
Maaf.
"Putri orang baik Dev, plise jangan sakiti dia dengan mulut dingin Lo itu!!"
Setelah merasa puas, Amanda pun segera beranjak keluar dari sana. Banyak sekali siswa-siswi yang memberikan acungan jempol dengan keberanian Amanda. Padahal selama ini tidak ada yang berani berkata seperti itu ke Devano.
Devano pun mengambil dompetnya yang berada diatas meja kemudian berlari keluar dari kantin. Entah dia mau kemana, Devano tidak berkata apapun kepada teman-temannya mau kemana dia. Pria itu pun meninggalkan sahabatnya yang berteriak-teriak memanggilnya.
"WOY DEV MAU KEMANA LU?"
"DEV!! DEVANOO!!"
Teriak Kevin dan Exsel bersamaan. Namun, teriakan mereka tidak dipedulikan oleh Devano. Pria itu pun semakin menjauh dan menghilang dari kantin yang langsung kembali ramai. Banyak siswa-siswi yang mulai sibuk membicarakan kejadian tadi. Ada juga yang mulai bingung harus mendukung Devano atau Putri.
****
Devano pun menghela nafas dengan berat, ia sama sekali tidak menemukan keberadaan gadis itu. Padahal ia sudah mencari di perpustakaan, lab-olimpiade, kelas, dan rooftop. Devano pun menatap ke lorong yang menuju belakang sekolah. Dengan ragu ia pun melangkah kesana. Setidaknya ia harus memastikan siapa tau gadis itu ada di sana.
Devano pun melewati rerumputan, yang menuju taman belakang sekolah yang memang jarang didatangi oleh siswa-siswi karena sedikit menyeramkan. Desus-desusnya taman belakang sekolah banyak mahluk ajaibnya, karena disana juga ada pohon beringin yang menjulang tinggi.
Devano pun menghentikan langkahnya, ia melihat seorang gadis yang sedang di duduk bersandar di pohon beringin, dengan kedua kaki yang tertekuk dan dengan kepala yang lagi terbenam. Devano pun hanya dapat mendengar suara isakan dari gadis itu.
Devano pun merasa lega, ia akhirnya menemukan gadis itu.. yaitu Putri!!
Devano pun melangkah dengan hati-hati. Ia tidak ingin mengejutkan gadis itu. Devano pun menatap Putri dengan lekat, terus memandangnya. Suara isakan Putri pun semakin terdengar keras, bahunya pun juga bergetar. Walaupun Devano tidak dapat melihat wajah gadis itu, hatinya pun berkata kalau gadis itu menangis dengan sangat hebat.
"Put!!"
"Putri Ramadani!!"
Putri pun tidak berani mengangkat kepalanya, ia merasa begitu kecil hati dan benar-benar sangat malu dihadapan banyak orang. Putri pun tentu saja sangat mengenali suara yang memanggilnya barusan. Putri pun berusaha untuk menenangkan dirinya, dan mengurangi isakannya. Ia pun menahan air matanya agar ia tidak menangis lagi.
"Putri.." suara itu pun memanggilnya lagi.
Perlahan Putri pun mengangkat kepalanya, dan mendongakkan wajahnya ketika ia melihat pria yang sedang berdiri dihadapannya, pria itu pun menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi sedikit pun. Putri pun mendengus dengan sebal.
"Devano ngapain disini?" tanya Putri dengan suara serak.
"Katanya Devano nggak suka sama Putri? Devano lebih baik nggak usah kesini" usir Putri yang masih dengan nada ter-isak. Ia pun memutar bola matanya, untuk mencari pemandangan lain. Ia tak mau Devano melihatnya menangis seperti ini.. ini pasti akan akan sangat memalukan untuk Putri.
__ADS_1
"Putri masih sakit hati!! Jadi Putri belum bisa bertemu dengan Devano!! Maafin Putri"
"Devano pergi aja sono!!"
Sebuah tangan pun ter-ulur dihadapan Putri, dan membuat dirinya sendiri merasa bingung. Putri pun menatap Devano sekali lagi. Pria itu pun sedikit tersenyum, hanya sedikit tapi bisa cukup terlihat dikedua mata Putri.
