
Disekolah, kali ini Kanza tidak berulah, waktu jam kosong pun ia tidak membolos lagi, ia gunakan kesempatan itu untuk tidur.
Ingin sekali Hanif menegur Kanza, tapi ia takut jika kakak sepupunya akan berulah lagi dengan Kanza. Kanza adalah sahabat yang baik bagi Hanif, namun tangan dan jiwa Hanif meronta-ronta jika tidak menegur Kanza.
"Za, lo ngantuk?" Tanya Hanif.
"Gak kok, gue cuma bosen aja di jam kosong gini" Jawab Kanza tiba-tiba terbangun.
"Mau nyanyi?" Tanya Hanif dengan senyuman.
"Nyanyi gak ada musik gak seru Nif!" Kata Kanza meletakkan kepalanya lagi di meja.
"Siapa bilang gak ada musik, nih gue bawa gitar buat lo" Kata Hanif memberikan gitar kepada Kanza.
Kanza heran dengan Hanif, tiba-tiba saja ia memberiku gitar yang ia ambil dari ruang musik milik sekolah. Dengan senyumannya, kemungkinan Hanif sudah mulai mau berteman dengannya lagi.
🎶"*Cubo rungokno nyanyian iki
Nyeritakne tresno seng kependem ono neng dodo
Kudu kepiye, aku mesti piye
Yen pancen dalane uripku iki kudu koyo ngene
Senajan kowe wes karo liyane
Nanging tresnoku ro kowe ora iso tak lalekke
Ora bakal ilang tresnoku dinggo kowe
__ADS_1
Wes tak tutup atiku dinggo liyane
Mergo kowe seng paling tak tresnani
Senajan tresno iki mung kependem ning ati*" 🎶
Petikan gitar Kanza dan suara nyanyian Kanza yang merdu membuat semua kelas ikut beryanyi bersama, lagu yang waktu itu hits di daerahnya. Seketika kesedihan Kanza hilang begitu saja.
Jam belajar telah selesai, kini Kanza memulai untuk mencari uang sendiri lagi, kali ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk biaya hidup dirinya dan adiknya. Juga untuk sekolah mereka berdua.
"Aku harus ngamen lagi, tapi gitarku dirumah. Masa iya mau pulang dulu sih" Kata Kanza sedang bingung di depan gerbang.
Karena alat kerjanya berada dirumah, Kanza pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Ternyata Lisa sudah pulang dan sedang menanak nasi untuk mereka berdua makan.
"Kakak udah pulang?" Tanya Lisa.
"Iya dong, kakak mau ambil gitar dan mau kerja" Kata Kanza.
"Kamu dirumah saja lah, biar kakak yang cari uang. Kita hari ini makan sama apa Sa?" Tanya Kanza.
"Cuma ada ikan asin sih kak, aku goreng dulu ya" Kata Lisa.
"Kakak keluar beli telur dan mie instan dulu ya, kakak masih punya uang kok. Kakak tinggal dulu ya" Kata Kanza keluar dari rumah dan meneteskan air matanya.
Ia tidak tega melihat adiknya yang hanya makan dengan ikan asin, bagaimana pun juga, sekolah Lisa lebih jauh dari sekolahnya. Ia berlari ke warung untuk membeli telur dan mie instan, hasil uang dari santunan sekolahnya.
Ketika di perjalanan pulang, Kanza bertemu dengan Vano. Vano telah mendapat kabar jika orang tua Kanza meninggal karena kecelakan, dan Vano juga mengetahui jika Kanza terhimpit masalah ekonomi, dan berusaha untuk membantunya. Tidak ada alasan lain selain Vano mulai jatuh hati kepada Kanza.
"Kanza, beruntung kita bertemu disini" Kata Vano.
__ADS_1
"Kamu! Kamu ngapain kesini?" Tanya Kanza.
Kanza tidak ingin warga tau jika dirinya dekat dengan seorang laki-laki yang kaya, yang pasti akan membuat bahan gosip di desanya.
"Aku nyariin kamu loh Za, seminggu ini kamu kemana saja, sejak pertemuan kita malam itu, kamu sudah tidak terlihat lagi" Kata Vano khawatir.
âž–âž–âž–âž–
Mau tidak mau akhirnya Kanza memeperbolehkan Vano ikut pulang dengannya, karena Vano terus saja mengikutinya. Di sepanjang jalan juga Kanza menceritakan masalahnya kepada Vano, entah mengapa Kanza bisa begitu terbuka dengan Vano, orang yang baru saja ia kenal, bahkan bisa senyaman itu ketika ia menceritakan masalahnya.
Namun ketika sampai di rumahnya, banyak orang berlairian membawa ember dan kain basah. Ketika melihat banyak asap, Kanza baru sadar bahwa rumahnya terbakar, rumah yang masih menggunakan bagunan kayu itu telah ludes terbakar.
"Lisa!! Lisa!" Teriak Kanza.
"Kanza tenang Za, Kanza" Kata Vano menahan Kanza yang ingin masuk kedalam kobaran api.
Vano memeluk Kanza tanpa memikirkan ada orang banyak disana, Kanza terus saja berteriak memanggil nama Lisa. Menangis sejadi-jadinya, karena Lisa lah adalah satu-satunya harta yang paling berharga baginya.
"Kakak" Teriak Lisa.
Lisa selamat, ia sudah keluar dulu sebelum apinya semakin besar, Kanza dan Lisa saling berpelukan. 1 jam berlalu, kobaran api sudah di padamkan oleh pemadam kebakaran. Rumah Kanza ludes terbakar rata dengan tanah.
Kini ia tidak memiliki apapun, bahkan tempat bernaung saja tidak ada yang bisa Kanza dan Lisa tempati. Asisten Vano berbicara dan berkonsultasi dengan semua tetangga Kanza. Agar Kanza dan Lisa bisa ikut dengan Vano tanpa ada seorang pun yang salah faham padanya.
"Kanza, Lisa. Jaga diri kalian baik-baik ya, jika kalian mau pulang kesini, Ibu terima kalian berdua dengan ikhlas hati. Pintu rumah Ibu selalu terbuka untuk kalian" Kata Ibu Siti.
"Bu Siti sangat baik, Kanza sama Lisa gak mau menjadi bebannya Bu Siti. Tapi Kanza janji, Kanza akan selalu mengunjungi Bu Siti kesini, bukan hanya Bu Siti saja. Tapi semua warga disini. Kanza pamit ya Bu" Kata Kanza.
"Lisa juga Bu" Kata Lisa.
__ADS_1
Kanza dan Lisa berpamitan kepada semua tetangganya, mereka semua saling menyayangi. Karena dulu almahrum orang tua Kanza sangatlah baik kepada semua tetangganya, walapun mereka juga keluarga sederhana.