
Murid Baru
Langkah Devano mendadak terhenti,
5 langkah lagi ia harusnya sudah sampai didalam kelas. Namun, karena kedatangan seorang gadis itu yang entah darimana, membuatnya terpaksa harus mematung ditempat.
"Selamat pagi Devano" sapa seorang gadis itu dengan senyumannya paling ceria di dunia.
Devano mengerutkan kening, mengingat wajah gadis ini. Terlalu familiar dikedua matanya.
"Lo...Lo.. Si... Siapa?"
"Lo Lupa sama gue?" Ucap gadis itu sambil kecewa. Senyumnya perlahan memudar.
"Mmm... Si.. Siapa... Siapa ya?"
Gadis itu menghela berat, menatap Devano kesal.
"Nama gue Putri Ramadani, panggilannya Putri, umur gue 16tahun, jenis kelamin perempuan, 2 hari kemaren gue masih sekolah di SMA Trisakti, tapi karena gue suka sama lo gue pindah sekolah di SMA Arwana mulai dari ini, dan gue masih jomblo kok"
Devano Ingat sekarang! Sangat ingat! Dia gadis gila yang ditemuinya dicafe 3hari yang lalu!. Devano menatap gadis itu setengah tak percaya!. Dia tidak sedang dikerjain kah.
minta nomer hp lo!" Ucap Putri lebih semangat, sembari menyodorkan ponselnya.
Devano terdiam sebentar, meresapi apa yang sedang Menerpanya. Musibah-kah? Malapataka-kah? Atau Mimpi buruk-kah?.
Demi melewati seluruh warga Bikini Bottom, Devano sama sekali nggak ngerti!.
"Devano!! Minta nomer hp lo!!"
Teriakan Putri membuat Devano tersadar kembali di dunia nyata. Devano menatap Putri sekali lagi. Mencoba memastikan.
"Lo sakit?"
"Nggak"
"Terus"
"Gue suka sama lo! Mangkanya gue rela pindah sekolah! Gue jatuh cinta sama lo sejak di camp!! Gue jatuh cinta pada pandangan pertama!" Cerita Putri semangat 45.
Devano pun mendesah berat.
"Lo nggak waras iyaa!!" Decak Devano lantas melewati Putri begitu saja. Devano pun tiba-tiba merasa merinding sendiri.
Dan Devano pun dengan cepat berjalan masuk kedalam kelas, melewati teman-temannya yang sedari tadi menonton kejadian tersebut, Devano tak ingin mempunyai urusan dengan gadis itu lagi. Jika Devano dekat dengan gadis itu membuatnya semakin risih!. Sama sekali bukan tipe-gadisnya!.
"Tutup pintu kelasnya!" suruh Devano tajam kepada siapapun. Mau tak mau teman-teman Devano menuruti perkataanya, daripada mereka tidak diberi tau jawaban soal fisika yang harus dikumpulkan jam 8 ini.
Brraakkk
Putri menghela berat, meratapi kedua kali nasib tak beruntungnya. Ia menatap pintu kelas Devano dengan pandangan nanar. Kedua mata Putri menyorot tajam!.
"GUE AKAN TERUS KEJAR LO!!! GUE AKAN DAPATIN NOMER LO"
__ADS_1
"GUE PASTIKAN LO AKAN SUKA SAMA GUE DAN JADI PACAR GUE!"
"DEVANO LO PASTI JUGA AKAN SUKA SAMA GUE!!!"
*****
Devano merebahkan tubuhnya di sofa, duduk ditengah-tengah papa dan Kakaknya yang sedang asyik menonton film sembari mencomoti popcorn. Devano menghela napas dengan berat sekali lagi.
"Kenapa lo? Nggak biasanya Pulang sekolah kek gini?" tanya Ando kakak pertama Devano.
"Capek aja" jawab Devano seadanya.
"Baru putus sama pacar hi..ya..?" tebak Mr. Bov, papa Ando dan Devano
Ando tertawa mendengar Pertanyaan papanya itu.
"Dia punya pacar? Hahahahaa! Nggak mungkin!" tawa Ando meremehkan.
"Kok nggak mungkin?" tanya Mr. Bov heran.
"Dia nggak suka cewek! Dia takut sama cewek Pa! Mau jadi homo dia!" tukas Ando seenak jidat.
Devano pun melirik tajam sang kakak!.
"Beneran Devano?" Kaget Mr. Bov.
