ditunggu Putri dari tadi.
Dengan cepat Putri pun berusaha menyembunyikan senyumnya itu, ia mencoba sekuat tenaga untuk bersikap cuek dan dingin. Kemudian membalikkan badannya, Putri pun melihat Devano berjalan ke arahnya dengan napas ngos-ngosan. Putri pun meraea sedikit tak tega, ia ingin sekali mengusapi keringat yang bercucuran di pelipisnya Devano.
__ADS_1
Devano pun berdiri dihadapan Putri, dan pria itu pun mengatur napasnya sejenak.
"A..apa.. Apa ini?" tanya Putri yang tidak mengerti, Putri pun merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang, ia pun tiba-tiba menjadi gugup sendiri.
"Tiket nontonlah" jawab Devano, sambil tersenyum canggung ke arah Putri.
"Untuk?" balas Putri yang sok jual mahal, kayak kacang mahal aja.
"Ya.. nontonlah!! Lo pengen nonton ini kan kemarin?" jawab Devano seadanya.
Putri pun terdiam sebentar, apa yang harus ia jawab? Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin dan memeluk Devano saat ini juga, tapi tubuhnya berkata lain dengan menahan dirinya sendiri.
"Putri udah nonton kemarin sama Juna!!" jawab Putri dingin.
Devano pun menatap Putri dengan tatapan tajam, ia pun menyembunyikan gejolak kecewa di hatinya. Entah kenapa mendengar Putri menjawab seperti itu, membuatnya sedikit kesal.
"Oh gitu" Devano pun tersenyum kecil dan menyambungkan perkataannya lagi..
"Yaudah.. kalo lu udah nonton sama Juna!! Berati tiketnya udah nggak dibutuhkan lagi sama lu" lanjut Devano yang seadanya.
Tanpa berkata apapun lagi, Devano pun membalikkan badannya, ia pun menjauh dari Putri, dan ia pun terpaksa harus kembali ke kelasnya untuk mengambil tasnya yang ia tinggalkan di jam istirahat kedua. Ia tadi minta izin keluar ke guru piket dengan alasan ingin membeli beberapa buku untuk pelatihan Olimpiade, nyatanya dia ke Mall untuk memesan tiket nonton.
Devano pun melihat tempat sampah didekatnya itu, dan membuangnya begitu saja dua tiket nonton yang ia beli tadi. Devano pun tersenyum miris, dan membodohi dirinya sendiri. Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa ia harus melakukan semua itu? Kenapa ia melakukan sesuatu yang sama sekali tidak berguna seperti itu? Entahlah Devano sendiri pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa ia melakukan ini semua untuk Putri!! cewe yang selalu rese dan bawel buatnya.
Sungguh menyedihkan dan memalukan bagi Devano.
"Jangan lakukan ini lagi Devano!!" gumam Devano kepada dirinya sendiri.
Jika ada kesempatan buatku, aku akan selalu menjagamu dan mencintaimu selamanya.. Kar'na kalo orang sudah jatuh cinta ke seseorang.. maka orang itu akan nekat dan menjadi gila karna cinta.
__ADS_1
Putri pun mengepal kedua tangannya itu dengan sekuat-kuatnya, dadanya pun terasa begitu pedih dan sesak. Ia pun merutuki ucapannya sendiri. Padahal ia sama sekali tidak pernah menonton film itu. Putri pun rasanya ingin menangis sekencang-kencangnya. Apalagi ketika ia melihat Devano membuang dua tiket itu ke dalam tempat sampah begitu saja.