"Maafin gue"
Kedua mata Putri pun terbuka, apakah ia nggak salah dengar? Devano meminta maaf kepada dirinya? Putri pun mengusap bekas-bekas air matanya, yang masih tidak mengerti dengan situasi saat ini. Ia pun menatap Devano dengan lebih lekat, Ra dan memperjelas tatapannya yang sama sekali tidak mengerti ke Devano.
"Gue nggak bermaksud ngomong kayak tadi!! Gue hanya lepas kontrol barusan!!"
"Gue minta maaf, Putri" nyesel Devano dengan tulus.
Putri pun menghela nafas dengan pelan, ia pun mengusap ingusnya yang sedikit turun dengan punggung tangannya, kemudian mengelapnya dibelakang rok. Maklumin saja, ia tidak membawa tissue.
"Devano nggak salah kok!! Putri aja yang nggak tau diri, kayak yang Devano bilang"
"Bukan gitu, ta..." Devano pun menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, Devano pun bingung harus menjelaskan semuanya.
Devano pun menyodorkan tangannya lebih dekat.
"Bangun dulu gih!! Habis itu jangan nangis lagi, kalo lu nangis lu bakal jelek" pinta Devano.
Devano pun menghela nafas dengan berat, gadis macam apa yang sedang ia hadapi sekarang. Bukankah yang seharusnya marah besar itu adalah dirinya bukan gadis di hadapannya itu. Devano pun menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Gue nggak marah sama lo"
"Beneran?Devano nggak marah sama Putri!! Nggak benci kan sama Putri?"
"Nggak Put" jawab Devano dengan cepat " Cepetan berdiri"
Putri pun menganggukkan kepalanya, ia pun meraih tangannya Devano dan segera mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Putri pun merapikan dan membersihkan rok-nya yang kotor dan dipenuhi beberapa tangkaian rerumputan.
Putri pun kembali menatap Devano yang masih menunggunya.
"Devano.." panggil Putri pelan.
"Apa"
__ADS_1
"Putri cuma mau tanya sekali lagi tapi Devano harus jawab jujur ke Putri!!"
"Hmm!! Lu mau tanya apa?"
"Emang Putri kayak cewek murahan iya? Putri cuma bersikap kayak gitu ke Devano aja kok, nggak ke cowok-cowok lainnya!! Beneran Putri nggak bohong!!"
"Devano!! Mau tau nggak!! Apa yang ada di dalam hati Putri sekarang!!"
"Hmm" deham Devano singkat.
"Di dalam hati Putri dari dulu sampai sekarang cuma suka sama Devano!! Putri nggak pernah suka sama cowok lain"
Devano pun terdiam, ia bingung mau merespon apaan.
"Ayo masuk kelas!! Sebentar lagi bel masuk" ajak Devano untuk mengalihkan pembicaraan.
Putri pun menggelengkan kepalanya, dan menolak.
"Devano jawab dulu pertanyaan Putri!! Devano benar-benar jijik kan sama Putri? Devano nggak suka kan dekat-dekat sama Putri!!"
"Putri murahan ya?"
Devano pun melihat gadis itu sebentar lagi akan menangis lagi, kedua matanya pun berkaca-kaca. Gumpalan bening air mata pun siap akan terjun bebas dikedua matanya itu. Devano pun menghela nafas dengan pelan, ia pun berusaha sabar untuk menghadapi Putri.
"Nggak Putri" jawab Devano dengan lembut.
Putri pun menatap Devano.
"Beneran? Putri nggak murahan? Putri nggak ngelakuinnya ke cowok lain kok!! Seriusan"
Desahan berat keluar dari bibirnya Devano.
"Iya Putri"
"Devano nggak jijik kan sama Putri?"
"Nggak Putri!!"
"Beneran kan, Putri nggak murahan kayak yang Devano bilang tadi?" tanya Putri sekali lagi, untuk memastikan.
__ADS_1
Devano pun menggaruk belakang telinganya, gadis ini nampaknya sangat takut dengan ucapan kasar Devano barusan. Devano pun sekali lagi menggelengkan kepalanya, dan tersenyum dengan kecil.
"Nggak Putri!! Lo nggak murahan!!" jawab Devano untuk menyakinkan Putri.