
Saat di lampu merah, motor Hanif berhenti tepat di samping mobil Vano. Lalu Vano melihat Kanza yang sedang membonceng Hanif dengan sangat mesra. Itu pandangan dari Vano.
"Bos! Bukankah itu Non Kanza ya?" Tanya Pak Adi.
Vano mencari-cari dimana Kanza berada, saat menemukan bahwa Kanza berada di samping mobilnya, ia sangat kesal. Vano pun turun dari mobil dan menarik Kanza masuk kemobilnya. Lalu menyuruh sopir dan Pak Adi untuk pulang menggunakan kendaraan umum.
"Vano?" Kata Kanza.
"Turun! Ikut saya sekarang!" Kata Vano mencengkram tangan Kanza dengan keras hingga membuat Kanza kesakitan.
"Sakit Pak, lepasin aku!" Kata Kanza.
"Woy bro, sorry nih. Jangan kasar-kasarlah sama cewek. Kalau dia nggak mau ya jangan di paksa dong" Kata Hanif mencoba menahan Vano.
"Kamu nggak usah ikut campur! Ini urusan saya dengan calon istri saya" Kata Vano.
"Baru calon kan? Belum jadi? Tunggu 2 bulan lagi Kanza lulus bro" Kata Hanif.
Karena sudah emosi tingkat bala-bala, Vano menarik tangan Kanza dengan kuat dan memasukkannya kemobil. Kanza menurut saja, karena lampu sudah berganti menjadi hijau.
__ADS_1
Vano mengendarai mobilnya sangat cepat, Kanza tidak tahu kenapa Vano bisa semarah itu dengannya. Ia hanya membonceng Hanif karena Vano menurunkannya di jalan.
"Pak Vano, apa yang anda lakukan? Saya masih ingin hidup Pak" Kata Kanza.
Namun Vano tetap diam saja dan menambah laju mobilnya. Rumah yang Kanza tempati sudah terlewati, Kanza mulai takut dengan Vano karena tidak tahu akan dibawa pergi kemana dirinya.
"Pak Vano, kita melewati pintu masuk kompleks. Sebenarnya Bapak mau bawa saya kemana?" Tanya Kanza semakin panik.
Lagi-lagi Vano hanya diam saja, ia fokus menyetir tanpa menghiraukan apa yang Kanza katakan. Kanza tahu jika ia telah membuat marah Vano, ia pun diam dan duduk dengan tenang.
1 Jam berlalu, Kanza tidak tahu Vano akan membawannya kemana. Tapi tempat itu sangat jauh dan hanya beberapa rumah di sekitar daerah sana. Berhentilah mereka di sebuah rumah besar dan megah.
"Ini Villa siapa Pak?" Tanya Kanza.
"Turunkan saya!" Teriak Kanza.
Vano melempar tubuh Kanza ke tempat tidur, lalu mengunci pintunya. Aura kemarahan Vano sudah memuncak, ia menindihi tubub Kanza.
"Saya nggak suka, kamu dekat dengan laki-laki lain. Kamu hanya akan menjadi milikku" Kata Vano.
__ADS_1
"Bapak sakit? Kenapa jadi seperti ini sih? Hanif itu sahabat saya, dan kalau bukan Bapak yang menurunkan saya di jalanan tadi, saya juga tidak akan menerima tawaran dari Hanif untuk mengantar saya pulang!" Kata Kanza.
"Aku ingin kamu jadi kekasihkku, lalu aku akan menanggung sekolah adikmu sampai kejenjang yang lebih tinggi." Kata Vano.
"Kak, aku berhenti saja ya sekolahnya. Aku akan membantumu bekerja cari uang"
Kata-kata Lisa masih terniang di kepala Kanza. Jika Lisa tidak sekolah, bagaimana dengan masa depannya. Tapi jika menjadi kekasih dari seorang Vano, yang ada hidup Kanza akan menjadi semakin rumit.
"Bagaimana Kanza? Aku akan menjamin masa depan adikmu. Dan aku tahu jika dia memiliki riwayat penyakit juga, fikirkan kesehatan dan masa depan Lisa, Kanza!" Kata Vano.
"Apa saya hanya akan menjadi kekasih anda saja?" Tanya Kanza.
"Saya juga menginginkan tubuhmu, dengan tubuhmu ini. Kau bisa menjamin masa depan adikmu itu" Kata Vano.
Tidak terasa air mata Kanza menetes, semahal itukah biaya hidup di dunia ini? Kanza ingin sekali berteriak, ia ingin menolak dan mencari pekerjaan lain agar adik dan dirinya bisa melanjutkan hidup.
Tapi Vano bukan orang sembarangan, penyakit adiknya juga membutuhkan biaya, sekolahnya dan sekolah adiknya juga membutuhkan biaya.
"Saya akan keluar dulu, segera mandi, ganti baju dan turun. Saya menunggumu makan, Ok! Jangan lama!" Kata Vano.
__ADS_1
"Oh ya, baju bisa kamu milih sendiri di almari sana" Sambungnya.
Vano keluar dari kamar itu, Kanza sangat kesal dengan semuannya, ia pun mengobrak abrik seluruh isi kamar tersebut. Bahkan merobek foto-foto Vano.