Kisah Cinta Anak SMA

Kisah Cinta Anak SMA
episode 28


__ADS_3

Permintaan dan Penjelasan


Kevin pun menghela nafas dengan berat.


"Nggak suka gimana? Jelas-jelas kelihatan banget dia itu udah suka sama Putri! Cuma ia aja emang dasar sok jaim, di tambah dengan sifatnya keras kepala!!"


"Gue mah doain aja! Biar si Putri direbut sama cowok lain!"


"Biar kapok jadi anak! Nggak ada lembut dikit sama cewek, dan nggak ada kasihan-kasihannya"


Exsel pun megap-megap mendengar sumpah serapah Kevin Kevin yang tidak seperti biasanya. Tapi, ia pun lumayan setuju dengan pernyataan Kevin barusan. Exsel pun sangat mendukung sumpah serapahnya Kevin. Jujur, saja Exsel juga kasihan dan prihatin dengan nasib Putri.


Exsel pun menatap mangkok cilok Devano, ia pun memperhatikannya dengan tatapan kosong.


"Semoga Lo cepat-cepat sadar dan tidak menyesal di kemudian hari, Dev!"


"Penyesalan adalah awal dari terbentuknya puing-puing kesadaran yang terlambat !?"


****


Putri pun mempercepat langkahnya, ia berusaha untuk mengejar Devano yang tak pernah mempedulikan panggilannya. Ada yang ingin Putri sampaikan ke Devano. Bagi Putri yang ia ingin jelaskan itu sangatlah penting bagi dirinya.


"Devano berhenti!" teriak Putri yang tidak begitu keras.


Putri pun menghentikan langkahnya tepat dihadapan Devano sembari melebarkan kedua tangannya. Tubuh Devano pun sedikit tersentak kebelakang, kakinya pun mundur beberapa langkah, dan ia pun menatap Putri dengan tatapan dingin.


"Ada yang ingin Putri omongin" ucap Putri menurunkan kedua tangannya.


"Apa?" tanya Devano dengan datar.


Putri pun mengangkat kedua sudut bibirnya, tersenyum ke arah Devano.


"Makasih atas boneka beruangnya! Kemarin Abang store bonekanya ngirim ke rumah" kata Putri dengan tulus, "Tapi kenapa!! Nggak Devano sendiri aja, yang nganterin?"


"Berat!" jawab Devano dengan rasional.


Putri pun mengangguk-angguk untuk membenarkan jawaban Devano.


"Putri boleh minta beliin sesuatu lagi?" tanya Putri dengan hati-hati.


"Nggak!" sentak Devano dengan tajam.


"Putri cuma ingin minta dibeliin bunga! Temen Putri Mira tiap pagi pasti bakal dikasih bunga sama pacarnya, tiap hari Dev!! Bayangin romantis bangetkan pacarnya"


"Gue bukan pacar lo, Put!" jelas Devano entah untuk ke sekian berapa kalinya.

__ADS_1


Putri pun menghela dengan lemas.


"Putri tau kok, tapi kan mungkin aja bisa berubah!! Devano mau jadi pacar Putri da.."


"Gue nggak mau!" potong Devano cepat. "Minggir lo!" lanjut Devano, sambil mendorong tubuh Putri sedikit kasar.


Devano pun kembali berjalan, melewati Putri begitu saja. Namun, bukan namanya Putri Ramadani jika menyerah begitu saja. Putri pun membalikkan badannya, dan berlari mengejar Devano lagi. Sekali lagi Putri menghadang jalan Devano.


Raut wajah Devano pun semakin tidak enak dilihat, ia pun menyimpan rasa kesal yang begitu dalam tertera di paras rupawannya. Rahangnya pun mulai menegas.


"Apa lagi?" tanyanya sekali lagi, dengan suara yang ditinggikan.


"Devano beneran nggak mau beliin Putri bunga? Putri Ingin banget bunga"


"Minta aja sana sama Kevin!" ucap Devano yang tak dapat menahan ke kesalannya.


Putri pun terdiam sebentar, keningnya pun berkerut, ia sama sekali tidak mengerti dengan pernyataan Devano barusan.


"Kenapa harus minta ke Kevin? Putri nggak suka sama Kevin! Putri sukanya sama Devano!" jawab Putri dengan terang-terangan.


"Masak? Tapi, Kevin lagi suka tuh sama lo" sindir Devano dengan raut wajah sinis.