"Nggak-lah pa! Devano masih normal kok!" Sahut Devano dengan kesal.
"Masak? Ke sentuh cewek dikit aja kayak ke sentuh barang haram" ledek Ando.
"Iya iya iya yang ingin jadi astronot!" Serempak Mr. Bov dan Ando bersamaan, mereka berdua pun memilih kembali fokus menonton. Bercekcok dengan Devano tidak akan ada ujungnya. Pria itu selalu bisa membuat percakapan berakhir dengan hasil kekalahan!.
DRTTDRTTT
DRTTDRTTT
Deringan ponsel berbunyi,
"Ndo, angkat ponsel kamu! Berisik!" Ucap Mr. Bov merasa terganggu.
"Bukan ponsel Ando!" Sahut Ando.
DRRTTDRR
DRRTTDRR
"DEV ANGKAT TELFONNYA!!" teriak Mr.Bov dan Ando gregetan melihat pria ditengah-tengah mereka.
Devano menatap layar ponselnya dalam diam, sebuah nomor yang tak dikenal menelfonnya. Devano mengernyitkan kening, siapa yang menelfonnya ini? Perasaan buruk perlahan memasuki sanubarinya, tidak ada yang tau nomornya selain keluarganya, Kevin dan Exsel!. Devano memang tak suka membagikan nomernya untuk hal tak penting!.
Devano pun me-reject panggilan tersebut!.
DRTTTDRTT
__ADS_1
DRTTTDRTT
" DEVANO GUANNA FREEDY ANGKAT PANGGILANNYA!!!" teriak Mr. Bov dan Ando lebih murka.
Devano menghela berat, dengan berat hati ia pun mengangkat panggilan dari nomer yang tak ia kenal tadi. Devano mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Devano gue dapat nomor lo!"
Sial! Suara si gadis gila! Kedua mata Devano membelalak sempurna, tubuhnya langsung ia tegakkan! Napasnya tak beraturan. Bagaimana gadis ini bisa tau nomernya?.
"Lo dapat dari mana nomor w" tanya Devano dingin.
"Gue dapat dari Kevin dan Exsel. Upsss... Gue keceplosan!"
Devano mendesis tajam. Dua temannya itu sumpah ya!! Awas aja besok! Gue akan buat mereka berdua nangis darah!.
"Devano simpan nomer gue ya! Gue akan telfon lo lagi! Bye-bye Devano!!"
"I love you, Devano"
BBEEPP
Tangan kanan Devano meremas ponselnya dengan kuat! Cobaan apalagi ini tuhan! Devano mengacak-acak rambutnya sangat frustasi, ketenangan hidupnya mulai terganggu sejak kedatangan gadis Itu!. Baru satu hari ini? Bagaimana dengan hari-hari berikutnya?.
"AAAAARGHHHSSSS!!!" teriak Devano sekeras mungkin.
*****
Devano memasukkan seragamnya ke dalam loker, jam pertama hari ini adalah pelajaran olahraga dan Devano sangat semangat untuk berlari pagi. Ia melangkah ke arah lapangan, menyusul beberapa temannya itu yang sudah pada berbaris dilapangan.
"Dev, jangan diemin kita kek! Sorry banget!" ucap Exsel men-sejajarkan langkahnya.
"Dev jangan marah kek! Kayak cewek lagi PMS aja lo!" sahut Kevin di sisi kanan Devano.
Devano pun menghela napas,
"Dia sogok pakek apa! Ke lo berdua?" tanya Devano dingin.
"Bolpoin satu pack sama permen lolipop satu pack!" serempak Kevin dan Exsel.
Langkah Devano pun langsung berhenti, telinganya nggak salah dengarkan?
"Lo berdua barter nomer gue cuma dengan bolpoin satu pack sama permen lolipop gitu?" tanya Devano dengan raut wajah yang tak percaya.
"Kan bisa dijual lagi permennya sama bolpoinnya"
"Biar kita nggak mungutin bolpoinnya si Siti lagi, sama biar tambah uang jajan Juga"
Devano memejamkan kedua matanya dengan erat, mengatur napasnya dengan tenang, amarahnya baru saja akan meledak.
"Aissshh!!" geram Devano berjalan kembali dengan langkah lebih cepat.
Kevin dan Exsel pun saling bertatapan, dan juga saling menyalahkan satu sama lain.
__ADS_1
"Lo sih!!"
"Kok gue? Kan lu yang ngasih!"