
Pingsan
Amanda pun berjalan diatas rerumputan hijau dengan dua gelas minuman ditangannya itu. Tadi, Putri menyuruhnya untuk membelikan minuman dingin di kantin. Amanda menatap teman-temannya yang sedang berkumpul ditengah lapangan dekat tiang basket.
"Putri mana?" tanya Amanda ke siapapun yang menjawabnya.
"TUH!!" tunjuk seluruh siswi ke pinggir lapangan yang dimana ada dua orang yang sedang berlari pagi-pagi.
Amanda menggerakkan kepalanya ke arah telunjuk teman-temannya itu.
SROOOOTT
Minuman yang baru masuk di mulut Amanda langsung tersembur begitu saja.
"APA YANG DILAKUKAN TUH ANAK?" teriak Amanda kaget Setengah mati.
"Temen lo itu beneran nggak waras Nda? Masak dia ke Pak Handoko minta ikut mata pelajarannya. Nyari mati tuh anak!"
"Terus dia dihukum gara-gara neriakin nama Devano"
"Dia emang sudah nggak waras!" cerca beberapa gadis sambil geleng-geleng yang diangguki oleh gadis lainnya.
Amanda gelagapan, ia melemparkan gelas minuman ditangannya kemana saja dan berlari untuk mengejar sahabatnya itu.
"NDA KEMANA LO?" teriak teman-teman Amanda yang semakin heran.
Amanda tidak mempedulikan teriakan teman-temanya. Ia semakin berlari cepat, ia harus menghentikan Putri atau gadis itu bisa-bisa bakal pingsan ditempat, syukur-syukur pingsan, kalau mati gimana?. Kan nggak lucu!.
"PUTTT BERHENTI!!"
"PUTRI JANGAN LARI!!!"
"PUT BERHENTI!!!!"
******
Devano memperlambat larinya, teriakan Amanda yang cukup keras sedikit mengganggunya. Devano pun mengerutkan keningnya, ia tak lagi mendengar suara kicauan burung Putri yang sedari tadi mendengung saling berpantulan antara bumi dan langit yang sampai di gendang telinganya Devano.
"Astagfirullah" kaget Devano baru saja ia memikirkan gadis itu, sekarang sudah muncul aja disampingnya dengan napas ngos-ngosan.
"Dev.. Devano.. Tu.. Tungguin... Gu..e.." Pinta Putri sambil tersenggal-senggal, napasnya hampir habis sekitar 35%.
Devano memperhatikan wajah Putri yang menjadi pucat dan keringat di sekujur tubuhnya.
"Dev..devano...ja...jangan... La.ri..kenca..kencang ya" ucap Putri lagi dengan senyum yang masih di wajahnya.
"In..ini ud..udah pu...putaran..yan..yang ke..ke berapa?" tanya Putri mulai kehabisan energi.
"6" jawab Devano singkat.
Putri merasakan dadanya sakit sekali, kepalanya pun memberat dan sakit.
__ADS_1
"Put..putri nggak kuat la...lagi"
"Gu..gue ngga..nggak kuat..."
Devano menghentikan larinya tiba-tiba, dan mau tak mau Putri pun ikut berhenti. Devano memperhatikan Putri dengan sorot tajam. Gadis itu membungkuk, mengatur napasnya yang tersenggal-senggal, beberapa kali Putri terbatuk seperti ingin muntah.
"Lo kenapa?" tanya Devano yang masih dingin.
"PUTRI LO NGAPAIN SIH PAKEK LARI" teriak Amanda yang baru saja datang. Gadis itu pun masih mengatur napasnya terlebih dahulu.
Devano menatap Amanda, semakin bingung.
"Put lo nggak Apa-apa kan?" tanya Amanda panik, karena tak ada jawaban dari Putri.
BRUKKKK
"PUUTTT!!!!"
Gadis mungil itu pingsan dihadapan Devano, membuat shock satu lapangan yang sedari tadi menonton menjadi terkejut. Devano pun ikut mematung ditempat, ia melihat wajah pucat dan bibir putih Putri yang tertutupi beberapa helai rambutnya yang basah.
"Dev panggil Ambulance cepetan!! Panggil Ambulance" teriak Amanda histeris.
Devano menatap Amanda tidak mengerti,ia masih bersikap tenang.
"Kenapa Nggak UKS aja?"
"Dia punya anemia kronis, dia bisa mati kalau nggak cepat ditolong" ucap Amanda sedikit lebay.
Devano terhentak, tentu saja ini pertama kalinya ia mengetahui hal tersebut. Devano pun segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.
"Gue bawa dia ke UKS dulu" ucap Devano dengan nada cepat.
Amanda mengangguk dan menerima ponsel Devano.
