
Harapan kembali
Putri pun tersenyum dengan senang, hatinya pun terasa lega dan tenang. Dadanya yang tadi terasa sangat sesak dengan napas yang tak beraturan kini ia pun kembali dengan normal. Putri pun merasa ada harapan besar yang lagi masuk ke dalam hidupnya untuk bisa merebut hati Devano.
"Devano beneran nggak marah lagi sama Putri?"
"Nggak Putri!!"
"Beneran kan nggak marah lagi?"
"Iya nggak" jawab Devano dengan sabar.
Putri pun tersenyum dengan sangat riang.
"Kalau gitu nanti beliin Putri boneka Panda besar yang kemaren!!"
"Heh?" Kaget Devano dengan permintaan Putri yang tiba-tiba.
"Beliin Putri boneka panda yang kemarin!! Putri pengen boneka itu Devano!!" rengek Putri.
Devano pun menatap Putri dengan tatapan yang tak bisa di jabarkan. Gadis ini sebenarnya dikategorikan sebagai spesies yang mana sih? Kok ada gadis aneh seperti ini? Devano pun menggelengkan kepalanya sendiri, dan menghela nafas dengan pelan.
"Devano mau kan beliin Putri boneka!! Biar Putri nggak kalah sama Mira!! Dia punya boneka panda banyak banget di kamarnya!!"
"Devano mau kan beliin Putri?"
Devano pun menghela nafas dengan pelan, ia sangat malas untuk memperpanjang masalah lagi dirinya dengan gadis di depannya itu.
"Iya" serah Devano dengan pasrah.
Putri pun membelalak dengan sangat tak percaya.
"Beneran? Devano mau beliin Putri boneka panda kemaren?"
"Iya"
"Devano beneran mau? Seriusan?"
"Iya Putri Ramadani!! Nanti gue beliin"
Putri pun bersorak dengan sangat senang, ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya. Rasa sedih dan sakit hatinya pun sirna begitu saja. Putri pun menatap Devano dengan senyum merekah.
"Devano nggak terpaksa kan beliin bonekanya buat Putri?"
"Ya terpaksalah!!"
__ADS_1
"DEVANOO!!" teriak Putri dan kembali cemberut lagi.
"Udah ayo masuk!! 3 menit lagi bel masuk bunyi!!" ucap Devano sembari melirik jam tangannya.
Devano pun membalikkan badannya, ia pun berjalan duluan dan meninggalkan Putri yang masih terus menatap dirinya. Putri pun dengan cepat mengejar Devano, sambil mensejajarkan langkahnya dengan pria disampingnya itu, dan Putri pun tak henti-hentinya tersenyum kepada pria di sampingnya itu.
"Devano beneran mau beliin Putri boneka sapi?" tanya Putri sekali lagi.
"Iya"
"Devano!! Putri boleh tanya nggak?"
"Apa?"
"Devano udah suka sama Putri?"
"Nggak!!"
"Kok nggak sih? Kapan Devano mulai mulai suka sama Putri?"
"Nggak tau"
"Putri boleh tanya lagi?"
"Apa? Cepetan!!"
"Nggak tau"
"Yahh.. kok nggak tau sih" lirih Putri dengan sangat kecewa "Gimana caranya biar Devano suka sama Putri?"
Devano pun menghentikan langkahnya, langsung menghadap ke arah Putri, dan menatap gadis itu.
"Putri!!" panggil Devano dengan raut wajah yang sangat serius.
"Iya Devano?"
"Gue nggak pernah suka sama lu!! Dan berhenti suka sama gue atau lo bakalan terus terluka kayak tadi" ucap Devano memperingatkan.
"Putri nggak bisa jauhi Devano" ucap Putri sambil menggigit bibirnya untuk menyembunyikan perasaan sedihnya itu "Putri udah terlanjur suka sama Devano"
Devano pun menghela nafas dengan sangat berat.
"Terserah lo deh!!" pasrah Devano yang tak tau lagi harus memperingati hadis itu bagaimana, Devano pun kembali meneruskan langkah dengan raut wajahnya yang kembali suntuk dan dingin.
"Kalau Devano sudah suka sama Putri bilang ya!! Putri bakalan suka terus sama Devano kok, Putri belom nyerah kok"
__ADS_1
"Kalau lu udah nggak suka sama gue, lu juga harus bilang ke gue!! Gue tunggu lo nyerah!!" Balas Devano dengan tajam.
