
Kala itu cuaca sangat tidak menentu, pagi hari cuaca cerah, siang hari mendung. Namun pasti tidak akan hujan, fikir Kanza. Ia berjalan menelusuri trotoar, menuju ke apartemennya. Melihat Kanza yang berjalan sendiri, Raza pun menawarkan tumpangan untuknya. Mobil berwarna hitam melintas dan berhenti di depan Kanza berjalan. Kanza terkejut, langkahnya pun terhenti. Seketika, ia ingat kenangan lalu, saat malam-malam Vano membuang botol bekas kepada dirinya.
Pearl ternyata juga sudah ada di belakang Kanza. Benerapa hari lalu, Kanza dan Pearl merencanakan suatu yang asyik di apartemen Kanza.
"Kanza!" Teriak Pearl.
Pearl lari sampai terenggah-engah.
"Jadi kan? Lihat apa yang kubawa, kita akan memasak malam ini. Hore!" Kata Pearl.
"Mobil itu?" Pearl memahmi mobil itu milik Raza.
Pearl juga mengatakan kepada Kanza bahwa itu mobil milik Raza, Kanza penasaran dengan Raza. Sahabat dan sekaligus asisten Raza pun membuka kaca pintu mobilnya.
__ADS_1
"Hai adik manis, ketemu lagi kita. Hallo gadis imut Pearlku" Goda Denis.
"Kalian mau ke apartemen A kan? Ayo ikut dengan kami, kebetulan kami juga tinggal disana" Ajak Raza.
Raza Artawijaya, adik kandung dari Vano Artawijaya. Ia sudah memiliki pasangan bernama Talita, sahabat dan cintanya di masa kecil, yang sampai saat ini masih bersama.
Awalnya Kanza menolak tawaran dari Raza, tetapi melihat sahabatnya kelelahan membawa barang banyak, ia pun akhirnya mau menerima tawaran dari Raza. Di mobil, mereka hanya diam saja tanpa berkata apapun, bahkan sampai di pintu apartemen saja mereka masih diam-diam saja.
"Kau tinggal disini?" Tanya Raza.
"Dua lagi dari apartemen ini. Jika saat seperti ini, cukup panggil nama atau sebutan Kakak, aku tidak suka di tua kan. Permisi, semoga malam kalian menyenangkan" Kata Raza.
"Kak Raza, terima kasih" Kata Kanza.
__ADS_1
Raza dan Denis berlalu pergi, selama Kanza tinggal disana, Kanza tidak pernah melihat Raza dan Denis juga tinggal disana. Karena setahu Raza, apartemen tiga berjejer itu milik, Vano, Rangga dan Justin.
Pearl menarik Kanza masuk, ia terpesona akan mewahnya apartemen itu. Bahkan, menganggap bahwa Kanza adalah anak orang kaya. Pearl sendiri harus bekerja paruh waktu sebagai model untuk biaya hidupnya di Singapura.
"Za, kamarmu bagus banget sih. Bersih, wangi, kasur nya empuk juga" Kata Pearl lompat-lompat di tempat tidur Kanza.
Kanza hanya tersenyum. Ia tidak mungkin akan menceritakan tentang kehidupannya yang di tanggung oleh tiga orang lelaki, bahka ia juga meninggalkan adiknya sendiri di tanah air. Di kamar Raza, ia mengirim hasil merekam suara Kanza siang tadi. Tak lama setelah Raza msngirim suara itu, Vano langsung menelfonnya.
"Darimana kamu dapat rekaman itu?"
"Jemput dia, temui dia. Jangan buat dia tersiksa Kak. Atau aku yang akan membuatnya nyaman?" Goda Raza.
"Jangan main-main kamu Raza. Jauhi dia, sampai tanganmu mengotori dia, aku pastikan kamu tidak akan aku perbolehkan pulang!".
__ADS_1
"Wowo, santai Brother. Jika kau memang telah membuangnya, aku bersedia memungutnya. Dia cantik sekali, suaranya juga bagus. Maaf Kak jika suatu saat nanti aku bisa jatuh cinta dengannya. Siap-siap kau harus mengalah" Goda Raza.
Telfon itu langsung terputus, seketika hati Vano tidak tenang. Ia bahkan masih cemburu ada laki-laki yang mendekati Kanza. Namun, keadaan yang memaksa Vano harus menjauhi Kanza. Walaupun rindu yang mereka berdua tahan sudah sangat berat.