Putri pun menggumam pelan, dan ia pun sambil memikir sebentar apa yang dimaksud Devano barusan.


"Kevin nggak suka sama Putri!" jelas Putri dengan jujur.


Putri pun sedikit takjub dengan kalimat Devano yang cukup panjang tak seperti biasanya. Namun, dengan cepat Putri pun tersadar dari lamunannya itu.


"Kevin sukanya sama Amanda" ucap Putri. Tangannya mengangkat cokelat yang berada di kedua tangannya Putri. "Kevin nyuruh Putri ngasih ini ke Amanda"


Mendadak Devano pun melamun, begitu lama. Ia merasakan sedikit gengsi sendiri. Namun, entah kenapa ada rasa yang melegakan dalam lubuk hatinya yang paling terdalam. Devano berupaya mengatur ekspresinya, agar tetap biasa aja.


"Ooh!" balas Devano tanpa berdosa sama sekali.


Putri pun mendekat satu langkah ke Devano.


"Devano cemburu iyaa, sama Kevin?" tebak Putri dengan asal-asalan.


"Hah? Gue cemburu?" Kaget Devano untuk beberapa detik. "Nggak lah! Ngapain juga gue cemburu!!"


"Masak? Tadi kayaknya marah banget gitu, waktu nyebut nama Kevin"


"Gue nggak cemburu!" tegas Devano dengan tajam.


Putri pun mendengus dengan sebal.

__ADS_1


"Iya iya, Putri percaya Devano nggak cemburu" tukas Putri sedikit kecewa. "Devano kan nggak suka sama Putri, Mana mungkin Devano cemburu!"


Putri pun merogoh ponselnya di saku seragamnya. Kemudian menyodorkannya ke Devano. Sedangkan, Devano menatap ponsel itu dengan bingung. Kenapa hari ini banyak sekali orang yang ingin memberinya ponsel?!


"Gue nggak lagi ultah!" sentak Devano dengan kasar.


"Bukan itu..." ucap Putri dengan ragu. "Devano tau Pino kan? Ketua osisi sekaligus teman sekelas Putri"


"Hmm" deham Devano singkat.


"Pino suka sama Putri, dia dari kemarin maksa banget buat nganterin Putri pulang dan ngajak Putri makan"


Devano pun hanya terdiam saja, ia hanya menyimak apa yang di utarakan gadis ini.


"Tapi, Putri nggak pernah jawab! Soalnya Putri sukanya sama Devano"


Devano pun mendesis pelan.


"Terus? Hubungannya sama gue apa?"


"Kalau Devano ngelarang Putri, Putri nggak bakal nge-iyain permintaan Pino" sahut Putri dengan nada penuh harap bahwa Devano akan melarangnya.


Kini giliran Devano yang mendekat satu langkah.


"Gue perjelas lagi, biar Lo lebih paham, Putri Ramadani!" tajam Devano.


Mata Devano pun menyorotkan gambaran ketidak sukaannya secara jelas dari matanya itu.


"Hidup lu urusan lu! Hidup gue juga urusan gue! Gue sama sekali nggak punya urusan sama hidup lu!"


"Jadi terserah lu mau pacaran sama siapa! Mau suka sama siapa? Mau ada yang suka sama lu pun itu bukan urusan gue!"


"Karena apa?" pincing Devano, satu sudut bibir pun terangkat, ia memandang Putri dengan sinis.


"Gue nggak pernah sedikitpun ada rasa sama sekali ke lo!"


"Jadi berhenti ganggu hidup gue!"


Setelah itu Devano melanjutkan lagi langkahnya, ia tak membiarkan Putri untuk membuka suara lagi. Putri juga tak bisa berkata apapun, bibirnya terasa keluh untuk bersuara. Putri pun terdiam, ia hanya membeku ditempat. Rasanya begitu sakit dan menusuk di semua organ tubuhnya. Apalagi hatinya.


"Apa aku seburuk itu dimata kamu, Dev?"


"Apa aku memang tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk mendapatkan hatimu?"


"Jika ada penawar yang bisa membuat hatimu luluh untukku, aku akan membelinya"

__ADS_1


"Tapi apa ada?"


Putri pun menghela nafas dengan berat, sudah berkali-kali ia bergumam sendiri setelah Devano meninggalkannya. Bahu Putri pun terasa semakin menurun, ia berjalan ke kelasnya dengan langkah lemas. Semakin hari, ia merasa tidak punya harapan sama sekali untuk mendapatkan cinta Devano.


__ADS_2