"Devano nggak mau ya kalau Putri suka sama Devano?"
"Nggak tau"
Putri pun menghentikan langkahnya, dan membiarkan Devano terus berjalan menjauh darinya. Sekali lagi Putri hanya bisa tersenyum miris, dan menatap kepergian Devano yang tak lagi menatapnya. Pria itu pun sama sekali tak berhenti dan terus saja berjalan, seolah-olah ia sama sekali tidak peduli dengan orang di sampingnya itu.
"Sampai kapan aku akan di anggap olehmu? Sampai kapan aku harus menahan hatiku yang sakit ini? Sampai kapan jalanku dan jalanmu akan sejajar?"
Putri pun menghela nafas dengan berat, ia pun menundukkan kepalanya dan menatap kedua sepatu hitamnya yang baru saja dibelikan oleh Tante-Mami nya kemarin dan tersenyum kecil.
"Apakah mencintai seseorang dan menerima orang yang tidak ada dihati mereka itu sulit? iya aku tau, itu pasti akan sulit dan memperlukan waktu yang begitu banyak?? tapi berapa waktu, detik, tahun kau akan menerimaku dihati kecilmu itu?"
"Mungkin kau akan menerimaku jika berabad-abad lamanya"
Putri pun kembali melangkah, ia pun berjalan menuju ke kelasnya. Ia pun berupaya untuk tidak sedih, ia hanya ingin terus berpikir dengan positif. Ia yakin bahwa hati seorang Devano pasti akan bisa melunak, Putri hanya butuh waktu dan kesabaran. Putri harus menunggunya dengan sabar!! Hanya itu cara yang Putri tau, walaupun Putri nggak tau kapan waktu itu.
****
Devano pun duduk di bangkunya, dan mengeluarkan buku kumpulan soal fisika yang sebagai penghibur hatinya yang sedang gundah seperti saat ini. Kevin dan Exsel pun menatap sahabatnya itu, sedikit prihatin dan kasihan. Bagi mereka ini untuk pertama kalinya melihat Devano segusar ini.
"Lo habis kemana tadi?" tanya Exsel untuk memulai basa-basinya.
Tak ada jawaban apapun dari Devano, pria itu hanya fokus menghitung dan menyelesaikan jawaban soal nomer 6 yang ada di buku dan mencoret-coretnya dengan bolpoin.
"Nemuin Putri?" tanya Exsel yang langsung spontan.
Exsel pun menepuk bahu Devano dengan pelan, dan membuat pria itu menghentikan aktivitasnya.
"Lo keterlaluan tadi Dev, dia perempuan, lo harus jaga bicara lo itu!! Jangan sampai lo kena karmanya" ucap Exsel yang dramatis.
Devano dan Kevin pun menatap Exsel dengan raut wajah serius, tumben-tumben nih bocah alur pembicaranya dijalan lurus!! Disatu sisi Exsel pun masih menepuk bahu Devano.
"Karma itu lebih kejam daripada Kurma, karna Kurma itu manis dan Karma itu pahit, Dev!!"
"Apa sih!!" desis Devano dan Kevin bersamaan "Nggak jelas!!"
Exsel pun nyengir tanpa tak berdosa, setidaknya ia berhasil menghibur kecanggungan dan keheningan keadaan mereka bertiga. Exsel pun memutar kursinya, dan menghadap ke Devano. Ia pun mengeluarkan satu kertas, dan menyodorkannya ke Devano.
"Apa?" sahut Devano dengan dingin, ia sama sekali tidak mengerti lagi apa yang dimaksud teman satunya itu.
"Lo tau ini apa?"
"Kertas lah!!" Jawab Devano yang mulai senewen dengan tingkah Exsel
__ADS_1
"Lo jangan muter-muter deh Exsel!! Lo mau ngomong apa? Maksud Lo apa? Gue juga ikut bingung kalau lu kayak gitu!!" tambah Kevin yang tidak sabar.
Devano pun menghela berat, kedua temannya ini memang tipe pria yang kurang bersabar dihatinya!! Exsel pun membuka lebar-lebar kertas putih yang berukuran A4 yang kosong tanpa tulisan sedikitpun itu.