Kisah Cinta Kanza

Kisah Cinta Kanza
Bab. 30


__ADS_3

Di luar, Raza mengajak Lisa untuk ke apartemennya sementara itu. Ia juga banyak menceritakan Kanza sejak Kanza tinggal di Singapura.


"Kak Raza kan? Adiknya Kak Vano?" Tanya Lisa.


"Kak Vano sering ngomongin aku?" Tanya Raza.


Lisa mengangguk,


"Lha aku? Kamu nggak kenal aku?" Tanya Denis.


"Enggak hehehe, Kak Vano cuma sering cerita tentang Kak Kanza dan Kak Raza aja" Kata Lisa dengan tersenyum maksa.

__ADS_1


Di dalam apartement Kanza, Vano menceritakan semuannya apa yang telah terjadi, dari ia kecelakaan dan biaya belajar Kanza di Singapura. Air mata Kanza jatuh bercucuran, ia tidak menyangka jika dibalik suksesnya ada tangan Vano yang selalu membantunya.


"Kamu mengapa menangis Kanza? Aku tidak bisa melihat wajah sedih mu itu, tolong jangan menangis" Kata Vano meraba-raba wajah Kanza.


Kanza memeluk Vano lagi, ia belum bisa berbicara apapun saat itu. Hanya tangis dan sedih yang Kanza rasakan. Vano juga terdiam, mungkin memang waktunya Kanza tahu jika Vano tidak menikah dengan Maria, dan akan segera pulang ke Indonesia.


"Kanza, aku pulang ya. Aku rasa kamu baik-baik saja kan? Aku akan lebih ketat memberi penjagaan buat kamu disini. Ok!" Kata Vano membelai rambut Kanza yang terurai itu,


Suasana saat itu masih tegang, Kanza melepas pelukannya, lalu menggenggam tangan Vano sangat kencang. Ia juga terus menatap wajah laki-laki yang ia cintai itu, membelai wajahnya dan menempelkan keningnya di kening Vano.


Mendengar Kanza bersuara membuat hati Vano lega, seperti es yang meleleh karena suhu yang sangat panas, Vano langsung memeluk Kanza dengan erat, seperti tidak ingin melepaskan Kanza lagi.

__ADS_1


"Kak Vano, tolong jawab jujur padaku. Apakah kau sudah menikah dengan Maria?" Tanya Kanza.


"Tidak ada wanita yang ingin kunikahi kecuali dirimu Kanza, tetapi dengan keadaanku yang seperti ini. Ahh, aku tidak akan membuatmu terbebani......" Kata Vano masih memeluk erat Kanza.


"Apakah itu alasannya kau acuh padaku Kak Vano?" Tanya Kanza.


Vano tidak menjawab, ia hanya memeluk erat Kanza dan mencium leher Kanza. Tak perlu Vano jelaskan, Kanza mengerti semuannya. Ia pun kembali menangis, antara marah, kesal, dan sedih. Kanza kesal karena ia tidak ada menemani Vano di saat merasakan fase keterpurukannya. Kanza juga sedih karena Vano memutuskan keputusan secara sepihak.


"Kau selalu ada untukku Kak, tapi kenapa aku harus jauh darimu? Aku ingin selalu ada disampingmu, menemanimu sampai kapan pun" Kata Kanza.


"Mungkin satu tahun lalu aku bisa melindungimu, mencintaimu, dan selalu ada untukmu. Namun sekarang, kau lihat sendiri kan Kanza? Aku buta, duduk si kursi roda agar berjalan lebih cepat, aku hanya ingin kamu bahagia, dan mendapat laki-laki yang baik untukmu. Yang mampu membahagiakanmu, bukan malah menjadi bebanmu" Jelas Vano.

__ADS_1


"Aku siap menjadi matamu, jika kau ingin berjalan cepat, aku ingin menjadi kakimu. Bahkan jika kau bisu, aku mampu menjadi juru bicaramu, aku ingin gerus selalu bersamamu Kak Vano" Kata Kanza menahan air matanya.


Selama ini, dan selama Kanza memiliki hubungan dengan Vano. Kanza belum pernah mengatakan 'aku mencintaimu' dengan tulus kepada Vano. Malam itu juga, Kanza akan mengungkap isi hatinya sampai ke palung hatinya yang di rasakan terhadap Vano.


__ADS_2