
Hari yang sial
"Kan lu yang iya-in!!"
"Gimana kalau Devano mecat kita berdua jadi temannya?"
"Bagaimana nie!! Pastu nggak bakalan ada yang nyontekin kita lagi waktu ujian!"
"Kagak tau gue!! Nilai kita taruhannya!"
"Terpaksa, harus diri sendiri sekarang!!"
"Kejar kunci jawaban berjalan!"
"KEJAAARR!!"
*****
Lapangan SMA Arwana terbilang sangat luas dan setiap harinya akan ada 3 kelas yang menjalani pelajaran olahraga secara bersama dengan 3 guru berbeda. Mungkin ini yang disebut takdir bagi Putri dan malapetaka bagi Devano. Diantara tiga kelas itu, adalah kelas mereka. 11-A dan 11-C, kelas Devano dan Putri.
Lebih buruknya lagi, guru olahraga Putri sedang sakit, dan mereka free- class.
"Selamat pagi, Pak Handoko"
Semua anak 11-A yang lagi stretching, yang dipandu oleh Pak Handoko menghentikan aktivitas mereka. Menatap ke depan dengan bingung karena kedatangan sosok gadis yang sedang jadi trend di SMA ini. Siapa lagi kalau bukan, Putri Ramadani dengan panggilannya yaitu Putri!.
"Pacar lo Dev!"
"Syukurin!! dia lagi masuk ke kandang singa" bisik Kevin dan Exsel yang berbaris di dekat Devano.
Pak Handoko menurunkan kedua tangannya, dan menatapi Putri dengan tajam dan bingung. Alis tebalnya terlihat semakin panjang dan menebal.
Putri meneguk ludahnya, mencoba tegar dan tidak takut!.
"Ada apa?" tanya Pak Handoko tak suka basa-basi. Beliau adalah salah satu member dari Theree Musketeers sekolah ini yang dijuluki Bapak Porthos, beliau dulunya mantan kepala polisi Jakarta Timur Yang entah karena apa berbelok menjadi guru olahraga, jadi jangan heran kalau kemana-mana bawa pistol yang tersimpan fana di sabuk dekat perutnya itu.
"Bapak Handoko yang Putri hormati, maaf jika Putri mengganggu bapak. Jadi.."
"Langsung saja!" Kata Pak Handoko dengan terus terang.
"Pelajaran olahraga di kelas Putri kosong, Bapak Tono sedang sakit. Sebagai murid yang berpegang teguh pada Tut Wuri Handayani, Putri tidak suka ada pelajaran kosong, Pak!!"
__ADS_1
"Oleh sebab itu, Putri boleh ikut pelajaran olahraga dikelas bapak ya" pinta Putri memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Iya!! Saya sangat senang sekali bisa ikut mata pelajaran Bapak Handoko" jawab Putri dengan semangat yang mencapai 100%.
Pak handoko menyipitkan kedua matanya, sedikit curiga dengan gadis dihadapanya ini, sebenarnya apa yang dia inginkan?!
"Sebenarnya apa maksud terselubung kamu? Saya juga tidak pernah melihat kamu selama ini? Apa kamu benar murid SMA Arwana?"
"Saya murid pindahan pak, baru 2 hari kemarin saya masuk kesini" jawab Putri dengan sifat tenang.
"Nama saya Putri Ramadani pak, panggilannya Putri, umur saya 16 tahun, jenis kelamin saya perempuan, 2 hari kemaren saya masih sekolah di SMA Trisakti, dan saya masih jomblo kok, Pak"
"Yang sudah bapak tau, saya murid pindahan pak, baru 2 hari kemarin saya masuk kesini dan saya juga masih jomblo kok, Pak" jawab Putri dengan sifat tenang.
Pak Handoko Manggut-manggut dengan bingung, sebenarnya apa urusannya dengan Pak Handoko, kalo muridnya itu jomblo atau nggak, Pak Handoko pun tidak memikirkannya lagii.
"Yasudah, kamu boleh ikut. Tapi jangan malas!! Karna saya tak suka orang malas" kata Pak Handoko dengan sifat yang tegas.
"SIAP BAPAK DILAKSANAKAN!" teriak Putri sambil hormat.
Pak Handoko mengedikkan dagunya, memberi isyarat agar Putri segera masuk kedalam barisan. Kedua mata Putri langsung mengedar ke seluruh barisan mencari seseorang yang sudah paling dia incar dan alasan utama ia mau ikut mata pelajaran ini.
