
🎶*Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saat kupergi?
Oh Tuhan kucinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku kucinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
__ADS_1
Tiada dusta, sumpah kucinta
Sampai 'ku menutup mata
Cintaku
Sampai 'ku menutup mata🎶**
Vano dan Justin jatuh cinta dengan suara Kanza. Mereka dibuat mabuk kepayang oleh suara merdunya. Cinta Vano semakin tumbuh untuknya, melihatnya membuat Vano merasa terbang diudara bersama merduanya suara Kanza.
Semua orang memberi tepuk tangan untuk Kanza, ia menghampiri meja Vano dan Justin. Senyuman Kanza mengalihkan dunia Vano begitu saja. hingga sapaan Justin tidak didengarnya.
"Van! Vano!" Kata Justin menepuk bahu Vano.
"Sorry, ada apa?" Tanya Justin.
"Aku menerima Kanza bekerja disini. Gimana kalau kamu juga bekerja menjadi kasir? Itung-itunh menambah penghasilanmu Kanza" Kata Justin.
"Benarkah?" Tanya Kanza girang.
Justin mengiyakan, Vano pun juga menganggukkan kepalannya. Sore itu Vano mengantar Kanza pulang kerumah, melihat Kanza bahagia seperti itu membuat hati Vano sangat tenang.
"Tumben nggak bawa sopir dan Pak Adi?" Tanya Kanza.
"Sengaja! Biar saya leluasa bicara dengan kamu. Mau makan apa? Kita makan dulu ya, tadi di cafe Justin hanya minum kopi saya" Pinta Vano.
"Hayuk, sore ini kita habiskan waktu berdua, swkLian sampai malam. Kita nonton yuk!" Ajak Kanza.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya Kanza mengiyakan dengan cepat ketika Vano meminta sesuatu. Namun hari ini hari yang membahagiakan bagi Kanza, ia akhirnya mendapat pekerjaan.
"Kanza" Kata Vano.
"Iya Pak Vano" Jawab Kanza.
"I Love you" Kata Vano.
Kanza hanya diam saja, dia memang menyukai Vano, tapi belum di fase jatuh cinta. Kanza bingung harus jawab apa. Vano sudah sangat baik padanya.
"Saya akan berusaha membuat kamu jatuh cinta pada saya Kanza. Beri saya kesempatan ya" Kata Vano.
Kanza mengangguk, betapa bahagianya Vano. Akhirnya Kanza ingin memberikan kesempatan Vano membuatnya jatuh cinta. Sejak saat hati itu, Vano dan Kanza semakin dekat, sekolah dan pergi bekerja selalu Vano yang mengantarnya.
Hingga suatu hari saat Kanza hendak akan terjatuh dari atas jembatan...
"Kenapa sih kamu pilih tempat yang seperti ini. Mana air sungainya deras banget lagi, Saya nggak suka ah" Kata Vano.
"Pak Vano, temanya kan alam sekitar. Kita tinggal di kota dengan lingkungan seperti itu mana dapat gambarnya. Ya mau nggak mau harus disini" Kata Kanza.
Langkah mundur Kanza membuat Vano was-was, hingga hal yang membuat Vano senam jantung telah tiba. Kanza tergelincir dan hendak jatuh ke sungai.
"Pak Vano tolong!" Teiak Kanza dengan tubuh yang sudah siap terjun bebas.
Dengan sigap Vano menangkap tangan Kanza. Mencoba menarik tangan Kanza, namun karena Kanza panik, hampir saja Kanza jatuh kebawah. Vano berinisiatif mengikat tangan Kanza menggunakan sabuknya, lalu menariknya ke atas, tanpa ia sadar tangannya terluka karena ia menggenggam bagian kepala sabuk yang tajam.
Sekitar beberapa menit, akhirnya Kanza berhasil di tarik oleh Vano. Tangan Kanza memerah, Vano sangat panik dan mencoba mengusap tangan Kanza yang memar karena ikatan sabuk.
__ADS_1