Devano tak mempedulikan Amanda yang sedang heboh sendiri ditelfon, Devano pun segera membopong tubuh Putri dan berjalan cepat ke arah UKS. Banyak siswa-siswi yang mengikutinya di belakang, penasaran apa yang terjadi dengan Putri!!.
Mengingat dua orang ini adalah pasangan kontroversial dan sensasional dari kemarin!.
Devano memasuki UKS, ada 2 petugas PMR dan 1 Dokter volunteer disana. Devano pun membaringkan Putri di salah satu kasur kabin, gadis itu masih tak sadarkan diri.
"Kenapa dia?" tanya Dokter Roy, segera memeriksa kedua mata Putri dengan penlight.
"Dia pingsan Dok, setelah lari lapangan 6 kali. Dia punya penyakit Anemia Kronis" jelas Devano.
"Ambilkan Rebreathing mask sekarang" suruh dokter Roy kepada kedua anak PMR yang bergegas melakukan perintahnya.
"Apa keadaanya parah dok? Saya sudah panggil Ambulance untuk datang kesini."
"Ini dok" ucap salah satu anak PMR dan menyerahkan Rebreathing mask kepada Dokter Roy.
Dokter Roy memasangkan alat medis itu dengan cekatan ke bagian wajah Putri. Dan kemudian memeriksa Beberapa kali pernapasan Putri yang perlahan mulai sedikit teratur.
__ADS_1
"Tidak perlu, dia hanya kekurangan oksigen dan butuh istirahat yang cukup" jawab dokter Roy atas pertanyaan Devano barusan tadi.
"Biarkan dia istirahat, mungkin beberapa menit lagi dia akan segera sadar" jelas dokter Roy lagi dan diangguki oleh Devano.
Semua orang pun keluar dari kabin Putri, membiarkan gadis itu terbaring sendiri disana. Devano pun akhirnya bisa menghela napasnya dengan lega, setidaknya gadis itu masih hidup. Jujur, Devano barusan sangat panik karna penyakitnya Putri. Walaupun devano tidak peduli sama sekali dengan Putri, tapi ia masih memiliki hati nurani dan rasa ibah kepada orang lain.
Pintu UKS pun terbuka, Amanda masuk dengan langkah buru-buru.
"Gimana Putri? Dia nggak apa-apa kan?" tanya Amanda cemas, menatap Devano dan Dokter Roy bergantian.
Devano pun cuma menggelengkan kepalanya.
"Dia tidak ada apa-apa, tenang saja"
Amanda bernapas dengan lega akhirnya, kakinya pun langsung lemas dan tubuhnya langsung jatuh terduduk di kursi belakangnya itu. Ia sangat khawatir dengan kondisi Putri.
"Ambulance jadi datang?" tanya Dokter Roy.
"Ahh!! Bagaimana ini, saya sudah menelpon Ambu..."
Dokter Roy tertawa pelan.
"Biar saya yang batalkan. Mana ponselnya" Ucap Dokter Roy yang sedang membantu kedua siswa dihadapannya itu. Amanda segera menyerahkan ponsel Devano ke Dokter Roy.
"Terima kasih banyak dok" ucap Amanda dan Devano bersamaan.
Dokter Roy mengangguk, menerima ponsel Devano dan segera berjalan menjauh untuk menelfon pihak medis.
Amanda menatap Devano dengan tatapan samurai naruto.
"Kok dia bisa lari sih?" Omel Amanda, wajahnya memerah seperti lagi makan cabe dengan menahan amarahnya itu.
Devano menatap Amanda dengan bingung, gadis ini kenapa jadi marah kepadanya? Bukannya terima kasih sudah menolongi temannya itu?.
"Dia dihukum Pak Handoko." Jawab Devano yang seadanya.
"Kok bisa? Gara-gara lo ya pasti!" tuding Amanda ke Devano.
"Nggak!"
"Lo harusnya nggak bolehin dia lari!! Dia itu punya penyakit Anemia sejak kecil!! Berdiri lama-lama aja dia nggak bisa apalagi lari keliling lapangan"
"Gue nggak tau itu!! Dan itu Dl [derita lu]" sahut Devano yang tak mau disalahkan.
Amanda juga menghela berat, berbicara dengan Devano memang sangat menyebalkan dan membuat darahnya yang tadi masih dibawah kaki malah semakin naik keatas!!. Ia harus ekstra sabar!.
"Gue nggak mau tau!! Lo harus tanggung jawab!! Setelah dia sadar lo harus anterin dia pulang ke Rumahnya!!"
"Kenapa harus gue?"
"Karena semua ini berawal dari lo!! Gara-gara lo!! Pokoknya lo harus nganterin Putri pulang!"
__ADS_1
"OGAH!!" kata Devano dingin.
Amanda berdiri, menyorotkan percikapan api di kedua matanya.