"Terserah kamu"
"Okey, makasih Bapak Handoko yang paling baik dan ganteng. Saranghae Pak!!" kata Putri kepada Pak Handoko dengan senang dan penuh semangat.
Putri melangkah dengan senyum kemenangan, ia berjalan mendekati Devano yang sedang tertunduk pasrah tak bersemangat. Apa lagi cobaan yang diberikan tuhan Kepada Devano!
"Devano!" Panggil Putri yang lagi mencolek lengan Devano.
Devano tak mempedulikannya, ia tak bergeming sedikitpun ataupun menolehkan kepalanya. Devano hanya fokus mendengarkan pelajaran Pak Handoko yang sedang berkoar didepan sana.
"Devano jangan jutek-jutek kek!" Ucap Putri memohon kepada Devano.
"Devano jangan diemin gue!!" kata Putri sambil merengek-rengek.
"Devaanooo" desis Putri pelan namun penuh penekanan.
Putri mengepalkan kedua tangannya dengan kuat-kuat, kedua matanya pun menyorot ke arah Devano dengan penuh kobaran api yang tertahan. Putri pun sudah kehabisan kesabarannya.
"DEVANO JANGAN CUEKIN PUTRI!!"
__ADS_1
"DEVANO GUE ITU SUKA SAMA LU! KASIH RESPON DIKIT KEK!"
"LU TEGA DEV, BIKIN WANITA NANGIS"
Kepala Devano tertunduk dalam, kedua matanya terpenjam kuat dan tangannya pun terkepal erat. Mampuslah dia! Semua mata pun memutar dan semua tubuh pun berbalik ke arahnya. Tentu saja sekarang dirinya dan Putri telah menjadi pusat perhatian seluruh lapangan. Teriakan Putri pun sampai mengalahkan stereo SIMBADA!
dan Satu lagi, Pak Handoko! Mereka berdua sebentar lagi akan menjadi mangsa baru Bapak Porthos. Pasti itu! Pas...."
"DEVANO!! MURID BARU!! LARI KELILING LAPANGAN 10 KALI SEKARANG JUGA!!!" teriak Pak Handoko murka.
"Apa!!" Devano bilang barusan.
"KENAPA DEVANO!! APA KAMU KEBERATAN ATAS PERINTAH BAPAK!!"
Devano mendecak kesal.
"Maaf pak, Saya akan melaksanakan perintah dari bapak" sahut Devano dengan berat hati.
Devano pun segera keluar dari barisan dan mulai berlari. Putri yang masih bingung harus memilih yang mana!! Akhirnya Putri pun lebih baik memilih mengikuti Devano saja. Yang terpenting dia bisa berada didekat Devano. Walaupun di hukum pun sama sekali tak menjadi masalah baginya.
Dalam sejarah, inilah pertama kalinya Devano mendapat hukuman!! Selama ia menginjakkan kaki ditempat yang bernamakan SEKOLAH, seperti mulai dari TK, SD, SMP, bahkan SMA, ini adalah pertama kalinya Devano kena hukum!. Sungguh sial nasibnya! Ia di hukum bukan karena kesalahannya!.
"Devano tungguin!!!" teriak Putri berusaha mengejar Devano.
Putri akhirnya bisa men-sejajarkan kedua kakinya dengan Devano.
"Devano kita romantis ya di hukum berdua seperti ini!"
"Gue mah rela walau dihukum kayak gini! Tiap hari juga nggak apa-apa, yang penting dihukumnya bareng lu, Dev"
"Senengnya dihukum bareng Devano!"
Putri menatap Devano yang hanya diam dan bersikap acuh tak acuh kepadanya.
"Devvaaannnoo jangan marah dong!!"
"Devano jangan diem aja!!"
"DEVANOO TUNGGUIN PUTTRII!!!!"
Teriak Putri sekali lagi mencoba mengejar Devano yang meninggalkannya dibelakang. Putri tak pernah berlari secepat ini. Sebenarnya olahraga adalah hal yang paling dibenci Putri, dan sebenarnya juga sejak TK ia tidak boleh ikut pelajaran olahraga, Kar'na Putri menderita penyakit Anemia Kronis, jangankan olahraga, berdiri 15 menit waktu upacara bendera saja dia langsung pingsan.
__ADS_1